Chapter Forty Two
Epilog 2: Pagi Pertama
POV: Erga
Aku terbangun karena bau gosong.
Bukan jam tiga pagi. Bukan jam lima lewat empat puluh, jam yang selalu membangunkanku tanpa alarm selama enam tahun terakhir. Aku membuka mata, menatap langit-langit kamar yang belum kukenal, dan melihat jam di meja samping tempat tidur.
06.52.
Aku menatap angka itu lama. Aku tidak pernah tidur sampai jam tujuh. Tidak sejak kuliah. Tidak di hari libur. Tidak di hari aku sakit.
Aku tidak terbangun jam tiga pagi. Aku tidak terbangun sama sekali. Tidak ada angka di kepalaku yang menunggu di balik kelopak mata. Tidak ada tugas terjadwal yang menyala sendiri.
Sisi tempat tidur di sebelahku kosong. Masih hangat.
Dari arah dapur, bau gosong itu semakin kuat. Disusul suara wajan yang digeser terlalu keras, dan suara seseorang yang berbisik dengan panik, “Nggak, nggak, nggak, jangan, jangan—”
Aku bangun.
Lampu-lampu kecil di lorong menyala satu per satu saat aku berjalan. Delapan puluh senti jaraknya. Aku mengukurnya dari panjang langkahnya, bukan langkahku, jadi lampu-lampu itu menyala sedikit terlalu cepat untuk kakiku. Satu lampu menyala sebelum aku sampai. Lalu yang berikutnya. Seperti jalan setapak yang dibuat untuk orang lain, dan aku hanya menumpang lewat.
Aku tidak keberatan. Aku memang merancangnya untuk orang lain.
Dia berdiri di depan kompor, memakai kemeja putih bernoda stroberi. Rambutnya diikat asal dengan karet gelang yang kuduga diambil dari laci meja kerjaku, karet gelang yang tadinya mengikat delapan serpihan struk. Wajan di depannya berasap. Di dalam wajan, telur dadar. Setengahnya kuning keemasan. Setengahnya lagi hitam.
Di sebelah kompor, di atas talenan, tiga telur dadar lain yang nasibnya sama. Sepertinya dia sudah mencoba sejak jam enam.
Dia melihatku berdiri di ambang dapur. Wajahnya berubah dari panik jadi malu, lalu jadi menantang, dalam satu detik.
“Jangan ketawa,” katanya.
“Aku nggak ketawa.”
“Muka kamu ketawa.”
“Muka aku memang begini.”
“Muka kamu nggak pernah begini sebelum kamu kenal aku, Ga.”
Itu benar. Aku tidak membantahnya.
Dia mematikan kompor, mengangkat wajan, dan memindahkan telur setengah gosong itu ke talenan, di sebelah tiga saudaranya. Lalu dia mengambil pisau, dan dengan wajah sangat serius, seperti arsitek yang menggambar diagram, dia memotongnya.
Empat. Lalu delapan.
“Aku mau masakin kamu,” katanya, tanpa menoleh. “Setahun kamu masak telur tiap pagi. Buat aku. Dipotong delapan. Kamu nggak pernah bolos. Bahkan waktu kamu remote. Bahkan waktu kita nggak ngomong.” Dia menaruh pisau. “Aku pikir, mulai hari ini, gantian. Biar kamu nggak kerja sendirian tiap pagi.”
Aku menatap delapan potong telur dadar yang setengah gosong di atas talenan.
Aku tidak bisa bicara.
Aku berjalan ke belakangnya. Aku melingkarkan kedua tanganku di pinggangnya, dari belakang, dan menempelkan daguku di bahunya. Kemejaku masih wangi stroberi, samar-samar, setelah setahun. Dan wangi dia. Hujan di atas kulit jeruk.
Dia menegang sebentar, lalu melemas, dan menyandarkan punggungnya ke dadaku.
“Lima menit,” kataku ke bahunya.
Dia diam. Aku merasakan dia tersenyum.
Kami berdiri di sana, di dapur yang masih berbau gosong, dengan matahari pagi yang masuk dari jendela di atas wastafel. Di luar, crane di proyek gedung sudah mulai berputar pelan. Di bawah, kota mulai berbunyi. Klakson. Tukang sayur. Suara bus.
