← Tanpa Tanggal Kadaluarsa

Chapter Twenty Eight

H-10

POV: Erga

Aku berhenti bisa tidur di H-12.

Bukan tidak bisa tidur sama sekali. Aku tidur. Dua jam, kadang tiga. Lalu aku terbangun, biasanya antara pukul dua dan tiga pagi, dengan jantung berdetak sedikit terlalu cepat dan satu angka di kepala.

Sebelas.

Sepuluh.

Aku tidak menyetel pengingat. Aku tidak menulis tanggal pernikahan Raka di kalender mana pun. Tapi kepalaku menghitung sendiri, seperti tugas terjadwal di server abu-abu dengan stiker kuning bertuliskan JANGAN DIMATIKAN. Setiap pagi, angkanya berkurang satu. Setiap malam, angkanya menunggu di balik kelopak mata.

Aku tidak mengerti kenapa. Aku tidak peduli pada pernikahan itu. Aku sudah berdiri di bawah lampu gantung Graha Sasmita dan tidak merasakan apa-apa tentang Sheila. Aku sudah berhenti ingin dia kembali, bertahun-tahun lalu.

Jadi kenapa aku menghitung?

Pukul 02.40, H-10, aku duduk di balkon dengan teh yang sudah dingin, dan aku akhirnya jujur pada diriku sendiri.

Aku tidak menghitung menuju pernikahan itu. Aku menghitung menuju H-7.

Seminggu sebelum akad. Selasa malam. Aku sedang menunggu sesuatu terulang, seperti orang yang pernah tersambar petir dan tidak bisa berhenti menatap langit setiap kali mendung, meskipun petir itu jatuh di tempat yang sama tiga tahun lalu dan tidak ada alasan untuk jatuh di tempat yang sama lagi.

Aku tidak tahu apakah aku menunggu itu terjadi, atau menunggu itu tidak terjadi.

Aku tidak tahu mana yang lebih kutakutkan.


Sabtu pagi, H-10, pukul 09.30, aku duduk di warung kopi di mulut gang dekat apartemenku.

Warung kecil dengan empat meja plastik, spanduk kopi sachet yang sudah pudar, dan ibu pemilik berusia enam puluhan bernama Bu Yati yang selalu memanggilku Mas Laptop. Aku sering sarapan di sini akhir-akhir ini. Nasi uduk, teh manis, dan satu jam tanpa layar. Satu-satunya jam di hari itu ketika aku tidak membuka dashboard Nayara+.

Hari itu, aku membawa laptop. Tidak dinyalakan. Hanya dibawa. Kebiasaan.

Hari itu adalah hari ulang tahun Nayara Group. Nayara Anniversary Sale, dimulai pukul sepuluh pagi. Promo terbesar setelah Twin Day. Aku tahu jadwalnya. Aku tidak terlibat.

Dua minggu lalu, Raka menunjuk Sinergi Data Nusantara untuk menangani operasional acara ini. Surat penunjukannya tembusan ke Bu Liana: Mengingat status remote konsultan utama, operasional acara besar dialihkan ke vendor pendamping untuk menjamin kehadiran fisik tim di lokasi. Bahasanya sopan. Maksudnya jelas. Raka tidak mau acara terbesar tahun ini bergantung pada orang yang tidak dia percaya.

Aku tidak keberatan. Aku mengirim runbook v1.1 ke tim Sinergi dengan catatan: Mohon perhatikan halaman 2. Tidak ada deploy di hari Jumat sebelum acara.

Pukul 09.52, aku sedang menyuap nasi uduk ketika ponselku berbunyi.

Bukan alert. Telepon.

Bella.

Aku mengangkatnya.

“Ga.” Suaranya gemetar. Aku belum pernah mendengarnya gemetar seperti itu, bahkan di lift yang gelap. “Nayara+ down. Semuanya. Aplikasinya nggak bisa dibuka. Acaranya mulai delapan menit lagi. Tim Sinergi bilang mereka nggak tahu kenapa. Pak Darmawan pingsan. Beneran pingsan, Ga. Dia duduk di lantai.”

Aku meletakkan sendok.

“Direksi di sini semua,” lanjutnya cepat. “Mas Raka di sini. Papa di jalan. Twitter udah rame. Aku—” Suaranya pecah. “Aku nggak tahu harus telepon siapa lagi.”

