Chapter Twenty Nine
H-8
POV: Bella
Delapan hari sebelum akad, rumah kami sudah tidak terlihat seperti rumah. Rumah kami terlihat seperti lokasi syuting yang produsernya belum memutuskan film apa yang mau dibuat.
Tenda putih setengah terpasang di halaman depan. Kursi lipat bertumpuk di garasi. Pohon mangga dibungkus lampu-lampu kecil yang belum dinyalakan. Di ruang tamu, tiga orang dari WO duduk di sofa dengan tablet, map, dan wajah orang yang sudah kurang tidur selama seminggu.
Dan Mama, yang kakinya sudah sembuh, berdiri di tengah ruangan dengan dua untai melati di tangan.
“Yang ini,” kata Mama, mengangkat untai di tangan kanan. “Bukan yang ini.”
Koordinator WO, perempuan berusia tiga puluhan bernama Mbak Rina yang selalu memakai headset bahkan di dalam rumah, menatap dua untai itu dengan tatapan kosong.
“Bu, dua-duanya melati putih.”
“Beda.”
“Bu, secara teknis—”
“Yang ini putih susu. Yang ini putih gading.” Mama mengangkat keduanya ke arah jendela, supaya terkena cahaya matahari. “Putih susu itu putih yang bahagia. Putih gading itu putih yang sedih. Mama nggak mau anak Mama nikah pakai melati yang sedih.”
Mbak Rina menatapku dengan wajah minta tolong. Aku mengangkat bahu. Aku sudah menyerah berdebat dengan Mama soal warna sejak insiden empat puluh foto bunga. Itu pertempuran yang tidak pernah bisa dimenangkan siapa pun.
“Baik, Bu,” kata Mbak Rina, menulis sesuatu di tabletnya. “Melati… putih bahagia.”
“Terima kasih.” Mama tersenyum puas, lalu menoleh padaku. “Bel. Kamu pakai kebaya yang biru, ya. Jangan yang krem. Nanti kamu kelihatan kayak mempelai kedua.”
Pagi itu, sebelum pulang ke rumah untuk acara penandatanganan, aku mampir ke kantor sebentar untuk mengambil dokumen. Pukul 07.45. Lantai 21 masih sepi.
Pintu lift terbuka, dan Andre keluar dengan kotak makan biru di kedua tangannya, dipegang di depan dada seperti membawa baki berisi mahkota.
Divisi Gosip, yang ternyata sudah datang semua, berdiri dari meja masing-masing.
“Kurir resmi Lampiran F.2,” kata Andre dengan suara khidmat. “Pengiriman hari Senin. Tepat waktu.”
Mbak Tika bertepuk tangan. Yoga ikut. Cece memotret. Andre berjalan ke pantry dengan langkah pelan seperti prosesi, membuka kulkas, meletakkan kotak biru itu di rak paling atas, di belakang botol-botol air mineral, dan menutup pintu kulkas dengan anggukan hormat.
Lalu dia berbalik dan melihatku berdiri di ujung lorong.
“Oh,” katanya. “Ibu udah dateng.”
“Udah.”
“Ibu… lihat semua itu?”
“Lihat semua itu.”
Andre berdeham. Dia berjalan melewatiku, berhenti setengah langkah, dan berbisik tanpa menoleh. “Dia masak jam lima pagi. Gue yang jemput di lobi apartemennya jam enam. Dia titip pesan.”
“Pesan apa?”
“Nggak ada pesan.” Andre mengangkat bahu. “Dia bilang, nggak ada pesan, Ndre. Terus dia diam tiga detik, terus dia bilang, bilang aja, makan.”
Aku membuka kulkas setelah Andre pergi. Kotak biru. Delapan potong. Di atas tutupnya, sticky note kuning dengan satu kata dalam tulisan tangan yang rapi seperti diagram arsitektur.
Makan.
Aku memakan dua potong di depan kulkas yang terbuka, sampai kulkas itu berbunyi bip. Kali ini aku yang menutupnya sendiri.
Pukul sepuluh, penandatanganan perjanjian pranikah.
Pengacara keluarga, Pak Hartono, laki-laki tua dengan kacamata bulat dan suara yang terdengar seperti membaca kitab suci, datang dengan map kulit tebal. Kami berkumpul di ruang kerja Papa. Papa di kursinya di balik meja jati. Mama di sofa. Mas Raka dan Sheila berdampingan di dua kursi di depan meja. Aku berdiri di dekat rak buku, sebagai saksi dari keluarga.
