← Tanpa Tanggal Kadaluarsa

Chapter Twenty Three

Fitting

POV: Bella

Aku membaca satu kata itu empat puluh tiga kali.

Bel.

Tiga huruf. Tanpa titik di belakangnya, tanpa emoji, tanpa kalimat lanjutan. Dikirim pukul 22.51 hari Rabu, empat menit setelah aku mengirim tautan artikel itu dan bilang dia tidak usah membalas.

Dia membalas. Dengan satu kata. Namaku, dalam versi yang hanya dia yang memakainya.

Aku tidak membalas balasannya. Aku tidak tahu harus membalas apa. Aku menatap layar sampai jam tiga pagi dan melihat status online di bawah namanya tidak hilang, sama seperti statusku.

Kami berdua tidak tidur. Kami berdua tidak bicara. Kami berdua menatap satu kata yang sama dari dua apartemen yang berbeda, sembilan kilometer jauhnya.

Aturan nomor tiga, tidak ada tiket, masih kutepati. Tapi aturan nomor enam sudah lama mati, dan aku mulai curiga aturan-aturan lain akan menyusul.


Minggu siang, makan siang keluarga di rumah. Sheila datang dengan Mas Raka, membawa kue lapis legit dari toko langganan Mama, seperti menantu teladan.

Di tengah makan, Papa meletakkan sendoknya.

Papa jarang meletakkan sendok di tengah makan. Kalau itu terjadi, semua orang tahu harus berhenti mengunyah.

“Raka,” katanya. “Ada dua hal yang mau Papa sampaikan. Sekarang, sebelum pernikahan, supaya tidak ada yang merasa dikejutkan.”

Mas Raka meletakkan sendoknya juga. Sheila tersenyum, senyum menantu teladan, dan meletakkan tangannya di lengan Mas Raka.

“Pertama. Kamu tidak otomatis jadi CEO Nayara Group setelah Papa pensiun. Kamu akan memimpin Nayara Logistik dulu. Dua tahun. Kalau kamu bisa memperbaiki gudang Cikarang dan membuat anak perusahaan itu untung, kita bicara lagi.” Papa menatap Mas Raka lurus. “Bukan karena Papa tidak percaya kamu. Karena Papa ingin kamu membuktikan bahwa kamu tidak butuh nama Papa.”

Mas Raka mengangguk pelan. Aku melihat wajahnya. Tidak kecewa. Lebih seperti lega, seperti orang yang akhirnya diberi pekerjaan sungguhan setelah bertahun-tahun hanya diberi gelar.

“Kedua.” Papa beralih menatap Sheila. Hanya sedetik, lalu kembali ke Mas Raka. “Papa minta ada perjanjian pranikah. Pengacara keluarga akan menyiapkan drafnya minggu depan.”

Hening.

“Bukan karena Papa tidak percaya Sheila,” lanjut Papa, dengan nada datar yang sama persis seperti saat membahas truk di Cikarang. “Karena Papa tidak percaya siapa pun. Mamamu juga tanda tangan perjanjian yang sama tiga puluh dua tahun lalu. Iya kan, Ma?”

“Iya,” kata Mama, lalu menambahkan dengan cepat, “tapi Mama tanda tangannya sambil nangis.”

Mas Raka tertawa. Aku tertawa. Papa tidak tertawa, tapi bahunya bergerak sedikit.

Sheila tersenyum juga. Tapi aku duduk di sebelahnya, dan aku melihatnya. Tangannya yang tadi di lengan Mas Raka turun ke pangkuannya. Jari-jarinya mengepal di atas taplak, pelan, sampai buku jarinya memutih. Seperti seseorang yang menekan pulpen di ruang rapat.

Lalu tangan itu terbuka lagi, dan kembali ke lengan Mas Raka, dan senyumnya tidak pernah berubah sama sekali.

Aku menyimpan pemandangan itu di tempat yang sama dengan pilar belakang ballroom dan kartu krem yang tergelincir dari tasku. Tempat itu mulai penuh, seperti laci yang terlalu sering dibuka.


Selasa, pukul sepuluh pagi, aku berdiri di butik gaun pengantin di Kemang, karena Mama keseleo waktu senam aerobik dan menyuruhku menemani Sheila fitting.

