← Tanpa Tanggal Kadaluarsa

Chapter Twenty Two

Hari Gajian

POV: Erga

Setiap malam pukul sebelas, aku membuka NayaraDesk.

Tidak ada alasan teknis. Tidak ada tiket yang harus diselesaikan. Tim Yoga sudah menangani semua tiket kerja sebelum jam enam sore, dan aku sudah memeriksanya sebelum pulang. Tapi setiap malam, pukul sebelas, tanganku membuka laptop, mengetik alamat NayaraDesk, dan menunggu.

Dashboard-nya selalu sama. Tiket terbuka yang di-assign ke Anda: 0.

Aku menggulir ke bawah, ke daftar tiket lama. Tiga puluh satu tiket, dengan statusnya masing-masing. Won’t Fix. Duplicate. Need More Info. In Progress. Dan di paling atas, satu-satunya yang tidak kututup sendiri: #031. Paused.

Aku membaca judul-judulnya. Domba berkemeja putih. Pergelangan tangan yang masih terasa dingin. Burung gereja yang menanyakan keberadaanku. Kucing yang tidak ada.

Lalu aku menutup laptop dan tidur, atau berusaha tidur.

Malam ke-sebelas, aku sadar ini sudah jadi kebiasaan. Malam ke-dua belas, aku sadar aku tidak mau berhenti.

Di kepalaku, angka lain terus berjalan. Enam puluh hari.


Tanggal dua puluh lima. Hari gajian.

Bagi aplikasi belanja, hari gajian lebih penting dari Lebaran. Orang menerima gaji pukul tujuh pagi, dan pukul sembilan, keranjang belanja yang sudah diisi selama sebulan akhirnya dibayar. Grafik transaksi Nayara+ biasanya naik tiga kali lipat dalam satu jam.

Pukul 09.14, ponselku berbunyi. Bukan alert server. Pesan dari Adit.

Pak. Twitter. PayNusa down.

PayNusa adalah gateway pembayaran terbesar di Indonesia. Hampir semua aplikasi belanja memakai mereka. Termasuk Nayara+. Kalau PayNusa mati, tombol Bayar di jutaan ponsel berubah jadi tombol hiasan.

Aku membuka dashboard Nayara+.

Grafik transaksi tidak turun. Grafik itu naik.

Aku membuka log gateway. Pukul 09.13.22, health check Nayara+ mendeteksi PayNusa tidak merespons. Pukul 09.13.51, dua puluh sembilan detik kemudian, lalu lintas pembayaran otomatis dialihkan ke gateway kedua. Gateway yang kupasang diam-diam enam minggu lalu, di langkah lima puluh delapan runbook cutover. Gateway yang tidak diminta siapa pun.

Tidak ada yang harus menekan tombol. Tidak ada yang harus bangun dari kursi. Sistemnya sudah tahu apa yang harus dilakukan, karena seseorang sudah memberitahunya jauh sebelum hari ini.

Pukul 09.20, grafik transaksi Nayara+ sudah dua kali lipat hari gajian biasa. Pukul 09.40, empat kali lipat. Di Twitter, tagar #PayNusaDown berada di posisi satu. Di bawahnya, di posisi tujuh, ada tagar yang lain.

#NayaraPlusJalan

Orang-orang yang tidak bisa membayar di aplikasi lain mengunggah tangkapan layar pembayaran yang berhasil di Nayara+. Satu-satunya yang jalan hari ini. Pindah semua ke sini, guys. Nayara+ kenapa bisa jalan sendiri? Pakai dukun?

Aku membaca yang terakhir itu, dan untuk pertama kalinya dalam dua minggu, sudut bibirku bergerak.

Pukul 10.05, Bu Liana menelepon.

“Ga. CEO PayNusa barusan telepon aku.”

“Kenapa, Bu?”

“Dia lagi kebakaran. Seluruh kliennya marah. Tapi di tengah semua itu, dia sempat nanya satu hal.” Bu Liana tertawa pendek. “Dia mau tahu siapa yang bikin failover Nayara+ jalan dalam dua puluh sembilan detik. Dia mau ngajak ngobrol. Katanya, kalau orang itu bisa bikin sistem orang lain tahan terhadap kami, bayangkan kalau dia bikin sistem kami sendiri.”

“Saya lagi ada proyek, Bu.”

