← Tanpa Tanggal Kadaluarsa

Chapter Seven

Payung

POV: Bella

Aplikasi cuaca di ponselku bilang hujan akan turun pukul 17.30.

Aku membacanya pukul 15.12, di tengah rapat roadmap yang membosankan, dan saat itu juga sebuah rencana lahir di kepalaku. Sempurna, bersih, dan sama sekali tidak bermartabat.

Aku punya payung lipat biru di laci meja. Sudah dua tahun di sana, bersebelahan dengan charger cadangan dan satu bungkus permen jahe yang kubeli waktu flu. Pukul 16.05, aku membuka laci itu, mengambil payung biru itu, lalu memindahkannya ke laci paling bawah, di bawah tumpukan dokumen pengadaan tahun lalu yang tidak pernah akan dibuka siapa pun lagi.

Saat aku menegakkan badan, Cece sedang menatapku dari meja sebelah. Tangannya diam di atas keyboard.

Kami saling pandang.

Cece membuka ponselnya. Sepuluh detik kemudian, grup Divisi Gosip berbunyi.

Cece: Laporan pukul 16.05. Bu Bella menyembunyikan payungnya sendiri. Motif belum diketahui.

Mbak Tika: Motif sudah diketahui.

Yoga: Prakiraan cuaca hari ini: hujan jam setengah enam. Kemungkinan romansa: 87%.

Aku mengetik di grup: Aku bisa baca, ya.

Cece: Siap, Bu. Laporan dicabut.

Satu menit kemudian, di grup yang sama:

Cece: Laporan pukul 16.06. Laporan sebelumnya dicabut atas permintaan subjek.


Hujan turun pukul 17.34. Empat menit terlambat dari prakiraan, tapi derasnya menebus semuanya. Dari jendela lantai 21, Sudirman berubah jadi lukisan cat air: lampu mobil merah dan kuning meleleh di aspal basah, payung-payung warna-warni bergerak cepat di trotoar seperti bunga yang panik.

Aku menunggu. Aku sudah memperhitungkan kebiasaannya. Setiap hari, pukul 17.45, dia mematikan laptop, merapikan meja sampai tidak ada satu kertas pun yang miring, lalu turun ke lobi dan berjalan ke stasiun MRT di seberang jalan. Dia tidak punya mobil di Jakarta. Katanya, menurut Andre, yang menjual informasi itu seharga satu donat, “Jakarta nggak butuh satu mobil lagi.”

Hari ini, mobilku terparkir di gedung mal sebelah, karena basement Nayara penuh sejak pagi. Tiga ratus meter di bawah hujan.

Pukul 17.44, dia berdiri. Pukul 17.45, dia berjalan ke lift, dengan payung hitam panjang di tangan kiri.

Aku menghitung sampai dua puluh, lalu menyusul.


Lobi Nayara Tower penuh orang yang terjebak. Karyawan berdiri berkelompok di depan pintu kaca, menatap hujan dengan pasrah, sebagian sibuk memesan ojek online yang tidak kunjung datang. Dia berdiri di dekat pintu putar, sedang membuka payungnya.

Aku berjalan ke sebelahnya dan berhenti. Aku menatap hujan, seperti orang yang baru sadar sesuatu.

“Yah,” kataku. “Aku lupa payung.”

Dia menoleh. Menatapku. Lalu menatap tas kerjaku, yang cukup besar untuk menampung tiga payung lipat.

Dia tidak berkata apa-apa. Tapi aku melihat sudut bibirnya bergerak sedikit, sangat sedikit, seperti program yang hampir menampilkan pesan kesalahan tapi memutuskan untuk tidak jadi.

Tepat saat itu, Mbak Tika lewat di belakang kami dengan dua payung di tangan. Satu biru, satu motif bunga. Dia berhenti, melihat kami, lalu melihat payung-payungnya dengan wajah orang yang baru menyadari dirinya berdiri di tengah ladang ranjau.

“Bu Bella nggak bawa payung? Ini, Bu, saya ada dua—”

Aku menatapnya.

Mbak Tika membeku. Dia menatap payung-payung di tangannya, lalu menatapku lagi.

“Oh,” katanya. “Payung saya… rusak, Bu.”

“Dua-duanya?” tanya Erga datar.

