Chapter Twenty
Kita Berhenti di Sini
POV: Erga
Sabtu pagi, pukul sembilan, aku mengganti kunci apartemen.
Tukang kunci dari pengelola gedung datang dengan kotak peralatan dan wajah bosan. Dua puluh menit kemudian, kunci lama sudah dicopot dan kunci baru terpasang. Dia menyerahkan tiga anak kunci baru di atas telapak tanganku, menandatangani kuitansi, dan pergi.
Pukul sepuluh, Nala datang. Dia berdiri di depan pintu dan mencoba kunci lamanya. Tidak masuk. Dia mencoba lagi. Dia menekan bel tujuh kali, sesuai teorinya sendiri.
Aku membuka pintu.
“Abang ganti kunci?”
“Ganti.”
“Gara-gara semalam?”
“Gara-gara Bella bilang ganti.”
Nala menatapku dengan mulut terbuka. Lalu aku mengulurkan satu dari tiga anak kunci baru itu ke tangannya.
Dia menatap kunci itu. Lalu menatapku.
“Bang,” katanya pelan. “Terus apa gunanya ganti kunci, kalau aku dikasih kunci barunya?”
“Biar aku bisa bilang ke Bella aku udah ganti.”
Nala menatapku lama sekali. Lalu dia menempelkan dahinya ke kusen pintu dan tertawa sampai tetangga sebelah membuka pintu untuk memeriksa apakah ada yang sedang kesakitan.
Minggu siang, pukul 13.40, ponselku bergetar. Nala. Satu foto dan satu pesan.
Bang. Jangan dibuka kalau lagi makan.
Aku sedang makan. Aku membukanya.
Tangkapan layar Instagram Story. Akun Sheila. Foto meja makan panjang di sebuah restoran Jepang. Keluarga Harsono lengkap. Pak Bram di kepala meja, wajahnya datar seperti biasa. Bu Ratna tersenyum lebar. Raka merangkul Sheila. Dan di ujung meja, di sebelah Sheila, Bella.
Bella tidak tersenyum. Dia menatap ke arah lain, ke luar frame, dengan wajah orang yang dipaksa ikut berfoto. Tapi dia ada di sana. Bahunya hanya beberapa senti dari bahu Sheila.
Caption-nya satu baris, dengan emoji hati putih:
Keluarga baru 🤍
Aku meletakkan sendok.
Aku menatap foto itu lama. Bukan pada Sheila. Bukan pada Raka. Pada jarak beberapa senti di antara bahu Bella dan bahu Sheila, di meja makan yang sama, di foto yang sama, di bingkai yang sama.
Keluarga baru.
Nala mengirim pesan lagi. Aku mau lempar sandal ke HP-ku sendiri.
Aku tidak membalas.
Sore itu, aku duduk di balkon dengan laptop tertutup di pangkuan, dan melakukan apa yang selalu kulakukan kalau ada sesuatu yang rusak: aku menyusun daftar.
Bukan di spreadsheet. Di kepala. Tiga poin. Rapi. Seperti dokumen arsitektur.
Satu. Kalau aku bersama Bella, Sheila akan jadi kakak iparnya. Delapan puluh enam hari lagi, kalau pernikahan itu jadi. Setiap Lebaran, setiap ulang tahun Bu Ratna, setiap makan malam keluarga di rumah dengan pohon mangga, aku akan duduk di meja yang sama dengan perempuan yang meneleponku hari Selasa malam. Aku akan melihatnya tersenyum dengan versi senyum yang dia pakai untuk foto. Aku akan mendengarnya bilang ya di ujung setiap kalimat. Seumur hidup.
Aku bisa menanggung itu. Mungkin. Tapi apakah adil meminta Bella menanggungnya juga?
Dua. Nala sudah memberitahuku apa yang terjadi di rumah Harsono Kamis malam. Bella bertengkar dengan Raka sampai suaranya pecah. Bu Ratna menangis di sofa. Pak Bram harus mengucapkan cukup. Keluarga yang sebulan lalu tertawa bersama di meja makan, yang kakaknya menepuk bahuku di dapur dan bilang datang lagi, sekarang retak. Karena aku.
Aku sudah pernah melihat dua keluarga retak karena satu pernikahan yang batal. Aku tidak mau menjadi alasan keluarga ketiga retak.
Tiga.
Aku berhenti di poin ketiga. Aku sudah tahu isinya. Aku hanya tidak mau menatapnya langsung.
Poin ketiga adalah yang paling jujur. Poin satu dan dua adalah alasan yang bisa kuucapkan pada orang lain. Poin ketiga adalah yang kubisikkan pada diriku sendiri jam dua pagi.
