Chapter Three
Pak Architect
POV: Bella
Ada tiga hal yang aku tahu tentang laki-laki itu pada Senin pagi.
Pertama, dia bisa menghidupkan sistem yang sedang sekarat dalam empat menit, sambil berlutut di lantai balik panggung, tanpa sekali pun menaikkan suara.
Kedua, dia pulang memakai kemeja putih bernoda jus stroberi. Dan itu salahku. Sengaja.
Ketiga, waktu Mas Raka memperkenalkan Sheila di panggung, dia berdiri di dekat pilar belakang dan tidak bergerak sama sekali. Dua ribu orang bertepuk tangan. Dia satu-satunya yang diam. Dari sisi panggung, di bawah lampu yang menyilaukan, aku melihat laki-laki yang empat menit sebelumnya begitu tenang tiba-tiba terlihat seperti orang yang lupa cara bernapas.
Aku tidak berpikir panjang. Aku mengambil segelas jus stroberi dari nampan pelayan, berjalan lurus ke arahnya, dan menumpahkannya.
Ada hal keempat, dan itu yang paling menggangguku sepanjang akhir pekan.
Aku tidak tahu namanya.
“Belum dapat,” kata Pak Darmawan pada Sabtu pagi, lewat telepon, dengan nada orang yang gagal menemukan harta karun. “Temannya itu, Andre, orang Zogo, licin sekali. Saya tawari voucher, dia minta tambah. Sudah saya tambah, dia bilang ‘Senin lihat aja, Pak.’ Senin lihat aja! Saya CTO, Bella. Saya tidak suka lihat aja.”
“Tapi dia orang Zogo, kan, Pak? Yang mulai Senin?”
“Pasti. Architect-nya. Saya sudah baca CV-nya berbulan-bulan lalu waktu pengadaan, tapi saya lupa namanya. Saya ingatnya cuma satu: nilai proyeknya paling mahal di antara semua vendor.” Dia terdiam. “Sekarang saya mengerti kenapa.”
Aku bisa saja membuka dokumen pengadaan dan mencari sendiri namanya. Aku punya akses. Butuh dua menit.
Aku tidak melakukannya.
Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena aku suka menunggu. Tidak, itu bohong. Aku benci menunggu. Mungkin karena aku ingin tahu namanya dari mulutnya sendiri, bukan dari PDF.
Minggu malam ada rapat keluarga.
Keluarga Harsono punya dua jenis rapat keluarga. Yang pertama, Papa bicara dan semua orang mendengarkan. Yang kedua, Mama bicara dan semua orang pura-pura mendengarkan sambil membuka grup WA keluarga, yang isinya empat puluh foto dekorasi bunga yang dikirim Mama sendiri.
Malam itu jenis kedua.
“Tanggalnya sudah fix,” kata Mama, bersinar seperti lampu gantung ruang tamu. “Seratus lima puluh hari lagi. Akad pagi, resepsi malam. Bella, kamu panitia konsumsi dan dekorasi.”
“Dua-duanya, Ma?”
“Kamu kan paling rapi.”
“Aku product lead, Ma. Aku lagi migrasi sistem.”
“Migrasi sistemnya jam kerja. Dekorasi bunganya habis jam kerja.”
Mas Raka tertawa dari seberang meja. Di sebelahnya, Sheila menyandarkan kepala ke bahu Mas Raka dan tersenyum ke arahku.
“Bella kan jago bikin aplikasi, ya,” katanya, dengan nada manis yang selalu dia pakai di rumah ini. “Bikinin undangan digital aja, ya. Yang lucu, ya. Pasti gampang buat Bella, ya.”
Aku tersenyum balik. Aku sudah berusaha menyukai Sheila sejak Mas Raka pertama membawanya ke rumah setahun lalu. Aku masih berusaha. Mas Raka bahagia, dan Mas Raka jarang bahagia dengan cara yang terlihat. Itu cukup buatku.