“Kamu kan panitia dekorasi, Bel,” kata Mama dari sofa, dengan kaki diperban dan diangkat di atas bantal. “Gaun itu dekorasi juga.”

Aku tidak berdebat. Aku sudah belajar tidak berdebat dengan Mama saat kakinya diperban.

Butik itu putih semua. Lantai marmer putih. Dinding putih. Sofa beludru putih. Dan seorang perancang busana berkacamata merah muda bernama Tante Vivi, yang menyambut Sheila dengan pelukan dan menyambutku dengan tatapan dari atas ke bawah yang berakhir dengan, “Aduh, adiknya cantik banget. Nanti kalau nikah, ke Tante, ya.”

Sheila tersenyum. Aku tersenyum. Tidak ada yang tersenyum dengan tulus.

Gaunnya dipasang di ruang fitting kecil di belakang, dengan cermin tiga sisi dan pendingin udara di langit-langit. Aku duduk di sofa beludru di depan ruang itu, menunggu, sambil membalas email kerja.

Seorang pegawai butik, perempuan muda dengan meteran di leher, lewat membawa nampan minuman. Aku menghentikannya.

“Mbak, AC di ruang fitting itu bisa diatur?”

“Bisa, Bu. Remote-nya di sini.” Dia menunjuk laci meja resepsionis.

“Boleh saya pinjam sebentar? Kakak ipar saya gampang kepanasan.”

Pegawai itu menyerahkan remote tanpa curiga. Aku menekan tombol turun. Dua puluh empat. Dua puluh. Delapan belas.

Enam belas.

Aku mengembalikan remote itu ke laci, tersenyum pada pegawai, dan kembali membalas email.

Sepuluh menit kemudian, dari balik tirai, terdengar suara Sheila. “Tante, kok dingin banget, ya?”

“Oh, AC-nya lagi agak rusak, Sayang. Kadang suka begitu. Tahan sebentar, ya, tinggal pasang payet bagian punggung.”

Aku tidak mengangkat kepala dari ponselku.

Lima belas menit kemudian, tirai terbuka.

Sheila keluar dalam gaun pengantin putih gading tanpa lengan, dengan ekor panjang yang menyapu lantai marmer. Gaun itu indah. Aku tidak akan pura-pura tidak. Payetnya berkilau di bawah lampu, dan potongannya membuat Sheila terlihat seperti putri dari iklan parfum.

Dia juga menggigil.

Bahunya yang telanjang merinding. Bibirnya sedikit kebiruan. Dia memeluk lengannya sendiri, seperti aku di server room, seperti aku di lift. Tante Vivi menyampirkan kain tule sisa ke bahunya, dan Sheila berdiri di depan cermin tiga sisi dengan tule sisa di bahu dan gigi yang gemeletuk pelan.

“Cantik, ya, Bel?” katanya, berusaha tersenyum.

“Cantik, Kak,” kataku. “Kayak lemper.”

“Apa?”

“Kayak bidadari,” koreksiku. “Tadi salah ngomong.”


Tante Vivi pergi ke belakang untuk mengambil kerudung. Pegawai butik mengikutinya. Tinggal kami berdua di ruang depan yang putih itu. Sheila di depan cermin, aku di sofa.

Sheila tidak berbalik. Dia menatapku melalui cermin.

“Kamu masih deket sama dia?”

Aku tidak berpura-pura tidak mengerti. “Nggak.”

“Bagus.” Dia merapikan rambutnya di depan cermin. Suaranya berubah. Tidak ada lagi ya di ujung kalimat. Tidak ada lagi gula. Suara ini datar dan dingin, dan aku sadar ini pertama kalinya aku mendengar suara aslinya. “Aku kasih tahu, ya. Sebagai calon kakak.”

Aku menunggu.

“Dia itu bikin capek.” Sheila menyentuh payet di pinggangnya, satu per satu, seperti menghitung. “Perhatian banget. Sabar banget. Semuanya diurus. Semuanya rapi. Kamu nggak perlu mikir apa-apa, karena dia udah mikirin semuanya duluan.” Dia tersenyum tipis di cermin. “Kedengarannya enak, kan? Awalnya enak. Lama-lama kamu sadar hidupnya gitu-gitu aja. Kerja. Pulang. Kerja lagi. Nggak ada kejutan. Nggak ada yang bikin deg-degan. Cuma… stabil. Datar. Aman.”

