← Sebut Saja Namanya

Chapter Three

Empat Puluh Tiga Hari

POV: Fakhri


Ruang alat itu sebenarnya bekas gudang. Tiga meter kali empat, rak besi di dua sisi, satu meja panjang yang permukaannya sudah berlubang di tiga tempat karena orang suka menaruh solder langsung di atasnya. Baunya campuran debu, karet kabel, dan kopi instan yang tidak pernah benar-benar bersih dari gelasnya.

Ini ruangan favoritku di kampus. Aku tidak pernah membayangkan akan berdiri di dalamnya berdua dengan Anggun Prameswari.

Dia menyandarkan punggungnya ke pintu, memejamkan mata satu detik, lalu membuka mata dan langsung bicara dengan kecepatan penuh.

“Oke. Satu, aku minta maaf. Dua, aku beneran minta maaf, itu bukan basa-basi. Tiga, aku tahu ini gila. Empat—”

“Anggun.”

“—empat, aku butuh kamu nggak bilang apa-apa ke siapa pun sampai kita ngobrol, yang mana sekarang, jadi lima—”

“Anggun.”

Dia berhenti. Menarik napas. “Iya?”

Aku menurunkan koper alat ke lantai, pelan, supaya tidak ada yang berbunyi.

“Duduk dulu.”

Dia melihat sekeliling ruangan, lalu duduk di satu-satunya kursi yang ada, yaitu kursi plastik yang salah satu kakinya kuganjal dengan potongan triplek. Aku bersandar di rak besi di seberangnya. Jaraknya kira-kira satu setengah meter. Aku memperhatikan jarak itu dengan cara yang tidak sehat.

“Berapa lama?” tanyaku.

“Hah?”

“Kamu mau ini berapa lama.”

Dia mengerjap. “Kamu... nggak nanya kenapa dulu?”

“Nggak perlu.”

“Kenapa nggak perlu?”

“Aku ada di lorong itu.”

Dia diam. Sesuatu di wajahnya berubah sedikit — bukan lega, lebih seperti orang yang sudah menyiapkan tiga paragraf pembelaan lalu diberi tahu bahwa sidangnya dibatalkan.

“Satu bulan,” katanya akhirnya. “Sampai acara puncak selesai, terus ada rangkaian penutupan, terus—” dia menghitung dengan jari, cepat, “—empat puluh tiga hari. Habis itu semester tinggal sisa dikit, orang udah sibuk skripsi, nggak ada yang peduli lagi.”

“Empat puluh tiga hari.”

“Iya.”

Aku memindahkan gulungan kabel dari bahu ke rak. Ada botol air mineral di meja, sisa gladi, masih tersegel. Aku mendorongnya ke arahnya karena dia bicara terus sejak lorong tadi dan suaranya sudah mulai serak di ujung kalimat.

Dia melihat botol itu. Tidak menyentuhnya. Melihat aku.

“Oke,” kataku.

“Oke?”

“Oke.”

Dia berdiri dari kursi. Duduk lagi. Berdiri lagi.

“Fakhri, kamu nggak boleh bilang oke secepat itu.”

“Kenapa?”

“Karena aku udah nyiapin argumen! Aku punya tiga alasan kenapa ini menguntungkan kamu juga dan dua di antaranya bohong tapi yang satu lumayan bagus!”

“Simpan yang bagus.”

“Ya nggak bisa dipakai kalau kamunya udah setuju!”

Aku hampir tersenyum. Aku menahannya dengan cara memutar tutup botol air mineral yang sudah tertutup.

“Kenapa kamu mau?” tanyanya.

Dan di sinilah aku berbohong untuk pertama kalinya dalam urusan ini.

Aku bisa saja diam. Diam adalah keahlianku. Tapi orang yang diam pada pertanyaan itu akan terlihat seperti orang yang punya alasan, dan aku tidak boleh terlihat punya alasan, karena aku punya, dan alasannya sudah dua tahun umurnya dan tinggal di dalam gulungan lakban biru di kantong depan koperku.