“Dua-duanya, Pak. Rusaknya barengan. Pabriknya sama.” Mbak Tika mundur perlahan sambil memeluk kedua payungnya ke dada, seperti menyembunyikan barang bukti. “Permisi, Pak. Permisi, Bu. Hati-hati di jalan. Jalannya licin. Sangat licin.”

Dia menghilang ke arah lift.

Erga menatap lift yang menutup. Lalu menatapku.

“Mobil kamu di mana?”

“Mal sebelah. Basement penuh.”

Dia membuka payung hitamnya. Payung besar dengan gagang kayu, jenis yang dipakai orang yang tidak suka setengah-setengah. Dia melangkah keluar pintu putar, berhenti di bawah kanopi, dan menoleh.

Dia tidak mengajakku. Dia hanya menunggu.

Aku masuk ke bawah payung itu.


Di bawah payung, dunia mengecil.

Suara hujan di atas kain payung terdengar seperti tepuk tangan yang sangat jauh. Lampu jalan membiaskan cahaya kuning di tepian payung. Udara lembap dan dingin, dan bahuku, sisi kanan, menempel di lengannya. Karena payungnya memang tidak sebesar itu. Karena trotoarnya sempit. Karena aku yang memutuskan begitu.

Tiga puluh langkah pertama, tidak ada yang bicara.

“Payungnya kecil, ya,” kataku akhirnya.

“Payungnya standar,” katanya, menatap lurus ke depan. “Kamu yang nempel.”

Aku tidak bergeser satu senti pun.

“Mau aku lepas?”

Dia tidak menjawab.

Satu langkah. Dua langkah. Tiga.

Genangan air di depan kami memantulkan lampu merah mobil yang berhenti. Dia sedikit memutar tubuh supaya aku tidak menginjaknya.

“…Nanti basah,” katanya.

Aku tersenyum ke arah trotoar supaya dia tidak melihat.

Kami berjalan. Seratus meter. Dua ratus. Aku mulai menyadari sesuatu. Hujan turun dari sisi kanan, dibawa angin dari arah bundaran. Tapi tidak ada setetes pun yang mengenaiku. Blazerku kering. Rambutku kering. Bahkan ujung sepatuku hampir kering.

Aku melirik ke atas. Payung itu miring. Bukan sedikit. Hampir tiga puluh derajat, condong sepenuhnya ke arahku.

Aku melirik ke kiri.

Bahu kanan kemejanya basah kuyup. Kain putih itu menempel di kulit, jadi hampir transparan, dan air menetes dari ujung lengannya. Dia berjalan seperti tidak menyadarinya. Seperti bahunya milik orang lain.

Aku tidak bilang apa-apa.

Aku bisa. Aku bisa menunjuknya dan bilang kamu basah, geser payungnya. Dia akan menjawab dengan satu kalimat datar, dan kami akan tertawa, lalu selesai.

Tapi aku tidak mau ini selesai. Aku mau menyimpannya. Jadi aku diam, dan menyimpannya di tempat yang sama dengan kotak makan yang digeser dan telur dadar yang dipotong delapan.


Di zebra cross depan mal, lampu penyeberangan masih merah. Kami berhenti di tepi trotoar, di antara belasan orang lain yang berdesakan di bawah payung masing-masing.

Sebuah motor melaju terlalu cepat di lajur paling kiri. Aku melihat genangan besar di depannya sepersekian detik sebelum ban motor itu menghantamnya.

Aku tidak sempat bergerak. Dia sempat.

Dia melangkah setengah langkah ke depanku dan memutar tubuhnya, payung diturunkan ke samping seperti tameng. Gelombang air cokelat menghantam punggungnya dan celananya, dari pinggang sampai sepatu. Orang di sebelah kami menjerit. Motor itu sudah hilang di tikungan.

Aku berdiri di balik punggungnya, kering. Sepenuhnya.

Dia menegakkan payung lagi, seperti tidak terjadi apa-apa, dan menatap lampu penyeberangan.

“Kamu,” kataku pelan, “sengaja?”

“Refleks.”

“Refleks kamu,” kataku, “kok selalu ke arah aku?”

Dia tidak menjawab. Air menetes dari ujung celananya ke aspal. Aku menatap garis rahangnya dari samping, menunggu. Satu detik. Dua. Rahang itu mengencang sedikit, lalu mengendur.

