← Tanpa Tanggal Kadaluarsa

Chapter Thirty Four

Pacar Senior Architect

POV: Erga

Kalau aku harus menulis log untuk minggu pertama, log itu akan membuatku malu.

Senin, 13.14. Satu jam setelah rooftop. Aku mengirim pesan dari mejaku ke meja yang jaraknya lima belas meter. Udah makan? Dia membalas dengan foto kotak biru yang kosong. Kamu kan liat sendiri aku makan, Ga. Kamu di sebelahku.

Senin, 16.14. Udah makan? Balasannya: Ini jam empat sore. Aku membalas: Snack. Dia mengirim foto permen jahe dari Mbak Tika.

Senin, 19.14. Udah makan? Dia menelepon. Suaranya tertawa. “Ga. Kamu ngirim ini tiap tiga jam. Pas. Jam satu lewat empat belas, jam empat lewat empat belas, jam tujuh lewat empat belas. Kamu pasang alarm?”

Aku tidak menjawab. Aku memang memasang alarm.

Selasa, 10.00. Dia rapat dengan tim marketing sampai jam dua belas. Aku mengubah status di aplikasi chat kantor menjadi Away. Aku tidak ke mana-mana. Aku duduk di mejaku, menatap ruang rapat berdinding kaca di seberang lantai, dan mengerjakan dokumen fase tiga dengan kecepatan setengah dari biasanya.

Selasa, 12.03. Dia keluar dari ruang rapat, melihat statusku, lalu berjalan ke mejaku. “Kamu Away dari mana?” Aku bilang aku lagi fokus. Dia menatap dokumen di layarku, yang dua jam terakhir hanya bertambah tiga kalimat. Dia tidak bilang apa-apa. Dia duduk di kursi kosong di sebelahku, membuka laptopnya, dan bekerja di sana sampai sore. Dokumen fase tigaku bertambah dua belas halaman.

Rabu, 08.30. Aku minta dia duduk di sebelahku waktu aku coding. Dia bertanya kenapa. Aku bilang, “Buat ada aja.” Dia menatapku lama, lalu duduk, dan aku menulis kode paling bersih yang pernah kutulis selama enam tahun di Zogo.

Aku tidak mengenali diriku sendiri.

Tiga tahun aku menjaga jarak dari semua orang. Tiga tahun aku menahan setiap hal yang terasa seperti kebutuhan. Aku mengira itu karakterku. Pendiam. Mandiri. Tidak butuh siapa-siapa. Laki-laki yang memasang pintu cadangan untuk semua orang kecuali dirinya sendiri.

Ternyata itu bukan karakterku. Itu dinding. Dan begitu dindingnya runtuh, yang ada di baliknya bukan laki-laki yang mandiri.

Yang ada di baliknya adalah laki-laki yang memasang alarm setiap tiga jam untuk bertanya apakah seseorang sudah makan.


Rabu siang, pukul 12.40, aku masuk ke lift di lobi. Penuh. Sepuluh orang. Aku berdiri di sudut belakang.

Pintu hampir tertutup waktu sebuah tangan menahannya. Dia masuk, terengah sedikit, dengan kotak makan siang dari luar di satu tangan, dan berdiri tepat di depanku, karena hanya itu ruang yang tersisa.

Punggungnya hampir menempel di dadaku. Lift mulai naik. Lantai dua. Tiga.

Aku menunduk sedikit, cukup supaya bibirku dekat dengan telinganya, dan bicara sangat pelan.

“Pipi kamu merah.”

Dia tidak berbalik. Tapi aku melihat bahunya menegang. Lantai lima. Enam.

“Aku belum ngapa-ngapain,” tambahku.

Dia menoleh sedikit, hanya cukup supaya aku bisa melihat sudut matanya. “Belum?” bisiknya.

Lantai sembilan. Sepuluh. Seorang laki-laki dari tim finance di sebelah kami melirik, lalu pura-pura sangat tertarik pada panel tombol lift.

Aku menatap angka di atas pintu.

“Lantai 21 masih jauh,” kataku.

Dia tidak bicara lagi sampai lantai 21. Waktu pintu terbuka, dia keluar lebih dulu, cepat, tanpa menoleh. Kotak makan siang di tangannya hampir terjatuh dua kali di lorong.

