← Tanpa Tanggal Kadaluarsa

Chapter Twenty Seven

Satu Jengkal

POV: Bella

Undangan pernikahan Mas Raka datang dalam dua belas kardus besar, Rabu pagi, diantar mobil boks dari percetakan di Pasar Baru.

Sebagai panitia dekorasi dan konsumsi, dan sekarang, karena Mama masih memakai perban di kaki, panitia undangan juga, aku yang menerima kardus-kardus itu di ruang tamu. Seribu lima ratus undangan. Kertas krem. Huruf emas timbul.

Raka & Sheila.

Aku membuka kardus pertama, mengambil satu, dan menatapnya lama. Desainnya persis seperti yang Sheila minta setelah enam kali revisi. Krem, bukan putih. Huruf emas timbul. Seperti lima ratus undangan lain di kolong tempat tidur seseorang, yang tidak pernah terkirim.

Aku menaruh undangan itu kembali ke kardus.

Sore itu, waktu aku lewat di depan ruang kerja Papa, pintunya setengah terbuka. Papa duduk di meja jati yang terlalu besar untuk satu orang, dengan satu undangan terbuka di depannya dan pulpen tinta di tangan. Papa tidak pernah menulis nama tamu sendiri. Itu tugas sekretarisnya. Tapi hari itu, dia sedang menulis.

Aku berhenti di ambang pintu. Aku membaca nama itu dari sana. Tulisan tangan Papa yang tegak dan tajam, dengan tinta biru gelap.

Bpk. Erga Mahardika

“Pa.”

Papa tidak mengangkat wajah. Dia meniup tinta itu pelan supaya cepat kering.

“Dia tamu Papa,” katanya.

“Mas Raka tahu?”

“Mas Raka tidak perlu tahu siapa saja tamu Papa.” Dia memasukkan undangan itu ke amplop, menulis nama yang sama di amplop, lalu menyodorkannya padaku tanpa menoleh. “Kamu yang antar. Papa tidak tahu alamatnya.”

Aku menatap amplop itu.

“Papa tahu aku tahu alamatnya?”

Papa akhirnya mengangkat wajah. Dia menatapku, lama, dengan mata yang bisa membaca laporan keuangan tiga ratus halaman dan menemukan satu angka yang salah.

“Papa tahu banyak hal, Bel,” katanya. “Papa cuma tidak selalu bilang.”


Aku membawa amplop itu ke kamarku dan meletakkannya di meja. Aku menatapnya selama dua hari.

Dua hari, aku memikirkan malam itu. Ruang tamunya. Tangannya di sisi tubuh, jari-jari yang menekuk dan lurus lagi. Aku minta satu hal, Bel. Kamu yang ngajarin aku rasanya ditanya dulu.

Selama tiga minggu, aku marah padanya karena tidak memelukku. Aku marah padanya karena diam. Aku marah padanya karena memilih kakakku daripada dirinya sendiri.

Tapi di malam kedua, sambil menatap amplop dengan nama yang ditulis Papa sendiri, aku sadar sesuatu.

Aku tidak marah padanya karena dia diam. Aku marah karena aku tidak bisa membuatnya bicara. Dan karena aku tidak bisa membuatnya bicara, aku bicara untuknya. Di depan Mas Raka. Tanpa bertanya.

Aku melakukan hal yang sama persis dengan yang dilakukan semua orang di sekitarnya selama tiga tahun. Om-om yang menyuruhnya move on. Tante-tante yang menyodorkan nomor anak teman arisan. Aku bilang pada Nala di kafe bahwa aku tidak mau jadi orang seperti itu. Lalu aku jadi orang seperti itu, dengan alasan yang terasa jauh lebih mulia.

Alasannya tidak penting. Yang penting, aku tidak bertanya.


Jumat siang, aku naik ke rooftop Nayara seperti biasa. Bangku kayu. Bayangan tandon air. Dua botol teh dingin.

Selama tiga minggu, aku selalu membawa dua botol. Satu kubuka. Satu lagi kuletakkan di ujung bangku, di tempat dia biasa duduk, lalu kubawa turun lagi sore harinya, masih tersegel, dan kumasukkan ke kulkas pantry di sebelah kotak biru yang kosong. Kulkas itu sekarang punya lima belas botol teh yang tidak pernah dibuka. Mbak Tika menyebutnya museum.

