← Sebut Saja Namanya

Chapter Nine

Hipotesis

POV: Fakhri


Dia butuh waktu lama untuk menjawab, dan aku membiarkannya.

Aku sudah menyiapkan diri untuk kemungkinan bahwa dia tidak akan menjawab sama sekali. Itu tidak apa-apa. Aku sudah menunggu dua tahun untuk bertanya; aku bisa menunggu lebih lama lagi untuk tidak dijawab.

Kepalanya masih di bahuku. Lampu meja kuning menyala di ujung ruangan.

“Karena aula kosong itu enak,” katanya akhirnya.

“Oh.”

“Serius. Nggak ada orang. Nggak ada yang manggil. Nggak ada yang minta foto.” Dia menggeser posisinya sedikit. “Kamu tahu nggak, dalam sehari, berapa kali orang manggil namaku di kampus?”

“Nggak.”

“Aku juga nggak. Aku berhenti ngitung semester lalu di angka empat puluh sesuatu, terus aku jadi sedih, jadi aku berhenti.”

Aku tidak berkata apa-apa.

“Jadi ya,” katanya. “Aula kosong. Itu aja.”

Aku mengangguk sekali, pelan, supaya kepalanya tidak terguncang.

Aku tahu itu bukan jawabannya. Bukan karena aku pintar membaca orang — aku tidak pintar membaca orang, aku cuma pintar mendengar. Dan yang kudengar adalah bahwa dia menjawab dengan kecepatan penuh, tanpa satu pun jeda, seperti orang yang membaca sesuatu yang sudah ditulis sebelumnya.

Orang tidak menyiapkan jawaban untuk pertanyaan yang tidak penting.

Tapi aku tidak menanyakannya lagi, karena memaksa jawaban keluar dari orang adalah bentuk lain dari menendang kabel: kelihatannya cepat, hasilnya rusak.

Jadi kami duduk di ruangan tiga meter kali empat itu sampai satpam datang mengunci gedung, dan aku mengantarnya ke gerbang, dan dia memakai jaketku, dan aku pulang dengan lengan pendek di jalan yang dingin.


Aku pulang jam sebelas malam dan tidak langsung tidur.

Aku duduk di kos dengan jaket abu-abu yang basah di gantungan, dan aku memikirkan kalimat itu: aula kosong itu enak.

Aku memutar ulang ingatan yang kusimpan tentang dua tahun terakhir, satu per satu, dengan cara yang sama seperti aku memutar ulang rekaman untuk mencari klik kecil yang salah.

Dia datang jam tiga. Selalu.

Dia duduk di kursi barisan keempat. Selalu barisan keempat, tidak pernah kelima, tidak pernah ketiga.

Dia bertanya tentang alat. Sering. Terlalu sering untuk orang yang tidak peduli pada alat.

Dan setiap kali ada panitia lain masuk ke aula, dia berdiri, dan wajahnya berubah menjadi wajah yang dipakai di poster, dan dia tidak duduk lagi sampai orang itu pergi.

Aku berhenti di titik itu dan menutup ingatan itu seperti orang menutup panel yang tidak seharusnya dibuka tanpa mematikan arus dulu.

Aku sudah bilang alasannya. Pertanyaan semacam itu, kalau dibiarkan hidup, akan makan.

Hari Sabtu, pukul dua siang, di kantin belakang.

Yoga berdiri.

“Duduk, Yog.”

“Aku nggak bisa nyampein ini sambil duduk.”

Fikri menyandarkan punggungnya. Di meja itu ada aku, Fikri, Yoga, dan dua orang lain dari kelas yang entah kenapa ikut — Deni dan seorang anak bernama Rio yang tidak pernah bicara dan hari itu juga tidak bicara.

Yoga meletakkan buku tulisnya di meja dan membukanya.

“Selamat siang,” katanya. “Terima kasih sudah hadir.”

“Kita emang makan di sini tiap Sabtu.”

“Terima kasih sudah hadir.” Dia membalik halaman. “Selama sebelas hari terakhir, saya melakukan pengamatan lapangan terhadap fenomena yang kita sebut sebagai Peristiwa Lorong.”

Deni tertawa dan langsung ditatap.

“Deni, ini serius. Ada tujuh hipotesis. Saya akan bacakan semua, lalu kita eliminasi bersama-sama.”

Aku menyeruput es tehku. Aku sudah memutuskan sejak semalam bahwa aku tidak akan melawan apa pun hari ini, karena melawan Yoga sama seperti melawan hujan.

“Hipotesis satu,” bacanya. “Taruhan.”

“Udah kamu coret minggu lalu.”

“Saya coret, lalu saya kembalikan, karena saya menemukan bukti baru: Anggun ikut lomba debat semester lalu dan kalah. Orang yang kalah debat itu punya kecenderungan mengambil risiko.”

“Yog, itu bukan bukti. Itu fitnah dengan bahasa yang bagus.”

“Hipotesis dua,” lanjut Yoga tanpa terganggu. “Fakhri punya rahasia Anggun.”

