← Tanpa Tanggal Kadaluarsa

Chapter Two

Seminggu Sebelum Akad

POV: Erga

Nala datang pukul sepuluh lewat tujuh, empat puluh menit setelah aku sampai di apartemen, dengan napas terengah-engah dan sandal jepit di tangan kanan.

Bukan di kaki. Di tangan.

“Mana,” katanya begitu pintu terbuka.

“Mana apa?”

“Alamatnya. Perempuan itu. Andre bilang dia muncul lagi.” Dia masuk tanpa melepas sepatu. Dia memakai sneakers, jadi sandal jepit di tangannya jelas dibawa dengan niat khusus. Ponselnya sudah menyala di tangan kiri, menampilkan Google Maps. “Dia tinggal di mana sekarang? Kebayoran? Menteng? Pasti Menteng. Orang kayak dia pasti nyarinya Menteng.”

“Nal.”

“Abang jangan ‘Nal’-’Nal’ aku. Aku udah tiga tahun nahan. Tiga tahun, Bang. Aku udah latihan kalimatnya di depan cermin.” Dia mengacungkan sandal jepit itu ke udara seperti pedang. “‘Selamat malam, Mbak Sheila. Ini dari keluarga Mahardika.’ Terus aku lempar. Kena muka, nggak kena muka, nggak penting. Yang penting pesannya sampai.”

“Pesannya apa?”

“Ya itu. Sandal.”

Aku mengambil sandal itu dari tangannya pelan-pelan, seperti mengambil gunting dari tangan anak kecil, dan menaruhnya di rak sepatu. Nala membiarkanku. Lalu dia melihat kemejaku.

Wajahnya berubah. Semua amarah tadi turun ke tempat lain, ke tempat yang lebih takut.

“Bang. Itu darah?”

“Jus stroberi.”

“Siapa yang numpahin?”

“Orang.”

“Orang siapa?”

“Orang yang numpahin jus stroberi.”

Nala menyipitkan mata. Adikku dua puluh empat tahun, content creator kuliner dengan dua ribu pengikut dan kepercayaan diri dua juta pengikut, dan sejak kecil dia punya hidung untuk hal-hal yang tidak kuceritakan. Dia melangkah maju dan mencium udara di dekat dadaku seperti anjing pelacak.

“Stroberi,” katanya. “Sama… parfum. Parfum cewek.”

“Nal.”

“Parfum mahal, Bang.”

“Mau teh atau nggak?”

Dia mau teh. Dia selalu mau teh. Aku ke dapur, menyalakan kompor, dan mendengar dia menjatuhkan diri ke sofa di belakangku dengan suara orang yang baru pulang perang.

Ponselku bergetar di meja. Bergetar lagi. Lagi.

“Itu siapa?” teriak Nala.

“Andre.”

Aku tidak perlu melihat. Sejak turun dari mobilnya satu jam lalu, Andre sudah mengirim empat belas pesan. Semuanya stiker. Kucing bersujud. Beruang menangis. Seorang laki-laki kartun memukul kepalanya sendiri dengan palu. Sebuah bebek yang membungkuk dalam-dalam dengan tulisan MAAF BANGET YA GAES. Stiker keempat belas adalah seekor kucing oranye yang memberikan setangkai mawar, dan aku tidak tahu apakah itu permintaan maaf atau lamaran.

“Bales, Bang. Kasihan.”

Aku membalas satu kata: Tidur.

Tiga detik kemudian dia mengirim stiker kelima belas. Kucing yang sama. Sekarang mawarnya dua.


Nala menghabiskan tehnya, lalu menghabiskan sisa rendang di kulkas yang dikirim Mama tadi pagi, lalu menghabiskan setengah bungkus biskuit yang sebenarnya untuk sarapanku besok. Makan adalah caranya marah. Dia sudah begitu sejak SMP.

“Terus sekarang gimana?” tanyanya dengan mulut penuh.

“Gimana apanya?”

“Dia nikah sama anak orang kaya. Abang kerja di perusahaan orang kaya itu. Mulai Senin.” Dia menelan. “Andre udah cerita semuanya. Abang mau mundur?”

Aku tidak langsung menjawab. Aku sudah menanyakan hal yang sama pada diriku sendiri selama tiga puluh empat menit perjalanan pulang di mobil Andre, dan jawabannya masih sama.