Tapi aku tetap menghitung berapa kali dia mengucapkan “ya” di ujung kalimat. Empat kali. Dalam satu napas.
Senin, pukul 08.52, Ruang Kenari di lantai 21 Nayara Tower sudah penuh.
Tim product di sisi kiri meja. Mbak Tika, senior operasional yang sudah sembilan tahun di Nayara dan tahu semua gosip bahkan sebelum gosip itu terjadi. Yoga, junior developer yang selalu membawa dua gelas kopi karena dia yakin satu gelas tidak cukup untuk manusia. Cece, QA paling teliti yang pernah kukenal, yang sanggup menemukan typo di kontrak lima puluh halaman sambil makan siomay.
Tim vendor lama di sisi kanan, dipimpin Pak Gunawan, yang sudah delapan tahun memegang sistem Nayara dan wajahnya pagi ini terlihat seperti orang yang datang ke pemakaman sistemnya sendiri.
Pak Darmawan di ujung meja, gelisah, sudah dua kali melihat ke pintu.
Pukul 08.56, pintu terbuka.
Yang pertama masuk adalah laki-laki berkemeja biru yang langsung kukenali. Andre, teman yang di pesta itu. Dia melihat ke sekeliling ruangan, lalu melihatku, lalu berhenti.
Benar-benar berhenti. Satu kakinya di dalam, satu lagi di luar pintu.
“Selamat pagi,” katanya ke seluruh ruangan, tanpa mengalihkan mata dariku. “Saya Andre, project manager dari Nayara.”
Hening.
“Dari Zogo,” koreksinya cepat. “Zogo. Nayara itu Ibu. Maksud saya, Ibu dari Nayara. Bukan Ibu. Mbak. Mbaknya dari Nayara. Saya dari Zogo.”
Yoga menyemburkan kopi ke tisu. Mbak Tika menunduk dalam-dalam, bahunya bergetar. Cece mengetik sesuatu di laptopnya dengan kecepatan yang mencurigakan.
Lalu seseorang menepuk bahu Andre dari belakang, pelan, mendorongnya masuk supaya pintu tidak terhalang.
Dia.
Kemeja putih lagi, tentu saja kemeja baru. Rapi sampai ke lipatan lengan. Tas laptop hitam di satu bahu. Wajah yang tenang, tidak tersenyum, tidak juga dingin. Wajah orang yang sudah membaca semua dokumen rapat ini dua kali dan tahu persis apa yang akan dikatakan setiap orang sebelum mereka mengatakannya.
Dia melihat ke sekeliling ruangan, cepat, seperti menghitung sesuatu. Lalu matanya sampai padaku.
Aku melihat sesuatu terjadi di wajahnya. Kecil sekali. Hanya sepersekian detik, di sudut mata, seperti program yang tiba-tiba menemukan data yang tidak dia duga. Lalu hilang, kembali rata.
Tapi aku melihatnya.
Pak Darmawan berdiri begitu cepat sampai kursinya mundur dan menabrak dinding.
“Bapak, Ibu,” katanya lantang, merentangkan tangan seperti pembawa acara kuis. “Ini dia. Orang yang Kamis malam menyelamatkan kita semua!”
Satu ruangan bertepuk tangan. Tim product tepuk tangan paling keras. Tim Pak Gunawan juga ikut, lebih pelan, dengan wajah yang tidak ikut.
Laki-laki itu berdiri diam dengan wajah yang jelas-jelas sedang menahan keinginan untuk berbalik dan keluar. Dia menunggu tepuk tangan reda, lalu mengangguk sopan.
“Terima kasih, Pak. Tapi yang kerja tim Adit. Saya cuma kasih tiga pertanyaan.”
Dia duduk. Tidak menambahkan apa pun. Tidak tersenyum untuk menerima pujian yang dia tolak.
Aku memperhatikannya dari seberang meja. Tim Adit yang kerja. Adit, teknisi yang tangannya gemetar dan hampir menangis. Adit, yang sekarang duduk di pojok ruangan dengan wajah merah karena namanya disebut di depan direksi.
