Chapter Twenty One
Lift
POV: Bella
Memberi ruang ternyata punya aturan. Aku menulisnya sendiri, di catatan ponsel, Senin malam setelah rooftop, supaya aku tidak lupa dan tidak curang.
1. Tidak ada bekal.
2. Tidak ada kopi.
3. Tidak ada tiket NayaraDesk. Kecuali urusan kerja betulan.
4. Tidak ke rooftop jam dua belas.
5. Panggil dia “Pak Erga” di depan orang.
6. Jangan lihat pojok Zogo lebih dari dua kali sehari.
Aku melanggar nomor enam setiap hari. Biasanya sebelum jam sembilan pagi.
Aku menepati semua sisanya.
Jaketnya kulipat rapi hari Selasa pagi dan kumasukkan ke laci meja kantorku, laci paling bawah, di atas tumpukan dokumen pengadaan tahun lalu, tepat di tempat aku pernah menyembunyikan payung biru. Aku tidak memakainya. Aku juga tidak mengembalikannya. Aku tidak tahu itu termasuk memberi ruang atau tidak, jadi aku membiarkannya di sana, di tengah-tengah, seperti tiket yang statusnya Paused.
Aku percaya aku sedang melakukan hal yang benar. Aku percaya memberi ruang adalah cara paling jujur untuk mencintai seseorang yang takut. Kalau dia takut dikejar, aku berhenti mengejar. Kalau dia takut aku akan pergi seperti orang itu, aku akan membuktikan bahwa aku bisa tetap di sini, diam, tanpa menuntut apa pun.
Aku tidak sadar bahwa diam dan pergi, dari jarak dua puluh meter, bisa terlihat sama.
Dua minggu.
Grup Divisi Gosip berganti nama pada hari keempat. Cuaca Lantai 21 (Siaga Satu). Setiap pagi, Cece mengirim laporan dengan format yang sama.
Hari ke-7. Mendung. Pak Architect makan di meja. Bu Bella makan di meja. Jarak meja: 15 meter. Jarak hati: tidak terukur.
Hari ke-9. Mendung berawan. Pak Architect salah ketik “pembayaran” jadi “pembayaarn”. Bu Bella lewat pojok Zogo satu kali. Dua kali. Koreksi: tiga kali.
Hari ke-12. Stylus tidak jatuh. Rekor. Grafik terlampir.
Grafiknya berupa garis lurus di angka nol, dengan judul Hari Tanpa Stylus Jatuh. Di bawahnya, Mbak Tika membalas: Ini grafik paling sedih yang pernah saya lihat, Ce.
Aku membaca semua laporan itu. Aku tidak membalas satu pun.
Di rumah, persiapan pernikahan Mas Raka berubah jadi badai.
Sheila meminta undangan digital direvisi enam kali. Font-nya kurang mewah, ya. Warnanya kurang krem, ya. Foto prewed yang kupilih terlalu “polos”, ya. Waktu aku akhirnya memilih foto taman bunga, foto yang dulu membuat Nala berteriak di kafe, dia bilang itu sempurna, ya. Dia tidak tahu kenapa aku menutup laptop dengan terlalu keras.
Mas Raka dan aku bicara seperlunya. Pagi. Udah makan. Mama nanya. Kalimat-kalimat pendek seperti orang asing yang kebetulan tinggal di rumah yang sama.
Kamis malam, di meja makan, Mama meletakkan sendoknya dan menatapku.
“Bel. Nak Erga kok nggak pernah main ke sini lagi?”
Mas Raka berhenti mengunyah. Sheila, yang makan malam di rumah kami hampir setiap malam sekarang, menatapku dengan senyum kecil yang tidak sampai ke mata.
“Dia sibuk, Ma.”
“Sibuk, atau kamu yang galak?”
“Ma.”
“Mama cuma tanya.” Mama menyendokkan sayur ke piringku, meskipun piringku masih penuh. “Dia anak baik. Dia cuci piring. Laki-laki yang cuci piring tanpa disuruh itu langka, Bel. Kayak badak bercula satu.”
Papa, di kepala meja, tidak mengangkat wajah dari piringnya. Tapi aku melihat sendoknya berhenti di udara selama satu detik.
Kamis berikutnya, pukul 18.37, aku keluar dari ruang rapat terakhir dan menemukan lorong lift lantai 21 hampir kosong.
Hampir.
Dia berdiri di depan lift nomor tiga dengan tas laptop di bahu. Hanya dia. Dua lift lainnya sedang dalam perawatan, dengan papan kuning bertuliskan MOHON MAAF, SEDANG DIPERBAIKI.