Tiga. Semuanya punya tanggal kadaluarsa.
Kalau aku mulai sekarang, dan suatu hari, entah tahun depan, entah lima tahun lagi, dia berdiri di depanku dan bilang aku nggak sanggup, aku takut, cintaku sudah habis… kali ini aku tidak hanya kehilangan satu orang. Aku kehilangan dia, dan aku tetap harus duduk di meja makan keluarga yang sama dengan perempuan yang pertama kali mengatakannya. Dua kali dibatalkan. Di keluarga yang sama.
Aku tidak akan bisa selamat dari itu.
Aku menatap langit Jakarta yang mulai jingga. Di bawah, kota berjalan seperti biasa. Klakson. Sirene. Suara crane.
Keputusan itu tidak datang seperti ledakan. Datangnya seperti deploy yang sudah dijadwalkan lama. Tenang. Sesuai rencana. Tanpa ada yang bertepuk tangan.
Senin pagi, pukul 08.20, whiteboard taruhan di pojok Zogo sudah kembali.
Andre menulisnya ulang di akhir pekan. Aku tahu karena tulisannya dengan spidol hijau, warna yang dia pakai kalau sedang bahagia.
PROYEK “PAK ARCHITECT” — UPDATE STATUS
Minggu 8: HAMPIR. (Saksi mata: Andre. Saksi mata tambahan: Nala. Bukti: martabak.)
Odds minggu 12: 1:1.1
Catatan: Wasit menolak berkomentar.
Aku menatap whiteboard itu dari mejaku. Yoga menatapku menatap whiteboard itu. Mbak Tika pura-pura tidak menatap siapa pun.
Aku tidak menghapusnya. Aku tidak berkomentar. Aku membuka laptop dan mengirim satu pesan.
Rooftop. Jam dua belas.
Balasannya datang dalam empat detik. Satu emoji. Matahari kecil berwarna kuning.
Aku menatap emoji itu lama. Lalu aku menutup ponsel dan bekerja sampai jam dua belas, dan aku tidak ingat satu pun dari apa yang kukerjakan.
Pukul 11.52, di tangga menuju rooftop, ponselku bergetar. Andre. Foto whiteboard hijau itu, dan satu kalimat dengan tiga tanda seru.
BENTAR LAGI NIH!!!
Aku memasukkan ponsel ke saku tanpa membalas.
Dia sudah di sana.
Dia duduk di bangku kayu dalam bayangan tandon air, dengan dua botol teh dingin di sebelahnya, dan dia tersenyum waktu mendengar pintu besi berderit. Senyum yang lebar dan penuh, tanpa ditahan sedikit pun, seperti orang yang sudah menunggu sesuatu sejak Jumat malam dan yakin sesuatu itu akhirnya datang.
Aku tidak duduk.
Aku berdiri di depannya, satu meter jauhnya, dengan tangan kosong. Tidak ada kotak makan. Aku sengaja tidak membawanya.
Dia melihat tanganku yang kosong. Senyumnya tidak langsung hilang. Senyum itu bertahan beberapa detik lagi, lalu turun pelan-pelan, seperti grafik yang mulai merasakan ada yang tidak beres tapi belum tahu apa.
“Kamu nggak bawa telur,” katanya.
“Nggak.”
“Oh.” Dia meletakkan botol teh yang sudah dia pegang. “Kenapa?”
Aku sudah menyusun kalimatnya semalam. Aku sudah mengucapkannya di kepala berkali-kali, sampai setiap katanya terasa seperti batu yang sudah dihaluskan air.
“Bel. Kita berhenti di sini.”
Dia tidak bergerak.
“Sebelum mulai,” tambahku.
Angin bertiup. Rambutnya bergerak menutupi separuh wajahnya, dan dia tidak merapikannya. Aku melihat tangannya, yang tadi santai di atas lutut, mengepal pelan.
“Kenapa,” katanya. Bukan pertanyaan. Nadanya datar, persis seperti nadaku.
Aku memberinya poin satu. Sheila. Kakak ipar. Setiap Lebaran. Setiap makan malam.
“Aku bisa duduk di meja yang sama sama dia,” katanya. “Aku udah ngelakuinnya kemarin. Di restoran Jepang. Dua jam.”
“Aku lihat fotonya.”
Dia terdiam. Lalu wajahnya berubah, cepat, seperti orang yang baru mengerti sesuatu. “Nala kirim ke kamu.”
“Kamu nggak senyum di foto itu.”
“Karena aku nggak mau senyum di foto yang ada dia-nya.”
“Bayangin itu seumur hidup, Bel.”
Dia tidak menjawab. Aku memberinya poin dua. Mas Raka. Rumahnya. Mamanya yang menangis di sofa.
