Chapter Twenty Five
Aku yang Nggak Diam
POV: Bella
Jumat pagi, pukul 07.52, mejanya kosong.
Bukan kosong seperti hari libur, dengan laptop yang tertinggal atau jaket yang tersampir di kursi. Kosong seperti meja yang baru dibersihkan untuk orang lain. Tidak ada tablet. Tidak ada stylus. Tidak ada buku catatan kecil. Hanya monitor, keyboard, dan kursi yang didorong rapat ke meja, seperti tidak pernah ada yang duduk di sana.
Dan di tengah meja itu, satu sticky note kuning.
Jangan lupa makan, Bu Bella.
Aku berdiri di depan meja itu dengan tas masih di bahu. Aku membaca lima kata itu berkali-kali, dan setiap kali, kata-kata itu terasa seperti sesuatu yang dia tinggalkan di pintu sebelum pergi. Seperti kunci di bawah keset.
“Bu.”
Yoga berdiri di sebelahku. Matanya merah dan bengkak, seperti orang yang tidak tidur. Dia memegang laptopnya dengan kedua tangan, seperti memegang sesuatu yang berharga.
“Pak Erga dipindah remote, Bu. Sejak hari ini. Sampai ada keputusan dari direksi.”
“Kenapa?”
Yoga tidak menjawab. Dia membuka laptopnya dan memutarnya ke arahku. Di layar, sebuah dokumen. Runbook — Kalau Pak Architect Nggak Ada (v1.0). Enam puluh halaman.
“Beliau nulis ini semalam,” kata Yoga. “Sampai jam empat pagi. Saya bantu. Pak Gunawan juga.”
Aku menggulir. Halaman demi halaman. Setiap sistem, setiap alarm, setiap nomor telepon. Seperti surat wasiat yang ditulis dalam bahasa server.
Di halaman terakhir, aku berhenti.
Lampiran F: Prosedur Khusus.
F.1. Jika PIC Product lupa makan siang: eskalasi ke rooftop.
F.2. Telur dadar di kulkas pantry. Kotak biru. Label “Zogo”. Diganti tiap Senin.
F.3. Jika PIC Product kedinginan di ruang rapat: jaket cadangan ada di laci meja product, paling bawah. (Jangan dikembalikan ke pemiliknya. Pemiliknya sudah tahu. Sumber: laporan cuaca Cece, hari ke-3.)
Aku tidak bisa bernapas.
Aku berjalan ke pantry. Aku membuka kulkas. Di rak paling atas, di belakang botol-botol air mineral, ada kotak makan biru dengan selotip kertas bertuliskan Zogo dengan tulisan tangan yang kukenal.
Aku membukanya. Telur dadar. Dipotong delapan.
Aku berdiri di depan kulkas yang terbuka sampai kulkas itu berbunyi bip karena pintunya terlalu lama terbuka, dan Mbak Tika datang dari belakang dan menutupnya dengan pelan, dan memelukku dari samping tanpa bertanya apa-apa.
Pukul 09.15, Pak Darmawan memanggilku ke ruangannya.
Dia menutup pintu. Wajahnya merah, dan bukan merah yang biasa. Merah orang yang sudah marah sejak kemarin pagi dan belum menemukan tempat untuk meletakkan marahnya.
“Kamu harus lihat ini, Bel,” katanya. “Saya tidak seharusnya menunjukkan. Tapi saya sudah tidak peduli.”
Dia memutar laptopnya. Email dari Mas Raka. Keluhan Resmi. Lima lampiran. Tangkapan layar WhatsApp.
Aku membaca semuanya.
Aku masih nunggu kamu.
Jangan pura-pura lupa delapan tahun kita.
Kalau kamu tetap nikah sama dia, aku bongkar semuanya di depan keluarganya.
Aku membaca kalimat terakhir itu tiga kali. Lalu aku tertawa. Pendek, kering, tanpa sedikit pun rasa lucu.
“Ini bukan dia,” kataku.
“Saya tahu,” kata Pak Darmawan.
“Dia nggak ngomong kayak gini. Dia nggak pernah pakai kata aku bongkar. Dia nggak pernah ngancam. Orang yang nulis ini nggak kenal dia sama sekali.” Suaraku naik. “Orang yang nulis ini cuma kenal dirinya sendiri.”
“Bella.” Pak Darmawan melepas kacamatanya. “Saya tahu. Semua orang di lantai 21 tahu. Satpam lobi tahu. Tapi Pak Raka sponsor proyek, dan Pak Bram di Singapura, dan Pak Erga sendiri…” Dia menggeleng pelan. “Pak Erga sendiri menolak membela diri. Bu Liana bilang dia menolak membuat klarifikasi. Menolak forensik. Menolak semuanya.”