Laki-laki dari tim finance keluar setelahku. Dia berhenti di sebelahku, menatapku dengan wajah orang yang baru menyaksikan sesuatu yang tidak seharusnya dia saksikan, lalu berbisik, “Pak. Saya nggak dengar apa-apa.”

“Terima kasih, Pak.”

“Tapi saya ikut Fanclub, Pak,” tambahnya. “Jadi saya harus lapor.”


Rabu sore, pukul 15.00, rapat direksi bulanan. Ruang Kenari. Raka memimpin. Aku duduk di sebelah Bella karena itu satu-satunya kursi yang tersisa. Atau karena Mbak Tika, yang mengatur kursi, sengaja memastikan itu satu-satunya kursi yang tersisa.

Direktur keuangan sedang mempresentasikan proyeksi kuartal depan. Empat puluh slide. Angka-angka kecil. Suara yang monoton seperti dengung AC.

Bella mencatat di buku catatannya dengan serius. Lalu, di slide dua puluh tiga, dia berhenti menulis, mengerutkan dahi, dan menggigit bibir bawahnya. Kebiasaan yang dia miliki setiap kali menemukan angka yang tidak masuk akal.

Aku melihatnya. Aku sudah melihat kebiasaan itu puluhan kali selama tiga bulan. Selama tiga bulan, aku berpura-pura tidak melihatnya.

Aku tidak berpura-pura lagi.

Aku mencondongkan tubuh sedikit, seolah ingin melihat catatannya, dan bicara sangat pelan, di dekat telinganya.

“Kalau kamu gigit bibir sekali lagi,” bisikku, “aku lupa ini rapat apa.”

Pulpennya berhenti.

Dia tidak menoleh. Dia menatap slide dua puluh tiga dengan intensitas yang sangat tinggi. Wajahnya merah dari leher sampai dahi. Pelan-pelan, dengan sangat hati-hati, dia melepaskan bibir bawahnya dari gigitannya.

Di kepala meja, Raka melirik kami. Dia melihat wajah adiknya yang merah, melihat wajahku yang datar, lalu menatap kembali ke layar dengan ekspresi orang yang sedang menahan senyum dan tidak sepenuhnya berhasil.

“Pak Erga,” kata Raka. “Ada tanggapan untuk slide dua puluh tiga?”

Aku tidak mendengar satu pun kata dari slide dua puluh tiga.

“Angkanya perlu dicek ulang, Mas,” kataku. Karena dia menggigit bibir, artinya angka itu memang salah.

Direktur keuangan memeriksa angkanya. Angka itu memang salah.


Kamis pagi, pukul 10.20, aku meneleponnya.

Aku tidak tahu dia sedang rapat. Kalender bersamanya bilang dia kosong sampai jam sebelas. Kalender bersamanya salah, karena rapat itu dijadwalkan mendadak oleh Pak Darmawan lima belas menit sebelumnya.

Dia mengangkat di dering kedua. Aku mendengar suara-suara di latar belakang. Aku tidak memikirkannya.

“Sayang, kamu udah—”

Aku berhenti.

Kata itu keluar sendiri. Aku tidak merencanakannya. Aku tidak pernah memanggil siapa pun dengan kata itu sejak tiga tahun lalu. Aku bahkan tidak tahu kata itu masih ada di kosakataku.

Di ujung telepon, sunyi. Satu detik.

Lalu bunyi klotak. Keras. Ponsel yang jatuh ke meja kaca, lalu menggelinding, lalu jatuh lagi ke lantai.

Lalu suara Mbak Tika, sangat dekat dengan ponsel yang tergeletak di lantai. “Bu. Bu, HP-nya jatuh.” Lalu suara Mbak Tika lagi, lebih pelan, tapi tidak cukup pelan. “Bu. Itu tadi speaker.”

Lalu tawa. Tertahan. Banyak. Setidaknya delapan orang.

Lalu suara Pak Darmawan, sangat jelas. “Siapa yang sayang?”

Aku menutup telepon.

Aku duduk di mejaku, dengan ponsel di tangan, dan menatap layar yang sudah gelap. Di seberang lantai, di balik dinding kaca ruang rapat, aku melihat sembilan kepala menoleh ke arah pojok Zogo secara bersamaan.

Satu kepala tidak menoleh. Dia sedang berjongkok di bawah meja, mencari ponselnya, dan aku bisa melihat telinganya dari sini.

Merah.

Pukul 10.24, grup Divisi Gosip, yang entah kapan menambahkanku sebagai anggota tanpa bilang-bilang, mengirim satu pesan dari Cece.