“Aku tahu. Aku juga bilang gitu ke dia.” Dia diam sebentar. “Tapi aku mau kamu tahu, Ga. Di luar sana, ada orang yang tahu nilai kamu. Jangan cuma dengerin satu versi cerita tentang diri kamu sendiri.”

Dia menutup telepon. Aku menatap ponsel lama, dan tidak tahu apakah dia sedang membicarakan PayNusa atau sesuatu yang lain.


Lantai 21 berubah jadi pasar malam.

Tim marketing berlarian dengan laptop terbuka, memotret grafik untuk media sosial. Tim customer service kewalahan, bukan karena keluhan, tapi karena pelanggan baru yang bingung cara mendaftar. Yoga berdiri di depan layar besar dengan kedua tangan di kepala, seperti orang yang menonton timnya menang adu penalti.

“Pak,” katanya waktu melihatku. “Pak, gateway cadangan. Yang di langkah lima puluh delapan. Yang Bapak bilang jaga-jaga.”

“Iya, Yog.”

“Bapak tahu ini bakal kejadian?”

“Nggak.”

“Terus kenapa dipasang?”

“Karena gateway utama kita cuma satu.” Aku duduk di mejaku. “Aku nggak suka satu pintu.”

Yoga menatapku lama. Lalu dia mengeluarkan buku catatannya dan menulis kalimat itu, pelan, huruf per huruf, di bawah Kita nggak deploy hari Jumat dan Yang benar-benar mepet biasanya jatuh di tanggal merah.

Dari balik partisi kaca, aku melihat Bella berdiri di depan layar besar di area product. Dia sedang menelepon, mungkin direksi, mungkin tim marketing. Suaranya cepat dan jernih, seperti biasa. Lalu dia menoleh ke pojok Zogo.

Aturan nomor enam: jangan lihat pojok Zogo lebih dari dua kali sehari. Aku tidak tahu aturan itu ada. Aku hanya tahu dia menoleh, dan waktu mata kami bertemu melalui kaca, dia tidak berpaling.

Dia menatapku tiga detik. Lalu dia tersenyum. Kecil. Hanya di sudut bibir. Senyum yang sama seperti senyum yang kuberikan padanya di lobi mal, hari hujan itu.

Lalu dia berbalik dan melanjutkan teleponnya.


Pukul 14.00, rapat evaluasi darurat. Ruang Kenari penuh. Raka duduk di kepala meja.

Pak Darmawan yang membuka. Dan Pak Darmawan tidak bisa berhenti bicara.

“Bapak-Ibu, hari ini tercatat sebagai hari transaksi terbesar dalam sejarah Nayara+. Lebih besar dari Twin Day. Lebih besar dari launching. Sementara seluruh aplikasi belanja di Indonesia lumpuh, kita satu-satunya yang berdiri.” Dia berhenti untuk efek dramatis. “Dan saya ingin semua orang di ruangan ini tahu bahwa ini bukan keberuntungan.”

Dia menoleh padaku. Aku sudah tahu apa yang akan terjadi. Aku tidak bisa menghentikannya.

“Enam minggu lalu, di tengah malam cutover, Pak Erga memasang gateway cadangan. Tanpa diminta. Tanpa anggaran. Tanpa memberi tahu siapa pun kecuali di catatan runbook.” Pak Darmawan merentangkan tangannya. “Seolah-olah dia sudah meramalkan hari ini!”

“Saya nggak meramal, Pak,” kataku.

“Tapi Bapak—”

“Saya cuma nggak suka satu pintu.”

Beberapa orang tertawa. Pak Darmawan tidak peduli. Dia melanjutkan presentasinya dengan dua belas slide yang semuanya berisi grafik naik, dan tiga di antaranya memakai kata visioner dengan huruf kapital.

Aku tidak berkomentar. Aku mencatat di buku kecil.

Di kepala meja, Raka diam sepanjang presentasi. Dia menatap grafik di layar. Lalu dia menatap Pak Darmawan. Lalu, sekali, pelan, dia menatapku.

Waktu rapat bubar, aku mendengarnya bertanya kepada Pak Darmawan dengan suara rendah di dekat pintu. Aku tidak berniat mendengar. Lorongnya sempit.

“Beneran dia yang pasang? Tanpa diminta?”

“Tanpa diminta, Pak. Saya yang tanda tangan laporannya. Tidak ada tiket permintaan, tidak ada persetujuan anggaran. Dia pasang pakai kontrak cadangan yang sudah ada dan tidak pernah dipakai.”