“Udah sepuluh,” katanya akhirnya.
Aku tidak melepaskannya.
“Aku nggak ngitung lagi,” kataku.
Dia tertawa pelan, dan meletakkan kedua tangannya di atas tanganku di pinggangnya, dan tidak menyuruhku melepaskan.
Kami makan telur dadar setengah gosong di meja makan kecil di dekat balkon. Dengan nasi. Dengan kecap, karena dia bilang kecap bisa menyelamatkan apa pun.
Rasanya pahit di satu sisi dan asin di sisi lain.
Aku makan semuanya. Delapan potong. Dua telur. Dan tiga telur lain yang lebih gosong, yang dia coba sembunyikan di balik talenan dan kutemukan.
“Kamu nggak harus makan yang itu,” katanya.
“Aku mau.”
“Itu gosong, Ga.”
“Itu yang pertama,” kataku. “Yang pertama selalu aku simpan.”
Dia menatapku lama. Lalu dia menunduk ke piringnya, dan aku melihat telinganya memerah. Ternyata dia juga punya kebiasaan itu. Aku tidak pernah menyadarinya karena selama setahun, aku terlalu sibuk menyembunyikan telingaku sendiri.
Ponselku bergetar di meja. Lalu ponselnya. Lalu ponselku lagi. Lalu keduanya bersamaan, berulang-ulang, seperti dua ponsel yang sedang bertengkar.
Grup WhatsApp baru. Dibuat pukul 05.30 pagi. Nama grupnya: Besan Bersatu 🌸.
Anggotanya: Mama. Bu Ratna. Papa. Pak Bram. Nala. Raka. Andre. Bella. Aku.
Pesan pertama dari Bu Ratna: foto rendang dalam wadah plastik, dengan tulisan Sisa kemarin, Tante antar siang ini ke rumah anak-anak ya 🌸🌸🌸.
Pesan kedua dari Mama, dua menit kemudian: foto rendang dalam wadah plastik yang sedikit lebih besar. Mama juga antar ya Nak. Yang ini lebih pedes. 🌸🌸🌸🌸.
Pesan ketiga dari Bu Ratna: foto rendang yang sama, dari sudut yang berbeda. Punya Tante lebih empuk. 🌸🌸🌸🌸🌸.
Nala: Mama-mama, kemarin udah disepakati juara satu bersama. Jangan perang lagi di grup, aku yang malu.
Andre: Btw semuanya, tanggal pernikahan kami udah fix. Enam bulan lagi. Mohon doa restu. Dan mohon Mas Erga jangan bawa runbook ke acara lamaran.
Raka: Aku akan bawa papan catur.
Lalu, satu pesan. Dari Pak Bram. Pesan pertamanya di grup keluarga mana pun, sejauh yang bisa dilacak siapa pun.
Erga. Rematch. Minggu depan. Jangan sengaja kalah lagi.
Mama membalas dengan dua puluh stiker bunga. Bu Ratna membalas dengan dua puluh satu.
Bella membaca semua itu dari ponselnya, lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan dan tertawa sampai kursinya bergoyang.
Satu pesan lagi masuk, di grup yang berbeda. Grup yang anggotanya hanya dua.
Klub H-7.
Raka: Ga. Aku mau lapor sesuatu.
Raka: Aku kenalan sama orang. Minggu lalu. Belum apa-apa. Cuma ngopi sekali. Di warung Bu Yati, kebetulan.
Raka: Tapi aku nggak mau nggak tahu rasanya.
Aku menatap kalimat itu. Kalimat Andre, di kafe hijau pastel, berbulan-bulan lalu. Kalimat yang sekarang sudah berpindah tangan tiga kali.
Aku mengetik.
Keluar dari klub, Mas?
Tiga titik. Lama.
Belum. Tapi aku udah pegang gagang pintunya.
Aku tersenyum ke layar ponsel.
Pintunya nggak dikunci, Mas. Aku udah cek.
Setelah sarapan, dia duduk di pangkuanku di sofa, dengan laptopku terbuka di pangkuannya. Kemejaku masih dia pakai. Dia bilang dia tidak akan mengembalikannya. Pemiliknya sudah tahu.