Hari itu, aku duduk di bangku, menatap botol kedua di ujung bangku, lama sekali.

Lalu aku mengambilnya dan membukanya sendiri.

Bukan karena aku menyerah. Karena aku sadar, sambil menatap botol yang tersegel itu, bahwa selama tiga minggu aku menunggu dia datang ke tempat yang dia minta dijauhi. Aku memberinya ruang, lalu menunggunya kembali ke ruang yang sama. Itu bukan memberi ruang. Itu cuma cara lain untuk menuntut.

Kalau aku mau bicara dengannya, aku yang harus datang. Dan kali ini, aku harus bertanya dulu.

Aku meminum teh itu sampai habis.


Jumat malam, pukul 20.15, aku membuka WhatsApp.

Percakapan terakhir kami masih di sana. Bel. Tiga huruf yang dia kirim enam minggu lalu, dan tidak pernah kubalas.

Aku mengetik dua kata.

Lima menit?

Aku menatap dua kata itu lama. Lalu aku menekan kirim sebelum sempat berubah pikiran.

Tanda centang dua. Biru. Dalam satu detik.

Tiga titik muncul. Hilang. Muncul lagi.

Aku nggak ke Nayara.

Aku tahu.

Jeda.

Gedung apartemen kamu punya rooftop?

Jeda lebih lama. Tiga titik muncul dan hilang empat kali.

Punya.

Aku ke sana.

Aku tidak menunggu balasannya. Aku mengambil kunci mobil, amplop di meja, dan jaket kanvas di belakang pintu.


Rooftop gedung apartemennya tidak seperti rooftop Nayara. Tidak ada bangku kayu, tidak ada pot bugenvil, tidak ada tandon air raksasa yang bayangannya jadi satu-satunya tempat teduh. Yang ada hanya lantai beton, tiga tali jemuran yang kosong, dua kursi plastik hijau yang sudah pudar, dan pagar besi setinggi dada.

Tapi dari sini, Jakarta terlihat berbeda. Lebih dekat. Lebih berantakan. Lampu-lampu rumah susun di bawah, jalan tol yang menyala seperti sungai lampu, dan di kejauhan, crane di proyek gedung yang sama dengan yang terlihat dari rooftop Nayara, hanya dari sudut yang lain.

Dia sudah di sana.

Dia berdiri di dekat pagar besi, dengan kaus abu-abu dan celana kain, tanpa tas laptop. Aku belum pernah melihatnya tanpa tas laptop. Tangannya di saku, dan dia menoleh waktu mendengar pintu besi berderit, dan dia tidak tersenyum, tapi dia juga tidak berpaling.

Aku berjalan ke pagar. Aku berdiri satu meter darinya. Tiga minggu sejak ruang tamunya. Lebih dari dua bulan sejak rooftop Nayara. Rasanya jauh lebih lama.

Aku meletakkan tanganku di pagar besi. Dingin.

Kami berdiri di sana tanpa bicara. Satu menit. Dua. Angin malam bertiup, membawa bau hujan yang belum turun dan asap sate dari gerobak di bawah.

“Aku minta maaf,” kataku akhirnya.

Dia tidak menoleh. Dia menatap crane di kejauhan.

“Aku mutusin buat kamu. Tanpa nanya.” Suaraku lebih tenang dari yang kukira. “Aku bilang ke Nala aku nggak mau jadi orang yang kayak gitu ke kamu. Terus aku jadi orang yang kayak gitu. Dengan alasan yang aku pikir bagus.” Aku menarik napas. “Alasannya nggak penting. Aku nggak nanya. Itu yang penting. Maaf.”

Dia diam lama. Aku mulai berpikir dia tidak akan menjawab, seperti biasanya.

“Aku juga,” katanya.

Aku menoleh.

“Aku juga mutusin,” katanya pelan, masih menatap crane. “Di rooftop Nayara. Kita berhenti di sini. Aku mutusin buat kita berdua. Aku nggak nanya kamu.” Dia berhenti. “Kamu bilang itu punya kamu juga. Setengahnya. Dan aku bilang aku cuma bisa berhentiin setengah yang punyaku.” Dia menggeleng pelan. “Itu bohong. Aku berhentiin semuanya. Termasuk setengah kamu.”