Semua kepala menoleh ke arahku.

“Nggak,” kataku.

“Bang, kalau iya kan kamu juga bakal bilang nggak.”

“Iya.”

“Nah.”

“Yoga,” kata Fikri.

“Hipotesis tiga. Konten.”

“Kontennya udah dua minggu, Yog. Mana konten yang dua minggu nggak keluar-keluar.”

“Konten panjang.”

“Itu namanya hidup.”

“Hipotesis empat.” Yoga mengangkat tangannya untuk meminta ketenangan yang tidak ada. “Anggun sedang dalam masalah dan butuh perlindungan sosial.”

Meja itu diam sebentar.

“Itu... agak masuk akal,” kata Deni.

“Terima kasih, Deni. Kamu satu-satunya di meja ini yang punya otak.” Yoga membalik halaman. “Bukti pendukung: Peristiwa Lorong terjadi tepat waktu Radit Wicaksana sedang berdiri di sana bawa tas kertas. Bukti pendukung kedua: sejak kejadian itu, Radit nggak pernah lagi muncul di dekat Anggun. Bukti pendukung ketiga—”

“Kamu ngumpulin ini semua sendiri?”

“Saya punya waktu luang yang sangat banyak dan tidak ada kehidupan romantis, Fikri. Ini penyaluran yang sehat.”

Aku memutar tutup botolku dan tidak berkata apa-apa. Empat sudah cukup dekat, sebenarnya. Cukup dekat sampai aku harus memaksa wajahku tetap berada di posisi netral, yang mudah, karena itu memang posisi standarnya.

Yang membuatku tidak nyaman bukan ketepatannya.

Yang membuatku tidak nyaman adalah bahwa Yoga menyebutnya sebagai hipotesis yang tidak menyenangkan, dan menempatkannya di nomor empat dari tujuh, dan tidak seorang pun di meja itu — termasuk aku — merasa perlu membantahnya.

Kalau hipotesis empat benar, maka semua yang terjadi selama tiga minggu ini punya nama yang sangat pendek: aku sedang dipakai.

Aku sudah tahu itu sejak hari pertama. Aku menandatanganinya. Ada kertas rundown yang dilipat delapan di dalam tas seseorang dengan tanda tanganku yang bisa dibaca.

Yang tidak kutandatangani adalah bagian di mana aku mulai keberatan.

“Hipotesis lima. Fakhri menang undian.”

“Undian apa?”

“Nggak tahu. Saya cuma merasa dunia ini punya mekanisme yang belum kita pahami.”

“Hipotesis lima itu bukan hipotesis, Yog. Itu doa.”

“Hipotesis lima tetap dicatat.”

“Kamu nulis ‘undian’ di buku.”

“Saya nulis ‘undian atau mekanisme kosmik lain yang belum terdokumentasi’.”

Deni menggebrak meja pelan. “Aku dukung lima.”

“Terima kasih, Deni.”

“Aku nggak dukung isinya. Aku dukung semangatnya.”

“Hipotesis enam?”

Yoga menurunkan bukunya sedikit dan melihatku dari atas halaman.

“Hipotesis enam,” katanya, “Fakhri sebenarnya kaya.”

Es teh masuk ke tenggorokanku dengan cara yang salah.

“Bang, jujur aja.” Yoga menunjuk dengan pulpennya. “Kamu itu punya alat sendiri. Alat itu mahal. Kamu kerja di studio. Kamu nggak pernah ikut patungan bensin tapi kamu selalu bayar duluan kalau kita makan. Dan kamu nggak pernah ngeluh soal duit sekali pun dalam tiga tahun.”

“Aku ngeluh.”

“Kapan?”

“Bulan lalu. Soal harga kabel.”

“Itu bukan ngeluh, itu review produk.”

Fikri menutup wajahnya dengan telapak tangan.


“Hipotesis tujuh,” kata Yoga.

Dia menutup bukunya. Dia benar-benar menutup bukunya, dan menaruhnya di meja, dan bersandar seperti orang yang akan menyampaikan sesuatu yang tidak perlu dicatat karena akan diingat semua orang seumur hidup.

“Anggun yang suka duluan,” katanya. “Udah lama. Dari sebelum kejadian di lorong.”

Ada satu setengah detik hening di meja itu.

Lalu Deni mulai tertawa, dan Rio — Rio yang tidak pernah bicara — mengeluarkan suara seperti klakson, dan Fikri menggeleng-geleng sambil tersenyum, dan Yoga sendiri ikut tertawa paling keras, sampai harus memegang meja.

“Nggak mungkin!” katanya di sela tawanya. “Nggak mungkin banget! Aku nulisnya aja sambil ketawa!”

“Terus kenapa ditulis?”

“Karena metodologi! Semua kemungkinan harus dicatat, Fik! Termasuk yang absurd!”

“Yog, itu Anggun Prameswari.”

“AKU TAHU.”

“Itu orang yang fotonya ada di spanduk depan gerbang.”

“AKU TAHU, FIKRI.”