Dia membuka NayaraDesk.
Antrean Proyek Pak Architect. Seratus satu tiket. Enam puluh delapan berjudul tes. Satu berjudul semoga berhasil, Pak. Satu berjudul Absen, dengan status ACKNOWLEDGED.
Dan satu, di paling atas.
Tiket #100
Judul: Request: seumur hidup.
Prioritas: CRITICAL
Status: ACCEPTED
Komentar dari bella.larasati: Sudah tercatat. Di tempat yang nggak bisa dihapus.
“Status tiket ini,” kata Bella, mengetuk layar dengan jari. “Harusnya diubah sekarang, kan? Udah dikerjain.”
“Iya.”
“Diubah jadi apa?”
Aku mengulurkan tangan melewati bahunya dan menggeser kursor ke menu status.
Won’t Fix. Aku melewatinya.
In Progress. Aku melewatinya.
Aku berhenti di satu kata.
Dia menahan napas. “Ga. Kok Closed?”
“Request-nya udah dipenuhi.”
“Tapi itu seumur hidup. Seumur hidup kan belum selesai.”
Aku mengklik. Lalu aku mengetik di kolom komentar, pelan, dengan tangannya di atas tanganku di atas keyboard.
Status diubah oleh erga.mahardika: CLOSED
Komentar: Seumur hidup bukan tiket lagi. Sekarang itu sistem. Jalan terus. Nggak perlu dipantau. Tanpa tanggal kadaluarsa.
Dia membaca komentar itu. Dua kali. Tiga kali.
Lalu dia menutup laptop, meletakkannya di meja, dan berbalik di pangkuanku sampai dia menghadapku. Dia mengangkat kedua tangannya ke leherku. Ke kerah kaus putihku, yang tidak punya kerah untuk dirapikan.
Dia tetap merapikannya.
“Kerah kamu miring,” katanya.
“Aku pakai kaus, Bel.”
“Tetap miring.”
Dia menepuk kerah yang tidak ada itu dua kali. Lalu dia menatapku, dengan senyum yang sangat lebar dan mata yang sangat jernih di bawah cahaya pagi dari jendela balkon.
“Ga.”
“Hm.”
“Lima menit?”
Aku menatapnya. Istriku. Kata itu masih terasa seperti bahasa asing di kepalaku.
Aku punya waktu untuk terbiasa. Aku punya semua waktu di dunia.
Aku menariknya ke dalam pelukanku, di sofa di apartemen lantai dua belas dengan lampu-lampu kecil di lorong dan laci penuh barang yang tidak berani kubuang dan crane yang berputar pelan di kejauhan, dan aku menjawab pertanyaannya.
“Seumur hidup.”
TAMAT
- 1 Server yang Katanya Down
- 2 Seminggu Sebelum Akad
- 3 Pak Architect
- 4 Server Room
- 5 Lima Menit
- 6 Won’t Fix
- 7 Payung
- 8 Tanggal di Undangan
- 9 Oke. Satu-Satu
- 10 Dia yang Pergi Seminggu Sebelum Akad
- 11 Jangan Bilang Mas Raka
- 12 Empat Puluh Menit
- 13 Serbet
- 14 Di Bawah Meja
- 15 Setelah Meja Makan
- 16 Cutover
- 17 Versi Sheila
- 18 Tolong Jauhi Adikku
- 19 Hampir
- 20 Kita Berhenti di Sini
- 21 Lift
- 22 Hari Gajian
- 23 Fitting
- 24 Runbook
- 25 Aku yang Nggak Diam
- 26 Sama-Sama Benar
- 27 Satu Jengkal
- 28 H-10
- 29 H-8
- 30 H-7
- 31 Malam yang Sama
- 32 Klub H-7
- 33 Resolved
- 34 Pacar Senior Architect
- 35 Hari Kamis
- 36 Sheila Datang Lagi
- 37 Lima Menit?
- 38 Request: Seumur Hidup
- 39 H-7, Lagi
- 40 Tanpa Tanggal Kadaluarsa
- 41 Epilog 1: Malam yang Tidak Dihitung
- 42 Epilog 2: Pagi Pertama reading