← Tanpa Tanggal Kadaluarsa

Chapter Twenty Six

Sama-Sama Benar

POV: Erga

Pak Bram pulang dari Singapura hari Senin, dan meneleponku hari Selasa pukul enam pagi.

Aku sedang memecahkan telur. Dua butir. Ponselku bergetar di meja dapur, dan nama di layarnya membuatku berhenti dengan telur ketiga masih di tangan.

“Selamat pagi, Pak.”

“Bu Liana bilang kamu yang minta tetap remote.”

Tidak ada salam. Pak Bram tidak pernah memakai salam kalau dia sudah tahu jawabannya dan hanya ingin mendengarnya dari mulut orang lain.

“Iya, Pak.”

“Keluhan Raka sudah saya cabut. Tangkapan layar itu sudah saya lihat. Saya tidak bodoh.” Suaranya datar, sama seperti saat membahas truk di Cikarang. “Kamu bisa kembali ke Nayara Tower hari ini. Saya sudah bilang ke Darmawan. Darmawan menangis di telepon. Saya menyesal memberitahunya.”

“Terima kasih, Pak. Tapi saya lebih baik tetap remote.”

“Sampai kapan?”

“Sampai setelah pernikahan Mas Raka.”

Hening panjang di ujung telepon. Aku bisa mendengar suara burung di latar belakang. Pak Bram pasti sedang di teras, di dekat pohon mangga.

“Kenapa?”

“Supaya pernikahannya tenang, Pak.”

Hening lagi. Lebih panjang.

“Saya sudah bilang,” kata Pak Bram akhirnya, “saya benci orang yang sengaja kalah.”

Aku memegang telur ketiga di tangan kiriku. Aku tidak menjawab.

“Tapi saya hormati,” tambahnya. Dan telepon ditutup.

Aku berdiri di dapur lama sekali. Lalu aku meletakkan telur ketiga itu kembali ke rak, dan menggoreng dua butir saja.

Aku memotongnya jadi empat. Untuk pertama kalinya dalam dua bulan, aku berhasil memotongnya jadi empat.

Itu tidak terasa seperti kemenangan.

Pukul 06.40, pesan dari Pak Darmawan masuk. Pak Erga. Pak Bram bilang Bapak tidak mau kembali sampai setelah pernikahan. Saya menangis lagi. Istri saya bertanya kenapa. Saya tidak tahu harus jelaskan dari mana.


Tiga minggu remote.

Aku bekerja dari meja makan. Rapat lewat video. Yoga meneleponku setiap pagi pukul delapan untuk laporan harian, dan setiap pagi dia membuka dengan, “Pak, maaf ganggu, tapi,” meskipun aku sudah bilang dua puluh kali dia tidak mengganggu.

Hari Kamis minggu kedua, pukul 14.20, ada insiden kecil. Salah satu layanan pencarian produk melambat karena cache penuh. Yoga tidak meneleponku. Aku baru tahu dari alert di ponsel, dan waktu aku membuka dashboard, masalahnya sudah selesai. Delapan menit.

Aku membuka log. Yoga yang menanganinya. Dia membuka runbook, halaman tiga puluh satu, Gejala: pencarian lambat, dan mengikuti langkah-langkahnya satu per satu. Di kolom catatan insiden, dia menulis:

Ditangani sesuai runbook hal. 31. Waktu: 8 menit. Catatan tambahan: Langkah 4 bisa dipercepat kalau cache dibersihkan per kategori, bukan sekaligus. Sudah saya tambahkan ke runbook v1.1. (Pak, mohon di-review. Maaf ganggu.)

Aku menatap catatan itu lama.

Tiga bulan lalu, anak ini membeku di depan layar merah. Sekarang dia menambahkan langkah ke runbook-ku, dan langkah itu benar.

Aku menyetujui perubahannya dengan satu komentar: Bagus, Yog. Nggak ganggu.

Lalu aku duduk di meja makan itu dan merasakan sesuatu yang aneh. Bangga, dan sedikit sedih, seperti orang tua yang melihat anaknya naik sepeda tanpa roda bantu untuk pertama kalinya, lalu sadar bahwa anak itu tidak lagi menoleh ke belakang untuk memastikan dia masih ada.