“Nggak.”

“Kenapa?”

“Karena ini kerjaan, Nal. Kontraknya udah ditandatangani. Timnya udah disiapkan. Ada orang yang nunggu sistemnya dibenerin.” Aku memutar cangkir di tanganku. “Dan itu bukan buat dia.”

Nala menatapku lama. Lalu dia mengajukan pertanyaan yang selalu dia ajukan, dengan cara yang selalu dia pakai, seolah dia takut jawabannya.

“Abang gimana?”

Aku bisa saja menjawab dengan kalimat pendek dan rapi yang biasa dipakai orang. Tapi Nala adalah satu-satunya orang di dunia yang pernah melihatku malam itu, dan aku tidak pernah bisa berbohong padanya.

“Aku nggak tahu, Nal.”

Dia mengangguk pelan. Lalu dia bangun dari sofa, memelukku dari samping dengan canggung, pipinya menempel di bahuku yang lengket kena jus, dan tidak bilang apa-apa selama sepuluh detik.

“Tetep aja,” gumamnya di bahuku, “aku mau lempar sandal.”


Dia tertidur di sofa pukul dua belas kurang, masih memakai sneakers, dengan ponsel yang layarnya masih menyala di Google Maps. Aku mematikan layarnya, melepas sepatunya, dan menyelimutinya.

Lalu aku keluar ke balkon.

Jakarta jam segini tidak pernah benar-benar gelap. Lampu gedung-gedung di Sudirman menyala seperti papan sirkuit yang tidak pernah dimatikan. Aku berdiri di sana dengan kemeja yang masih basah, dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, aku membiarkan diriku mengingat.


Kami bertemu di minggu pertama kuliah. Aku mahasiswa Teknik Informatika yang tersesat di gedung Fakultas Ekonomi karena salah membaca denah. Dia mahasiswi Manajemen yang menertawakanku, lalu mengantarku ke gedung yang benar. Delapan tahun kemudian, kami merencanakan pernikahan.

Setahun penuh untuk persiapan. Aku yang menyusun semuanya, karena memang itu yang aku bisa. Satu spreadsheet dengan tujuh tab. Graha Sasmita dipesan empat belas bulan sebelumnya karena daftar tunggunya panjang. Katering untuk delapan ratus tamu. Seserahan, cincin, baju, dekorasi, dua keluarga besar dengan dua daftar tuntutan yang tidak pernah sama. Sheila sering bilang dia capek. Aku bilang, biar aku yang urus. Dan aku mengurusnya.

Selasa malam, jam sembilan lewat empat menit, tujuh hari sebelum akad, dia menelepon.

Aku sedang di kantor, mengecek konfirmasi terakhir vendor dekorasi. Aku masih ingat urutan tab yang terbuka di layarku saat ponsel berdering.

“Ga.”

Suaranya datar. Bukan menangis. Itu yang paling kuingat. Dia tidak menangis.

“Aku nggak sanggup. Aku takut.” Jeda. “Cintaku sudah habis.”

Aku bertanya sejak kapan. Dia bilang dia tidak tahu. Aku bertanya apakah kami bisa bicara besok, bertatap muka. Dia bilang tidak ada yang perlu dibicarakan. Aku bertanya apakah ada orang lain. Dia bilang tidak. Dia bilang dia hanya capek.

“Maaf,” katanya. Lalu telepon ditutup.

Dia tidak mengangkat telepon lagi setelah itu. Orang tuanya datang ke rumah kami dua hari kemudian, meminta maaf dengan wajah malu dan kalimat yang terputus-putus. Sheila tidak ikut. Dia tidak pernah ikut.

Jadi aku yang membatalkan semuanya.

Aku membuka spreadsheet tujuh tab itu dan menambahkan tab kedelapan: Pembatalan. Dua puluh tiga vendor. Delapan ratus undangan yang sudah dicetak, tiga ratus di antaranya sudah terkirim. Graha Sasmita, yang uang mukanya tidak bisa kembali. Keluarga besar dari Bandung yang sudah memesan tiket kereta. Aku menelepon mereka satu per satu, dengan urutan yang sudah kususun: yang paling mahal lebih dulu, yang paling tua belakangan, supaya aku punya cukup tenaga untuk menjawab pertanyaan mereka.