Aku tidak bisa bicara.

“Jadi aku juga minta maaf,” katanya. “Karena mutusin buat kita berdua.”

Angin bertiup lagi. Tali jemuran yang kosong bergoyang pelan, berderit.

“Jadi kita sama-sama salah,” kataku.

“Kita sama-sama benar,” katanya. “Terus sama-sama salah.”

Aku tertawa. Pendek, basah, di tempat antara tertawa dan menangis. Dia menoleh padaku, akhirnya, dan aku melihat sudut bibir kirinya bergerak. Dua detik.


Lima menit menjadi sepuluh. Sepuluh menjadi tiga puluh.

Kami duduk di dua kursi plastik hijau yang pudar itu, bersebelahan, menghadap kota. Dia menceritakan runbook v1.1 dan Yoga yang menambahkan langkah keempat. Aku menceritakan Tante Vivi dan tombol pause yang ada batasnya. Dia tertawa. Batuk yang bukan batuk. Aku menceritakan Mama yang makan rendang sambil menangis. Dia tidak tertawa, tapi dia menatapku lama, dan aku melihat sesuatu di wajahnya yang terlihat seperti rasa bersalah.

Aku tidak menceritakan butik putih. Aku tidak menceritakan hati-hati, ya, Bel, jalannya licin.

Aku mengeluarkan amplop dari saku jaket dan menyodorkannya padanya.

Dia membaca namanya di amplop. Tulisan tangan tegak dan tajam, tinta biru gelap.

“Papa yang nulis,” kataku. “Sendiri. Papa nggak pernah nulis nama tamu sendiri.”

Dia membuka amplop itu. Undangan krem, huruf emas timbul. Raka & Sheila. Dia menatapnya lama. Aku tidak bisa membaca wajahnya.

“Kamu nggak harus dateng,” kataku cepat. “Aku bisa bilang ke Papa kamu sakit perut. Aku masih jago bohong soal sakit perut.”

Dia memasukkan undangan itu kembali ke amplop. Pelan. Hati-hati. Seperti dokumen penting.

“Pak Bram yang nulis sendiri,” katanya. “Aku dateng.”

Aku menatapnya. “Kamu yakin?”

“Kamu udah nanya.” Dia menyelipkan amplop itu ke saku celananya. “Itu cukup.”

Aku ingat kalimat itu. Pesan pertama yang dia kirim sebelum makan malam di rumah kami, berbulan-bulan lalu. Kamu udah nanya. Itu cukup.

Aku memalingkan wajah ke kota sebelum dia melihat mataku.


Kami berdiri lagi di dekat pagar. Sudah hampir jam sepuluh. Jalan tol di bawah mulai sepi.

“Aku mau bilang satu hal,” kataku. “Biar jelas. Biar kamu nggak salah baca.”

Dia menunggu.

“Aku nggak ngejar kamu lagi.” Aku menatap crane itu, bukan dia. “Nggak ada tiket jam sebelas malam. Nggak ada bekal berstiker restoran. Aku udah berhenti ngetuk pintu kamu kayak orang bodoh.”

Aku merasakan dia menoleh padaku.

“Tapi aku juga nggak ke mana-mana.” Aku menoleh padanya. “Itu beda, Ga.”

Dia menatapku lama. Di bawah lampu kota yang kuning dan kotor, aku bisa melihat wajahnya. Garis tipis di dahi yang muncul setiap kali dia berpikir terlalu keras. Mata yang tidak berpaling.

“Kamu tahu apa yang paling susah sebulan ini?” katanya.

“Apa?”

“Aku pikir nggak lihat kamu bakal lebih gampang.” Suaranya rendah. “Daripada lihat kamu tiap hari di seberang partisi kaca dan pura-pura kamu cuma PIC proyek.” Dia menarik napas. “Ternyata nggak. Ternyata lebih susah. Aku buka NayaraDesk tiap malam jam sebelas, Bel. Tiap malam. Cuma buat lihat tiket #031 masih Paused.”

Aku berhenti bernapas.