Deni mengelap matanya. “Sori Bang Fakhri, bukan maksudnya gimana-gimana—”

“Nggak apa-apa.”

“—maksudnya kan kamu juga baru sebulan ini kelihatan.”

“Iya.”

“Nah, kan. Nggak mungkin dari sebelum-sebelumnya.”

“Sori Bang, aku bukan ngeledek kamu,” kata Deni sambil masih mengelap matanya. “Aku ngeledek konsepnya.”

“Iya.”

“Kayak, secara logika kan gini.” Deni mulai menghitung dengan jari, sangat serius, seperti orang yang sedang menjelaskan hal yang sudah jelas. “Kalau dia suka duluan, berarti dia udah suka dari dulu. Kalau dia udah suka dari dulu, berarti dia punya dua tahun buat ngelakuin sesuatu. Kalau dia punya dua tahun dan nggak ngelakuin apa-apa—”

“Ya berarti nggak suka,” sambung Yoga.

“NAH.”

“Logikanya sempurna,” kata Yoga. “Hipotesis tujuh dicoret.”

Dia mencoretnya. Benar-benar mencoretnya, dengan pulpen, dua garis, di depan lima saksi.

Aku minum es tehku.

Yang perlu kucatat di sini, supaya tidak ada yang salah paham nanti: aku juga tidak percaya. Aku ingin sekali menulis bahwa ada bagian dari diriku yang berharap, atau bagian yang diam-diam bertanya-tanya, atau bagian yang menyimpan hipotesis ketujuh itu di saku dan mengeluarkannya nanti malam untuk dibaca ulang.

Tidak ada.

Aku sudah lama sekali berhenti mengajukan pertanyaan semacam itu kepada diriku sendiri, karena pertanyaan semacam itu punya sifat yang berbahaya: kalau kamu biarkan hidup, dia akan makan.

Jadi aku tertawa bersama mereka. Sekali, pendek, tapi tertawa.

Dan Yoga langsung berhenti tertawa dan menunjukku dengan pulpennya.

“Nah itu.”

“Apa.”

“Kamu barusan ketawa.”

“Ya terus?”

“Bang,” kata Yoga, dan untuk pertama kalinya sepanjang siang itu nadanya benar-benar serius, “kamu nggak pernah ketawa buat hal yang nggak lucu.”

Fikri mendongak.

Aku menaruh botolku.

“Es tehnya udah abis,” kataku. “Aku balik duluan.”


Fikri menyusulku di parkiran.

Dia tidak bilang apa-apa selama beberapa detik, cuma berdiri di sebelah motorku sambil memutar kunci motornya sendiri di jari.

“Bang.”

“Hm.”

“Yoga nggak bermaksud jelek.”

“Aku tahu.”

“Dia takut kamu kenapa-kenapa.”

“Aku tahu.”

Fikri mengangguk. Lalu, dengan nada orang yang menyebutkan cuaca:

“Aku nggak takut kamu kenapa-kenapa. Aku takut kamu udah kenapa-kenapa dari lama dan nggak ada yang tahu.”

Aku menatapnya.

Fikri memakai helmnya, menyalakan motornya, dan pergi tanpa menunggu jawaban, karena dia satu-satunya orang di lingkaran ini yang tahu bahwa pertanyaan yang bagus tidak butuh dijawab di tempat.

Aku berjalan ke parkiran, dan aku memikirkan hipotesis ketujuh itu selama persis empat puluh langkah.

Aku menghitungnya. Aku selalu menghitung sesuatu.

Di langkah keempat puluh satu, aku membuangnya, dengan cara yang sama seperti aku membuang semua pikiran yang tidak berguna: aku menggantinya dengan pekerjaan. Kabel snake perlu diganti klemnya. Baterai mic nomor empat sudah lemah. Rundown malam puncak belum turun dari sekretariat.

Itu berhasil, seperti biasa.

Hanya saja, di dekat motorku, ponselku bergetar.

Anggun: darurat
Anggun: sasa minta ketemu
Anggun: dia bilang “aku mau liat kalian berdua di luar kampus”
Anggun: fakhri dia mau observasi kita

Aku berdiri di parkiran dan mengetik.

Fakhri: kapan
Anggun: besok. jam 3. cafe deket gerbang belakang
Anggun: dan satu lagi

Layarnya menunjukkan “mengetik” cukup lama.

Anggun: kita harus punya foto berdua. minimal satu.
Anggun: dalam 4 bulan terakhir kita nggak punya satu pun foto dan sasa udah nyadar

Aku memasukkan kunci ke motor dan tidak langsung menyalakannya.

Empat bulan. Angka yang kukarang di kantin, di hari pertama, karena Anggun membuka mulut dan tidak ada apa-apa di dalamnya dan seseorang harus mengisi keheningan itu.

Aku memberi kami sebuah masa lalu selama satu setengah detik, tanpa berpikir, dan sekarang masa lalu itu punya lubang, dan lubangnya berbentuk persis seperti semua foto yang tidak pernah ada.

Fakhri: oke
Fakhri: besok jam 3