Aku berhenti. Aku bisa berbalik. Aku bisa pura-pura lupa sesuatu di meja, kembali lima menit lagi. Itu yang akan dilakukan orang yang sedang memberi ruang.
Pintu lift terbuka.
Dia masuk. Dia berbalik. Dia melihatku berdiri tiga meter dari pintu, dan dia menahan pintu itu dengan satu tangan.
Dia tidak bilang apa-apa. Dia hanya menahannya.
Aku masuk.
Pintu menutup. Lift turun. Kami berdiri di dua sudut yang berbeda, sejauh mungkin di dalam kotak besi dua kali dua meter. Aku menatap angka di atas pintu. Dua puluh. Sembilan belas. Delapan belas.
“Pak Erga,” kataku, karena aturan nomor lima.
“Bu Bella,” katanya.
Tujuh belas. Enam belas.
Di antara lantai lima belas dan empat belas, lampu mati.
Semuanya berhenti sekaligus. Lampu. Suara kipas ventilasi. Gerakan lift. Kotak besi itu tersentak sekali, pelan, lalu diam sepenuhnya.
Gelap.
Bukan gelap seperti kamar tidur yang lampunya dimatikan. Gelap yang pekat, tanpa satu pun celah cahaya, gelap yang membuat mata terbuka dan tertutup terasa sama saja.
Aku berhenti bernapas.
Aku bukan orang yang punya trauma. Aku tidak pernah terjebak di mana pun, tidak pernah dikunci di lemari waktu kecil. Aku hanya tidak suka gelap. Sejak kecil aku tidur dengan lampu tidur berbentuk bulan, dan Mama masih membelikanku yang baru setiap kali yang lama rusak. Aku tidak suka tidak bisa melihat. Aku tidak suka tidak tahu di mana dinding berakhir.
Tanganku mencari pegangan besi di dinding lift. Tanganku gemetar.
“Bella.”
Suaranya datang dari sudut yang lain. Pelan. Tenang. Sama persis seperti di war room Twin Day.
“Listrik gedung padam,” katanya. “Lift ini punya rem mekanis. Kalau listrik mati, rem itu otomatis mengunci. Kita nggak akan jatuh. Nggak mungkin jatuh.”
“Oke,” kataku. Suaraku terdengar seperti orang lain.
Ada cahaya. Kecil, putih, dari arah sudutnya. Senter ponsel. Dia mengarahkannya ke langit-langit lift, bukan ke wajahku, sehingga cahaya itu memantul dan menyebar tipis di seluruh kotak besi. Aku bisa melihat dinding sekarang. Aku bisa melihat lantai. Aku bisa melihatnya, berdiri di sudut yang sama, dengan ponsel terangkat.
“Ponsel kamu?” tanyanya.
Aku merogoh tas. Aku menekan tombol samping. Layar hitam. Aku lupa mengisi dayanya tadi malam, karena tadi malam aku tidur jam empat, karena tadi malam aku membaca ulang semua tiketku dari nomor satu sampai tiga puluh satu.
“Mati.”
“Oke.” Dia tidak terdengar kecewa. “Gedung ini punya genset. Biasanya nyala dalam enam puluh detik. Kalau belum nyala, berarti saklar pemindahnya macet. Teknisi harus reset manual di ruang panel lantai dasar. Dua puluh sampai empat puluh menit.”
“Empat puluh menit.”
“Paling lama.”
Aku menekan punggungku ke dinding lift. Besinya dingin, bahkan menembus blazerku. Aku memeluk lenganku sendiri.
Enam puluh detik berlalu. Genset tidak menyala.
“Aku tekan tombol darurat,” katanya. Aku mendengar bunyi klik, lalu suara berdesis dari speaker kecil, lalu suara laki-laki yang terdengar panik di ujung sana. Iya, Pak, iya, satu gedung mati, Pak, teknisi lagi ke panel, mohon tunggu, Pak.
“Oke,” katanya ke speaker. “Kami berdua. Nggak ada yang terluka. Kami tunggu.”
Menit ke-lima belas, dia bicara lagi.
“Baterai ponselku delapan persen. Aku mau matiin senternya sebentar, buat jaga-jaga kalau kita butuh nelepon. Aku bilang dulu, biar kamu nggak kaget.”
Aku mengangguk, lalu sadar dia mungkin tidak melihatnya. “Oke.”
“Aku hitung dari tiga. Tiga. Dua. Satu.”
Gelap lagi.
Kali ini aku siap. Tapi tanganku tetap gemetar. Napasku tetap terlalu cepat. Aku bisa mendengar napasku sendiri di kotak besi yang sunyi itu, pendek, tidak teratur, seperti anjing kecil yang ketakutan.