Pak Darmawan membuka sesi perkenalan. Satu per satu. Tim product. Tim vendor. Tim Zogo. Lalu gilirannya.
“Erga Mahardika,” katanya. “Senior Architect, Zogo Tech. Saya akan bertanggung jawab atas optimasi dan migrasi sistem Nayara+ selama enam bulan ke depan.”
Erga.
Aku mengulangnya di kepala. Dua suku kata. Pendek, rapi, tidak banyak basa-basi. Nama yang cocok dengan orangnya.
Lalu giliranku. Aku berdiri, dan entah kenapa aku bicara sedikit lebih lambat dari biasanya.
“Bella Larasati. Product Lead Nayara+. Saya PIC dari sisi product.” Aku melihat lurus ke arahnya. “Dan orang yang berutang satu kemeja.”
Beberapa orang tertawa, tidak mengerti. Andre tidak tertawa. Andre tersenyum seperti orang yang baru memenangkan lotere. Erga tidak bereaksi apa-apa, tapi tangannya yang memegang pulpen berhenti bergerak.
Pukul 09.12, dua belas menit setelah rapat dimulai, aku melihat layar laptop Cece.
Aku tidak bermaksud mengintip. Posisi dudukku memang di sebelahnya, dan layarnya memang miring ke arahku. Di pojok kanan bawah ada jendela WhatsApp Web yang baru dibuka.
Nama grup: Divisi Gosip (Jangan Sampai Bu Bella Tahu)
Anggota: Mbak Tika, Yoga, Cece.
Pesan pertama, dari Mbak Tika: Arsitek-nya ganteng tapi kayak kulkas sopan.
Yoga: Kulkas yang bisa nyelametin launching. Kulkas premium.
Cece: Bu Bella dari tadi nggak kedip. Aku hitung. Tiga menit.
Mbak Tika: Andre yang PM itu juga nggak kedip. Tapi ngeliatin Bu Bella.
Yoga: Ini proyek migrasi atau proyek FTV?
Aku menatap layar itu. Cece menoleh, melihat arah pandanganku, lalu memucat seperti server yang kehilangan daya.
Aku mengambil ponselku, mengetik pesan pribadi ke Cece, dan menekan kirim.
Masukin aku ke grup itu. Aku cuma mau baca.
Cece membaca pesanku. Dia melirikku. Aku mengangguk sekali, serius. Dua menit kemudian, notifikasi masuk: Cece menambahkan Anda. Nama grupnya sudah diganti: Divisi Gosip (Bu Bella Sudah Tahu, Hati-Hati).
Rapat berjalan seperti rapat kick-off pada umumnya. Pak Gunawan mempresentasikan kondisi sistem saat ini dengan tiga puluh dua slide yang semuanya berisi kata “stabil”. Erga mendengarkan tanpa menyela, mencatat di buku kecil, bukan di laptop.
Di slide ke-29, dia mengangkat tangan.
“Pak Gunawan. Maaf, satu pertanyaan.”
“Silakan, Pak Erga.”
“Di slide dua belas, rata-rata transaksi harian yang Bapak sebut enam puluh ribu. Tapi connection pool database disetel dua ratus, dan cache untuk modul poin dimatikan.” Suaranya tidak berubah, datar dan sopan. “Dengan konfigurasi itu, sistem ini bisa melayani trafik normal. Tapi saya ingin tahu, apa rencana Bapak untuk hari-hari yang tidak normal? Seperti Kamis malam.”
Ruangan hening.
Pak Gunawan membuka mulut, menutupnya, lalu membukanya lagi. “Itu… standar industri, Pak.”
“Standar industri tahun 2018, Pak,” kata Erga dengan nada yang sama sekali tidak menyindir, dan justru karena itu terdengar sepuluh kali lebih tajam. “Saya tidak menyalahkan. Waktu sistem ini dibangun, itu pilihan yang masuk akal. Tapi trafik Nayara+ sekarang bukan trafik tahun 2018.”