“Bel,” kataku. “Tarik napas. Empat hitungan.”

Aku mendengarnya menarik napas. Gemetar, tapi dia melakukannya.

“Yoga di sana?”

“Ada.”

“Kasih teleponnya ke Yoga. Kamu pegang telepon direksi. Update tiap lima menit. Satu kalimat. Jangan janji waktu.”

Hening sepersekian detik. Lalu suaranya kembali, lebih tenang. “Oke.”

“Bel.”

“Ya?”

“Aku di sini.”


Aku menyalakan laptop di atas meja plastik warung Bu Yati. Wifi tidak ada. Aku menyalakan hotspot di ponsel. Sinyal dua bar. Cukup.

“Pak,” suara Yoga dari ponsel yang kujepit di antara bahu dan telinga. Dia terdengar seperti anak kecil yang menemukan ayahnya di tengah keramaian. “Pak, saya nggak tahu harus mulai dari mana. Semuanya merah.”

“Oke,” kataku. “Satu-satu.”

Aku mendengar Yoga menarik napas di ujung sana. Lalu aku mendengar sesuatu yang lain. Ruangan di belakangnya. Suara-suara yang tadinya bertumpuk, perlahan memelan. Seperti ruangan yang mendengar dua kata itu dari speaker ponsel, dan ikut berhenti.

“Yog. Pertama. Apa yang berubah sejak kemarin?”

Diam. Lalu suara lain di latar belakang, laki-laki, dengan logat yang tidak kukenal. Tim Sinergi.

“Pak,” kata Yoga, pelan, dengan nada orang yang tidak ingin mempercayai apa yang dia ucapkan. “Sinergi deploy patch performa. Tadi malam. Jam sembilan.”

“Tadi malam hari apa, Yog?”

Hening panjang.

“Jumat, Pak.”

Aku menutup mata sebentar. Aku tidak merasa menang. Aku hanya merasa lelah, seperti orang yang sudah memasang papan AWAS JURANG dan tetap melihat orang berjalan ke arah jurang.

“Oke. Kedua. Patch-nya ngapain?”

Suara Sinergi di latar belakang, lebih keras, defensif. Yoga menerjemahkan. Patch itu menghapus cache untuk halaman promo, supaya harga diskon selalu real-time. Patch itu juga mengembalikan rate limiter ke mode per IP, karena “lebih ringan untuk server.”

Aku membuka dashboard lewat VPN. Pelan, karena sinyal dua bar. Grafik muncul satu per satu, seperti foto di internet zaman dulu. Semua merah. Database utama kewalahan. Ribuan pengguna data seluler diblokir oleh rate limiter yang sama persis dengan yang membuat Twin Day tumbang.

Dua kesalahan. Keduanya sudah ada di runbook. Halaman tujuh belas dan halaman dua puluh tiga. Keduanya dengan huruf tebal.

“Terakhir,” kataku. “Rollback plan Sinergi ada?”

Diam. Suara Sinergi di latar belakang, lebih pelan sekarang.

“Nggak ada, Pak,” kata Yoga.

“Oke.” Aku membuka runbook di tab sebelah. “Yog. Halaman empat belas. Rollback konfigurasi ke versi Jumat jam delapan malam. Kamu yang eksekusi. Aku lihat dari sini.”

“Saya, Pak?”

“Kamu udah ngerjain yang lebih susah dari ini sendirian. Halaman tiga puluh satu. Delapan menit. Aku lihat log-nya.”

Hening. Lalu suara keyboard. Cepat. Yakin.


Di warung Bu Yati, aku mengetik perintah demi perintah di jendela terminal, mengirimkannya ke Yoga lewat chat, memeriksa setiap langkah di dashboard yang dimuat dengan kecepatan siput. Sinyal turun jadi satu bar. Aku mengangkat ponselku lebih tinggi. Naik jadi dua.

Bu Yati berdiri di belakang gerobaknya, menatapku dengan wajah khawatir.

“Mas Laptop kenapa?”

“Kerjaan, Bu.”

“Kok tegang begitu?”

“Aplikasi belanja lagi rusak, Bu.”

Bu Yati mengangguk seolah itu masalah yang sangat biasa, lalu kembali mengaduk kopi.

Pukul 10.02, di ponselku, grup Divisi Gosip mengirim notifikasi. Bukan pesan teks. Mbak Tika memulai siaran langsung.

