← Tanpa Tanggal Kadaluarsa

Chapter Forty One

Epilog 1: Malam yang Tidak Dihitung

POV: Bella

Mobil kami dihias oleh Divisi Gosip.

Aku tidak tahu kapan mereka melakukannya. Mungkin saat sesi foto terakhir. Mungkin saat Mama dan Mama Erga berebut siapa yang membawa pulang sisa rendang. Yang aku tahu, waktu kami keluar dari Graha Sasmita pukul tujuh malam, mobilku yang diparkir di halaman depan sudah tidak bisa dikenali.

Dua belas kaleng minuman bekas diikat dengan tali rafia di bumper belakang. Balon hati sisa malam lajang di spion. Dan di kaca belakang, spanduk kecil yang dicetak dengan huruf kapital biru tua, font yang sama persis dengan undangan kami.

JUST MARRIED. NO DEPLOY ON FRIDAY.

Di bawahnya, tulisan tangan Cece dengan spidol hitam: Laporan cuaca terakhir: cerah selamanya.

Dia berdiri di depan mobil itu dengan beskap putih gading dan menatap spanduk itu lama. Aku menunggu dia melepasnya.

Dia tidak melepasnya. Dia membuka pintu penumpang untukku, memutari mobil, duduk di kursi pengemudi, dan menyetir sepanjang Sudirman dengan dua belas kaleng yang berdentang di belakang, di bawah batas kecepatan, dengan lampu sein menyala setiap kali pindah lajur.

Di lampu merah Semanggi, seorang pengemudi ojek di sebelah kami membaca spanduk itu, lalu mengetuk kaca jendelaku.

“Mbak. Deploy itu apa?”

Aku menoleh ke suamiku. Suamiku menatap lampu merah dengan wajah datar dan telinga merah.

“Nanti dia jelasin,” kataku ke tukang ojek itu. “Seumur hidup.”


Rumah kami adalah apartemen dua kamar di lantai dua belas sebuah gedung di Kebayoran, dengan balkon yang menghadap ke crane di proyek gedung yang sama. Dia yang memilihnya. Katanya, dia sudah terbiasa melihat crane itu dari dua rooftop yang berbeda, dan dia ingin melihatnya dari sudut ketiga.

Aku belum pernah masuk ke dalamnya.

Dia melarangku. Tiga bulan terakhir, sejak kunci diserahkan, dia bilang ada yang harus dia deploy dulu. Aku bilang dia tidak boleh deploy apa pun. Dia bilang ini bukan hari Jumat.

Pukul sembilan malam, dia membuka pintunya.

Dia tidak menyalakan lampu utama. Dia hanya berdiri di ambang pintu, dengan beskap yang sudah dilepas dan kemeja putih yang kancing atasnya sudah terbuka, dan menunggu aku masuk lebih dulu.

Aku melangkah masuk.

Lorong itu gelap. Lalu, pelan-pelan, menyala.

Lampu-lampu kecil. Di sepanjang dinding lorong, dekat lantai, setinggi mata kaki. Kuning hangat, redup, seperti lampu-lampu di pohon mangga di depan rumah Mama. Menyala satu per satu, dari pintu masuk, melewati ruang tamu, sampai ke dapur, lalu berbelok ke pintu kamar. Seperti jalan setapak yang terbuat dari cahaya.

Aku berhenti.

“Sensor gerak,” katanya dari belakangku. Suaranya pelan. Datar. Seperti membaca spesifikasi teknis. “Nyala otomatis kalau ada yang lewat. Jaraknya delapan puluh senti. Aku ukur dari panjang langkah kamu. Kamu jalan terlalu cepat, jadi aku kurangin sepuluh senti dari rata-rata.”

Aku tidak bisa bicara.

“Biar kamu nggak perlu jalan dalam gelap,” lanjutnya, “kalau haus tengah malam.”

Aku ingat malam itu. Sofa abu-abu. Lampu tidur berbentuk bulan nomor dua belas. Kalau suatu hari kami tinggal di rumah yang sama, aku akan memasang lampu kecil di lorong. Dia mengatakannya seperti membaca spesifikasi teknis, dan aku tidak bisa bicara selama beberapa menit.

Aku tidak bisa bicara sekarang juga.

Aku berjalan menyusuri lorong. Setiap langkah, satu lampu lagi menyala di depanku. Delapan puluh senti. Tepat. Tidak lebih, tidak kurang. Seolah dia sudah menghitung setiap langkah yang akan kuambil di rumah ini, seumur hidup.

