← Tanpa Tanggal Kadaluarsa

Chapter Ten

Dia yang Pergi Seminggu Sebelum Akad

POV: Bella

Nala dan aku sudah berteman selama dua minggu, dan Erga tidak tahu apa-apa.

Awalnya hanya pesan-pesan pendek. Kak, Abang hari ini makan siang apa? (Telur dadar, dipotong delapan.) Kak, Abang tadi pulang jam berapa? (Sembilan malam. Lembur. Aku juga.) Kak, jaket Abang yang kanvas item hilang dari lemari. Kakak tahu di mana? (Aku tidak menjawab yang itu. Jaketnya tergantung di belakang pintu kamarku.)

Lalu pesan-pesan itu jadi panjang. Nala mengirim video review makanannya dan meminta pendapatku. Aku mengirim foto dekorasi bunga dari Mama dan meminta pendapatnya. Nala punya selera yang jujur sampai kejam. Dia menyebut foto bunga nomor 23, pilihan Sheila, “kayak karangan bunga duka cita buat orang kaya.”

Aku tertawa sampai Mbak Tika menoleh dari meja sebelah.

Sabtu siang, Nala mengajakku ke kafe di Kemang untuk membuat konten. Sebuah toko kue baru dengan interior serba hijau pastel yang menjual croissant berbentuk kucing. Nala butuh “tangan kedua di frame” untuk video review-nya. Aku datang karena tidak ada acara, dan karena, jujur saja, aku mulai sangat menyukai adik laki-laki yang tidak mau menyukaiku ini.


“Tangan Kakak kurang dramatis,” kata Nala, mengintip dari balik layar ponselnya. “Pegang croissant-nya kayak lagi pegang berlian, Kak. Bukan kayak pegang struk parkir.”

Aku mengangkat croissant itu lebih tinggi. “Begini?”

“Lebih pelan. Kayak di iklan parfum. Oke, bagus. Sekarang gigit. Pelan. Pelan. Kakak makannya kayak orang dikejar deadline.”

“Aku memang dikejar deadline.”

“Di dalam konten ini, Kakak nggak punya deadline. Kakak cuma punya croissant.”

Kami merekam empat kali. Pada rekaman keempat, Nala puas. Dia menaruh ponselnya di tripod kecil, memesan dua es kopi susu, dan duduk di depanku dengan wajah orang yang baru selesai syuting film.

Ponselku bergetar. Mama.

Bel, ini foto prewedding Mas Raka sama Sheila. Pilih 10 buat undangan digital ya. Yang bikin kamu kan. Jangan lupa. Mama sayang kamu.

Diikuti tiga puluh dua foto.

Aku mendesah dan mulai menggulir. Foto di taman bunga. Foto di pantai. Foto di depan mobil antik. Mas Raka tersenyum di semua foto, senyum yang jarang kulihat di rumah. Sheila tersenyum juga, dengan versi senyum yang berbeda-beda di setiap latar, seperti dia punya satu senyum untuk setiap jenis pencahayaan.

“Kak, lihat,” kata Nala, mencondongkan badan untuk mengintip. “Aku mau lihat gaun prewed orang kaya. Buat riset konten.”

Aku memiringkan layar ke arahnya. Foto yang sedang terbuka adalah foto di taman bunga. Mas Raka memegang tangan Sheila, keduanya menoleh ke kamera.

Nala menatap layar itu.

Dia tidak bergerak. Es kopi susu di tangannya berhenti di tengah jalan menuju mulut.

“Nal?”

Wajahnya berubah. Aku melihatnya terjadi dalam urutan yang sangat jelas. Bingung. Lalu tidak percaya. Lalu sesuatu yang lebih gelap, yang naik dari dasar matanya seperti air yang mendidih.

“Kak,” katanya pelan. “Laki-lakinya siapa?”

“Mas Raka. Kakakku.”

“Perempuannya?”

“Calon istrinya. Sheila.”

Nala meletakkan es kopinya di meja. Tidak pelan. Gelas plastik itu miring, dan es kopi susu tumpah ke meja, mengalir ke arah tripod, dan menggenangi layar ponselnya yang ternyata masih merekam.

Dia tidak peduli. Dia berdiri. Kursinya terdorong ke belakang dengan bunyi keras.

“INI ORANGNYA!”