Aku tidak membukanya. Tapi notifikasi berikutnya muncul di bagian atas layar, dan aku bisa membaca sebagian.

Cece: Siaran langsung dari lantai 21. Pertandingan hari ini: Nayara+ melawan Sinergi Data. Skor sementara: Sinergi 1, Nayara 0. Tapi Pak Architect baru masuk lapangan lewat speaker HP Yoga. Pemain pengganti paling mahal musim ini.

Yoga: SAYA LAGI KERJA, CE, JANGAN DISIARIN.

Cece: Komentator tidak boleh diganggu pemain.

Pukul 10.04, rollback konfigurasi selesai. Cache untuk halaman promo kembali menyala. Rate limiter kembali ke mode per akun.

Pukul 10.06, grafik database mulai turun. Pelan. Aku menahan napas.

Pukul 10.08, grafik sukses transaksi naik. Tiga puluh persen. Enam puluh. Delapan puluh lima.

“Pak!” teriak Yoga dari ponselku. “Pak, hijau!”

Pukul 10.09, halaman antrean menyala untuk pengguna yang datang terlambat. Anda nomor 4.218. Mohon tunggu sebentar. Orang jauh lebih sabar kalau diberi tahu nomor antreannya.

Pukul 10.11, sembilan puluh delapan persen.

Sebelas menit.

Dari ponselku, aku mendengar lantai 21 meledak. Sorakan. Tepuk tangan. Seseorang berteriak GOOOL dengan nada komentator sepak bola. Aku cukup yakin itu Cece.

Di warung, Bu Yati melihat wajahku, lalu tiba-tiba mengangkat sendok kopinya ke udara.

“Menang, Mas?”

“Menang, Bu.”

“ALHAMDULILLAH!” Bu Yati berteriak, memukul panci dengan sendok, dan dua tukang ojek yang sedang minum kopi di meja sebelah ikut bertepuk tangan tanpa tahu apa yang mereka rayakan.


Yoga menyerahkan ponselnya kembali ke Bella. Aku mendengar suara-suara di latar belakang menjauh. Dia pasti berjalan ke tempat yang lebih sepi. Pintu tertutup. Lalu sunyi.

“Ga.”

“Hm.”

“Pak Darmawan udah bangun. Dia nangis lagi.”

“Oke.”

“Papa baru sampai. Dia berdiri di belakang Mas Raka dan nggak ngomong apa-apa.”

“Oke.”

Hening. Aku mendengar napasnya di ujung telepon. Sudah teratur sekarang. Dia tidak menutup telepon. Aku juga tidak.

Di warung Bu Yati, kopi di gelasku sudah dingin. Dua tukang ojek sudah pergi. Jalanan di mulut gang ramai dengan motor dan pedagang sayur.

“Kamu masih di situ?” tanyanya pelan.

“Masih.”

Hening lagi.

“Suara kamu,” katanya, “kalau lagi kerja itu… nggak adil, Ga.”

“Kenapa?”

Dia tidak langsung menjawab. Aku mendengar dia menarik napas, lalu menahannya, seperti orang yang berdiri di tepi kolam dan tidak yakin mau melompat.

“Aku lagi berusaha nggak kangen,” katanya.

Aku memegang ponsel lebih erat. Aku tidak bisa bicara. Di depanku, Bu Yati sedang membersihkan meja sebelah, dan radio kecil di gerobaknya memutar lagu dangdut lama tentang orang yang menunggu di stasiun.

Hening panjang. Terlalu panjang. Aku tahu dia sedang menunggu. Aku tahu aku bisa bilang sesuatu yang aman. Istirahat, Bel. Kamu capek. Atau tidak bilang apa-apa.

“Aku juga,” kataku.

Dua kata. Keluar sebelum aku bisa memeriksanya.

Dia tidak menjawab. Tapi aku mendengar sesuatu di ujung telepon. Suara kecil, tertahan, seperti orang yang menutup mulutnya dengan tangan.

Lalu, pelan, dia menutup telepon.

Aku duduk di warung itu lama, dengan ponsel di tangan dan laptop yang masih menyala.

Grup Divisi Gosip mengirim satu notifikasi lagi. Siaran langsung Mbak Tika sudah berakhir. Di bawahnya, laporan dari Cece.