Pak Hartono membacakan pasal demi pasal. Harta terpisah. Aset perusahaan milik keluarga Harsono tidak termasuk harta bersama. Saham Nayara Group milik Mas Raka tetap atas nama Mas Raka dan tidak bisa dialihkan tanpa persetujuan dewan keluarga. Rumah yang akan mereka tempati adalah milik Nayara Properti, bukan milik pribadi.
Aku memperhatikan Sheila.
Dia duduk tegak. Senyumnya ada. Versi senyum untuk acara resmi, dengan dagu sedikit terangkat. Tapi aku sudah belajar di mana harus melihat.
Tangannya di pangkuan. Jari-jarinya saling meremas. Buku jarinya putih.
Di pasal ketujuh, saham tidak dapat dialihkan, jari-jarinya berhenti meremas dan diam sepenuhnya. Seperti orang yang baru menyadari sesuatu yang tidak dia duga.
Pak Hartono menyodorkan pulpen. Mas Raka menandatangani lebih dulu, cepat, tanpa membaca ulang, seperti orang yang tidak punya apa-apa untuk disembunyikan. Lalu dia menggeser dokumen itu ke Sheila, dan tersenyum padanya.
Sheila menatap dokumen itu. Tiga detik. Lima.
“Sayang?” kata Mas Raka pelan.
Sheila tersenyum. Dia mengambil pulpen, menandatangani, dan meletakkan pulpen itu kembali di meja dengan bunyi tak yang sedikit terlalu keras.
“Aku ke toilet sebentar, ya,” katanya, berdiri. Suaranya manis. Wajahnya dingin, dingin sekali, seperti ruang fitting enam belas derajat.
Dia keluar. Pintu ruang kerja tertutup di belakangnya.
Ponselnya tertinggal di kursi.
Aku tidak berniat melihat.
Aku sedang berjalan ke meja Papa untuk menandatangani kolom saksi, dan kursi Sheila ada di jalanku, dan ponselnya tergeletak di atas bantalan kursi dengan layar menghadap ke atas. Dan tepat saat aku melewatinya, layar itu menyala.
Notifikasi.
Kevin S.
Jadi besok malam? Aku udah booking tempat biasa. Jangan telat lagi kayak minggu lalu ya. Ada yang mau aku omongin serius.
Layar itu mati lagi setelah lima detik.
Aku berdiri di sana dengan pulpen di tangan dan jantung yang berhenti berdetak.
Kevin S.
Aku tahu nama itu. Kevin Santoso. Investor teknologi yang dua tahun lalu pernah menawarkan diri untuk membeli sebagian saham Nayara Digital, dan ditolak Papa dalam rapat yang berlangsung kurang dari sepuluh menit. Laki-laki berusia tiga puluh lima dengan jam tangan yang harganya lebih mahal dari mobilku. Dia datang ke pesta launching Nayara+, duduk di meja investor, dan aku ingat dia karena dia tertawa terlalu keras di bagian sambutan Papa yang sama sekali tidak lucu.
Tempat biasa.
Jangan telat lagi kayak minggu lalu.
“Bel?” kata Papa. “Tanda tangan.”
Aku menandatangani. Aku tidak ingat apa yang kutulis. Mungkin namaku. Mungkin bukan.
Di kepalaku, tanpa sadar, aku melakukan apa yang dia lakukan setiap kali ada sistem yang rusak. Tiga pertanyaan. Sejak kapan? Seberapa sering? Kenapa sekarang? Aku tidak punya jawaban untuk satu pun.
Sheila kembali dua menit kemudian. Senyumnya sudah kembali. Dia mengambil ponselnya dari kursi, melihat layarnya sekilas, lalu memasukkannya ke tas tanpa ekspresi apa pun.
Mas Raka merangkulnya. “Udah, Sayang. Resmi.”
“Resmi,” ulang Sheila, dan tersenyum.
Aku menatap mereka berdua, dan mulutku terbuka.
Kalimatnya sudah ada di ujung lidah. Mas, siapa Kevin Santoso? Kenapa dia bilang tempat biasa? Kenapa dia bilang jangan telat lagi?
Aku menutup mulutku.
Aku sudah pernah melakukan ini. Di lantai dua puluh delapan. Dengan cerita yang benar, dengan niat yang baik, dan tanpa bertanya lebih dulu. Dan kakakku memilih suara yang lebih lembut, dan orang yang paling ingin kulindungi berdiri di ruang tamunya sendiri dengan tangan yang tidak bergerak.
Aku tidak mau melakukannya lagi.
Sore itu, ada gladi resik siraman di halaman belakang. Mbak Rina memimpin dengan headset dan suara yang semakin serak. Tujuh ember kecil berisi air bunga. Kursi kayu berukir di tengah. Mas Raka duduk di kursi itu, memakai kain batik, dan tertawa waktu Mama pura-pura menyiramkan air ke kepalanya.
