Chapter Thirty Six
Sheila Datang Lagi
POV: Erga
Kabar itu datang lewat jalur yang sudah bisa kutebak. Tante Vivi, perancang busana berkacamata merah muda, punya klien bernama Bu Santoso. Bu Santoso punya arisan. Arisan Bu Santoso punya anggota bernama Tante Mira, yang anaknya dulu hampir menikah di Graha Sasmita tiga tahun lalu, di minggu yang sama dengan pernikahan yang tidak pernah terjadi.
Tante Mira ingat nama itu. Sheila Maharani. Calon pengantin perempuan yang membatalkan seminggu sebelum akad, yang gedungnya jadi kosong, yang katering pesanannya dijual murah ke keluarga Tante Mira karena sudah terlanjur dimasak.
Bu Santoso menceritakannya kepada anaknya. Anaknya bernama Kevin.
Kevin Santoso, menurut Tante Vivi, yang menceritakannya kepada Bella waktu Bella mengembalikan kain tule sisa ke butiknya, langsung pucat kayak kain kafan, Cantik. Dua kali. Dua pernikahan. Dua kali di H-7. Kevin memutuskan hubungan itu hari Sabtu, lewat pesan WhatsApp, tiga kalimat.
Nala menceritakan semua ini padaku dengan kecepatan orang yang baru memenangkan lotere, di meja makan apartemenku, hari Minggu, dengan mulut penuh bubur ayam.
“Karma, Bang,” katanya. “Karma itu nyata. Karma itu pakai kacamata merah muda.”
Aku mengaduk buburku. Sampai rata. Kuning pucat.
“Abang nggak seneng?”
Aku memikirkannya. Aku mencari rasa puas itu di dalam diriku, seperti dulu aku mencari rasa marah. Aku tidak menemukannya.
“Nggak, Nal.”
“Kenapa?”
“Karena nggak ada yang menang di cerita ini.”
Nala menatapku lama. Lalu dia meletakkan sendoknya, dan tidak bicara lagi sampai buburnya dingin.
Malam itu, di grup Klub H-7, yang anggotanya hanya dua orang, Raka mengirim pesan.
Aku dengar.
Aku membalas. Aku juga.
Aku nggak seneng, Ga.
Aku juga nggak, Mas.
Tidak ada pesan lagi setelah itu. Tapi aku tahu, di rumah dengan pohon mangga berlampu kecil, Raka sedang duduk di teras dan menatap pos jaga satpam, sama seperti aku duduk di balkon dan menatap lampu kota. Dua laki-laki yang pernah ditinggalkan oleh orang yang sama, dan sekarang tidak tahu harus merasakan apa ketika orang itu ditinggalkan juga.
Jumat sore, pukul 18.50, aku pulang ke apartemen lebih awal.
Bella dan Nala akan datang pukul setengah delapan. Mereka bilang akan membawa makan malam. Bella bilang dia akan masak. Nala bilang, lewat pesan terpisah yang dikirim khusus padaku, Bang, siapin pemadam kebakaran.
Hujan turun sejak jam lima. Deras. Jalan di depan gedung apartemen berubah jadi sungai kecil. Aku berlari dari mulut gang ke lobi dengan tas laptop di atas kepala.
Satpam lobi, Pak Dudung, menyambutku dengan wajah yang tidak biasa.
“Mas Erga.” Dia menurunkan suaranya. “Ada tamu. Dari jam enam. Saya bilang Mas belum pulang, tapi dia bilang mau nunggu.”
Dia melirik ke sofa di sudut lobi.
Aku menoleh.
Sheila duduk di sana. Sendirian. Tanpa payung. Rambutnya basah di ujung, seperti orang yang berlari dari taksi di bawah hujan. Dia memakai blus krem yang sederhana, tanpa perhiasan, tanpa riasan tebal. Dia terlihat lebih kecil dari yang kuingat. Lebih lelah.
Dia melihatku. Dia berdiri.
Dia tidak tersenyum. Tidak ada versi senyum apa pun di wajahnya.
“Ga.”
“Sheila.”
Aku tidak mendekat. Dia juga tidak. Kami berdiri di dua sisi lobi yang kecil itu, dengan meja resepsionis dan pot tanaman plastik di antara kami. Pak Dudung pura-pura sibuk dengan buku tamu.
“Aku cuma mau ngomong sebentar,” katanya. Suaranya tidak manis. Tidak ada ya di ujung kalimatnya. Suara ini datar, lelah, dan aku sadar ini suara yang dulu dia pakai setiap kali kami bertengkar di tahun-tahun terakhir, suara yang tidak pernah dia pakai di depan orang lain.