Siaran selesai. Durasi: 19 menit. Penonton tertinggi: 312. Termasuk satu akun bernama @BramH_Nayara. Pak Bram nonton dari mobil. Beliau kirim satu komentar di menit ke-17: “Siapa yang bilang GOL?” Kami tidak menjawab.

Aku menutup mulutku dengan tangan.

Waktu aku berdiri untuk membayar, Bu Yati menggeleng keras dan mendorong uangku kembali.

“Hari ini gratis, Mas Laptop.”

“Bu, jangan—”

“Saya ikut menang tadi.” Dia menepuk dadanya dengan bangga. “Saya nggak tahu menang apa. Tapi saya ikut.”

Aku meninggalkan uang itu di bawah gelas kopi ketika dia berbalik, dan berjalan pulang dengan laptop di tangan, pelan, di trotoar yang panas.


Pukul 14.00, rapat evaluasi darurat. Aku ikut lewat video, dari meja makan apartemenku, dengan kemeja yang kupakai terburu-buru di atas kaus.

Layar menampilkan Ruang Kenari dari kamera di ujung meja. Raka di kepala meja. Pak Bram di sebelahnya, diam, tangan terlipat. Pak Darmawan dengan mata masih bengkak. Tim Sinergi di satu sisi, wajah mereka pucat seperti kertas.

Bella yang membuka.

Aku melihatnya dari layar laptop tiga belas inci, dalam resolusi yang tidak terlalu bagus karena kamera ruang rapat itu sudah tua. Aku tetap bisa melihat semuanya. Jaket kanvas itu. Tangannya yang tidak gemetar lagi. Cara dia berdiri, seperti orang yang sudah memutuskan untuk tidak duduk sampai semua orang mendengar.

Dia berdiri. Dia tidak memakai lipstik merah. Dia memakai jaket kanvas gelap di atas blus putih, dan dia berdiri di depan layar dengan kronologi insiden yang dia susun sendiri, menit demi menit.

“09.52. Aplikasi tidak bisa diakses. Tim operasional acara tidak menemukan penyebabnya.” Suaranya jernih. “09.55. Saya menghubungi Pak Erga Mahardika. 09.57. Pak Erga mengidentifikasi penyebabnya dalam tiga pertanyaan: patch performa yang di-deploy vendor pendamping hari Jumat pukul 21.00, bertentangan dengan runbook halaman dua.” Dia menekan tombol, dan halaman dua runbook muncul di layar, dengan kalimat bercetak tebal: Tidak ada deploy di hari Jumat sebelum acara. “10.11. Sistem pulih. Sebelas menit. Pak Erga melakukannya dari warung kopi di dekat rumahnya, dengan hotspot ponsel, dua bar sinyal.”

Ruangan itu diam.

“Saya ingin semua orang di ruangan ini tahu,” kata Bella, dan dia menatap lurus ke kepala meja. Ke arah Raka. “Orang yang menyelamatkan acara terbesar Nayara tahun ini adalah orang yang tidak diizinkan masuk ke gedung ini.”

Di layar laptopku, aku melihat Raka. Dia tidak menatap Bella. Dia menatap halaman dua runbook di layar. Lama.

Pak Bram tidak berkata apa-apa. Tapi aku melihat dia mengambil pulpen dan menulis sesuatu di buku catatannya. Satu nama, digarisbawahi. Kali ini, tiga kali.


Pukul 16.20, satu pesan masuk. Dari nomor yang tersimpan sebagai Raka Harsono.

Terima kasih, Pak Erga.

Hanya itu. Tidak ada permintaan maaf. Tidak ada penjelasan. Tiga kata.

Tiga kata dari laki-laki yang dua bulan lalu mencengkeram kerahku di B2 dengan tangan gemetar. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan tiga kata itu. Aku tidak tahu apakah itu awal dari sesuatu, atau hanya sopan santun seorang direktur yang kebetulan tahu cara berterima kasih.

Aku menatap pesan itu lama. Lalu aku membalas.

Sama-sama, Mas.

Malam itu, H-10, aku tetap terbangun pukul 02.40. Angka di kepalaku berkurang satu lagi.

Sembilan.

Tapi kali ini, ada suara lain di kepalaku juga. Pelan, tertahan, dari ujung telepon yang tidak segera ditutup.

Aku lagi berusaha nggak kangen.

Aku tidak tidur lagi sampai pagi. Tapi untuk pertama kalinya dalam dua minggu, alasannya bukan hitungan mundur.