Pak Gunawan tidak bicara lagi sampai slide ke-32.
Di bawah meja, ponselku bergetar. Grup Divisi Gosip.
Yoga: KULKAS PREMIUM DENGAN FITUR FREEZER.
Mbak Tika: Namanya dari sekarang: Pak Architect.
Cece: Setuju. Bu Bella?
Aku mengetik satu kata: Setuju.
Lalu, sekitar pukul sepuluh, pintu terbuka dan Mas Raka masuk, sebagai sponsor proyek, untuk memberi sambutan singkat.
Semua orang berdiri. Mas Raka menyalami satu per satu. Waktu sampai di Erga, dia mengulurkan tangan.
“Pak Erga, ya? Saya dengar dari Pak Darmawan soal Kamis malam. Terima kasih. Saya berutang.”
Erga menjabat tangannya. “Sama-sama, Pak.”
Itu saja. Sopan, singkat, datar.
Tapi aku duduk tepat di seberangnya. Dan aku melihat tangannya yang lain, yang masih memegang pulpen di atas meja, menekan pulpen itu sampai buku jarinya memutih. Selama tiga detik. Lalu melepaskannya, seperti tidak terjadi apa-apa.
Aku melihat Mas Raka. Lalu melihat Erga lagi. Lalu teringat pilar belakang di ballroom, dua ribu orang bertepuk tangan, dan satu orang yang tidak.
Aku tidak mengerti. Belum.
Aku mengejarnya di depan lift pukul 11.40.
“Pak Erga.”
Dia menoleh. Tas laptop di bahu, satu tangan di saku. Dia sedang menunggu lift turun, dan dari cara dia berdiri, jelas dia berharap lift itu datang lebih cepat.
“Bu Bella.”
“Bella aja.”
“Bu Bella,” ulangnya, sopan.
Oke. Kita mulai dari sana.
“Aku mau traktir makan malam,” kataku. “Ganti rugi kemeja.”
“Nggak perlu.”
“Kemejamu kan kena noda gara-gara aku.”
“Nodanya nggak apa-apa.”
“Jadi udah kamu cuci?”
Jeda. Sangat singkat. Kalau aku tidak memperhatikan dengan saksama, aku pasti melewatkannya.
“…Nggak perlu diganti,” katanya.
Dia tidak menjawab pertanyaanku. Aku menyimpan fakta itu baik-baik.
“Oke,” kataku. “Kalau gitu aku ganti rugi pakai cara lain.”
Dia menatapku, menunggu.
“Kamu nggak akan suka,” kataku. “Atau suka banget. Aku belum tahu.”
Lift berdenting. Pintu terbuka. Di dalamnya ada dua karyawan dari lantai 23 yang langsung berhenti mengobrol begitu melihatku, lalu salah satunya menekan tombol buka pintu lebih lama dari yang diperlukan, seolah menungguku masuk juga.
Erga melangkah masuk. Dia berbalik menghadapku. Pintu mulai menutup.
“Bu Bella,” katanya.
“Ya?”
“Pintunya lagi nutup.”
Pintu menutup. Aku berdiri di lorong lantai 21 dan tertawa sendirian seperti orang gila. Seorang office boy yang lewat membawa galon berhenti, menatapku, lalu berjalan lagi dengan hati-hati, seperti menjauhi sesuatu yang bisa meledak.
Nayara punya sistem helpdesk internal bernama NayaraDesk. Semua karyawan bisa membuat tiket: laptop rusak, akses ditolak, printer macet. Tiket masuk, diberi prioritas, lalu di-assign ke tim terkait.
Aku adalah salah satu admin NayaraDesk. Aku yang merancang ulang alurnya dua tahun lalu. Aku tahu cara meng-assign tiket ke siapa pun, termasuk ke akun vendor yang baru dibuat pagi ini.