Raka diam.

“Kenapa dia lakukan itu?” tanyanya akhirnya. Bukan kepada Pak Darmawan. Lebih seperti kepada dirinya sendiri.

Pak Darmawan mengangkat bahu. “Katanya dia nggak suka satu pintu, Pak.”

Aku berjalan menjauh sebelum mendengar lebih banyak. Tapi aku sempat melihat wajah Raka waktu aku melewatinya. Wajah orang yang sedang mencoba mencocokkan dua gambar yang tidak mau menyatu. Laki-laki yang memasang pintu cadangan untuk sistem orang lain tanpa diminta, dan laki-laki yang diceritakan kepadanya, yang katanya mengatur semuanya sampai orang lain tidak bisa bernapas.

Gambar itu belum menyatu. Tapi aku melihat, untuk pertama kalinya, ada retakan di salah satunya.


Pukul 22.47, ponselku bergetar.

Bukan NayaraDesk. WhatsApp. Dari nomor yang kusimpan sebagai Bella, tanpa keterangan tambahan.

Satu tautan. Artikel dari media teknologi terbesar di Indonesia. Judulnya: Di Hari Semua Gateway Tumbang, Satu Aplikasi Tetap Berdiri: Cerita di Balik Ketahanan Nayara+. Di paragraf keenam, ada satu kalimat kutipan dari “sumber internal yang tidak mau disebut namanya”: Arsitek sistem kami memasang jalur cadangan enam minggu lalu tanpa diminta. Katanya dia tidak suka satu pintu.

Aku tahu sumber internal itu. Sumber internal itu memakai kacamata tebal dan tidak bisa menyimpan rahasia yang membuatnya bangga.

Di bawah tautan itu, ada pesan.

Aku baca lima kali. Kamu nggak usah bales. Aku cuma mau kamu tahu aku bangga.

Aku menatap pesan itu.

Aku bisa tidak membalas. Dia sendiri bilang begitu. Aku bisa membiarkan tanda centang dua berubah biru dan tidak menulis apa-apa, dan itu akan jadi hal paling konsisten dengan keputusan yang kubuat di rooftop hampir sebulan lalu.

Aku mengetik. Terima kasih. Menghapus.

Aku mengetik. Kamu nggak perlu bangga, itu cuma kerjaan. Menghapus, karena itu bohong, dan karena itu kejam.

Aku mengetik. Aku kangen kamu. Menatapnya. Menghapus, huruf demi huruf, pelan, seperti mencabut sesuatu yang sudah tumbuh akar.

Akhirnya, aku mengetik satu kata. Tiga huruf.

Bel.

Aku menekan kirim.

Tanda centang dua berubah biru dalam satu detik. Dia sedang menatap layarnya. Menunggu.

Tidak ada balasan. Aku tidak mengirim apa-apa lagi. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan tentang satu kata itu. Aku tidak tahu apa yang aku maksudkan dengan satu kata itu.

Aku hanya tahu bahwa tanda online di bawah namanya tidak hilang sampai jam tiga pagi. Aku tahu karena aku juga tidak tidur.


Sabtu siang, Andre datang ke apartemenku dengan kemeja baru dan wajah orang yang akan menghadap penghulu.

“Ga. Gue mau minta izin.”

“Izin apa?”

“Kencan resmi pertama.” Dia berdiri tegak di ruang tamu, seperti tentara. “Sama Nala. Nanti sore. Di kafe Kemang. Gue udah pesan meja. Gue mau bilang ke lo langsung, biar lo nggak dengar dari grup satpam.”

Aku menatapnya. Enam tahun berteman. Aku belum pernah melihatnya segugup ini, bahkan di hari presentasi terbesar Zogo.

“Oke,” kataku.

Andre mengembuskan napas lega. “Makasih, Ga. Serius. Gue—”

“Aku duduk di meja sebelah.”

Senyumnya membeku.

“Lo… apa?”

“Meja sebelah. Aku bawa laptop. Aku kerja. Kalian kencan.”

“Ga. Itu bukan kencan. Itu pengawasan.”

“Itu syaratnya.”


Pukul 16.00, kafe di Kemang. Toko kue dengan interior hijau pastel dan croissant berbentuk kucing. Tempat yang sama di mana Nala berteriak INI ORANGNYA dua bulan lalu.