“Silakan.”
Dia menarik napas. Dia menatap lantai lobi yang basah karena tetesan dari payung-payung penghuni.
“Kevin udah nggak ada,” katanya.
“Aku tahu.”
Dia mengangkat wajah, terkejut. Lalu tertawa kecil. Pahit. “Tentu aja kamu tahu. Semua orang tahu.”
Aku tidak menjawab.
“Mas Raka juga udah nggak mau ngomong sama aku. Orang tuaku malu. Teman-teman arisan Mamaku ngomongin aku.” Dia memeluk lengannya sendiri. Blusnya basah di bahu. “Aku nggak punya siapa-siapa, Ga.”
Aku menunggu.
Dia melangkah maju. Satu langkah. Dua. Sekarang dia berdiri di depan meja resepsionis, satu meter dariku.
“Aku mikir,” katanya pelan. “Beberapa minggu ini. Aku mikir soal kita. Delapan tahun. Mungkin…” Dia berhenti, lalu menatapku dengan mata yang basah. “Mungkin kita dulu terlalu cepat nyerah, Ga.”
Kalimat itu jatuh di lantai lobi yang basah.
Kita.
“Kamu masih orang yang paling baik sama aku,” lanjutnya. Suaranya bergetar. “Dari semua orang. Delapan tahun, kamu nggak pernah sekali pun ninggalin aku. Kamu yang ngurus semuanya. Kamu yang nggak pernah marah. Aku… aku nggak pernah nemu orang kayak kamu lagi.”
Dia mengulurkan tangannya. Ke arah tanganku.
Aku mundur satu langkah.
Tangannya berhenti di udara.
Aku menatapnya. Perempuan yang dulu tertawa di gedung Fakultas Ekonomi karena aku salah membaca denah. Perempuan yang memasukkan tangannya ke saku jaketku karena kedinginan. Perempuan yang menelepon hari Selasa, jam sembilan lewat empat, dan tidak pernah mengangkat telepon lagi.
Perempuan yang memalsukan lima tangkapan layar untuk menghancurkanku. Perempuan yang bilang pada Raka aku kasar. Perempuan yang bilang pada Bella dia akan habis.
Aku menunggu rasa marah itu datang. Rasa sakit. Rasa apa pun.
Yang datang hanya kelelahan. Dan sesuatu yang sangat mirip rasa kasihan.
“Sheila,” kataku.
Dia menatapku dengan harapan di matanya. Harapan yang membuatku ingin berpaling.
“Kamu nggak terlalu cepat nyerah.”
Harapan itu goyah.
“Kamu memang orang yang nyerah.” Aku mengatakannya pelan. Tidak kejam. Hanya jujur, seperti membaca log. “Kamu nyerah sama aku, hari Selasa. Kamu nyerah sama Mas Raka, hari Selasa. Dan kalau Kevin nggak ninggalin kamu duluan, kamu bakal nyerah sama dia juga. Mungkin hari Selasa juga.”
Dia membuka mulut. Tidak ada suara yang keluar.
“Itu bukan salah cinta. Itu bukan salah aku. Itu bukan salah Mas Raka.” Aku menarik napas. “Tiga tahun aku mikir cinta punya tanggal kadaluarsa, karena cinta kamu habis. Ternyata cinta nggak habis. Kamu yang pergi. Dua hal itu beda. Aku butuh tiga tahun dan satu malam di taman orang lain buat ngerti bedanya.”
Air matanya jatuh. Dia tidak mengusapnya.
“Aku nggak marah sama kamu, Sheila,” kataku. “Aku udah lama nggak marah. Aku cuma udah nggak di sana lagi.”
“Karena dia?” bisiknya. “Karena Bella?”
Aku memikirkan pertanyaan itu. Aku ingin menjawab dengan jujur.
“Karena aku,” kataku. “Aku udah berhenti jadiin kamu alasan buat nggak bahagia.”
Pintu lobi terbuka.
Angin dan hujan masuk sekaligus. Dua perempuan dengan satu payung besar yang tidak cukup untuk dua orang, basah di bahu masing-masing. Nala membawa kantong plastik berisi martabak. Tangan yang satu lagi, aku melihatnya, memegang sandal jepit.
Bella membawa panci. Panci tertutup, yang dia peluk di dada seperti membawa bayi.
Mereka berdua berhenti di ambang pintu.
Nala melihat Sheila. Wajahnya berubah dari ceria jadi merah padam dalam satu detik. Dia mengangkat sandal jepitnya setengah.
Bella melihat Sheila. Wajahnya tidak berubah sama sekali.