BREAKING. Rapat marketing pukul 10.20. Panggilan masuk ke HP Bu Bella dengan mode speaker aktif. Kata pertama dari penelepon: “Sayang”. Reaksi Bu Bella: HP jatuh. Reaksi ruangan: 8 orang tertawa, 1 orang (Pak Darmawan) bertanya siapa yang sayang. Jawaban: tidak ada, karena semua orang sudah tahu.

Di bawahnya, Pak Darmawan membalas.

Saya cuma memastikan.


Kamis siang, pukul 13.30, aku berdiri di depan meja product.

Dia sedang mengetik. Dia tidak mengangkat wajah. Tapi jarinya berhenti di atas keyboard waktu bayanganku jatuh di mejanya.

Seluruh area product tiba-tiba sangat sibuk. Yoga mengetik dengan kecepatan yang tidak mungkin menghasilkan kode yang masuk akal. Cece menatap layarnya dengan konsentrasi ahli bedah. Mbak Tika membuka laci dan menutupnya lagi, tiga kali.

“Bu Bella,” kataku. Suaraku datar. Profesional. Cukup keras untuk didengar area product. “Bisa ke Ruang Cemara sebentar? Ada yang perlu saya review.”

Dia mengangkat wajah. Dia menatapku. Dia tahu. Semua orang di area product tahu.

“Review apa, Pak Erga?”

“Arsitektur.”

Dia berdiri. Dia berjalan di depanku menuju Ruang Cemara, ruang rapat kecil berdinding kaca buram di ujung lorong, dan aku mengikutinya, dan aku merasakan tiga belas pasang mata mengikuti kami berdua.

Aku menutup pintu. Kaca buram. Tirai tidak ada, tapi kaca buramnya cukup.

Dia berbalik menghadapku. “Review arsitektur apa, Ga?”

Aku tidak menjawab.

Aku menariknya ke dalam pelukanku.

Tidak ada kata. Tidak ada alasan. Aku hanya memeluknya, di tengah Ruang Cemara, di antara meja rapat kecil dan papan tulis yang masih bertuliskan diagram dari rapat pagi. Satu tangan di punggungnya, satu tangan di belakang kepalanya. Dia menegang sesaat, lalu melemas, lalu melingkarkan tangannya di pinggangku dan menempelkan wajahnya di dadaku.

Kami tidak bicara. Aku merasakan napasnya di kemejaku. Aku menghirup rambutnya. Hujan di atas kulit jeruk.

Aku tidak tahu berapa lama. Aku tidak menghitung.

Waktu akhirnya aku melepaskannya, dia mengangkat wajah dan menatapku dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, dan pipi yang merah, dan senyum yang tidak bisa dia tahan.

“Itu review-nya?” tanyanya.

“Itu review-nya.”

“Hasilnya?”

“Arsitekturnya bagus,” kataku. “Perlu dicek ulang tiap hari.”

Dia tertawa, dan memukul dadaku pelan, dan keluar dari Ruang Cemara lebih dulu.

Aku menunggu satu menit sebelum keluar, supaya tidak terlalu mencurigakan. Tidak ada gunanya. Waktu aku kembali ke pojok Zogo, sticky note hijau di monitor Cece sudah punya tulisan baru di bawah garis-garis stylus.

Review arsitektur, Ruang Cemara: 5 menit 40 detik. Tidak ada presentasi. Tidak ada notulen.


Kamis sore, pukul 16.00, Pak Bram memanggilku ke ruangannya di lantai 30.

Aku belum pernah ke ruangan Pak Bram di kantor. Ruangannya besar, dengan jendela dari lantai ke langit-langit yang menghadap ke Semanggi, meja kayu jati yang kembar dengan meja di rumahnya, dan satu papan catur di atas meja kecil di dekat jendela. Bidak-bidaknya sudah tersusun.

Dia tidak menyuruhku duduk. Dia berdiri di balik mejanya dengan tangan di belakang punggung, dan menatapku seperti menatap proposal investasi bernilai ratusan miliar.

“Darmawan cerita,” katanya. “Soal telepon pagi tadi. Soal speaker.”

Aku tidak menjawab. Aku sudah belajar bahwa tidak ada rahasia di gedung ini yang bisa selamat lebih dari dua jam.