Di ujung lorong, di sebelah pintu kamar, ada satu lampu yang berbeda. Lebih besar. Berbentuk bulan.

Nomor tiga belas.


Di kamar, di atas meja kerja kecil di sudut, ada sebuah laci.

Aku tidak berniat membukanya. Aku sedang melepas sanggul, dengan jepit-jepit rambut yang rasanya jumlahnya ratusan, dan aku butuh tempat untuk meletakkannya. Aku menarik laci itu.

Aku berhenti.

Di dalamnya, tersusun rapi, seperti koleksi museum kecil:

Selembar tisu yang dilipat segi empat. Kaku. Merah muda pudar di satu sudutnya.

Sticky note kuning. Selamat pagi, Pak Architect.

Sticky note kuning lain. Aku percaya kamu. Nggak perlu dijelasin.

Sticky note biru. Udah makan. Tiap hari. Delapan potong.

Brosur krem Graha Sasmita, dengan lipatan yang sudah lembut. Di pojok kanan bawah, tulisan tangan satpam tua: Promo diperpanjang untuk Mas yang kemarin.

Delapan serpihan kecil kertas struk, dari toko perhiasan, diikat dengan karet gelang.

Dan satu lembar kertas yang dilipat. Aku membukanya. Cetakan tiket NayaraDesk.

Tiket #001. User tidak bisa berhenti mikirin Senior Architect. Status: RESOLVED. Komentar: Won’t Fix-nya salah input.

Aku duduk di kursi di depan meja itu. Aku tidak sadar aku sudah menangis sampai setetes air mata jatuh di atas tisu segi empat itu.

Dia berdiri di ambang pintu kamar. Aku tidak mendengarnya datang. Lampu-lampu kecil di lorong di belakangnya masih menyala.

“Aku lupa laci itu,” katanya pelan.

“Kamu nyimpen tisunya,” kataku. Suaraku pecah. “Dari malam pertama. Dari jus stroberi.”

“Aku nggak pernah bisa buang.”

“Kenapa?”

Dia diam lama. Lalu dia berjalan masuk, berlutut di sebelah kursiku, dan menatap isi laci itu bersamaku.

“Tiga tahun aku nyimpen semua yang harusnya aku buang,” katanya. “Undangan. Spreadsheet. Kalimat di balkon. Aku kira itu yang bikin aku aman.” Dia menyentuh tisu itu dengan ujung jari. “Terus malam itu, di lorong ballroom, ada orang yang numpahin jus ke kemejaku dan nyelipin tisu ke saku, dan aku pulang, dan aku nggak bisa buang tisunya. Aku nggak tahu kenapa. Sekarang aku tahu.”

“Kenapa?”

Dia menoleh padaku.

“Karena itu yang pertama,” katanya, “yang aku simpan bukan karena takut.”


Aku membuka lemari pakaian setengah jam kemudian, mencari baju tidur di koper yang sudah dia pindahkan isinya ke lemari tanpa aku minta, tentu saja, disusun rapi berdasarkan warna.

Di bagian paling kiri lemari, tergantung sendiri dengan hanger kayu, ada satu kemeja putih.

Aku mengenalinya sebelum melihat noda di dadanya. Noda merah pudar, pinggirnya lebih gelap, bentuknya seperti pulau yang tidak ada di atlas mana pun.

Kemeja malam launching. Satu tahun lalu.

Dia tidak pernah mencucinya. Dia tidak pernah membuangnya. Dia memindahkannya dari balik pintu apartemen lamanya ke lemari rumah kami, dan menggantungnya di bagian paling kiri, sendirian, seperti barang yang paling penting.

Aku mengambilnya dari hanger.

Aku tidak mengambil baju tidur.


Waktu aku keluar dari kamar mandi, dia sedang berdiri di balkon, menatap crane di kejauhan yang diterangi lampu-lampu proyek. Dia sudah melepas kemejanya dan memakai kaus putih polos. Dasi yang tadi dia pakai untuk sesi foto terakhir masih tersampir di lehernya, tidak diikat, lupa dilepas.

Dia berbalik waktu mendengar pintu balkon bergeser.

Dia melihatku. Dengan kemeja putihnya yang kebesaran, noda stroberi di dada, lengan digulung tiga kali, dan ujungnya jatuh sampai setengah paha.

Dia tidak bergerak.