“Itu bukan salah kamu.”
“Itu karena aku.”
“Itu karena dia bohong, Erga.” Suaranya naik. “Keluargaku retak karena ada orang yang bohong. Bukan karena ada orang yang diam.”
Aku tidak memberinya poin tiga. Aku tidak bisa. Poin tiga terlalu jujur untuk diucapkan di bawah langit terbuka.
Tapi dia melihatnya. Dia selalu bisa membaca log di balik wajahku.
“Ada yang ketiga,” katanya pelan. “Kan?”
Aku tidak menjawab.
“Yang ketiga itu yang sebenarnya.” Dia berdiri. Sekarang dia sejajar denganku, satu meter jauhnya. “Yang satu sama dua itu buat aku. Yang ketiga itu buat kamu.”
“Bel—”
“Kamu takut aku bakal kayak dia.”
Aku menatapnya. Aku tidak mengangguk. Aku tidak menggeleng. Aku hanya berdiri di sana, dan membiarkan diamku menjawab, karena aku tidak punya kata-kata yang lebih jujur dari diam itu.
Dia menatapku lama. Aku melihat matanya berkaca-kaca, tapi tidak ada air mata yang jatuh. Dia menahannya. Dengan cara yang sama seperti aku menahan semuanya selama tiga tahun.
“Kamu nggak bisa berhentiin sesuatu yang bukan punya kamu doang, Erga,” katanya. Suaranya tenang. Terlalu tenang. “Ini punya aku juga. Setengahnya.”
“Aku tahu.”
“Terus?”
“Aku cuma bisa berhentiin setengah yang punyaku.”
Hening.
Di seberang jalan, crane berhenti berputar. Seekor burung gereja hinggap di pot bugenvil, menatap kami, dan tidak terbang.
Lalu dia mengangguk. Pelan. Satu kali.
“Oke,” katanya.
Aku tidak menduga jawaban itu. Aku menduga dia akan marah. Berdebat. Menunjukkan telapak tangannya lagi sebagai bukti. Membuat tiket.
“Oke,” ulangnya. “Kamu minta ruang. Aku kasih ruang. Aku nggak akan ngejar kamu kayak kemarin-kemarin. Nggak ada bekal. Nggak ada kopi. Nggak ada tiket jam sebelas malam.” Dia mengambil kedua botol teh dari bangku. Satu dia buka. Satu lagi, yang untukku, dia letakkan di pagar rooftop di dekatku. “Kalau itu yang kamu butuhin buat nggak takut, aku kasih.”
Dia berjalan ke pintu besi.
Aku berdiri di sana, dengan botol teh dingin di pagar di sebelahku, dan untuk pertama kalinya aku menyadari bahwa aku tidak siap untuk oke. Aku siap untuk pertengkaran. Aku punya argumen untuk setiap bantahan. Aku tidak punya apa-apa untuk oke.
Di ambang pintu, dia berhenti. Dia tidak berbalik sepenuhnya. Hanya menoleh, separuh, dan aku melihat profilnya di cahaya siang yang terik.
“Satu hal, Ga.”
Aku menunggu.
“Kamu boleh nggak mulai,” katanya. “Tapi kamu nggak boleh lupa rasanya hampir.”
Pintu besi tertutup di belakangnya.
Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di rooftop. Lama. Sampai teh di botol itu tidak dingin lagi. Sampai burung gereja di pot bugenvil akhirnya terbang.
Waktu aku kembali ke lantai 21, Andre menatapku dari mejanya. Wajahnya sudah siap tersenyum. Lalu dia melihat wajahku, dan senyum itu tidak jadi.
Dia berdiri, berjalan ke whiteboard, dan diam-diam menghapus kata HAMPIR dengan lengan kemejanya. Dia tidak bertanya apa-apa. Dia kembali ke mejanya, meletakkan segelas air putih di mejaku, dan tidak mengirim satu stiker pun sampai sore. Untuk Andre, itu setara dengan mengheningkan cipta.
Pukul 15.00, rapat review fase dua. Ruang Kenari. Dua belas orang.
Bella duduk di tempat biasanya, di ujung meja. Blazer abu-abu. Tanpa lipstik merah. Tanpa jaket kanvas. Dia membuka laptopnya, membuka dokumen, dan memimpin bagian product dengan suara yang jernih dan cepat seperti biasa. Tidak ada yang berbeda. Tidak ada yang bisa menunjuk apa yang berbeda.
Lalu dia menoleh padaku untuk menanyakan estimasi waktu modul pembayaran.
“Pak Erga,” katanya. “Untuk modul ini, perkiraan selesainya kapan?”