Sistem Nayara+ bisa berjalan tanpaku. Itu tujuanku menulis runbook. Itu yang kuinginkan.

Aku hanya tidak tahu bahwa mengetahuinya akan terasa seperti ini.


Aku tidak mendengar kabar dari Bella selama tiga minggu.

Tidak ada tiket. Tidak ada pesan. Status tiket #031 masih Paused, dan aku masih membukanya setiap malam pukul sebelas, dan setiap malam statusnya tidak berubah.

Aku tahu dia masih di sana. Cece, yang entah bagaimana mendapatkan nomor ponselku, mulai mengirimiku laporan cuaca setiap Jumat sore, tanpa diminta, tanpa penjelasan.

Laporan mingguan untuk pihak terkait. Minggu ke-1. Cuaca: Hujan. Bu Bella makan siang di rooftop tiap hari. Sendiri. Bawa dua botol teh. Satu tidak dibuka.

Minggu ke-2. Cuaca: Gerimis. Bu Bella pakai jaket kanvas di ruang rapat. Pak Darmawan tanya jaket siapa. Bu Bella bilang “jaket tim”. Pak Darmawan bilang “tim siapa”. Bu Bella tidak menjawab.

Minggu ke-3. Cuaca: Mendung tebal. Telur di kulkas pantry sudah habis. Kotak biru dicuci Bu Bella sendiri, dikembalikan ke rak atas. Kosong. Menunggu hari Senin. Catatan tambahan: sticky note di meja Bapak masih ditempel. Tidak ada yang berani mencabut. Satpam malam ikut menjaga.

Aku membaca laporan terakhir itu tiga kali.

Aku tahu apa yang dia maksud. Lampiran F.2. Diganti tiap Senin. Aku menulisnya sebelum tahu aku tidak akan kembali ke gedung itu sampai setelah pernikahan.

Kotak biru itu menungguku. Dan dia yang mencucinya.


Aku memikirkan malam itu setiap hari. Ruang tamu ini. Dia berdiri di tempat yang sama dengan malam dia hampir menciumku. Aku lagi marah banget sama kamu, dan aku tetap pengin kamu peluk.

Aku tidak memeluknya.

Aku tahu kenapa. Aku sudah menulis postmortem-nya di kepala, berkali-kali.

Karena dia melanggar satu hal yang kuminta, dan itu menyakitkan. Karena aku marah, dan aku tidak tahu harus melakukan apa dengan marah selain diam. Tapi terutama, karena aku tahu, dengan kepastian yang sama seperti aku tahu database butuh lebih banyak kursi, bahwa kalau aku memeluknya malam itu, aku tidak akan pernah bisa melepaskannya lagi. Semua keputusan di rooftop. Semua tiga poin. Semua tanggal kadaluarsa. Semuanya akan runtuh di satu pelukan.

Jadi aku memilih diam. Lagi.

Dan aku mulai sadar, di malam-malam ketika aku membuka tiket yang statusnya tidak berubah, bahwa aku sudah terlalu jago memilih diam.


Sabtu siang, Nala datang tanpa bel. Dia punya kunci baru, tentu saja. Aku yang memberikannya.

Dia tidak membawa bubur. Dia tidak membawa martabak. Dia berdiri di ruang tamu dengan kedua tangan di pinggang dan wajah yang tidak pernah kulihat sejak dia berumur dua belas tahun dan aku merusak sepeda barunya.

“Abang egois.”

Aku menutup laptop.

“Kak Bella nangis di mobilnya tiga jam malam itu, Bang. Di parkiran apartemen ini. Andre yang lihat, soalnya dia lagi jemput aku di lobi. Tiga jam. Terus dia nyetir pulang, pelan, pakai lampu sein di jalan kosong, kayak orang ujian SIM.”

Aku tidak menjawab.

“Abang tahu dia belajar nyetir kayak gitu dari siapa?”

“Nal.”

“Abang nggak bisa nyelametin Mas Raka dari perempuan itu dengan diam!” Suaranya naik. “Abang pikir kalau Abang diam, semuanya bakal baik? Mas Raka tetap nikah sama pembohong. Kak Bella tetap sendirian di rooftop tiap hari. Abang tetap di sini, sendirian, makan telur dua butir, pura-pura itu semua bukan masalah.”