Seluruh kafe menoleh. Seorang barista menjatuhkan sendok. Dua perempuan di meja sebelah memegang dada mereka. Seekor kucing sungguhan, maskot kafe yang tadi tidur di etalase, melompat turun dan lari ke dapur.

“Nal,” kataku, berdiri juga, meraih lengannya. “Nal, duduk dulu. Orang-orang—”

“Kak, ini orangnya.” Dia menunjuk layar ponselku dengan jari gemetar. “Ini perempuan yang ninggalin Abang. Seminggu sebelum akad. Ini orangnya, Kak.”

Aku berhenti menarik lengannya.

Aku menatap layar. Sheila, tersenyum di taman bunga, tangan di tangan kakakku.

Lalu, seperti server yang tiba-tiba menyala setelah lama mati, semua kepingan itu menyatu.

Pilar belakang di ballroom. Dua ribu orang bertepuk tangan dan satu orang yang diam. Pulpen yang ditekan sampai buku jarinya putih waktu Mas Raka menjabat tangannya. Nggak terlalu, waktu aku menyebut kondangan. Kartu krem bertuliskan Raka & Sheila yang tergelincir dari tasku, dan wajahnya yang tiba-tiba mati seperti layar yang dicabut kabelnya.

Aku duduk kembali. Pelan. Karena kakiku tiba-tiba tidak bisa dipercaya.


Nala bercerita dengan suara rendah, setelah kami pindah ke meja paling pojok, setelah barista mengelap tumpahan es kopi dan mengantarkan dua gelas baru “gratis, Mbak, yang penting jangan teriak lagi.”

Delapan tahun. Mereka bertemu di minggu pertama kuliah. Abang, katanya, tersesat di gedung Ekonomi karena salah membaca denah, dan Sheila menertawakannya lalu mengantarnya ke gedung yang benar.

“Abang tuh orangnya gitu, Kak. Kalau sudah sayang, dia urus. Semuanya. Kalau Kak Sheila capek, Abang yang kerjain. Kalau Kak Sheila bilang nggak sanggup, Abang yang sanggupin.” Nala memutar sedotan di gelasnya tanpa minum. “Persiapan nikahannya setahun. Abang yang pegang semuanya. Spreadsheet tujuh tab. Gedungnya di Graha Sasmita. Undangannya delapan ratus. Semua udah beres, Kak. Semua.”

“Terus?”

“Selasa malam. Seminggu sebelum akad. Kak Sheila telepon.” Nala menatap gelasnya. “Aku nggak dengar teleponnya. Abang cerita ke Mama besoknya, dan aku nguping dari dapur. Katanya, Kak Sheila bilang, ‘Aku nggak sanggup. Aku takut. Cintaku sudah habis.’”

Cintaku sudah habis.

Aku mengulang kalimat itu di kepala dan merasakannya mengiris sesuatu di dadaku, meskipun itu bukan untukku. Terutama karena itu bukan untukku.

“Habis itu dia nggak pernah angkat telepon lagi. Orang tuanya yang dateng minta maaf. Dia nggak ikut. Dia nggak pernah ikut.” Suara Nala bergetar. “Terus Abang yang batalin semuanya, Kak. Sendirian. Dua puluh tiga vendor. Dia telepon satu-satu. Dia bikin daftar. Dia nomorin, mana yang paling mahal dulu, mana yang paling tua belakangan. Semua orang bilang Abang kuat. Om-om, tante-tante, semua bilang Abang laki-laki sejati karena tenang banget.”

Nala berhenti. Dia menghapus matanya dengan punggung tangan, kasar, seperti marah pada air matanya sendiri.

“Tapi aku lihat, Kak. Hari Sabtunya. Hari yang harusnya akad. Abang duduk di balkon dari sore sampai malam. Nggak ngapa-ngapain. Aku duduk di sebelahnya. Terus tengah malam, dia ngomong.”

Aku menunggu.

“Dia bilang, ‘Aku tidak akan jatuh cinta lagi.’”

Kafe di sekitar kami terus berjalan. Mesin kopi berdesis. Seseorang tertawa di meja dekat jendela. Kucing maskot itu kembali ke etalase dan meringkuk di sebelah croissant berbentuk kucing, seolah tidak ada yang pernah berteriak.

Aku tidak bisa bicara.