“Saya tidak akan tanya apakah benar.” Pak Bram melangkah ke jendela. “Saya akan tanya satu hal saja.”

Dia berbalik.

“Niatnya apa?”

Aku sudah menduga pertanyaan itu. Aku sudah menduganya sejak rooftop hari Senin. Aku sudah menyiapkan jawabannya. Bukan di kepala.

Di laptop.

“Boleh saya pakai layar Bapak?”

Pak Bram menatapku. Lama. Lalu dia menunjuk layar besar di dinding dengan dagunya.

Aku menyambungkan laptop. Aku membuka presentasi yang kubuat hari Selasa malam, di meja makan apartemenku, dari jam sembilan sampai jam dua pagi, setelah alarm udah makan yang terakhir berbunyi.

Slide pertama. Judulnya satu baris.

Niat: Menikahi Putri Bapak.

Pak Bram tidak bereaksi. Dia hanya menatap layar.

Aku menekan tombol. Slide kedua. Timeline. Aku menyusunnya seperti runbook cutover. Tahap satu, tahap dua, tahap tiga. Masing-masing dengan perkiraan waktu, penanggung jawab, dan rencana mundur.

“Tahap satu, Pak,” kataku. “Bertanya ke Bella. Ini yang paling penting. Saya belum melakukannya, karena saya ingin minta izin Bapak dulu. Tapi saya tidak akan melanjutkan ke tahap dua tanpa jawaban dia.”

Pak Bram mengangkat alis sedikit.

“Tahap dua. Lamaran resmi. Keluarga saya ke rumah Bapak. Perkiraan tiga bulan dari sekarang. Rencana mundur: kalau Bapak atau Bu Ratna belum siap, tahap ini diundur tanpa batas waktu.”

Aku menekan tombol lagi, untuk pindah ke slide berikutnya, Tahap Tiga: Akad.

Yang muncul bukan slide itu.

Yang muncul adalah gambar hasil pindaian. Brosur mengilap berwarna krem, dengan foto aula berlampu gantung kristal dan tulisan besar di bagian atas: GRAHA SASMITA — Paket Akad + Resepsi. PROMO! Diskon 15% untuk DP bulan ini. Di pojok kanan bawah, dengan tulisan tangan satpam tua itu: Promo diperpanjang untuk Mas yang kemarin.

Aku menatap layar itu.

Aku memindainya hari Minggu, untuk arsip. Aku menaruhnya di folder yang sama dengan presentasi ini. Aku menekan tombol yang salah.

Pak Bram menatap brosur itu. Diam. Lama sekali.

“Maaf, Pak. Itu salah slide.”

“Saya lihat,” katanya.

“Saya hapus sekarang.”

“Hapus,” kata Pak Bram. Lalu, sebelum aku sempat menyentuh laptop, dia menambahkan dengan nada yang persis sama, datar dan tegas, seperti membahas truk di Cikarang. “Tapi kirim ke saya dulu.”

Aku berhenti.

Pak Bram berjalan ke meja kecil di dekat jendela dan duduk di depan papan catur. Dia menggerakkan pion putih dua langkah ke depan. Lalu dia menatapku.

“Tahap satu,” katanya. “Kapan?”

“Setelah saya tanya Bella dulu, Pak. Kapan dia mau ditanya.”

Pak Bram menatapku lama. Lalu, sangat pelan, dia mengangguk.

“Bagus,” katanya. “Orang yang tanya dulu.” Dia menunjuk kursi di seberang papan catur. “Duduk. Kamu hitam. Kalau kamu menang lagi, saya potong anggaran IT lima belas persen.”

“Pak Darmawan bilang itu terjadi tahun 2016.”

“Darmawan terlalu banyak bicara.” Dia menggerakkan kudanya. “Main.”

Aku kalah dalam dua puluh tujuh langkah.

Bukan sengaja. Aku tidak bisa berkonsentrasi. Setiap kali aku menatap papan, aku melihat brosur krem itu. Dan setiap kali aku melihat brosur itu, aku melihat seseorang merapikan kerahku di depan meja ijab kabul.

Pak Bram menatap papan catur itu dengan wajah curiga. “Kamu sengaja?”

“Nggak, Pak. Saya cuma nggak fokus.”

Pak Bram menatapku lama. Lalu, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, dia tertawa. Pendek, serak, seperti pintu tua yang dibuka.

“Bagus,” katanya lagi. “Itu artinya kamu serius.”