“Lampunya udah hijau,” katanya.

Lampunya memang sudah hijau. Dia melangkah. Aku ikut, masih di bawah payung, masih kering, dan jantungku berdetak seperti orang yang baru selamat dari sesuatu yang jauh lebih besar dari cipratan genangan air.


Lobi mal sebelah lebih terang dan lebih ramai. Aroma kopi, roti, dan pengharum ruangan yang terlalu manis. Dia menutup payungnya di bawah kanopi dan mengibaskannya sekali, rapi. Air menetes dari bahunya ke lantai marmer.

“Makasih,” kataku. “Kamu—”

“ABANG?”

Suara itu datang dari arah food court, keras sekali, sampai beberapa pengunjung menoleh.

Seorang perempuan muda berlari ke arah kami. Jaket denim kebesaran, rambut dikuncir asal, satu tangan memegang ring light kecil yang masih menyala, tangan lain memegang ponsel yang masih merekam. Dia berhenti tepat di depan Erga, mengarahkan ring light ke wajah Erga seperti senter polisi, lalu mengarahkannya ke wajahku.

Lalu dia menatap Erga lagi. Lalu aku. Lalu kemeja dan celana Erga yang basah kuyup. Lalu bajuku yang kering sempurna.

Aku melihat kesimpulan terbentuk di wajahnya secara real-time.

“Nal,” kata Erga, dengan suara orang yang sudah lama pasrah pada nasib. “Kamu ngapain di sini?”

“Aku bikin konten. Review es krim baru di food court. Terus Mama nyuruh jemput Abang buat makan malam jumatan, soalnya Abang pasti lupa.” Dia mematikan ring light tanpa mengalihkan pandangannya dariku. “Tapi itu nggak penting. Ini siapa?”

“Rekan kerja.”

“Rekan kerja.” Dia mengulangnya pelan, seperti mencicipi kata itu dan menemukan rasanya aneh. “Rekan kerja yang dipayungin sampai Abang basah kuyup begini.”

“Nal.”

Dia mengabaikan kakaknya sepenuhnya, menoleh padaku, dan mengulurkan tangan. Jabatannya kuat, bisnis sekali.

“Nala Mahardika. Adik kandung. Satu-satunya.”

“Bella Larasati. Rekan kerja.” Aku melirik Erga. “Satu-satunya yang dipayungin, kayaknya.”

Nala tersenyum lebar. Lalu dia menyelipkan ponselnya ke saku, meletakkan ring light di bawah ketiak, dan melipat tangan di depan dada. Postur tubuhnya berubah total, seperti pewawancara HRD di perusahaan multinasional.

“Oke, Kak Bella. Beberapa pertanyaan singkat.”

“Nala,” kata Erga.

“Abang diam. Ini urusan keluarga.” Dia menatapku lurus. “Pertama. Visi misi Kakak ke abang saya apa?”

Aku tidak mengedip. Aku sudah melewati empat puluh tiga wawancara kerja, tiga di antaranya dengan Papa sebagai pewawancara, dan tidak ada yang lebih menakutkan daripada Papa.

“Visi,” kataku, “bikin abangmu berhenti makan siang sendirian di rooftop. Misi: satu, bawa bekal. Dua, bikin dia buka tiket helpdesk sebelum dia sempat pura-pura nggak lihat. Tiga, jangan pernah biarin dia jalan pulang basah sebelah lagi.”

Nala menatapku. Ekspresinya tidak berubah, tapi aku melihat matanya berkedip dua kali lebih cepat.

“Rencana lima tahun?”

“Lima tahun terlalu jauh. Aku punya rencana enam bulan. Dan rencana enam bulan itu sangat detail.”

Di sebelahku, Erga menutup matanya.

“Pertanyaan terakhir.” Nala mencondongkan tubuh sedikit. “Siap ditempatkan di mana saja?”

“Kecuali di pojok yang jauh dari dia,” kataku. “Di mana aja.”

Hening. Seorang anak kecil di dekat kami menjatuhkan es krimnya dan tidak ada yang peduli.

Nala menegakkan tubuh. Wajahnya tetap serius, seperti HRD yang akan mengumumkan hasil. Dia mengeluarkan ponselnya, mengetik sesuatu, lalu menyodorkannya padaku. Layar kontak baru, kolom nama kosong, kolom nomor sudah terisi.