Pukul 13.05, sambil makan siang di meja, aku membuat tiket baru.
Tiket #001
Judul: User tidak bisa berhenti mikirin Senior Architect.
Kategori: Lain-lain
Prioritas: Sedang (biar nggak kelihatan putus asa)
Deskripsi: Sejak Kamis malam. Gejala: senyum sendiri di lift, ketawa sendiri di lorong, lupa makan siang (ini lagi makan, jadi gejala ini sudah teratasi). Mohon penanganan segera.
Assignee: erga.mahardika@zogotech.co.id
Aku menekan Kirim sebelum sempat berubah pikiran.
Lalu aku menatap layar. Dan menatap. Dan menatap.
Pukul 13.07, dua menit kemudian, notifikasi masuk.
Tiket #001 — Status diubah menjadi: WON’T FIX
Komentar dari erga.mahardika: Di luar lingkup proyek.
Aku tertawa sampai tersedak nasi. Mbak Tika menoleh dari mejanya. Yoga menoleh. Cece menoleh sambil menahan siomay di tengah jalan menuju mulut.
“Bu Bella kenapa?” tanya Mbak Tika.
“Dia bales,” kataku, masih terbatuk-batuk, memegang dada. “Dua menit.”
“Siapa? Bales apa?”
Aku tidak menjawab. Aku hanya menatap dua kata itu di layar. Won’t Fix. Laki-laki yang bisa menghidupkan sistem yang sekarat dalam empat menit membutuhkan dua menit untuk menolakku. Dua menit. Untuk dua kata.
Orang yang tidak peduli tidak akan butuh dua menit.
Malam itu, di kamar, aku membuka grup WA keluarga. Mama sudah mengirim enam foto dekorasi bunga baru. Sheila membalas setiap foto dengan stiker hati.
Aku menutupnya dan membuka NayaraDesk lagi. Tiket #001 masih di sana, dengan status merah terangnya.
Aku masih belum tahu dari apa aku menyelamatkannya Kamis malam. Aku belum tahu kenapa tangannya menekan pulpen sampai buku jarinya putih waktu Mas Raka menjabat tangannya. Aku belum tahu kenapa dia tidak mencuci kemeja itu.
Tapi aku tahu satu hal tentang diriku sendiri. Aku tidak pernah meninggalkan sesuatu di tengah jalan. Proyek, janji, perasaan. Kalau sudah kumulai, kuselesaikan.
Dan ini sudah kumulai sejak segelas jus stroberi.
- 1 Server yang Katanya Down
- 2 Seminggu Sebelum Akad
- 3 Pak Architect reading
- 4 Server Room
- 5 Lima Menit
- 6 Won’t Fix
- 7 Payung
- 8 Tanggal di Undangan
- 9 Oke. Satu-Satu
- 10 Dia yang Pergi Seminggu Sebelum Akad
- 11 Jangan Bilang Mas Raka
- 12 Empat Puluh Menit
- 13 Serbet
- 14 Di Bawah Meja
- 15 Setelah Meja Makan
- 16 Cutover
- 17 Versi Sheila
- 18 Tolong Jauhi Adikku
- 19 Hampir
- 20 Kita Berhenti di Sini
- 21 Lift
- 22 Hari Gajian
- 23 Fitting
- 24 Runbook
- 25 Aku yang Nggak Diam
- 26 Sama-Sama Benar
- 27 Satu Jengkal
- 28 H-10
- 29 H-8
- 30 H-7
- 31 Malam yang Sama
- 32 Klub H-7
- 33 Resolved
- 34 Pacar Senior Architect
- 35 Hari Kamis
- 36 Sheila Datang Lagi
- 37 Lima Menit?
- 38 Request: Seumur Hidup
- 39 H-7, Lagi
- 40 Tanpa Tanggal Kadaluarsa
- 41 Epilog 1: Malam yang Tidak Dihitung
- 42 Epilog 2: Pagi Pertama