Pak Erga.
Bukan Erga. Bukan Ga. Bukan Pak Architect dengan nada meledek. Pak Erga, dengan nada yang sama persis seperti yang dia pakai untuk memanggil vendor katering.
Aku menjawab. Aku tidak ingat apa yang kujawab. Aku hanya ingat angka-angkanya benar, karena Yoga mencatatnya tanpa bertanya lagi.
Rapat berjalan empat puluh menit. Dia memanggilku Pak Erga tiga kali lagi. Setiap kali, sopan. Setiap kali, profesional. Setiap kali, seperti pintu yang ditutup dengan sangat pelan supaya tidak berbunyi.
Aku yang meminta ruang. Dia memberiku ruang. Dia memberikannya dengan sangat sempurna, sangat rapi, sangat tanpa cela, sampai aku tidak punya satu pun alasan untuk mengeluh.
Itu yang paling kejam dari semuanya. Dia melakukan persis apa yang kuminta.
Di layar Cece, grup Divisi Gosip menerima satu laporan pukul 15.42:
Cuaca lantai 21: Mendung. Bu Bella panggil “Pak Erga”. Ulangi: PAK ERGA. Tekanan udara turun drastis.
Mbak Tika membalas dengan satu emoji: payung.
Pukul 16.12, NayaraDesk berbunyi.
Tiket #031
Dibuat oleh: bella.larasati
Judul: —
Deskripsi: —
Assignee: erga.mahardika@zogotech.co.id
Tidak ada judul. Tidak ada deskripsi. Aku menatap tiket kosong itu, menunggu sesuatu muncul.
Tiga menit kemudian, statusnya berubah. Bukan olehku. Oleh pembuatnya. Oleh admin NayaraDesk yang merancang ulang alurnya dua tahun lalu, dan tahu cara mengubah status tiket mana pun.
Status diubah oleh bella.larasati: PAUSED
Komentar: Paused. Bukan Closed.
Aku menatap layar itu sampai layarnya meredup sendiri.
Selasa pagi, pukul 05.40, di dapur apartemenku, aku memecahkan telur.
Dua butir. Aku menghitungnya dengan suara keras. Dua. Aku mengocoknya, menambahkan daun bawang, menggorengnya pelan-pelan seperti biasa.
Waktu memotongnya, pisauku bergerak sendiri. Empat potong. Lalu delapan.
Aku menatap delapan potong telur dadar kecil di talenan. Dua butir telur, dipotong delapan. Potongannya terlalu kecil, terlalu tipis, seperti sesuatu yang dibagi untuk dua orang tapi hanya cukup untuk satu.
Aku berdiri di dapur itu lama sekali, sampai telurnya dingin. Aku memakan semuanya sendiri, pelan-pelan, satu potong demi satu potong, dan rasanya persis sama seperti biasanya.
Tidak ada yang berubah sama sekali. Aturanku tetap sama. Aku tidak akan mulai apa-apa. Aku sudah memutuskannya.
Tapi aku mulai curiga bahwa selama ini aku salah membaca tanggal kadaluarsa. Bukan tanggal kapan cinta berakhir.
Tanggal kapan aku berhenti bisa berpura-pura tidak merasakannya.
- 1 Server yang Katanya Down
- 2 Seminggu Sebelum Akad
- 3 Pak Architect
- 4 Server Room
- 5 Lima Menit
- 6 Won’t Fix
- 7 Payung
- 8 Tanggal di Undangan
- 9 Oke. Satu-Satu
- 10 Dia yang Pergi Seminggu Sebelum Akad
- 11 Jangan Bilang Mas Raka
- 12 Empat Puluh Menit
- 13 Serbet
- 14 Di Bawah Meja
- 15 Setelah Meja Makan
- 16 Cutover
- 17 Versi Sheila
- 18 Tolong Jauhi Adikku
- 19 Hampir
- 20 Kita Berhenti di Sini reading
- 21 Lift
- 22 Hari Gajian
- 23 Fitting
- 24 Runbook
- 25 Aku yang Nggak Diam
- 26 Sama-Sama Benar
- 27 Satu Jengkal
- 28 H-10
- 29 H-8
- 30 H-7
- 31 Malam yang Sama
- 32 Klub H-7
- 33 Resolved
- 34 Pacar Senior Architect
- 35 Hari Kamis
- 36 Sheila Datang Lagi
- 37 Lima Menit?
- 38 Request: Seumur Hidup
- 39 H-7, Lagi
- 40 Tanpa Tanggal Kadaluarsa
- 41 Epilog 1: Malam yang Tidak Dihitung
- 42 Epilog 2: Pagi Pertama