Aku duduk di meja sebelah, satu meter dari mereka. Laptop terbuka. Kopi hitam. Dan kacamata hitam, karena Nala, waktu tahu aku akan ikut, mengirim pesan: Kalau Abang maksa dateng, minimal pakai kacamata hitam biar nggak ada yang tahu Abang kakakku. MALU, BANG.

Aku memakainya. Di dalam kafe. Di bawah lampu gantung yang redup.

Seorang pelayan menghampiri mejaku. “Mas, maaf. Mas nggak apa-apa? Silau?”

“Mata saya sensitif.”

Pelayan itu menatap lampu gantung redup di atas kepalaku, lalu menatapku lagi, lalu pergi tanpa bertanya lebih jauh.

Di meja sebelah, Nala menutupi wajahnya dengan menu. Andre berusaha keras bersikap normal. Dia bercerita tentang proyek Zogo. Nala tertawa. Dia bercerita tentang kucing tetangganya. Nala tertawa lagi. Setiap sepuluh menit, Andre melirik ke arahku seperti orang yang sedang diawasi penembak jitu.

Pukul 17.20, Nala pergi ke toilet. Andre menoleh padaku.

“Ga.”

Aku tidak mengangkat wajah dari laptop.

“Gue tahu lo lagi mikir apa,” katanya pelan. Nada bercandanya hilang. “Lo mikir, ngapain Andre mulai sesuatu yang dia nggak tahu bakal berapa lama.”

Aku berhenti mengetik.

“Gue emang nggak tahu, Ga. Bisa sebulan. Bisa setahun. Bisa selamanya. Bisa aja Nala bangun besok pagi dan mikir gue orang paling nyebelin sedunia.” Dia memutar gelas kopinya. “Tapi gue nggak mau nggak tahu rasanya.”

Dia menatapku, dan untuk pertama kalinya aku melihat Andre tanpa satu pun lelucon di wajahnya.

“Lo pernah tahu rasanya, Ga. Delapan tahun. Terus berakhir jelek. Oke. Tapi lo pernah tahu. Gue nggak mau hidup sampai tua tanpa pernah tahu.”

Nala kembali dari toilet. Andre langsung tersenyum lebar lagi, seperti tidak pernah bicara apa-apa.

Aku melepas kacamata hitamku.

Nala melihatku. “Bang? Kok dilepas? Katanya mata sensitif?”

“Udah nggak sensitif.”

Aku menutup laptop, meninggalkan uang di meja untuk kopi mereka, dan pulang sendiri. Di taksi, aku memikirkan kalimat Andre berulang-ulang, seperti log yang tidak bisa kuhapus.

Gue nggak mau nggak tahu rasanya.


Minggu malam, Mama menelepon.

“Ga. Nala cerita.” Mama tidak pernah membuka telepon dengan salam kalau sedang serius. “Ada perempuan namanya Bella. Yang dipayungin. Yang rendang Mamanya enam jam.”

“Ma—”

“Rendang Mama lebih enak, kan?”

Aku terdiam. “Mama belum pernah makan rendang Bu Ratna.”

“Nggak perlu makan. Mama tahu.” Jeda. “Terus Nala bilang kalian berhenti. Berhenti apa, Ga? Mulai aja belum.”

Aku tidak menjawab.

Mama diam lama di ujung telepon. Aku bisa mendengar televisi di latar belakang, dan suara Papa yang mengecilkan volumenya.

“Ga,” kata Mama akhirnya, lebih pelan. “Mama nggak mau maksa. Tiga tahun Mama lihat kamu. Mama tahu kamu kuat. Tapi kuat itu bukan berarti harus sendirian terus.”

Dari latar belakang, suara Papa terdengar pelan, satu kata, seperti orang yang jarang bicara dan memilih kata dengan hati-hati. Setuju.

Dia menutup telepon sebelum aku sempat bilang apa-apa. Keluargaku sepertinya sudah sepakat soal satu hal: tidak ada yang memberiku kesempatan untuk menjawab.

Pukul sebelas malam, aku membuka NayaraDesk. Tiket #031. Paused. Aku membuka kolom komentar. Aku mengetik satu kalimat panjang yang tidak akan pernah kukirim.

Lalu aku menghapusnya, menutup laptop, dan menatap langit-langit sampai pagi.