“Bel,” katanya dari gelap. “Tarik napas. Empat hitungan. Aku hitung.”
“Aku nggak—”
“Satu. Dua. Tiga. Empat. Tahan. Satu. Dua. Keluarkan. Satu. Dua. Tiga. Empat.”
Aku mengikutinya. Suaranya seperti metronom. Datar, tenang, tidak pernah terlalu cepat. Aku menarik napas, menahan, mengeluarkan, berulang-ulang, dan pelan-pelan napasku mengikuti iramanya.
Dia tidak mendekat. Aku bisa mendengar suaranya tetap datang dari sudut yang sama. Dia tidak menyentuhku. Dia tidak melanggar aturannya sendiri. Dia hanya menghitung, di dalam gelap, untukku.
Setelah beberapa lama, aku merosot duduk di lantai lift, punggung menempel di dinding. Aku mendengar dia melakukan hal yang sama di sudutnya. Kaki kami mungkin hampir bersentuhan di tengah. Aku tidak tahu. Aku tidak berani meluruskan kakiku.
“Kita nggak boleh sentuhan, kan?” kataku ke dalam gelap. “Aturan kamu.”
Diam sebentar. “Aturan aku.”
“Kalau aku pegang tangan kamu karena takut gelap,” kataku pelan, “itu melanggar?”
“Melanggar.”
“Kamu keras kepala.”
Hening. Panjang. Di dalam gelap, aku mendengar dia menarik napas, lalu menahannya, persis seperti hitungan yang tadi dia berikan padaku. Satu. Dua.
“Bukan,” katanya. Suaranya lebih rendah dari sebelumnya. Lebih dekat, entah bagaimana, meskipun aku yakin dia tidak bergerak. “Kalau aku pegang tangan kamu sekarang, aku nggak yakin berhentinya di tangan.”
Aku tidak bisa bernapas lagi. Kali ini bukan karena gelap.
Aku menatap ke arah suaranya, ke dalam gelap yang pekat, dan untuk pertama kalinya dalam dua minggu, aku tersenyum. Tidak ada yang bisa melihatnya. Mungkin karena itu aku berani.
Menit ke-dua puluh delapan. Kami masih di lantai. Masih di dua sudut. Masih gelap.
“Ga,” kataku.
“Hm.”
“Kamu makan telur berapa sekarang?”
Diam. Lama. Aku pikir dia tidak akan menjawab.
“Dua,” katanya.
“Dipotong berapa?”
Diam lebih lama lagi.
“…Delapan.”
Aku tertawa. Di dalam gelap, di lantai lift yang dingin, dengan maskara yang pasti sudah luntur lagi, aku tertawa sampai perutku sakit. Dua butir telur, dipotong delapan. Potongan kecil-kecil yang tidak masuk akal, untuk orang yang sudah dia minta berhenti datang.
Di sudut lain, aku mendengar suara batuk yang bukan batuk.
Menit ke-empat puluh. Tepat empat puluh. Aku tahu karena dia yang menghitungnya, pelan, di bawah napas, sepanjang sepuluh menit terakhir.
Lampu menyala.
Terang sekali, tiba-tiba, sampai mataku perih. Kipas ventilasi berdengung. Lift tersentak, lalu mulai naik pelan, satu lantai, dan berhenti di lima belas.
Aku melihatnya di sudut lain. Duduk di lantai, kaki ditekuk, tas laptop di pangkuan. Kemejanya kusut. Rambutnya berantakan. Dia menatapku, dan untuk sepersekian detik sebelum dia sempat menyusun kembali wajahnya, aku melihat semuanya. Semua yang dia tahan selama empat puluh menit di dalam gelap.
Lalu wajahnya kembali rata. Dia berdiri, mengulurkan tangan untuk membantuku berdiri, lalu berhenti di tengah jalan, dan menarik tangannya kembali.
Aku berdiri sendiri.
Pintu lift terbuka.
Di lorong lantai lima belas, dua belas orang berdiri berkerumun di depan pintu lift. Mbak Tika di depan, memegang lilin aromaterapi beraroma lavender. Yoga di belakangnya, memegang dua kantong keripik. Cece dengan senter ponsel yang masih menyala dan laptop terbuka di lengannya. Pak Darmawan dengan termos teh. Adit. Dua orang dari finance. Seorang OB dengan lampu emergency. Andre di barisan paling belakang, dengan wajah yang tidak bisa memutuskan apakah dia harus khawatir atau bersorak.
Semuanya menatap kami.
Kami menatap mereka.
“Ibu,” kata Mbak Tika, dengan suara lembut seorang perawat. “Ibu nggak apa-apa?”