“Dia melanggar janji, Nal.”

Nala menatapku. Lalu dia tertawa. Tawa pendek, marah, tidak lucu sama sekali.

“Abang juga.”

“Aku nggak pernah—”

“Abang janji ke diri Abang sendiri nggak akan jatuh cinta lagi.” Dia melangkah maju. “Di balkon. Tiga tahun lalu. Aku yang dengar. Aku yang simpan screenshot-nya.” Suaranya pecah. “Terus? Abang nepatin janji itu, Bang?”

Aku tidak bisa menjawab.

“Abang pikir cuma Kak Bella yang nggak bisa nepatin janji?” Air mata jatuh di pipinya, dan dia mengusapnya dengan kasar. “Abang udah ngelanggar janji Abang dari malam jus stroberi. Bedanya, Kak Bella ngaku. Abang nggak.”

Dia berbalik dan berjalan ke pintu. Dia membukanya, lalu berhenti di ambang, tanpa menoleh.

“Aku sayang Abang,” katanya. “Makanya aku marah.”

Pintu tertutup.

Malamnya, pukul sepuluh, Andre mengirim pesan. Bukan stiker. Kalimat.

Ga. Gue nggak mau ikut campur. Beneran. Tapi Nala nangis di mobil gue satu jam habis dari tempat lo. Bulan ini udah dua cewek nangis di mobil gara-gara lo. Satu di mobilnya sendiri, satu di mobil gue. Itu rekor, Ga. Dan gue nggak mau jadi saksi rekor yang ketiga.

Aku tidak membalas. Aku tidak tahu harus membalas apa. Aku menatap pesan itu sampai layarnya mati sendiri.

Dia menambahkan satu pesan lagi, lima menit kemudian.

Btw gue masih pengin jadi adik ipar lo. Jadi tolong jangan bikin gue milih pihak.


Minggu pagi, aku naik taksi ke Graha Sasmita.

Aku tidak merencanakannya. Aku bangun pukul lima, tidak bisa tidur lagi, dan menemukan diriku berdiri di depan lemari, memakai kemeja, dan memesan taksi ke alamat yang masih kuhafal tanpa perlu melihat peta.

Gedung itu tidak berubah dalam tiga tahun. Pilar-pilar putih, tangga marmer, pintu kaca besar dengan ukiran bunga di pegangannya. Di depan pintu, seorang laki-laki tua berseragam satpam sedang menyapu dedaunan kering.

Dia melihatku turun dari taksi, menegakkan badan, dan tersenyum lebar dengan gigi yang tidak lengkap.

“Selamat pagi, Mas! Mau survei gedung?”

“Saya cuma mau lihat-lihat, Pak.”

“Oh, calon pengantin, ya?” Dia menyandarkan sapunya di pilar dan berjalan mendekat. “Kebetulan, Mas! Bulan ini ada promo. Paket akad plus resepsi, diskon lima belas persen kalau DP bulan ini. Gratis dekorasi pelaminan standar. Saya ambilkan brosurnya, ya.”

“Pak, saya bukan—”

Dia sudah pergi ke pos jaga. Dia kembali dengan brosur mengilap berwarna krem, dan menyodorkannya padaku dengan dua tangan, seperti menyerahkan sesuatu yang berharga.

Aku menerimanya. Aku tidak tahu kenapa. Brosur itu berat di tanganku, lebih berat dari kertas seharusnya, seperti dokumen yang belum ditandatangani.

“Mau lihat aula, Mas? Kebetulan kosong. Acara nanti sore.”


Aula utama Graha Sasmita masih sama.

Lampu gantung kristal di tengah langit-langit, besar dan bertingkat, memantulkan cahaya pagi dari jendela-jendela tinggi. Sheila suka Graha Sasmita. Katanya lampu gantungnya kayak di film. Karpet merah marun. Panggung kosong di ujung ruangan, tempat pelaminan biasanya dipasang.

Aku berjalan ke tengah aula, di bawah lampu gantung itu, dan berdiri di sana.

Aku menunggu rasa sakit itu datang. Tiga tahun aku menghindari tempat ini, menghindari foto-foto gedung pernikahan di media sosial, menghindari jalan yang melewati Graha Sasmita dengan memilih rute yang lebih jauh. Aku menunggu dadaku mengencang seperti di ballroom Arunika.