Semua orang bilang aku kuat. Om-omku menepuk bahuku dan bilang aku laki-laki sejati. Tante-tanteku menangis dan bilang mereka kagum aku bisa setenang itu. Mama tidak berhenti menangis selama tiga hari. Papa tidak bicara sama sekali, hanya menyiapkan teh untukku setiap malam dan menaruhnya di meja tanpa sepatah kata.

Tidak ada yang tahu bahwa aku tenang karena hanya itu yang bisa kukendalikan. Aku tidak bisa mengendalikan kenapa cinta seseorang bisa habis. Tapi aku bisa mengendalikan urutan menelepon vendor.

Sabtu itu, hari yang seharusnya menjadi hari akadku, aku duduk di balkon rumah orang tuaku dari sore sampai malam. Nala, yang waktu itu masih mahasiswi semester lima, duduk di sebelahku. Dia tidak bicara. Dia hanya duduk, menggenggam ujung lengan bajuku seperti waktu dia kecil dan takut petir.

Menjelang tengah malam, aku mengatakannya. Pelan, tidak kepada siapa-siapa, tapi dia mendengarnya.

“Aku tidak akan jatuh cinta lagi.”

Nala mulai menangis. Bukan tangisan keras. Tangisan orang yang tahu dia tidak bisa memperbaiki apa-apa.

Satu jam kemudian, setelah dia masuk ke kamarnya, ponselku bergetar.

Abang serius? Yang tadi?

Aku membalas: Aku tidak akan jatuh cinta lagi, Nal. Tidur.

Tiga tahun kemudian, aku tahu dia masih menyimpan screenshot pesan itu. Dia pernah bilang, setengah bercanda, bahwa itu adalah “barang bukti” dan suatu hari akan dia pakai untuk mempermalukanku.

Aku tidak pernah memberinya kesempatan.


Yang aneh dari malam ini bukan melihat Sheila. Aku sudah bertahun-tahun membayangkan skenario itu, di mal, di bandara, di kondangan teman, dan di setiap skenario, aku tidak merasakan apa-apa. Aku tidak ingin dia kembali. Keinginan itu sudah lama mati, mungkin di hari ketiga menelepon vendor.

Yang aneh adalah betapa baik-baik saja dia.

Senyum yang sama. Langkah yang sama. Dan seorang laki-laki di sebelahnya yang tidak tahu bahwa lima bulan dari sekarang dia akan berdiri di tempat yang pernah kududuki: di depan gedung yang sudah dipesan, dengan undangan yang sudah dicetak, bersama seorang perempuan yang suatu hari mungkin akan bilang cintanya sudah habis.

Atau mungkin tidak. Mungkin kali ini cintanya tidak habis. Mungkin aku saja yang tidak cukup.

Aku sudah lama berhenti memikirkan kemungkinan itu. Aku memilih kesimpulan yang lebih sederhana dan lebih aman: cinta punya tanggal kadaluarsa. Ada yang cepat, ada yang lambat, tapi semuanya punya tanggal. Dan kalau semuanya punya tanggal, lebih baik tidak membelinya sama sekali.

Aturan itu sudah tiga tahun menjagaku. Aku tidak berniat mengubahnya.


Ponselku bergetar lagi. Aku mengira Andre dan stiker keenam belasnya.

Bukan. Email.

Undangan Rapat: Kick-off Proyek Optimasi & Migrasi Sistem Nayara+
Senin, 09.00 WIB — Ruang Kenari, Lantai 21, Nayara Tower
Sponsor Proyek: Raka Harsono, Managing Director, Nayara Digital
PIC Product: Bella Larasati
PIC Teknis: Erga Mahardika (Zogo Tech)

Aku membaca nama pertama itu dua kali. Raka Harsono. Sponsor proyek. Klien utamaku selama enam bulan ke depan.

Aku bisa menelepon Bu Liana besok pagi. Minta diganti. Dia pasti mengerti. Andre bisa menjelaskan. Ada tiga architect lain di Zogo yang bisa mengerjakan proyek ini, mungkin tidak secepat aku, tapi cukup baik.

Aku memikirkan Adit, teknisi muda yang tangannya gemetar di depan laptop. Aku memikirkan dashboard yang penuh garis merah, connection pool dua ratus, cache yang sengaja dimatikan, dan halaman antrean yang tidak pernah diaktifkan. Sistem itu sakit, dan penyakitnya bukan satu. Aku sudah bisa menebak setidaknya lima lagi hanya dari empat menit tadi.