Dia meletakkan panci itu di meja resepsionis. Pak Dudung menerimanya dengan dua tangan, bingung. Lalu Bella berjalan ke arahku. Tidak cepat. Tidak lambat. Dengan langkah yang sangat tenang, seperti orang yang berjalan ke podium untuk presentasi yang sudah dia latih seratus kali.
Dia berhenti di sebelahku. Dia tidak bicara padaku. Dia hanya mengulurkan tangannya, dan menggenggam tanganku.
Jari-jarinya dingin karena hujan. Genggamannya tidak ragu.
Sheila menatap tangan kami. Lalu menatap Bella.
Bella menatapnya balik. Tenang. Tanpa senyum, tapi juga tanpa kebencian. Seperti menatap tiket yang statusnya sudah ditutup.
“Kak Sheila,” katanya. Suaranya lembut. Hampir ramah.
Lalu dia mengucapkan satu kalimat.
“Jalannya licin. Hati-hati pulangnya.”
Hening.
Aku merasakan tangan Bella di tanganku, menggenggam sedikit lebih erat. Nala di ambang pintu menurunkan sandal jepitnya pelan-pelan, dengan wajah orang yang tidak percaya apa yang baru dia dengar.
Sheila menatap Bella lama. Aku melihat dia mengenali kalimat itu. Kalimat yang dia ucapkan sendiri di depan mobil Bella, setelah butik putih, sebagai ancaman. Kalimat yang sekarang dikembalikan kepadanya, kata demi kata, dengan nada yang sama sekali tidak mengancam. Hanya sebuah peringatan jujur tentang lantai yang basah.
Sheila tidak menjawab. Dia berbalik, berjalan ke pintu lobi, dan berhenti di ambangnya. Di luar, hujan turun deras. Dia tidak membawa payung.
Dia berdiri di sana, menatap hujan, dengan bahu yang sudah basah.
Aku melepaskan tangan Bella. Pelan.
Aku berjalan ke meja resepsionis, ke Pak Dudung, yang masih memeluk panci Bella dengan wajah bingung.
“Pak,” kataku pelan. “Payung pinjaman gedung masih ada?”
Pak Dudung menatapku. Lalu menatap Sheila di pintu. Lalu menatapku lagi, dengan wajah orang yang tidak mengerti tapi memutuskan untuk tidak bertanya. Dia mengambil payung hitam dari rak di belakang meja dan menyerahkannya padaku.
Aku tidak mendekati Sheila. Aku menyerahkan payung itu kembali ke Pak Dudung.
“Tolong kasih ke Mbak itu, Pak. Bilang nggak usah dikembalikan.”
Pak Dudung berjalan ke pintu dan menyerahkan payung itu. Sheila menatap payung di tangannya. Lalu dia menoleh ke dalam lobi, ke arahku. Hanya sekali.
Aku tidak tahu apa yang dia lihat di wajahku. Aku sendiri tidak tahu apa yang ada di sana. Mungkin tidak ada apa-apa. Mungkin itu yang paling jujur dari semuanya: setelah tiga tahun, wajahku akhirnya tidak menyimpan apa pun untuknya.
Dia membuka payung itu dan berjalan keluar, ke dalam hujan, sendirian.
Waktu aku berbalik, Bella sedang menatapku. Dia berdiri di tengah lobi dengan tangan yang tadi kulepaskan masih terangkat setengah, seperti belum tahu harus diletakkan di mana.
“Kamu kasih dia payung,” katanya.
“Hujan.”
“Dia nyakitin kamu, Ga. Dia bikin screenshot palsu. Dia bilang ke Mas Raka kamu kasar. Dia bilang ke aku aku bakal habis.”
“Iya,” kataku. “Tapi hujan.”
Bella menatapku lama. Aku melihat beberapa hal lewat di wajahnya, satu per satu, seperti notifikasi yang masuk bersamaan. Marah. Tidak percaya. Lalu sesuatu yang lebih lembut, yang membuat matanya berkaca-kaca.
“Ini,” katanya pelan, “kenapa aku jatuh cinta sama kamu.”
Aku tidak menjawab.
“Dan ini juga,” tambahnya, suaranya naik sedikit, “kenapa aku pengin nonjok kamu.”
Di ambang pintu, Nala mengangkat sandal jepitnya lagi dengan penuh harap.
“Kak. Kalau mau nonjok, pakai ini aja. Masih baru.”
Di lift, Nala masih memegang sandal jepitnya. Dia menatap sandal itu dengan wajah kecewa.
“Aku bawa ini dari rumah,” katanya. “Buat jaga-jaga. Tiga tahun aku latihan kalimatnya di depan cermin.”