Aku menatap lima tangkapan layar itu.
Kemarin sore, di mobil, aku mengetik ke Nala: Nanti aja. Kalau dia beneran ngapa-ngapain.
Dia sudah ngapa-ngapain.
Dan dia, laki-laki yang bisa membuktikan apa pun dengan log dan grafik dan dua puluh jam membaca sistem, memilih diam. Lagi. Demi kakakku. Demi orang yang memegang kerahnya di B2. Demi keluarga yang sekarang menuduhnya.
Aku janji… nyoba.
Aku sudah mencoba. Aku mencoba di B2. Aku mencoba di meja makan. Aku mencoba di mobil Mas Raka, dengan mulut terkunci sementara rumahku terbakar.
Aku berdiri.
“Bel?” kata Pak Darmawan. “Kamu mau ke mana?”
“Lantai dua puluh delapan.”
Ruangan Mas Raka ada di ujung koridor lantai 28, dengan dinding kaca dan pemandangan ke arah Semanggi. Sekretarisnya berdiri waktu melihatku berjalan cepat melewatinya.
“Bu Bella, Pak Raka sedang—”
Aku membuka pintu.
Mas Raka sedang menelepon. Dia menoleh, melihat wajahku, dan mengucapkan nanti aku telepon lagi ke ponselnya sebelum menutupnya.
“Bel?”
Aku menutup pintu di belakangku.
“Mas harus dengerin aku,” kataku. “Sampai selesai. Jangan potong. Sekali ini aja.”
Dia menatapku. Lalu dia duduk kembali di kursinya, pelan, dan melipat tangannya di atas meja.
Aku menceritakan semuanya.
Minggu pertama kuliah. Gedung Ekonomi yang salah. Delapan tahun. Setahun persiapan. Spreadsheet tujuh tab, dengan catatan di kolom paling kanan yang semuanya dimulai dengan nama perempuan itu. Sheila suka Graha Sasmita. Sheila nggak suka santan. Sheila mau krem, bukan putih.
Selasa malam. Seminggu sebelum akad. Telepon jam sembilan lewat empat menit.
Aku nggak sanggup. Aku takut. Cintaku sudah habis.
Tidak pernah mengangkat telepon lagi. Orang tuanya yang datang minta maaf. Dia tidak pernah ikut. Dua puluh tiga vendor, ditelepon satu per satu. Delapan ratus undangan. Balkon di hari Sabtu. Aku tidak akan jatuh cinta lagi.
Aku bercerita tentang pesta launching, pilar belakang, jus stroberi. Tentang pantry, tiga bulan lalu, dan siapa yang sebenarnya menutup pintu. Tentang butik putih, dan kalimat kamu juga nanti habis.
Aku bicara selama dua puluh menit. Mas Raka tidak memotong sekali pun.
Waktu aku selesai, ruangan itu sunyi. Di luar dinding kaca, Jakarta berjalan seperti biasa.
Mas Raka menatapku lama. Wajahnya pucat. Tangannya yang terlipat di atas meja mengencang.
Lalu dia bicara, dan suaranya tenang. Terlalu tenang.
“Kamu tahu semua ini dari mana, Bel?”
“Dari adiknya. Dari Nala.”
“Adiknya.” Mas Raka mengangguk pelan. “Adiknya. Yang pasti bakal belain kakaknya.”
“Mas—”
“Dan spreadsheet itu. Catatan-catatan itu. Kamu lihat sendiri?”
Aku terdiam. Aku belum pernah melihatnya. Aku hanya mendengar dari Nala.
“Dan tangkapan layar ini?” Mas Raka memutar laptopnya ke arahku. Lima gambar yang sama. “Kamu bilang ini palsu. Buktinya apa?”
“Dia nggak ngomong kayak gitu, Mas. Aku kenal dia—”
“Kamu kenal dia tiga bulan, Bel.” Suaranya pecah sedikit, lalu mengeras lagi. “Sheila kenal dia delapan tahun. Siapa yang lebih tahu?”
“Mas nggak ngerti—”
“Kamu yang nggak ngerti!” Mas Raka berdiri. Mas Raka tidak pernah berdiri kalau sedang bicara denganku. Mas Raka tidak pernah menaikkan suara. “Dia udah cuci otak kamu, Bel. Dia deketin kamu. Dia bikin kamu percaya dia korban. Dan sekarang kamu dateng ke sini, ke kantor Mas, dan kamu mau Mas percaya bahwa perempuan yang Mas pilih buat jadi istri Mas adalah… adalah pembohong?”
“Iya,” kataku. “Karena dia memang pembohong.”
Mas Raka menatapku seperti menatap orang asing.
