Chapter Twelve
Empat Puluh Menit
POV: Bella
Migrasi fase satu dijadwalkan tiga minggu lagi. Artinya, tiga minggu lembur.
Kamis malam, pukul 21.30, ruang rapat kecil di pojok lantai 21 berubah menjadi markas. Papan tulis penuh diagram. Meja penuh kotak martabak yang dibeli Andre sebagai “dukungan moral”. Yoga dan dua developer lain duduk di satu sisi, menulis skrip pemindahan data. Aku duduk di sisi lain, menulis rencana komunikasi untuk pelanggan: apa yang harus dikatakan kalau aplikasi lambat, kapan harus minta maaf, dan kalimat mana yang tidak boleh dipakai sama sekali.
Dan dia berdiri di depan papan tulis, menggambar.
Aku sudah melihat banyak orang menggambar diagram arsitektur. Biasanya kotak-kotak dan panah, rapi, simetris, membosankan. Dia menggambarnya seperti orang yang sedang menceritakan sesuatu. Setiap garis punya alasan. Setiap kotak punya urutan. Dia menggambar alur data dari sistem lama ke sistem baru, lalu berhenti, menghapus satu panah, dan menggambarnya lagi dari arah yang berbeda.
“Kenapa dihapus?” tanya Yoga.
“Kalau datanya lewat sini, dan server lama mati di tengah jalan, pelanggan yang lagi checkout kehilangan keranjangnya.” Dia mengetuk kotak di tengah dengan spidol. “Kalau lewat sini, keranjangnya disimpan dulu, baru dipindah. Lebih lambat tiga detik. Tapi nggak ada yang kehilangan apa-apa.”
Tiga detik. Untuk orang-orang yang tidak akan pernah tahu namanya, yang tidak akan pernah tahu bahwa keranjang belanja mereka pernah diselamatkan oleh satu panah yang digambar ulang jam sepuluh malam.
Aku menunduk ke laptopku sebelum dia melihatku menatap terlalu lama.
Pukul 22.15, masalah pertama muncul, dan itu bukan masalah teknis.
Tim marketing mengirim email: kampanye besar dengan influencer dijadwalkan tepat di malam migrasi. Sudah dibayar. Tidak bisa digeser, kata mereka.
Yoga membacanya dan langsung memegang kepala. Andre membacanya dan langsung makan martabak ketiga. Erga membacanya dan menoleh padaku.
Dia tidak bilang apa-apa. Dia hanya menunggu, seperti menunggu seseorang yang dia tahu bisa menyelesaikan sesuatu.
Aku menelepon kepala marketing pukul 22.17. Dia sedang di rumah, anaknya menangis di latar belakang. Aku tidak memintanya menggeser kampanye. Aku bertanya berapa yang sudah dibayar, berapa penalti kalau jadwal influencernya diundur dua hari, dan berapa kerugian kalau aplikasi lambat tepat saat seratus ribu orang datang dari tautan influencer itu.
Dia diam. Lalu dia menghitung. Lalu dia bilang, “Oke, Bel. Dua hari. Saya urus besok pagi.”
Aku menutup telepon pukul 22.24. Tujuh menit.
Waktu aku mengangkat wajah, Erga masih menatapku. Spidol di tangannya.
“Kamu nanya pertanyaan yang benar lagi,” katanya.
Hanya itu. Lalu dia kembali ke papan tulis.
Aku merasakan pipiku panas, dan kali ini aku tidak bisa menyalahkan AC atau matahari.
Pukul 23.40, rapat bubar. Yoga pulang dengan mata setengah tertutup. Andre pulang dengan sisa martabak dibungkus plastik. Aku berjalan ke parkiran basement dengan kunci mobil di tangan dan kepala yang terasa seperti diisi kapas basah.
Aku menabrak pintu kaca menuju basement. Sekali.
Lalu, karena aku mundur dan mencoba lagi dengan kurang hati-hati, dua kali.
“Kamu nggak nyetir,” kata suara di belakangku.
Aku berbalik. Dia berdiri di sana dengan tas laptop di bahu. Dia pasti mengikutiku sejak lift.
“Aku bisa.”
“Kamu barusan nabrak pintu kaca dua kali.”
“Pintunya yang pindah.”
Dia mengulurkan tangan. Telapak tangan terbuka, menunggu.
“Kamu kan nggak punya mobil,” kataku.
“Aku punya SIM.”
“Kamu nggak tahu rumahku.”
“Kamu tahu. Kamu bisa kasih tahu jalannya sebelum tidur.”
“Siapa bilang aku bakal tidur?”
Dia tidak menjawab. Dia hanya tetap mengulurkan tangannya, sabar, seperti menunggu server merespons. Dan aku, yang sudah tujuh belas jam terjaga, meletakkan kunci mobil di telapak tangannya.