Mama terlalu bersemangat. Ember ketiga tidak berhenti di atas kepala Mas Raka. Ember itu miring terlalu jauh, dan air bunga setengah ember tumpah ke samping, tepat ke sepatu kulit Papa yang sedang berdiri di sebelah kursi dengan tangan terlipat.
Semua orang membeku. Mbak Rina menahan napas di balik headset-nya.
Papa menatap sepatunya. Kelopak mawar menempel di ujungnya. Air menetes dari kaus kakinya.
“Ini,” kata Papa pelan, “bukan gladi saya.”
Mas Raka tertawa sampai kursinya bergoyang. Aku ikut tertawa. Untuk pertama kalinya dalam sebulan, kakakku dan aku tertawa pada hal yang sama, di tempat yang sama.
Sheila tidak ikut gladi. Katanya pusing. Katanya dia istirahat di rumah saja.
Waktu gladi selesai, Mas Raka berjalan melewatiku di koridor belakang, masih memakai kain batik yang basah di bagian bahu. Dia berhenti.
Kami belum benar-benar bicara sejak lantai dua puluh delapan. Hanya kalimat-kalimat pendek. Pagi. Udah makan. Mama nanya.
“Bel,” katanya.
Aku menunggu.
“Maaf.” Dia tidak menatapku. Dia menatap lantai koridor. “Soal di kantor. Mas ngomong kasar. Soal Mas selalu jadi nomor dua. Itu… itu bukan salah kamu.”
Aku tidak bisa bicara.
“Mas cuma…” Dia menggaruk tengkuknya. “Mas cuma pengin satu hal ini berjalan lancar. Satu hal aja.”
“Aku tahu, Mas.”
Dia mengangguk. Dia hendak pergi, lalu berhenti lagi. Dia menatap ponsel di tangannya.
“Sheila akhir-akhir ini sering nggak angkat telepon,” katanya. Pelan. Hampir tidak kepadaku. “Katanya capek. Persiapan. Wajar, kan?”
Aku menatap kakakku. Laki-laki dengan kain batik basah di bahu, dengan senyum yang tidak pernah punya versi lain, yang sekarang berdiri di koridor rumah kami dan bertanya kepadaku, adiknya yang dia usir dari kantornya sebulan lebih lalu, apakah wajar kalau calon istrinya tidak mengangkat telepon.
“Wajar, Mas,” kataku.
Itu jawaban yang benar. Bukan jawaban yang lengkap. Tapi benar.
Aku sadar, saat mengucapkannya, bahwa aku sedang memakai kalimat seseorang.
Pukul 22.40, aku menelepon Erga.
Bukan pesan. Telepon. Dia mengangkat di dering pertama, seperti sudah menunggu.
“Bel.”
“Aku lihat sesuatu hari ini,” kataku. “Dan aku nggak mau mutusin sendiri lagi. Jadi aku nanya kamu dulu.”
Hening sebentar di ujung sana. Lalu, pelan: “Oke.”
Aku menceritakan semuanya. Ruang kerja Papa. Pasal ketujuh. Buku jari yang memutih. Ponsel di atas kursi. Kevin S. Tempat biasa. Jangan telat lagi kayak minggu lalu. Mas Raka di koridor dengan kain batik basah, bertanya apakah wajar.
Dia mendengarkan tanpa memotong. Waktu aku selesai, dia diam lama. Aku mendengar suara kota di latar belakang. Dia pasti di balkon.
“Terima kasih,” katanya akhirnya.
“Untuk apa?”
“Udah nanya aku dulu.”
Aku memejamkan mata. “Aku belajar dari orang keras kepala.”
Aku mendengar batuk yang bukan batuk.
“Terus aku harus gimana, Ga?” tanyaku. “Aku harus bilang ke Mas Raka? Ke Papa?”
Dia tidak langsung menjawab. Aku bisa membayangkannya, berdiri di balkon, menatap lampu kota, menyusun jawabannya seperti menyusun runbook. Pelan. Hati-hati. Setiap langkah dengan rencana mundur.
“Notifikasi bukan bukti, Bel,” katanya. “Kalau kamu bilang ke Mas Raka sekarang, dia bakal nanya Sheila. Sheila bakal bilang Kevin itu klien, atau teman lama, atau kenalan dari kantor. Dan Mas Raka bakal percaya, karena dia mau percaya. Dan kamu bakal jadi adik yang nggak bisa berhenti ngerusak pernikahan kakaknya.”