“Empat puluh tiga hari itu ada tujuh acara,” kataku. “Semuanya di gedung ini. Semuanya aku yang pegang.”

Dia mengernyit. “Terus?”

“Kalau kamu ditolak-tolak orang di lorong belakang tiap habis gladi, gladinya molor. Kalau gladinya molor, aku pulang jam sebelas.”

Anggun menatapku selama tiga detik penuh.

Lalu dia tertawa. Bukan tawa MC-nya — bukan yang bulat dan terlatih itu. Yang ini pecah di tengah, agak keras, dan dia langsung menutup mulutnya dengan punggung tangan seperti orang yang malu pada suaranya sendiri.

“Jadi kamu setuju pacaran bohongan sama aku,” katanya, “biar bisa pulang cepat.”

“Iya.”

“Fakhri Wirawan, itu alasan paling nggak romantis yang pernah aku dengar seumur hidup.”

“Bagus. Berarti kedengarannya jujur.”

Dia berhenti tertawa. Menatapku lagi, agak lama, dengan kepala sedikit miring, dan untuk satu detik yang tidak nyaman aku merasa seperti kabel yang sedang diperiksa dari ujung ke ujung.

“Iya,” katanya pelan. “Kedengarannya jujur.”


Kami menulis aturannya di balik lembar rundown gladi yang sudah tidak terpakai. Dia yang memegang pulpen. Tulisannya besar-besar dan miring ke kanan.

“Satu,” katanya sambil menulis. “Batas waktu: empat puluh tiga hari. Nggak diperpanjang.”

“Setuju.”

“Dua. Nggak ada yang boleh tahu. Nol orang.”

“Yoga sama Fikri akan tahu.”

Dia mendongak. “Kok bisa?”

“Karena mereka akan nanya, dan aku nggak bisa bohong ke orang yang tiap hari makan siang di depanku.”

“Ya kan bisa—”

“Nggak bisa.”

Dia mendesah dan menulis. “Dua. Nggak ada yang boleh tahu, kecuali dua orang bermasalah milik Fakhri.”

“Sasa juga akan tahu.”

“SASA NGGAK BOLEH TAHU.” Dia menunjuk pulpennya ke arahku. “Sasa itu bukan manusia, Sasa itu lembaga. Kalau Sasa tahu, satu fakultas tahu dalam empat jam.”

“Oke.”

“Tiga.” Dia menunduk lagi. Pulpennya berhenti sebentar sebelum menulis. “Kalau ada orang, kita harus kelihatan beneran.”

Aku tidak menjawab.

“Bukan yang aneh-aneh,” katanya cepat, masih menunduk. “Maksudku standar aja. Jalan bareng. Duduk bareng. Kadang... ya, pegangan tangan. Karena kalau kita cuma jalan berdampingan kayak dua orang yang lagi ngantre bank, Sasa bakal tahu dalam dua hari.”

“Oke.”

“Empat,” katanya. “Kalau ada yang nanya hal spesifik, jawabannya harus sama. Jadi kita perlu... apa ya. Sejarah.”

“Sejarah.”

“Iya. Kayak, pertama kali ngobrol di mana. Siapa yang duluan. Hal-hal gitu.”

“Ruang alat,” kataku. “Semester tiga. Kamu nanya kenapa mic-nya dengung kalau dipegang di atas.”

Pulpennya berhenti.

“Kamu inget?”

“Itu pertanyaan bagus. Jarang ada yang nanya.”

Dia menunduk lagi dan menulis sesuatu yang jauh lebih panjang dari yang kuucapkan.

“Lima,” katanya, dan suaranya sudah kembali ke kecepatan normal, “kalau salah satu dari kita mau berhenti, tinggal bilang. Nggak usah alasan. Langsung selesai.”

“Setuju.”

“Enam.” Dia mengetuk pulpennya ke meja dua kali. “Habis empat puluh tiga hari, kita nggak usah bahas ini lagi. Selamanya. Kayak nggak pernah kejadian.”

Aku diam agak lama sebelum menjawab yang itu.