“Maaf, Nal.”
“Nggak kepake, Bang.” Dia menghela napas panjang. “Nggak kepake sama sekali.”
Bella berdiri di sebelahku, memeluk panci yang sudah dia ambil kembali dari Pak Dudung. Dia tidak bicara sejak lobi.
Lantai empat. Lima.
“Aku nggak cemburu,” katanya tiba-tiba, menatap angka di atas pintu.
Aku menatapnya. “Tangan kamu gemetar.”
“Karena marah. Bukan cemburu.”
“Dua-duanya boleh.”
Lantai tujuh.
Dia diam. Dia menggigit bibir bawahnya. Lalu, pelan, sangat pelan: “…Oke. Sedikit cemburu.”
Aku mengangkat tangan dan menyentuh dagunya dengan ujung jari, mengangkat wajahnya sedikit, supaya dia menatapku.
“Bagus,” kataku. “Aku suka dicemburuin kamu.”
Lantai delapan. Nala menutup matanya dengan kedua tangan, sandal jepit masih di salah satunya.
“Kalian,” katanya dari balik tangannya, “tolong ingat ada adik di sini.”
Makan malam Bella adalah sayur sop yang terlalu asin dan ayam goreng yang gosong di satu sisi. Nala makan tiga piring dan bilang itu makanan paling enak yang pernah dia makan, dengan wajah yang sangat serius dan mata yang berair karena asin.
Aku makan dua piring. Aku tidak bohong. Rasanya memang enak. Rasanya seperti seseorang yang memasak dengan tangan gemetar di dapur rumahnya, lalu membawa panci itu menembus hujan.
Pukul sepuluh malam, setelah mereka pulang, aku membuka laci meja kerja.
Tisu segi empat. Selamat pagi, Pak Architect. Aku percaya kamu. Nggak perlu dijelasin. Brosur Graha Sasmita. Dan flashdisk kecil.
Aku mengambil flashdisk itu. Aku menancapkannya ke laptop. Folder itu masih di sana. Bukti — jangan dibuka.
Aku tidak membukanya. Aku memilih folder itu, menekan Delete, lalu mengosongkan tempat sampah. Satu klik. Semuanya hilang.
Lalu aku berlutut di sebelah tempat tidur dan menarik kardus cokelat dari kolongnya. UNDANGAN — SISA. Lima ratus undangan. Tiga tahun. Dua lapis lakban.
Aku membawanya keluar dari apartemen, menyusuri lorong, sampai ke pintu ruang sampah di ujung lantai sembilan.
Aku sudah berdiri di depan pintu ini berkali-kali. Selalu berhenti. Selalu membawa kardus itu kembali.
Malam ini, aku membuka pintunya.
Aku meletakkan kardus itu di tempat sampah kertas, di atas tumpukan koran bekas dan kardus mi instan. Aku tidak berlama-lama. Aku tidak mengambil satu undangan pun untuk kenang-kenangan.
Aku menutup pintu ruang sampah, dan berjalan kembali ke apartemenku, dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, kolong tempat tidurku kosong.
Aku tidur sebelum jam sebelas. Nyenyak. Tanpa angka apa pun di kepala.
- 1 Server yang Katanya Down
- 2 Seminggu Sebelum Akad
- 3 Pak Architect
- 4 Server Room
- 5 Lima Menit
- 6 Won’t Fix
- 7 Payung
- 8 Tanggal di Undangan
- 9 Oke. Satu-Satu
- 10 Dia yang Pergi Seminggu Sebelum Akad
- 11 Jangan Bilang Mas Raka
- 12 Empat Puluh Menit
- 13 Serbet
- 14 Di Bawah Meja
- 15 Setelah Meja Makan
- 16 Cutover
- 17 Versi Sheila
- 18 Tolong Jauhi Adikku
- 19 Hampir
- 20 Kita Berhenti di Sini
- 21 Lift
- 22 Hari Gajian
- 23 Fitting
- 24 Runbook
- 25 Aku yang Nggak Diam
- 26 Sama-Sama Benar
- 27 Satu Jengkal
- 28 H-10
- 29 H-8
- 30 H-7
- 31 Malam yang Sama
- 32 Klub H-7
- 33 Resolved
- 34 Pacar Senior Architect
- 35 Hari Kamis
- 36 Sheila Datang Lagi reading
- 37 Lima Menit?
- 38 Request: Seumur Hidup
- 39 H-7, Lagi
- 40 Tanpa Tanggal Kadaluarsa
- 41 Epilog 1: Malam yang Tidak Dihitung
- 42 Epilog 2: Pagi Pertama