Dia berbalik menghadapku. Gaun putih itu berkilau.

“Delapan tahun, Bel. Delapan tahun aku hidup di dalam spreadsheet. Kamu kenal dia berapa lama? Tiga bulan?” Dia menggeleng pelan, seperti kakak yang kasihan pada adiknya yang naif. “Kamu juga nanti habis. Semua orang habis sama dia.”

Aku meletakkan ponselku di sofa.

Aku memikirkan tujuh tab spreadsheet dengan catatan di kolom paling kanan, semuanya dimulai dengan nama perempuan ini. Aku memikirkan dua puluh tiga vendor yang ditelepon satu per satu. Aku memikirkan balkon di hari Sabtu. Aku memikirkan dua butir telur yang dipotong delapan, dan suara yang menghitung napasku di dalam lift yang gelap.

Aku berdiri. Aku tidak mendekat. Aku hanya berdiri, supaya mata kami sejajar.

“Kak Sheila,” kataku. Suaraku keluar tenang. Lebih tenang dari yang kukira. “Aku nggak akan habis.”

Dia mengangkat alis.

“Kamu yang nggak pernah ngisi.”

Butik itu sunyi. Pendingin udara di ruang fitting berdengung pelan, enam belas derajat.

Aku melihat wajah Sheila berubah. Bukan marah. Bukan terluka. Wajahnya berubah seperti orang yang baru menyadari sesuatu yang penting. Matanya menyipit sedikit. Dia menatapku, lama, dari atas ke bawah, seolah melihatku untuk pertama kalinya.

Dia sedang menghitung. Aku bisa melihatnya.

Dan aku sadar, terlambat, apa yang sedang dia hitung. Dia tahu bahwa aku tahu.

Dia tahu bahwa seseorang sudah memberitahuku versi lain dari cerita itu.

Tante Vivi kembali membawa kerudung panjang, bernyanyi pelan. Sheila langsung berbalik ke cermin. Senyumnya kembali, versi senyum untuk perancang busana, lengkap dengan ya di ujung kalimat.

“Tante, kerudungnya cantik banget, ya.”

Dia tidak menatapku lagi sepanjang sisa fitting.

Waktu kami bersiap pulang, Tante Vivi memegang lenganku di pintu butik dan berbisik seperti peramal.

“Adiknya kapan nyusul? Udah ada calon?”

Aku memikirkan jawaban yang jujur. Tiket #031. Status yang kuubah sendiri.

“Lagi di-pause, Tante.”

Tante Vivi mengerjap di balik kacamata merah mudanya. “Di-pause? Kayak video?”

“Kayak video.”

“Oh.” Dia menepuk tanganku dengan penuh simpati. “Tante ngerti. Mantan suami Tante dulu juga di-pause. Dua puluh tahun. Terus Tante tekan play lagi, eh, videonya udah kedaluwarsa.” Dia tertawa keras. “Jangan kelamaan, ya, Cantik. Tombol pause itu ada batasnya.”

Aku tertawa, karena aku tidak tahu harus melakukan apa lagi. Sheila, yang berdiri di belakangku sambil menunggu, tidak ikut tertawa sama sekali. Tapi di mobil, dalam perjalanan pulang, waktu aku menurunkannya di depan apartemennya, dia berhenti sebelum menutup pintu.

“Hati-hati, ya, Bel,” katanya, sambil tersenyum. “Jalannya licin.”

Pintu mobil tertutup. Aku duduk di kursi pengemudi dengan tangan di setir, dan tanganku dingin, lebih dingin dari ruang fitting.

Aku mengambil ponsel dan mengetik ke Nala.

Nal. Kak Sheila tahu aku tahu.

Balasannya datang dalam lima detik, dengan huruf kapital semua.

KAK. HATI-HATI. DIA ITU KAYAK ULAR YANG PAKAI BULU MATA PALSU.

Aku harus bilang ke abangmu?

Tiga titik muncul. Hilang. Muncul lagi.

Kalau Kakak bilang, Abang bakal diem. Abang bakal bilang “oke”. Terus dia bakal mikirin itu sendirian sampai jam tiga pagi. Kakak tahu kan.

Aku tahu. Aku menatap pesan itu lama.