“Buat koordinasi,” katanya.

Aku mengetik namaku dan menekan simpan. Nala mengambil ponselnya kembali, mengangguk satu kali dengan sangat profesional, lalu berbalik ke kakaknya.

“Abang tunggu di sini. Aku ambil mobil.” Dia berjalan dua langkah, lalu berhenti dan menoleh padaku. Suaranya turun, tidak lagi HRD. “Kak Bella. Makasih udah nggak nanya kenapa dia basah.”

Dia pergi sebelum aku bisa menjawab.


Kami berdiri berdua di lobi mal. Aku merogoh tas mencari kunci mobil. Tasku berantakan seperti biasa: dompet, dua lipstik, charger, buku catatan, map plastik berisi dokumen panitia yang dititipkan Mama tadi pagi.

Map itu tersenggol dan setengahnya keluar dari tas. Dari dalamnya, satu kartu tebal berwarna krem ikut tergelincir. Sampel undangan pernikahan yang harus kupilih bersama Mama akhir pekan ini. Huruf emas timbul di atas kertas bertekstur:

Raka & Sheila

Aku menyelipkannya kembali tanpa pikir panjang. Tapi saat mengangkat wajah, aku melihatnya.

Dia sedang menatap kartu itu. Hanya sepersekian detik. Tapi wajahnya, yang sepanjang jalan tadi tenang, bahkan hampir lembut di bawah payung, tiba-tiba menjadi datar sepenuhnya. Bukan datar yang biasa. Datar seperti layar yang dimatikan paksa.

Lalu dia berpaling. Menatap hujan di luar pintu kaca, seolah hujan tiba-tiba jadi hal paling menarik di dunia.

Aku menemukan kunci mobilku. Aku menggenggamnya lebih erat dari perlu.

Di kepalaku, daftar itu bertambah satu. Pulpen yang ditekan sampai buku jarinya putih. Nggak terlalu, waktu aku menyebut kondangan. Pilar belakang di ballroom. Dan sekarang, dua nama di atas kertas krem.

Aku belum bisa menyusunnya menjadi satu gambar. Tapi aku mulai curiga semua kepingannya berasal dari kotak yang sama.

“Aku duluan, ya,” kataku. Suaraku terdengar normal. Aku bangga pada diriku sendiri.

Dia menoleh. Wajahnya sudah kembali. Tenang, datar, sopan.

“Hati-hati,” katanya. “Jalannya licin.”

“Sangat licin,” kataku, meniru Mbak Tika.

Dan di situ, akhirnya, dia tersenyum. Kecil sekali. Hanya di sudut bibir kiri, dan hanya dua detik. Tapi itu senyum pertama yang kulihat darinya sejak Kamis malam di ballroom.

Aku berjalan ke lift basement tanpa menoleh, karena kalau menoleh, aku tidak yakin bisa berjalan lurus.


Di mobil, sebelum menyalakan mesin, aku duduk diam dengan tangan di setir.

Blazerku kering. Rambutku kering. Sepatuku hampir kering.

Aku memikirkan bahu kanan kemejanya yang menempel di kulit, air yang menetes dari ujung lengannya, dan cara dia berjalan seperti bahu itu milik orang lain. Aku memikirkan punggungnya di zebra cross, yang menerima gelombang air cokelat itu tanpa sedikit pun ragu, lalu berkata refleks dengan suara seolah sedang membaca prakiraan cuaca.

Orang yang tidak peduli tidak punya refleks seperti itu. Refleks dilatih. Atau refleks lahir dari sesuatu yang tidak mau diakui pemiliknya.

Ponselku bergetar. Nomor baru.

Kak, ini Nala. Adiknya Abang. Mau follow up wawancara tadi. Hasilnya: LOLOS. Tapi masa percobaan tiga bulan ya. Btw Abang di mobil diem aja dari tadi, tapi kupingnya merah. Aku kasih tahu biar Kakak tahu aja. Jangan bilang aku yang bilang.

Aku membaca pesan itu tiga kali. Kupingnya merah. Laki-laki yang bisa menghidupkan server dalam empat menit tanpa berkeringat. Lalu aku menyandarkan dahi ke setir dan tertawa sampai klakson berbunyi sendiri, dan satpam basement yang sedang lewat melompat kaget.