Aku menutup email itu tanpa membalas. Aku tidak akan menelepon Bu Liana.

Nama terakhir di daftar itu, Bella Larasati, tidak berarti apa-apa bagiku. Seseorang di bagian product. Orang yang Senin nanti akan duduk di seberang meja dan menanyakan jadwal, anggaran, dan tenggat waktu.


Ponselku bergetar untuk ketiga kalinya dalam lima menit. Kali ini telepon. Andre.

“Lo belum tidur,” katanya, bukan bertanya.

“Kamu juga.”

“Gue nggak bisa tidur. Gue ngerasa kayak orang yang ngajak temennya nonton bioskop, terus filmnya ternyata dokumenter tentang mantannya.” Jeda. “Dengan dolby surround.”

“Ndre. Aku nggak marah.”

“Justru itu yang bikin gue takut.” Dia menghela napas panjang. “Oke. Dua hal. Pertama, Pak Darmawan nangkep gue di parkiran. Dia nanya siapa yang benerin server tadi. Gue bilang orang Zogo, Senin dateng. Dia nawarin gue dua voucher lima ratus ribu kalau gue kasih nama lengkap lo.”

“Kamu kasih?”

“Gue tolak. Gue bilang, ‘Pak, harga diri teman saya tidak bisa dibeli dengan voucher.’” Jeda lagi. “Terus gue minta tiga.”

Aku memejamkan mata.

“Tapi gue nggak kasih nama, sumpah. Gue bilang ‘Senin lihat aja.’ Biar misterius.” Dia berdeham. “Kedua. Cewek yang numpahin jus ke lo.”

Aku tidak menjawab.

“Gue tahu dia siapa.”

“Aku nggak nanya.”

“Gue tahu lo nggak nanya. Makanya gue nggak mau bilang.” Suaranya berubah, tiba-tiba terdengar puas, seperti orang yang menemukan cara untuk menebus dosa lewat hiburan. “Senin. Lo lihat sendiri. Gue cuma mau bilang satu hal.”

“Apa?”

“Lo bakal ketemu dia lebih sering dari yang lo kira.” Dia tertawa kecil. “Tidur, Ga. Maaf, ya. Beneran.”

Dia menutup telepon sebelum aku sempat bertanya maksudnya. Tiga detik kemudian, stiker keenam belas masuk. Kucing oranye. Mawarnya tiga.


Aku masuk ke kamar mandi untuk mencuci kemeja itu sebelum nodanya permanen.

Aku menyalakan keran. Air dingin mengalir. Aku memegang kemeja itu di atas wastafel dan melihat nodanya: merah pudar, pinggirnya lebih gelap, bentuknya seperti pulau yang tidak ada di atlas.

Lalu aku ingat tangan itu. Bergerak dari tengah dada, ke kiri, ke atas, pelan, lalu lebih ke atas lagi. Suara yang bilang diam, aku lagi tanggung jawab. Satu kata yang dia ucapkan sambil mengangkat wajah, dengan nada yang sama sekali tidak menyesal.

Aku tahu.

Aku mematikan keran.

Aku merogoh saku kemeja. Tisu yang dilipat segi empat kecil itu masih di sana, sudah kering, kaku, berwarna merah muda di satu sudutnya. Aku menatapnya lebih lama daripada yang masuk akal untuk selembar tisu.

Seharusnya aku membuangnya. Seharusnya aku mencuci kemeja itu sampai bersih, menggantungnya di lemari, dan melupakan bahwa malam ini ada orang asing yang melihatku membeku dan memilih menumpahkan minuman ke dadaku alih-alih bertanya kenapa.

Aku menggantung kemeja itu di balik pintu kamar. Tidak kucuci. Tisu itu kutaruh di laci meja kerja, di bawah charger yang tidak pernah kupakai.

Aku tidak tahu kenapa. Aku hanya tahu bahwa di antara semua yang terjadi malam ini, yang paling jelas di kepalaku saat aku berbaring dan menatap langit-langit bukan senyum Sheila di depan kamera.

Tapi dua kata dari perempuan yang bahkan tidak kuketahui namanya.