Aku melihat jakunnya naik turun. Aku melihat telinganya berubah warna di bawah lampu balkon, dari ujung sampai pangkal. Aku melihat tangannya di pagar balkon mengencang sampai buku jarinya memutih.

“Itu kemeja aku,” katanya. Suaranya serak.

“Sekarang wangi aku.”

“Bel.”

Aku berjalan ke arahnya. Pelan. Untuk sekali ini, aku tidak berjalan terlalu cepat.

Aku berhenti di depannya. Sejengkal. Aku mengangkat wajah dan menatapnya.

“Seminggu lalu,” kataku, “di basement. Kamu bilang kamu mikirin cara ngambil kemeja ini balik. Dan caranya nggak ada yang sopan.”

Dia tidak menjawab. Matanya turun ke kerah kemeja itu, lalu naik lagi ke wajahku, sangat, sangat pelan.

“Dan aku bilang,” lanjutku, “tujuh hari lagi kamu boleh nggak sopan.”

“Kamu inget.”

“Kamu beneran nyatet?”

Dia melepaskan tangannya dari pagar balkon. Dia mengangkatnya ke wajahku. Ibu jarinya di tulang pipiku, jari-jarinya di belakang telingaku, di rambutku yang sudah lepas dari sanggul.

“Semuanya,” katanya pelan, “sudah aku catat.”

Aku mengangkat tanganku. Aku mengambil ujung dasi yang masih tersampir di lehernya, dan aku menariknya. Pelan. Sampai wajahnya turun, sampai dahinya hampir menyentuh dahiku, sampai aku bisa merasakan napasnya yang tidak teratur di bibirku.

“Pak Architect,” bisikku.

Dia tidak bergerak. Dia menunggu.

“Kancing kemejanya,” kataku, “sekarang boleh aku yang lepas?”

Aku merasakan sesuatu berubah di tubuhnya. Seperti seluruh sistem yang selama ini berjalan dengan kecepatan yang terkendali, tiba-tiba melepas semua pembatasnya.

“Aku nunggu kamu nanya itu,” katanya, suaranya lebih rendah dari yang pernah kudengar, “dari malam kamu numpahin minuman.”

Aku tertawa. Pelan. Gemetar.

“Lima menit?” bisikku.

Dia menatapku. Dan di matanya, aku tidak melihat angka apa pun. Tidak ada hitungan mundur. Tidak ada jam. Tidak ada tanggal.

“Malam ini,” katanya, “aku nggak ngitung.”


Dia menciumku.

Bukan seperti di bawah lampu gantung kristal, yang teliti dan terencana, setiap gerakan dengan urutan. Bukan seperti di sofa, singkat dan jujur di sudut bibir.

Yang ini berbeda.

Yang ini seperti tiga tahun yang dilepas sekaligus. Seperti semua yang dia simpan di laci, di kolong tempat tidur, di balik dinding yang dibangun bata demi bata, runtuh dalam satu tarikan napas. Tangannya di rahangku, lalu di rambutku, lalu di pinggangku, menarikku lebih dekat sampai tidak ada jarak lagi yang bisa diukur. Aku mencengkeram kausnya. Aku lupa di mana aku berada. Aku lupa crane di kejauhan, lampu balkon, kota yang masih berbunyi di bawah kami.

Aku hanya tahu dia. Bibirnya. Napasnya. Jantungnya di bawah telapak tanganku, berdetak begitu cepat, begitu keras, seperti sistem yang akhirnya berjalan dengan kapasitas penuh untuk pertama kalinya.

Dia menarik diri sebentar, hanya cukup untuk bernapas. Dahinya di dahiku. Napas kami berdua berantakan.

“Bel,” katanya. Suaranya hampir tidak ada.

“Hm.”

“Rilis penuh.”

Aku tertawa, di tengah napas yang hilang. Dia menunduk dan menciumku lagi, lebih dalam, lebih lambat, dan tangannya menemukan kancing teratas kemeja putih bernoda stroberi itu.

Dia berhenti di sana. Satu detik. Jari-jarinya di kancing itu. Menunggu.

Tentu saja dia menunggu. Dia selalu bertanya dulu.

Aku menggenggam tangannya, dan menuntunnya.

Di belakang kami, di lorong, lampu-lampu kecil setinggi mata kaki menyala satu per satu, delapan puluh senti jaraknya, dari balkon sampai pintu kamar, lalu padam lagi satu per satu setelah kami lewat, sampai hanya satu lampu yang tersisa.

Lampu bulan. Nomor tiga belas.

Malam itu, tidak ada yang menghitung apa pun.