Tangan kami di pagar besi. Tanganku di sebelah kiri, tangannya di sebelah kanan. Aku melihat jarak di antara jari kelingkingku dan jari kelingkingnya. Satu jengkal, tadi. Sekarang, entah bagaimana, tinggal satu senti. Aku tidak tahu siapa yang bergerak. Mungkin aku. Mungkin dia. Mungkin kami berdua, pelan-pelan, tanpa sadar, selama satu jam terakhir.

Satu senti.

Aku bisa menutup jarak itu. Satu gerakan kecil. Jari kelingkingku, menyentuh jari kelingkingnya. Itu saja.

Aku tidak melakukannya. Aku sudah bilang aku tidak mengejar lagi. Kalau jarak itu harus ditutup, dia yang harus menutupnya.

Dia menatap tangan kami. Aku melihatnya menatap satu senti itu. Aku melihat jari kelingkingnya bergerak, sangat sedikit, seperti tangan yang ingat sesuatu.

Lalu berhenti.

Tidak ada yang menutup jaraknya.


HATSYI!

Suara bersin yang keras, dari arah pintu besi rooftop.

Kami berdua menoleh.

Pintu besi itu terbuka sedikit. Dari celahnya, dua wajah menatap kami. Satu wajah perempuan dengan rambut dikuncir asal, dan satu wajah laki-laki yang sedang menutup hidungnya dengan dua tangan, dengan mata yang berair dan ekspresi orang yang sangat, sangat menyesal.

“Andre alergi debu,” kata Nala dengan suara kecil. “Tangga darurat gedung ini kotor banget, Bang.”

“Kalian ngapain?”

“Kami… lagi olahraga,” kata Andre di balik tangannya. “Naik tangga. Kardio.”

“Dari lantai berapa?”

“Dari…” Andre melirik Nala. “Dari apartemen lo, Ga. Lantai sembilan.”

“Kalian di apartemenku?”

“Aku punya kunci, Bang,” kata Nala, mengangkat kunci barunya dengan wajah tanpa dosa. “Abang yang kasih.”

Aku menutup mulutku dengan tangan. Aku tertawa sampai bahuku bergetar. Di sebelahku, aku mendengar batuk yang bukan batuk, lalu, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, aku mendengar dia tertawa. Sungguhan. Tawa yang tidak ditahan, tidak disembunyikan di balik batuk, keluar dari dadanya seperti sesuatu yang sudah terlalu lama dikurung.

Nala menatap kakaknya dengan mata membesar. Andre lupa menutup hidungnya.

“Bang,” bisik Nala. “Abang ketawa.”

“Batuk,” kata Erga, masih tertawa.

“Batuk Abang bunyinya hahaha?”


Dia mengantarku sampai mobil di basement. Nala dan Andre sudah kembali ke apartemen, setelah Erga menatap mereka dengan tatapan yang membuat Andre memegang dadanya seperti orang yang baru ditembak.

Di sebelah mobil, dia berhenti.

“Senin,” katanya.

“Senin kenapa?”

“Telurnya. Aku ganti.”

“Kamu kan remote. Kamu nggak boleh masuk Nayara.”

“Andre yang antar.” Dia menatapku. “Lampiran F.2. Diganti tiap Senin. Aku yang nulis. Aku nggak mau jadi arsitek yang nggak nepatin runbook-nya sendiri.”

Aku menatapnya lama.

“Kotak birunya udah aku cuci,” kataku.

“Aku tahu.”

“Kok tahu?”

“Cece.”

Aku tertawa lagi. Lalu aku masuk mobil, menyalakan mesin, dan menurunkan kaca jendela.

“Ga.”

“Hm.”

“Satu senti tadi,” kataku. “Aku nggak akan nutup. Kamu tahu, kan?”

Dia berdiri di sebelah mobilku, di bawah lampu basement yang pucat, dengan tangan di saku dan amplop undangan yang menonjol dari saku celananya.

“Aku tahu,” katanya.

Aku menyetir pulang. Pelan. Dengan lampu sein menyala setiap kali pindah lajur. Di lampu merah pertama, aku menatap tanganku di setir, jari kelingking kiri yang tadi berada satu senti dari miliknya.

Kali ini, aku tidak menangis sama sekali.