“Setuju.”

“Dan kalau aku ngelakuin sesuatu, kamu jangan kaget.”

“Oke.”

“Beneran jangan kaget. Muka kamu itu jelek banget kalau kaget.”

“Aku nggak pernah lihat mukaku kaget.”

“Aku pernah. Waktu mixer mati tahun lalu.” Dia menulis poin ketiga dengan huruf yang lebih kecil dari dua poin sebelumnya. “Pokoknya, itu semua bukan apa-apa. Itu cuma... biar nggak ketahuan.”

Ruangan itu tiga meter kali empat dan tiba-tiba terasa lebih kecil dari itu.

“Iya,” kataku.

Dia mengangkat kepala. Kami saling pandang kira-kira satu setengah detik, yang mana adalah durasi yang persis sama dengan keheningan di lorong tadi, dan aku tahu itu karena aku menghitung dua-duanya, karena menghitung adalah satu-satunya hal yang bisa kulakukan dengan tanganku saat ini.

Dia menyodorkan kertas rundown itu ke arahku. “Tanda tangan.”

“Ini bukan dokumen hukum.”

“Aku tahu.”

“Nggak ada kekuatan mengikatnya.”

“Fakhri, aku bukan lagi ngurus perdata. Aku lagi butuh kamu nulis nama kamu di kertas biar aku bisa tidur malam ini.”

“Tanda tangan, Fakhri.”

Aku tanda tangan. Dia melipat kertasnya jadi delapan dan memasukkannya ke dalam kantong dalam tasnya, ke tempat yang biasanya orang pakai untuk menyimpan kartu identitas.


“Satu lagi.” Dia berdiri dan menghadapku. “Coba pegangan tangan sekarang.”

Aku menatapnya.

“Kenapa mukamu gitu?”

“Nggak gimana-gimana.”

“Fakhri, besok itu kantin. Kalau kita baru pegangan tangan pertama kali di depan empat ratus orang, mukamu bakal kayak orang kesetrum, dan Sasa bakal langsung tahu.” Dia mengulurkan tangan kanannya, telapak ke atas, seperti orang yang menagih kunci. “Jadi sekarang. Biar besok udah biasa.”

Aku berdiri dari rak.

Ruang alat itu tiga meter kali empat. Aku sudah bilang itu. Yang belum kubilang adalah bahwa lampunya cuma satu, neon panjang di tengah, dan cahayanya jatuh lurus ke bawah sehingga semua orang di ruangan ini selalu terlihat sedikit lebih pucat dari aslinya.

Anggun tidak terlihat lebih pucat. Anggun terlihat seperti seseorang yang salah ditempatkan di ruangan berdebu ini, dan sedang berdiri di sana dengan telapak tangan terbuka, menunggu.

Aku menaruh tanganku di atas tangannya.

Jari-jarinya menutup. Cepat, tanpa ragu, seperti orang yang sudah berlatih di dalam kepalanya.

Tidak ada yang bicara selama beberapa detik.

Tanganku diam. Sepenuhnya diam. Aku menyadari itu dengan sangat jelas, karena tanganku tidak pernah diam — tanganku selalu sedang menggulung, memutar, mengetuk sesuatu. Sekarang tidak.

“Udah,” katanya. Suaranya keluar setengah oktaf lebih tinggi dari biasanya, dan dia langsung berdeham. “Udah. Bagus. Nggak canggung, kan?”

“Nggak.”

“Nggak sama sekali.”

“Nggak sama sekali.”

Kami masih berpegangan.

Anggun melepaskan tangannya, berbalik ke tasnya, dan mengaduk-aduk isinya mencari sesuatu yang jelas-jelas tidak ada.

“Nomor kamu berapa?”

Aku menyebutkannya. Dia mengetik, lalu ponselku bergetar di saku, dan aku menyimpan namanya apa adanya: Anggun.

Dia melihat layar ponselnya sendiri agak lama.

“Kenapa?”