Tidak ada apa-apa.

Lampu gantung itu hanya lampu gantung. Besar, mahal, sedikit berdebu di kristal bagian bawah. Aku menatapnya dan tidak memikirkan Sheila sama sekali. Aku memikirkan betapa sulitnya membersihkan kristal setinggi itu, dan apakah gedung ini punya sistem katrol, dan kalau punya, kapan terakhir kali diperiksa.

Di kepalaku, tanpa izin, angka itu tetap datang. Dua puluh dua hari. Tapi untuk pertama kalinya, angka itu terasa seperti milik orang lain.

Tiga tahun lalu, aku seharusnya berdiri di sini. Aku sudah menghitung semuanya. Jam sembilan pagi. Ijab kabul di meja kecil di depan panggung. Delapan ratus tamu. Aku sudah membayangkannya ratusan kali, di kantor, di kereta, di tempat tidur. Aku tahu posisi setiap kursi.

Aku memejamkan mata dan membiarkan bayangan itu datang, seperti yang selalu kulakukan.

Meja kecil. Penghulu. Wali. Dua saksi. Aku duduk dengan kemeja putih dan peci. Lalu aku menoleh ke samping, ke arah pintu tempat mempelai perempuan akan masuk.

Yang masuk bukan Sheila.

Aku membuka mata.

Aku menutupnya lagi, pelan, dan membiarkan bayangan itu kembali. Mempelai perempuan berjalan dari pintu. Kebaya putih. Dia tidak berjalan pelan dan anggun seperti di film. Dia berjalan terlalu cepat, dengan langkah yang selalu sedikit terburu-buru. Dia berhenti di depanku sebelum ijab kabul, mengangkat tangan ke leherku, dan merapikan kerah kemejaku.

Kerah kamu miring.

Nggak miring.

Dia mengacaknya. Lalu merapikannya lagi. Pelan.

Sekarang rapi.

Aku membuka mata. Aula itu kosong. Lampu gantung berkilau. Debu beterbangan pelan di berkas cahaya dari jendela.

Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di sana.

Aku mengeluarkan ponsel. Aku memotret aula itu, dari tengah, dengan lampu gantung di atas dan panggung kosong di ujung. Aku membuka WhatsApp. Aku menemukan namanya. Aku menempelkan fotonya di kolom pesan.

Jempolku melayang di atas tombol kirim.

Aku tidak tahu apa yang akan kutulis di bawahnya. Aku tidak tahu apa yang akan dia pikirkan. Foto aula pernikahan kosong, dari laki-laki yang bilang kita berhenti di sini.

Aku menghapus fotonya dari kolom pesan. Aku tidak mengirim apa-apa.


Di pintu keluar, satpam tua itu masih menyapu.

“Gimana, Mas? Cocok?”

Aku berhenti. Aku melihat brosur di tanganku. Lalu aku melihatnya.

“Pak. Pernah ada yang batal di sini?”

Dia berhenti menyapu. Dia menatapku, dan untuk sesaat, senyum lebarnya melunak jadi sesuatu yang lebih tua dan lebih tahu.

“Sering, Mas.” Dia menyandarkan sapunya lagi. “Tiga puluh tahun saya jaga gedung ini. Banyak yang batal. Banyak yang nangis di parkiran.” Dia tersenyum. “Tapi yang balik lagi juga sering, Mas. Sama orang yang beda. Dan biasanya, yang kedua kali itu senyumnya lebih lebar.”

Aku menatapnya.

“Simpan brosurnya, Mas,” katanya, kembali menyapu. “Promonya sampai akhir bulan.”


Di apartemen, aku membuka laci meja kerja.

Tisu segi empat. Selamat pagi, Pak Architect. Aku percaya kamu. Nggak perlu dijelasin. Flashdisk kecil berisi folder Bukti — jangan dibuka.

Aku meletakkan brosur krem itu di atas semuanya, dan menutup lacinya pelan-pelan.

Laci itu sudah penuh. Aku mulai curiga isinya bukan lagi barang-barang yang lupa kubuang.

Isinya adalah semua yang tidak berani kubuang.