Dia menyetir seperti dia menulis kode.
Kecepatan persis di batas maksimal. Tidak lebih satu kilometer per jam pun. Lampu sein menyala setiap kali pindah lajur, bahkan di Sudirman yang kosong jam dua belas malam, bahkan saat satu-satunya kendaraan lain di jalan adalah gerobak nasi goreng yang didorong pelan di trotoar. Dia berhenti penuh di setiap lampu kuning. Dia menyesuaikan kaca spion dua kali sebelum berangkat, lalu sekali lagi di lampu merah pertama.
“Kamu tahu nggak,” kataku, bersandar ke jendela, “kamu nyetir kayak lagi ujian SIM.”
“Aku nyetir mobil orang.”
“Mobil aku.”
“Justru itu.”
Aku memberinya arah. Belok kiri di bundaran. Lurus sampai lampu merah ketiga. Masuk kompleks, gerbang kedua, rumah dengan pagar hitam dan pohon mangga di depan. Aku ingat memberi tahu soal pohon mangga. Aku tidak ingat apa yang terjadi sesudahnya.
Aku terbangun karena suara napas.
Bukan napasku. Napas seseorang yang sangat dekat, sangat teratur. Terlalu teratur, seperti orang yang sedang menghitungnya.
Pipiku menempel di sesuatu yang hangat dan agak keras. Kain katun. Bau sabun cuci dan sedikit spidol papan tulis.
Butuh tiga detik bagiku untuk menyadari di mana aku berada. Mobilku. Mesin mati. Lampu jalan kuning dari luar jendela. Pohon mangga. Dan kepalaku, entah bagaimana, bersandar di bahunya. Aku pasti terjatuh ke samping waktu tidur, melewati konsol tengah, dan dia menangkapku.
Atau dia tidak menangkapku. Dia hanya tidak menyingkir.
Aku tidak bergerak. Aku tidak membuka mata.
Jam di dasbor, yang bisa kulihat dari celah bulu mataku, menunjukkan 00.41. Kami sampai sekitar jam dua belas lewat sepuluh, kalau aku tidak salah mengingat lampu merah terakhir.
Tiga puluh menit.
Tiga puluh menit dia duduk di sini, di kursi pengemudi mobil orang, dengan kepala perempuan yang tertidur di bahunya, dan tidak membangunkannya.
Aku memejamkan mata lagi. Aku seharusnya bangun. Aku seharusnya mengangkat kepala, minta maaf, tertawa kecil, lalu keluar dari mobil. Itu yang dilakukan orang dewasa yang punya harga diri.
Aku tidak melakukannya.
Aku merasakan bahunya. Kaku, seperti dinding yang sedang berusaha keras menjadi bantal. Aku merasakan napasnya. Masuk, tahan, keluar. Masuk, tahan, keluar. Dia benar-benar menghitungnya.
Lalu aku merasakan sesuatu yang lain.
Tangannya. Tangan kirinya, yang dari tadi diam di atas pahanya sendiri, bergerak. Pelan sekali. Naik. Aku merasakan udara bergeser di dekat pelipisku. Ujung jarinya berada satu senti dari rambutku. Mungkin kurang.
Aku berhenti bernapas.
Tangan itu berhenti di sana. Satu detik. Dua detik. Tiga.
Lalu turun lagi. Kembali ke pahanya. Aku mendengar dia mengembuskan napas, panjang, pelan, seperti orang yang baru saja mengurungkan sesuatu yang sangat dia inginkan.
Aku tidak tahu harus melakukan apa dengan perasaan yang meledak di dadaku. Jadi aku tetap diam. Pura-pura tidur. Seperti orang bodoh. Seperti orang yang paling bahagia di dunia.
Tok. Tok. Tok.
Cahaya senter menyorot kaca jendela sisi pengemudi. Aku merasakan seluruh tubuhnya menegang di bawah pipiku.
“Mas.” Suara laki-laki paruh baya di luar. Satpam kompleks. “Mas, ngapain parkir di sini lama-lama?”
Jendela turun sedikit. Hanya beberapa senti. Suara Erga keluar dalam bisikan yang panik, tapi ditahan supaya tetap datar. Aku belum pernah mendengarnya bicara seperti itu.
“Pak. Maaf. Dia tidur.”
“Siapa yang tidur?”
“Yang punya mobil. Saya supirnya.”
Jeda.
“Supir kok pakai kemeja mahal?”
Jeda yang lebih panjang.
“…Supir kantor, Pak.”
“Kantor apa?”