Aku tahu dia benar. Aku benci dia benar.
“Terus?”
“Kita tunggu.”
“Tunggu?”
“Orang yang mau pergi,” katanya, dan suaranya berubah, lebih pelan, lebih jauh, seperti datang dari tempat yang sudah lama dia kunci, “selalu pergi sendiri, Bel. Kamu nggak perlu dorong. Kamu nggak perlu buka pintunya. Dia yang bakal buka sendiri.”
Aku tidak bisa bicara. Aku tahu dia tidak sedang bicara tentang Sheila hari ini. Dia sedang bicara tentang Selasa malam, tiga tahun lalu.
“Kalau itu kejadian,” lanjutnya, “kamu yang harus ada di sana. Buat Mas Raka. Bukan buat bilang aku udah bilang. Buat duduk di sebelahnya.”
“Kayak Nala duduk di sebelah kamu.”
Hening panjang.
“Iya,” katanya. “Kayak Nala.”
Kami tidak menutup telepon. Aku berbaring di tempat tidur dengan ponsel di telinga, lampu tidur berbentuk bulan menyala di sudut. Dia di balkonnya. Kami tidak bicara selama beberapa menit. Hanya napas di dua ujung telepon, dan suara kota di belakangnya, dan suara AC di kamarku.
“Ga,” kataku akhirnya.
“Hm.”
“Satu lagi.”
“Apa?”
Aku menarik jaket kanvas itu lebih rapat ke tubuhku. Aku sudah memakainya sejak malam lantai dua puluh delapan. Setiap malam.
“Aku pakai jaket kamu tiap malam,” kataku. “Biar kamu tahu.”
Hening. Aku mendengar napasnya berhenti.
“Kenapa kasih tahu?” tanyanya, dan suaranya serak.
Aku tersenyum ke langit-langit kamarku, di bawah cahaya bulan kecil yang dibelikan Mama.
“Biar kamu juga nggak bisa tidur.”
Dia tidak menjawab. Tapi dia juga tidak menutup telepon. Aku mendengar dia masuk dari balkon, menutup pintu kaca, duduk di sesuatu yang berderit. Sofa, mungkin. Lalu hanya napasnya lagi. Lebih dekat sekarang.
Setengah tertidur, aku mendengar suaranya sekali lagi. Sangat pelan. Hampir seperti dia bicara pada dirinya sendiri.
Berhasil.
Aku tidak tahu apakah itu mimpi.
Aku tertidur dengan ponsel di telinga, dan waktu aku terbangun pukul lima pagi, sambungannya masih terbuka. Durasi di layar: enam jam empat belas menit.
Dia tidak menutupnya. Aku juga tidak.
Pukul 05.10, aku duduk di tepi tempat tidur dan menatap kalender di dinding kamarku. Kalender dari Nayara, dengan foto produk di setiap bulan. Mama melingkari tanggal pernikahan Mas Raka dengan spidol merah, dan menggambar hati kecil di sebelahnya.
Aku menghitung mundur dari lingkaran merah itu. Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima. Enam. Tujuh.
Jariku berhenti di satu kotak.
Kemarin Senin. H-8.
Hari ini Selasa.
- 1 Server yang Katanya Down
- 2 Seminggu Sebelum Akad
- 3 Pak Architect
- 4 Server Room
- 5 Lima Menit
- 6 Won’t Fix
- 7 Payung
- 8 Tanggal di Undangan
- 9 Oke. Satu-Satu
- 10 Dia yang Pergi Seminggu Sebelum Akad
- 11 Jangan Bilang Mas Raka
- 12 Empat Puluh Menit
- 13 Serbet
- 14 Di Bawah Meja
- 15 Setelah Meja Makan
- 16 Cutover
- 17 Versi Sheila
- 18 Tolong Jauhi Adikku
- 19 Hampir
- 20 Kita Berhenti di Sini
- 21 Lift
- 22 Hari Gajian
- 23 Fitting
- 24 Runbook
- 25 Aku yang Nggak Diam
- 26 Sama-Sama Benar
- 27 Satu Jengkal
- 28 H-10
- 29 H-8 reading
- 30 H-7
- 31 Malam yang Sama
- 32 Klub H-7
- 33 Resolved
- 34 Pacar Senior Architect
- 35 Hari Kamis
- 36 Sheila Datang Lagi
- 37 Lima Menit?
- 38 Request: Seumur Hidup
- 39 H-7, Lagi
- 40 Tanpa Tanggal Kadaluarsa
- 41 Epilog 1: Malam yang Tidak Dihitung
- 42 Epilog 2: Pagi Pertama