“Nggak.” Dia memiringkan ponselnya menjauh dari arahku, mengetik sesuatu, lalu mengunci layarnya dan memasukkannya ke saku dengan gerakan yang jauh lebih cepat dari yang dibutuhkan. “Nggak kenapa-kenapa.”

“Orang tuamu gimana?” tanyanya tiba-tiba. “Kalau sampai kedengeran.”

“Nggak akan kedengeran. Mereka di Semarang.”

“Kalau kedengeran?”

“Ibuku akan senang,” kataku. “Terus empat puluh tiga hari lagi dia akan sedih.”

Anggun menatap layar ponselnya, lalu ke lantai.

“Maaf,” katanya, dan kali ini jauh lebih pelan dari semua maaf yang sudah dia ucapkan malam ini.

“Nggak usah. Aku yang setuju.”

“Kamu setuju karena mau pulang cepat.”

“Iya.”

“Kamu nggak akan pulang cepat, Fakhri. Kamu bakal pulang jauh lebih malam.”

“Kelihatannya begitu.”

“Kamu nyimpen namaku apa?”

“Bukan urusanmu.”

“Oke.”

“Bagus.” Dia berdiri, merapikan tasnya, dan berhenti tepat di depan pintu dengan tangan di gagangnya. Lalu dia menoleh, dan ada sesuatu di ekspresinya yang membuatku menyadari bahwa dia sudah menyiapkan kalimat ini dari tadi, jauh lebih lama dari kalimat-kalimat lainnya.

“Fakhri.”

“Hm.”

“Besok, kantin fakultas. Jam satu.”

Aku memproses itu selama dua detik.

Kantin fakultas jam satu adalah jam paling ramai dalam sehari. Semua kelas pagi selesai. Semua kelas siang belum mulai. Empat ratus orang di satu ruangan terbuka dengan pencahayaan yang sangat, sangat terang.

Dua tahun aku bekerja di gedung ini dan tidak ada satu pun orang yang tahu namaku.

“Kenapa harus kantin,” kataku.

Anggun tersenyum. Yang kiri lebih dalam.

“Karena kalau nggak ada yang lihat,” katanya, “ya nggak ada gunanya.”

Pintu tertutup. Aku berdiri sendirian di ruang alat selama kira-kira satu menit penuh, memegang botol air mineral yang tutupnya sudah kuputar entah berapa kali.

Ponselku bergetar. Lalu bergetar lagi. Lalu berhenti berpura-pura dan mulai bergetar terus-menerus.

Yoga: BANG
Yoga: BANG ANGKAT
Yoga: BANG AKU DENGER SESUATU DARI ANAK PANITIA KONSUMSI
Yoga: BANG DEMI APAPUN ANGKAT
Fikri: Yog dia lagi beres-beres alat
Yoga: FIKRI INI BUKAN WAKTUNYA JADI ORANG WARAS
Yoga: BANG. SATU KATA AJA. IYA ATAU BOHONG
Yoga: BANG???

Aku mengetik satu kata dan mengirimnya.

Fakhri: iya

Layarnya menunjukkan “mengetik...” selama hampir setengah menit, berhenti, mulai lagi, berhenti lagi. Aku bisa membayangkan Yoga di kos, berjalan bolak-balik, menghapus dan menulis ulang.

Yoga: aku butuh waktu
Yoga: jangan hubungi aku sampai besok

Aku memasukkan ponsel ke saku.

Lalu aku menunduk, membuka kantong depan koper, dan melihat gulungan lakban biru itu tergeletak di sana seperti biasa.

Mic nomor tujuh sudah kembali ke kardus inventaris. Besok pagi, seseorang dari panitia akan mengambilnya, dan sore nanti mic itu akan kembali ke tanganku, dan aku akan menyerahkannya ke Anggun tanpa perlu melihat, karena aku bisa menemukannya dalam gelap.

Dua tahun aku melakukan itu tanpa ada yang bertanya.

Empat puluh tiga hari lagi, semuanya akan kembali persis seperti semula, dan itu justru hal yang paling masuk akal dari seluruh malam ini.

Aku menutup koper dan pulang.