“Kantor yang…” Dia berhenti. Aku bisa merasakan otaknya bekerja keras mencari jawaban, otak yang bisa menemukan server tersembunyi di antara empat puluh dua layanan dan mengembalikan pembayaran jutaan orang dalam tujuh belas menit. “…mahal, Pak.”
Senter itu bergeser. Aku merasakan cahayanya melewati wajahku. Aku menahan diri sekuat tenaga supaya kelopak mataku tidak berkedut.
“Loh. Itu Non Bella?”
“Iya, Pak.”
Nada satpam itu langsung berubah. Dari curiga jadi protektif. Seperti anjing penjaga yang baru sadar tuannya ada di dalam mobil.
“Mas jangan macam-macam, ya.”
“Saya lagi nggak ngapa-ngapain, Pak.”
“Justru itu,” kata satpam itu dengan serius. “Saya awasin.”
Senternya mati. Aku mendengar langkah kaki menjauh, tiga meter, lalu berhenti. Dia tidak pergi. Dia berdiri di sana, di bawah pohon mangga, dan mengawasi.
Di bawah pipiku, bahu Erga naik, lalu turun. Dia mengembuskan napas lewat hidung. Pendek. Tertahan.
Aku menyadari dia sedang menahan tawa. Aku harus menggigit bagian dalam pipiku supaya tidak ikut tertawa.
Pukul 00.50, aku membuka mata.
Aku tidak merencanakannya. Aku hanya tidak bisa pura-pura lagi. Aku mengangkat kepala dari bahunya, pelan, seolah baru bangun.
Dan dia menoleh padaku di saat yang sama.
Wajah kami sejengkal. Mungkin kurang. Di dalam mobil yang gelap, hanya lampu jalan kuning yang menerangi separuh wajahnya dari samping. Aku bisa melihat bulu matanya. Aku bisa melihat garis tipis di dahinya yang muncul setiap kali dia berpikir terlalu keras. Aku bisa melihat matanya.
Matanya turun. Sepersekian detik. Ke bibirku.
Lalu naik lagi. Cepat. Seperti orang yang tertangkap basah membaca pesan yang bukan untuknya.
Aku tidak bernapas.
“Kamu,” kataku. Suaraku keluar serak dan terlalu pelan. “Lihatin aku tidur?”
“Empat puluh menit.”
Tidak ada penyangkalan. Tidak ada nggak kok. Hanya angka. Tepat. Tentu saja dia menghitungnya.
“Ngapain aja?” tanyaku.
Dia tidak mengalihkan pandangannya. Dia tidak mundur. Jarak sejengkal itu tetap sejengkal, dan dia menatapku dengan tenang, seolah sedang melaporkan status sistem.
“Nahan diri,” katanya.
Aku tidak bisa bicara.
Aku tidak bisa berpikir. Kepalaku kosong seperti server yang baru di-restart. Aku meraba pintu mobil di belakangku tanpa melepaskan tatapan darinya, menemukan gagangnya, menariknya, lalu keluar dari mobil begitu cepat sampai hampir jatuh di trotoar.
Satpam di bawah pohon mangga langsung menyalakan senternya lagi.
“Non Bella! Non nggak apa-apa?”
Aku tidak menjawab. Aku berjalan ke pagar rumah, lalu berhenti, lalu kembali ke mobil, karena aku baru sadar aku tidak bisa masuk rumah tanpa kunci, dan kuncinya masih di tangannya.
Dia sudah turun dari mobil. Berdiri di sisi pengemudi, mengulurkan kunci itu padaku melewati atap mobil.
Aku mengambilnya. Jari kami tidak bersentuhan. Aku sengaja. Aku tidak yakin apa yang akan terjadi kalau bersentuhan.
“Makasih,” kataku ke arah atap mobil. “Udah nyetirin.”
“Hm.”
“Kamu pulang naik apa?”
“Ojek.”
“Jam satu pagi?”
“Pak satpamnya udah nawarin nganterin sampai gerbang depan.” Dia melirik ke arah pohon mangga. “Kayaknya bukan tawaran. Lebih ke pengawalan.”
Aku tertawa. Satu kali, pendek, dan tawa itu lepas dari dadaku seperti burung yang sudah terlalu lama terkurung.
Dari jendela kamarku di lantai dua, aku melihatnya berjalan ke gerbang kompleks, dengan satpam berjalan tiga langkah di belakangnya, senter menyala, seperti pengawal presiden.
Di ujung jalan, sebelum berbelok, dia berhenti. Dia berbalik. Dia mengangkat wajah dan menatap ke arah rumahku. Bukan ke jendela tertentu. Ke seluruh deretan jendela lantai dua, satu per satu, seperti mencari.
Aku tidak menyalakan lampu kamar. Dia tidak bisa melihatku. Tapi aku tetap mundur selangkah dari jendela, dengan jantung yang berdetak terlalu keras.