“Aku masih nyimpen screenshot-nya,” kata Nala, sedikit tertawa di tengah tangisnya. “Malamnya aku WA dia, nanya dia serius atau nggak. Dia bales kalimat yang sama. Aku screenshot. Aku bilang ke dia, itu barang bukti. Suatu hari aku bakal bacain di depan umum buat malu-maluin dia.”

“Kapan?”

“Waktu dia nikah.” Nala menatapku dengan mata merah. “Kalau dia pernah nikah. Tiga tahun, Kak. Dia nggak pernah deket sama siapa pun. Dia nggak pernah dateng ke kondangan. Nggak pernah ke acara apa pun yang ada kata ‘ballroom’-nya. Sampai Andre nyeret dia ke pesta itu.”

Pesta itu. Pesta Nayara+. Pesta di mana kakakku naik ke panggung dan mengumumkan pertunangannya dengan perempuan yang sama.

Dan Erga berdiri di sana. Sendirian. Di dekat pilar belakang.

Aku memejamkan mata.


“Kakak harus bilang ke Mas Raka,” kata Nala. Dia sudah berhenti menangis. Sekarang matanya menyala dengan tekad. “Sekarang. Hari ini. Dia harus tahu siapa yang mau dia nikahin.”

Aku sudah membuka ponsel. Jariku sudah di atas nama Mas Raka.

Aku mengetik: Mas, aku harus ngomong sesuatu soal Sheila. Penting.

Jempolku melayang di atas tombol kirim.

“Gas, Kak,” kata Nala. “Gas.”

Aku bisa menekannya. Itu yang biasanya kulakukan. Kalau ada sesuatu yang salah, aku memperbaikinya. Kalau ada yang perlu dikatakan, aku mengatakannya. Aku tidak pernah meninggalkan sesuatu di tengah jalan. Mama bilang aku seperti buldoser. Papa bilang aku seperti dia waktu muda, dan dia tidak bermaksud itu sebagai pujian.

Tapi aku teringat sesuatu.

Aku teringat rooftop. Aku teringat bilang jangan tanya kenapa, dan dia tidak bertanya. Dia hanya menggeser kotak makannya.

Ini bukan ceritaku. Ini ceritanya. Dan dia tidak pernah menceritakannya padaku.

Aku menghapus pesan itu. Huruf demi huruf.

“Kak?” Nala menatapku, bingung.

“Aku harus tanya dia dulu, Nal.”

“Tanya apa? Udah jelas—”

“Kalau aku bilang ke Mas Raka tanpa nanya abangmu, aku nggak beda sama orang yang mutusin sesuatu buat dia tanpa nanya dia.” Suaraku keluar lebih pelan dari yang kuduga. “Dan kayaknya dia udah cukup lama dikelilingi orang kayak gitu.”

Nala menatapku lama. Lalu dia bersandar ke kursinya dan mengembuskan napas panjang, seperti balon yang dikempiskan pelan-pelan.

“Kak Bella,” katanya. “Masa percobaannya aku potong. Kakak lolos.”


Nala mengirimiku pesan pukul tujuh malam, waktu aku masih duduk di mobil di garasi rumah, tidak sanggup masuk.

Kak. Video tadi. Yang ketumpahan es kopi. Aku lupa matiin rekaman. Terus nggak sengaja ke-upload ke TikTok.

Nal??

Tenang Kak, nggak ada muka Kakak. Cuma meja, es kopi tumpah, sama suara aku teriak “INI ORANGNYA.” Terus layar gelap.

Terus?

Udah 400 ribu views, Kak. Netizen lagi nebak-nebak “orangnya” siapa. Ada yang bilang mantan. Ada yang bilang pelakor. Ada yang bilang aku nemuin kucing yang nyuri croissant. Yang ini paling banyak like.

Aku tertawa. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena seluruh tubuhku masih tegang sejak siang dan butuh jalan keluar. Aku tertawa sampai mataku berair, lalu aku sadar aku tidak lagi tertawa, dan air mata itu sudah bukan karena lucu.

Aku menangis di dalam mobil di garasi rumahku sendiri, dengan jaket kanvas gelap yang kupakai sejak pagi, dan aku tidak tahu persis untuk siapa. Untuk laki-laki yang menelepon dua puluh tiga vendor sendirian. Untuk laki-laki di balkon yang bilang tidak akan jatuh cinta lagi. Untuk kakakku, yang tersenyum di taman bunga dan tidak tahu apa-apa.