“Kamu tahu nggak, Bel,” katanya pelan, dan suaranya sekarang bergetar. “Seumur hidup, Mas selalu jadi nomor dua. Kamu yang pintar. Kamu yang rapi. Kamu yang kayak Papa. Mas cuma anak sulung yang disuruh menunggu giliran.” Dia menarik napas. “Sheila itu satu-satunya hal dalam hidup Mas yang Mas pilih sendiri. Bukan Papa yang pilih. Bukan Mama. Mas.”
Aku tidak bisa bicara.
“Dan sekarang kamu mau ambil itu juga.”
Kalimat itu mengiris lebih dalam dari apa pun yang pernah Sheila katakan padaku. Karena itu bukan pisau. Itu luka. Luka kakakku sendiri, yang tidak pernah kulihat karena dia selalu menerima semuanya dengan senyum, seperti menerima hujan.
“Mas,” kataku. Air mataku jatuh. “Aku nggak mau ambil apa-apa. Aku cuma nggak mau Mas ngerasain apa yang dia rasain.”
Ponsel Mas Raka bergetar di atas meja. Aku melihat nama di layarnya. Sayang.
Dia mengangkatnya. Aku mendengar suara Sheila dari speaker, samar, tapi cukup jelas di ruangan yang sunyi.
Sayang? Kok telepon tadi diputus, ya? Ada apa?
Mas Raka menatapku. Lalu dia bicara ke ponselnya, dengan suara yang sudah kembali lembut.
“Bella di sini. Dia cerita soal… masa lalu kamu.”
Hening sebentar. Lalu suara Sheila, lebih pelan, lebih manis, dengan nada yang sangat sedih.
Oh, Sayang. Jangan marah sama Bella, ya. Dia masih kecil. Dia nggak tahu apa-apa. Dia cuma dengar dari satu sisi, ya. Aku ngerti, kok.
Mas Raka memejamkan mata. Aku melihatnya terjadi. Aku melihat kakakku memilih, di detik itu, suara yang lebih lembut.
“Kamu keluar, Bel,” katanya pelan, tanpa membuka mata.
Pukul 19.40, aku berdiri di depan pintu apartemennya.
Aku menekan bel tujuh kali, sesuai teori Nala. Dia membuka pintu di bel ketiga. Kaus abu-abu. Rambut berantakan. Laptop masih terbuka di meja makan di belakangnya, penuh jendela terminal. Dia masih bekerja. Tentu saja dia masih bekerja.
Dia melihat wajahku. Dia tidak bertanya. Dia minggir dan membiarkanku masuk.
Aku tidak duduk. Aku berdiri di tengah ruang tamunya, di tempat yang sama di mana lebih dari sebulan lalu dia menyentuh wajahku.
“Aku bilang ke Mas Raka,” kataku.
Dia tidak bergerak.
“Semuanya. Pagi tadi. Di kantornya. Selasa malam. Dua puluh tiga vendor. Balkon. Pantry. Butik.” Suaraku gemetar. “Aku nggak tahan lagi, Ga. Aku lihat screenshot itu. Aku lihat meja kamu kosong. Aku lihat telur kamu di kulkas. Dan kamu nggak ngelakuin apa-apa. Lagi. Jadi aku yang ngelakuin.”
Dia menatapku lama. Aku melihat sesuatu bergerak di wajahnya, di bawah permukaan yang rata itu. Bukan marah. Sesuatu yang lebih pelan dan lebih berat.
“Dia percaya?” tanyanya.
“Nggak.”
Dia memejamkan mata sebentar.
“Aku minta satu hal, Bel,” katanya pelan.
Hanya itu. Tidak ada teriakan. Tidak ada tuduhan. Enam kata, diucapkan dengan suara yang paling pelan yang pernah kudengar darinya. Dan enam kata itu lebih menyakitkan dari semua kata yang Mas Raka ucapkan di lantai dua puluh delapan.
“Aku tahu,” bisikku.
“Satu hal.”
“Aku tahu, Erga.” Air mataku jatuh lagi. “Tapi kamu minta aku diam sementara dia ngancurin kamu. Kamu minta aku lihat kamu dituduh, diusir, dipalsuin, dan aku harus diam karena itu yang kamu pilih. Aku nggak bisa. Aku bukan kamu.”
“Aku nggak minta kamu jadi aku.”
“Terus kamu minta apa?”
“Aku minta kamu nanya dulu.” Suaranya retak, untuk pertama kalinya. “Kamu yang ngajarin aku rasanya ditanya dulu, Bel. Kamu yang hapus pesan ke Mas Raka di kafe itu karena kamu mau nanya aku dulu. Dan hari ini…”
Dia tidak menyelesaikan kalimatnya. Dia tidak perlu.