Waktu aku melangkah maju lagi, dia sudah pergi.
Pintu kamarku diketuk. Mama, dengan daster batik dan masker wajah hijau yang membuatnya terlihat seperti alien yang sangat penasaran.
“Bel.”
“Ma, kok belum tidur?”
“Mama kebangun. Terus Mama lihat ke bawah.” Dia menyipitkan mata di balik masker hijaunya. “Itu siapa yang nyetirin kamu? Kok lama banget di mobil?”
“Supir, Ma.”
“Supir.” Mama mengulang kata itu pelan, seperti mencicipi bumbu yang salah. “Supir kok ganteng.”
“Ma.”
“Supir kok nungguin empat puluh menit nggak bangunin kamu.”
“Ma.”
“Supir kok dikawal satpam.” Mama melipat tangannya di depan dada. Masker hijaunya mulai retak di bagian dahi karena dia mengerutkan kening. “Besok pagi Mama tanya Papa. Mama yakin Papa tahu itu siapa.”
Dia menutup pintu sebelum aku bisa protes.
Aku berbaring di tempat tidur dengan baju kantor, sepatu yang belum dilepas, dan jaket kanvasnya yang belum pernah pulang. Aku menatap langit-langit.
Nahan diri.
Empat puluh menit.
Aku menempelkan telapak tangan ke pelipis, tepat di tempat jarinya berhenti satu senti dari rambutku, dan aku tidak tidur sampai jam tiga pagi.
Jumat pagi, pukul 08.10, aku sampai di lantai 21 dengan kantong mata yang tidak bisa disembunyikan concealer apa pun.
Cece melihatku dan langsung mengetik sesuatu di ponselnya. Mbak Tika melihatku dan langsung menawarkan permen jahe. Di whiteboard pojok Zogo, seseorang, pasti Andre, sudah menambahkan satu baris baru dengan spidol hijau: INFO INTELIJEN: TKP KOMPLEKS PERUMAHAN, 00.10–00.50. SUMBER: SATPAM (TIDAK DAPAT DIVERIFIKASI).
Aku tidak mau tahu bagaimana informasi itu bisa sampai ke sana dalam delapan jam.
Di mejaku, ada segelas teh hangat. Bukan kopi. Teh melati, masih mengepul, di gelas kertas tanpa nama. Di bawahnya, sticky note biru dengan tulisan tangan yang rapi seperti diagram arsitektur:
Rencana komunikasi kamu sudah kubaca. Nggak perlu diubah apa-apa.
Aku menoleh ke pojok dekat jendela.
Dia sedang menatap laptopnya, tapi matanya juga merah. Kemejanya rapi seperti biasa, tapi rambutnya sedikit lebih berantakan dari biasanya, seperti orang yang menyisirnya dengan jari karena lupa di mana sisirnya.
Aku berjalan ke mejanya dengan gelas teh di tangan.
“Kamu tidur jam berapa?” tanyanya tanpa mengangkat kepala.
“Jam tiga.”
Dia berhenti mengetik. Diam sebentar. Lalu, masih tanpa menatapku, dia bicara pelan, seperti mengakui sebuah bug yang tidak bisa dia perbaiki.
“Aku juga.”
- 1 Server yang Katanya Down
- 2 Seminggu Sebelum Akad
- 3 Pak Architect
- 4 Server Room
- 5 Lima Menit
- 6 Won’t Fix
- 7 Payung
- 8 Tanggal di Undangan
- 9 Oke. Satu-Satu
- 10 Dia yang Pergi Seminggu Sebelum Akad
- 11 Jangan Bilang Mas Raka
- 12 Empat Puluh Menit reading
- 13 Serbet
- 14 Di Bawah Meja
- 15 Setelah Meja Makan
- 16 Cutover
- 17 Versi Sheila
- 18 Tolong Jauhi Adikku
- 19 Hampir
- 20 Kita Berhenti di Sini
- 21 Lift
- 22 Hari Gajian
- 23 Fitting
- 24 Runbook
- 25 Aku yang Nggak Diam
- 26 Sama-Sama Benar
- 27 Satu Jengkal
- 28 H-10
- 29 H-8
- 30 H-7
- 31 Malam yang Sama
- 32 Klub H-7
- 33 Resolved
- 34 Pacar Senior Architect
- 35 Hari Kamis
- 36 Sheila Datang Lagi
- 37 Lima Menit?
- 38 Request: Seumur Hidup
- 39 H-7, Lagi
- 40 Tanpa Tanggal Kadaluarsa
- 41 Epilog 1: Malam yang Tidak Dihitung
- 42 Epilog 2: Pagi Pertama