Atau untuk diriku sendiri, karena aku baru sadar betapa tingginya tembok yang selama ini kuketuk-ketuk dengan tiket helpdesk dan telur dadar.


Waktu akhirnya aku masuk ke rumah, Sheila sedang duduk di ruang keluarga.

Tentu saja. Sabtu malam. Mas Raka sedang di kamar mandi, Mama sedang di dapur memanaskan sop buntut, dan Sheila duduk sendirian di sofa dengan kaki terlipat rapi dan ponsel di tangan, seperti sudah jadi bagian dari perabot rumah ini.

Dia mengangkat wajah dan tersenyum. “Bella! Udah pilih foto prewed-nya, ya? Mama bilang kamu yang bikin undangan digitalnya, ya.”

Aku berdiri di ambang pintu dengan tas di bahu dan jaket kanvas yang bukan milikku.

Aku melihatnya. Benar-benar melihatnya, untuk pertama kali. Rambutnya yang tertata. Kukunya yang baru dicat. Cara dia duduk di sofa kami seolah sofa itu sudah lama menunggunya. Perempuan yang menelepon hari Selasa malam, lalu tidak pernah mengangkat telepon lagi.

“Udah, Kak,” kataku.

“Yang mana?”

Aku tersenyum. Aku jago tersenyum. Aku anak bungsu keluarga Harsono.

“Yang paling jujur.”

Senyumnya tidak berubah. Tapi matanya berubah, sedikit, seperti orang yang mendengar bunyi aneh dari mesin mobilnya dan belum yakin dari mana asalnya.

“Jaket kamu lucu,” katanya, menatap jaket itu. “Jaket cowok, ya?”

“Jaket tim,” kataku, lalu naik ke kamarku sebelum dia sempat bertanya tim apa.


Pukul 22.47, aku membuka NayaraDesk. Aku menatap formulir tiket kosong selama sepuluh menit. Aku menulis dan menghapus judulnya enam kali.

Akhirnya:

Tiket #020
Judul: User mau minta maaf atas nama keluarganya.
Prioritas: —
Deskripsi: —
Assignee: erga.mahardika@zogotech.co.id

Aku tidak menulis deskripsi. Aku tidak tahu harus menulis apa. Aku menekan kirim sebelum sempat berubah pikiran.

Dia pasti sudah tahu. Nala pasti sudah memberitahunya soal video itu. Soal kafe. Soal aku.

Empat menit. Tidak ada balasan.

Tujuh menit.

Lalu:

Komentar dari erga.mahardika: Bukan salah kamu.

Tidak ada status. Untuk pertama kalinya, dia tidak memberi status apa pun. Tidak Won’t Fix, tidak Duplicate, tidak Need More Info. Hanya tiga kata.

Aku mengetik balasan di kolom komentar.

Aku tetap mau minta maaf.

Dua menit.

Kalau gitu besok. Langsung. Jangan lewat tiket.

Kenapa?

Jeda. Lama. Aku menatap titik-titik kecil di layar yang muncul, hilang, lalu muncul lagi. Dia sedang mengetik. Dia berhenti. Dia mengetik lagi.

Aku mau lihat muka kamu waktu minta maaf ke aku.

Aku menutup laptop. Aku menutup mata. Aku menarik jaket kanvas itu sampai menutupi setengah wajahku, dan menghirup bau sabun cuci yang sudah mulai bercampur dengan parfumku sendiri.

Aku tahu sekarang. Aku tahu dari apa aku menyelamatkannya malam itu, dengan segelas jus stroberi. Aku tahu kenapa dia menghitung pintu keluar di setiap ruangan. Aku tahu kenapa dia bilang Won’t Fix dalam dua menit. Dua menit, bukan dua detik.

Orang yang dinding hatinya setinggi itu tidak membangunnya dalam semalam. Dia membangunnya bata demi bata, dengan tangan yang sama yang dia pakai untuk menelepon dua puluh tiga vendor.

Mungkin orang lain akan mundur. Mungkin orang yang waras akan bilang ini terlalu rumit, keluargaku terlibat, dia sendiri bilang tidak mau.

Tapi aku tidak pernah meninggalkan sesuatu di tengah jalan.

Dan dia bukan sesuatu.