Dia sedang tidak tidur sampai jam tiga pagi karena satu kata yang dia kirim padaku. Aku tidak mau menambah satu alasan lagi.

Nanti aja, balasku. Kalau dia beneran ngapa-ngapain.

Aku tidak tahu waktu itu bahwa nanti adalah kata paling berbahaya yang bisa diucapkan orang yang sedang berusaha melindungi seseorang.


Pukul 15.00, rapat review fase dua di Ruang Kenari.

Aku masuk terlambat dua menit, masih dengan wajah yang belum sepenuhnya pulih dari butik putih itu. Dia sudah duduk di tempat biasanya, di sisi kanan meja, laptop terbuka, mengetik notulen di dokumen bersama yang ditampilkan di layar besar.

Aku duduk di seberangnya.

Aku tidak berencana. Aku tidak memutuskan untuk melanggar aturan. Tapi aku sedang marah, dan takut, dan lelah, dan dia duduk di seberang meja dengan kemeja putih dan wajah yang sedang berusaha keras tidak menatapku, dan aku butuh sesuatu yang membuatku lupa pada kata habis.

Aku membuka WhatsApp di laptop, di bawah meja, dan mengetik.

Kamu makin ganteng kalau lagi ngehindarin aku.

Kirim.

Di seberang meja, aku melihat notifikasi muncul di pojok layar laptopnya. Aku melihat matanya bergeser ke sana. Satu detik. Aku melihat jarinya berhenti di atas keyboard.

Lalu dia mengetik. Cepat. Satu kata. Dan menekan Enter.

Di layar besar di ujung ruangan, di dokumen notulen yang dilihat dua belas orang, di bawah judul Action Items, muncul satu baris baru.

4. Berhenti.

Ruangan itu hening.

Dua belas orang menatap layar. Pak Darmawan, yang sedang memimpin rapat, melepas kacamatanya dan membacanya dua kali.

“Action item nomor empat,” katanya pelan. “Berhenti.” Dia menoleh ke seberang meja. “Berhenti apa, Pak Erga?”

Aku melihat Erga menatap layar besar itu. Wajahnya tetap datar. Tapi aku melihat telinganya. Merah. Dari ujung sampai pangkal.

“…Berhenti deploy hari Jumat, Pak,” katanya.

“Kita kan memang sudah tidak pernah deploy hari Jumat.”

“Supaya tercatat, Pak.”

Pak Darmawan menatapnya lama. Lalu menatapku, yang sedang menatap meja dengan sangat serius. Lalu kembali ke Erga.

“Oke,” kata Pak Darmawan pelan, memakai kacamatanya kembali. “Tercatat.”

Di pojok ruangan, Cece sudah memotret layar itu. Aku melihatnya mengetik dengan kecepatan cahaya di ponselnya. Tiga detik kemudian, ponselku bergetar di pangkuan.

Cuaca Lantai 21: Tiba-tiba cerah. Action item nomor 4. Screenshot terlampir. Tekanan udara naik drastis.

Aku tidak berani mengangkat wajah sampai rapat selesai. Tapi di balik laptop, aku tersenyum. Untuk pertama kalinya hari itu.

Laki-laki yang bisa menyelamatkan sistem pembayaran seluruh negara dalam dua puluh sembilan detik baru saja salah mengetik pesan ke dokumen yang dilihat dua belas orang. Karena aku. Karena satu kalimat pendek yang kukirim dari bawah meja. Tidak ada sistem cadangan yang bisa dia pasang untuk itu, dan dia tahu itu, dan aku tahu dia tahu.


Malamnya, di kamar, aku menatap langit-langit dengan lampu tidur berbentuk bulan menyala di sudut.

Aku memikirkan dua hal.

Yang pertama, satu baris di layar besar Ruang Kenari. 4. Berhenti. Orang yang benar-benar ingin aku berhenti tidak akan salah ketik.

Yang kedua, suara Sheila di depan mobil. Hati-hati, ya, Bel. Jalannya licin.

Aku sudah pernah mendengar kalimat itu. Mbak Tika mengucapkannya di lobi di hari hujan, sambil memeluk dua payung yang katanya rusak. Waktu itu, kalimat itu lucu.

Sekarang, dari mulut Sheila, kalimat itu terdengar seperti orang yang baru saja membasahi lantai dengan sengaja.