Aku berdiri di sana, dan aku mengerti. Aku sudah memberinya sesuatu yang tidak pernah dia dapat selama tiga tahun. Lalu aku mengambilnya kembali.
Kami berdua benar. Dia benar bahwa aku melanggar janji. Aku benar bahwa diam tidak menyelamatkan siapa pun. Dan dua kebenaran itu berdiri di ruang tamu yang kecil ini, tidak bisa menyatu, tidak bisa saling membatalkan.
“Kamu tahu apa yang paling nyebelin?” kataku akhirnya, dengan suara yang hampir habis.
Dia menatapku.
“Aku lagi marah banget sama kamu,” kataku. “Dan aku tetap pengin kamu peluk.”
Dia tidak bergerak.
Aku melihat tangannya di sisi tubuhnya. Jari-jarinya menekuk, lalu lurus lagi. Seperti tangan yang ingat sesuatu. Seperti tangan yang sedang ditahan dengan seluruh tenaga.
Dia tidak memelukku.
Aku menunggu. Lima detik. Sepuluh. Kulkas di dapurnya berdengung. Laptop di meja makan berbunyi pelan, notifikasi dari Yoga.
Dia tetap tidak bergerak.
Aku mengangguk. Pelan. Satu kali. Lalu aku berjalan ke pintu, membukanya sendiri, dan keluar. Dia tidak menahanku. Dia tidak bilang apa-apa.
Di lift, aku menempelkan dahiku di dinding cermin dan menangis tanpa suara sampai lantai dasar.
Itu yang paling sakit. Bukan Mas Raka yang memilih suara yang lebih lembut. Bukan Sheila yang bilang aku masih kecil.
Tapi laki-laki yang tangannya selalu bergerak ke arahku seperti refleks, kali ini, tidak bergerak sama sekali.
Di rumah, Mama sedang duduk di meja makan dengan satu panci besar rendang di depannya.
“Mama masak,” katanya waktu aku masuk. Matanya merah. “Enam jam. Mama pikir kalau Mama masak, kalian berdua mau duduk bareng dan makan dan ngobrol dan baikan.”
Mas Raka tidak pulang malam itu. Dia menginap di apartemen Sheila.
Aku duduk di seberang Mama. Aku tidak lapar. Mama tidak lapar. Rendang itu mengepul di antara kami, cokelat tua dan berkilau, dan tidak ada yang menyentuhnya.
Lalu Mama mengambil sendok, menyendok satu potong ke piringnya sendiri, dan mulai makan. Pelan. Sambil menangis.
“Sayang kalau nggak dimakan,” katanya di sela isak. “Enam jam, Bel.”
Aku mengambil sendok juga. Aku makan satu potong. Rendangnya enak. Tentu saja enak. Mama selalu memasak dengan sepenuh hati, bahkan untuk anak-anak yang tidak pulang.
Malam itu, di kamar, aku membuka tas kerja dan mengeluarkan jaket kanvas gelap yang kuambil dari laci meja product tadi sore, sesuai Lampiran F. Aku tidak mengembalikannya ke pemiliknya. Pemiliknya sudah tahu.
Aku memakainya untuk tidur. Untuk pertama kalinya dalam tiga minggu.
- 1 Server yang Katanya Down
- 2 Seminggu Sebelum Akad
- 3 Pak Architect
- 4 Server Room
- 5 Lima Menit
- 6 Won’t Fix
- 7 Payung
- 8 Tanggal di Undangan
- 9 Oke. Satu-Satu
- 10 Dia yang Pergi Seminggu Sebelum Akad
- 11 Jangan Bilang Mas Raka
- 12 Empat Puluh Menit
- 13 Serbet
- 14 Di Bawah Meja
- 15 Setelah Meja Makan
- 16 Cutover
- 17 Versi Sheila
- 18 Tolong Jauhi Adikku
- 19 Hampir
- 20 Kita Berhenti di Sini
- 21 Lift
- 22 Hari Gajian
- 23 Fitting
- 24 Runbook
- 25 Aku yang Nggak Diam reading
- 26 Sama-Sama Benar
- 27 Satu Jengkal
- 28 H-10
- 29 H-8
- 30 H-7
- 31 Malam yang Sama
- 32 Klub H-7
- 33 Resolved
- 34 Pacar Senior Architect
- 35 Hari Kamis
- 36 Sheila Datang Lagi
- 37 Lima Menit?
- 38 Request: Seumur Hidup
- 39 H-7, Lagi
- 40 Tanpa Tanggal Kadaluarsa
- 41 Epilog 1: Malam yang Tidak Dihitung
- 42 Epilog 2: Pagi Pertama