“Kenapa kalian semua di sini?”
“Lantai 21 gelap juga, Bu. Terus kami dengar dari satpam, lift tiga macet, isinya dua orang.” Mbak Tika mengangkat lilinnya sedikit lebih tinggi. “Kami turun lewat tangga. Buat… dukungan moral.”
Aku melihat laptop di lengan Cece. Layarnya masih menampilkan grup WhatsApp. Pesan terakhir, dengan huruf kapital semua, dikirim tiga puluh delapan menit yang lalu:
UPDATE: MEREKA BERDUA DI LIFT.
Di bawahnya, empat puluh tiga balasan.
Erga melangkah keluar dari lift. Dia merapikan kemejanya. Dia mengangguk sopan ke dua belas orang di lorong itu, satu per satu, seolah mereka sedang menunggu rapat.
“Terima kasih,” katanya. “Kami nggak apa-apa.”
Lalu dia berjalan ke tangga darurat, dan turun.
Aku melangkah keluar setelahnya. Aku merapikan blazerku. Aku menatap dua belas wajah yang menatapku dengan harapan yang sangat besar.
“Kami ngobrolin kerjaan,” kataku.
Tidak ada yang percaya. Yoga bahkan tidak berusaha pura-pura percaya. Dia membuka satu kantong keripik dan menyodorkannya padaku, seperti memberi hiburan untuk orang yang baru kehilangan sesuatu.
Aku mengambil satu keripik.
Pak Darmawan maju dan menuang teh dari termosnya ke tutup termos, lalu menyodorkannya padaku.
“Diminum, Bu. Teh melati.” Dia berdeham, melirik ke arah pintu tangga darurat yang baru saja tertutup. “Sebenarnya termos ini dari tadi siang. Pak Erga titip ke saya. Katanya Ibu kelihatan kurang tidur. Katanya jangan bilang dari dia.”
Dia berhenti, sadar apa yang baru saja dia lakukan.
“Saya lupa bagian terakhirnya,” tambahnya pelan.
Malam itu, di kamar, aku mengisi daya ponselku. Waktu layarnya menyala, satu pesan masuk dari nomor yang kusimpan sebagai Erga (Zogo). Dikirim pukul 19.24, lima menit setelah pintu lift terbuka.
Charge HP kamu. Jangan pernah pergi ke mana-mana dengan baterai mati lagi.
Hanya itu. Tidak ada salam. Tidak ada emoji.
Aku menatap pesan itu. Aturan nomor tiga: tidak ada tiket. Aturan itu tidak bilang apa-apa soal pesan.
Aku mengetik. Menghapus. Mengetik lagi.
Iya, Pak Erga.
Aku menatap dua kata terakhir itu lama. Lalu aku menghapus Pak. Lalu aku menghapus semuanya. Lalu aku tidak mengirim apa-apa.
Aku berbaring dengan lampu tidur berbentuk bulan menyala di sudut kamar. Aku memikirkan suaranya di dalam gelap. Satu. Dua. Tiga. Empat. Aku memikirkan dua butir telur yang dipotong delapan.
Paused. Bukan Closed.
Aku mulai takut bahwa dari tempatnya berdiri, dua kata itu terdengar sama.
- 1 Server yang Katanya Down
- 2 Seminggu Sebelum Akad
- 3 Pak Architect
- 4 Server Room
- 5 Lima Menit
- 6 Won’t Fix
- 7 Payung
- 8 Tanggal di Undangan
- 9 Oke. Satu-Satu
- 10 Dia yang Pergi Seminggu Sebelum Akad
- 11 Jangan Bilang Mas Raka
- 12 Empat Puluh Menit
- 13 Serbet
- 14 Di Bawah Meja
- 15 Setelah Meja Makan
- 16 Cutover
- 17 Versi Sheila
- 18 Tolong Jauhi Adikku
- 19 Hampir
- 20 Kita Berhenti di Sini
- 21 Lift reading
- 22 Hari Gajian
- 23 Fitting
- 24 Runbook
- 25 Aku yang Nggak Diam
- 26 Sama-Sama Benar
- 27 Satu Jengkal
- 28 H-10
- 29 H-8
- 30 H-7
- 31 Malam yang Sama
- 32 Klub H-7
- 33 Resolved
- 34 Pacar Senior Architect
- 35 Hari Kamis
- 36 Sheila Datang Lagi
- 37 Lima Menit?
- 38 Request: Seumur Hidup
- 39 H-7, Lagi
- 40 Tanpa Tanggal Kadaluarsa
- 41 Epilog 1: Malam yang Tidak Dihitung
- 42 Epilog 2: Pagi Pertama