Chapter Fifteen
Dua Tahun
POV: Anggun
Aku sampai di gerbang belakang jam sebelas lewat tiga puluh dan Pak Har melihatku seperti orang melihat jadwal kereta yang sudah dia hafal.
“Baru dateng, Mbak?”
“Iya, Pak.”
“Mas Fakhri di ruang alat. Saya kunci gedung jam dua belas ya.”
Dia bahkan tidak bertanya kenapa aku datang jam sebelas malam ke kampus yang sudah tutup. Dua tahun. Aku baru sadar berapa banyak orang yang sudah tahu hal-hal tentangku yang tidak pernah kuucapkan.
Aku berjalan lewat koridor yang gelap. Cuma satu lampu yang menyala di ujung.
Aku sudah menyiapkan kalimat pembuka sepanjang perjalanan, dan ini kali ketiga aku menyiapkan kalimat pembuka untuk orang ini, dan dua kali sebelumnya semuanya kubuang di detik terakhir.
Pintu ruang alat setengah terbuka. Cahaya neon jatuh miring ke lantai koridor.
Dia sedang menurunkan kotak dari rak dan berhenti dengan kotak itu masih di tangan.
“Anggun.”
“Hai.”
Dia menaruh kotaknya. Pelan.
“Kamu—”
“Aku mau ngomong,” kataku. “Dan aku minta kamu diem dulu sampai selesai, karena kalau kamu ngomong di tengah, aku bakal berhenti dan pulang.”
Dia menutup mulutnya dan mengangguk satu kali.
Aku berdiri di ambang pintu karena aku tidak berani masuk terlalu jauh.
“Semester tiga,” kataku. “Bulan Oktober. Kelasku dibatalin dan aku punya empat jam kosong dan aku nggak punya tempat buat naruh empat jam itu, jadi aku ke aula.”
Aku menarik napas.
“Kamu lagi ngetes mic. Kamu bilang ‘satu, dua’ terus-terusan dan aku nanya kenapa nggak sampai sepuluh, dan kamu bilang yang diuji cuma bunyi S sama D.”
Tangannya di sisi tubuh. Tidak bergerak.
“Terus aku duduk di kursi barisan keempat, dan kamu kerja selama empat puluh menit, dan kamu nggak nanya siapa aku. Kamu nggak berdiri lebih tegak. Kamu nggak ngubah apa pun.” Suaraku mulai tidak stabil dan aku memutuskan untuk tidak peduli. “Fakhri, kamu nggak tahu rasanya. Semua orang ngubah sesuatu. Semua orang. Waktu aku masuk ruangan, ada yang jadi lebih sopan, ada yang jadi lebih berisik, ada yang tiba-tiba benerin rambutnya. Selama dua tahun aku nggak pernah masuk satu ruangan pun tanpa ngerusak ruangan itu.”
Aku menelan.
“Terus ada satu orang yang nggak.”
Neon di atas kepalanya berdengung.
“Minggu depannya aku dateng jam tiga lagi. Aku bilang ke Sasa itu karena macet. Aku bilang ke panitia itu karena mau cek panggung. Aku bilang ke diri sendiri itu karena aku suka aula yang kosong.” Aku tertawa satu kali, pendek, dan bunyinya jelek. “Dua tahun, Fakhri. Empat puluh tiga acara. Aku dateng jam tiga empat puluh tiga kali dan aku nyusun alasan yang beda-beda tiap kali dan nggak sekali pun aku ngizinin diriku nyelesaiin kalimat tentang kenapa.”
“Anggun—”
“Aku belum selesai.”
Dia diam.
“Malam di lorong itu,” kataku. “Ada dua belas orang. Empat cowok yang aku tahu namanya. Radit tepat di depanku. Dan otakku nyari nama.”
Aku menatap lantai.
“Aku nyebut nama kamu duluan. Baru tanganku gerak.”
Ruangan tiga meter kali empat itu diam sekitar tiga detik penuh.
“Dan aku tahu itu jahat,” kataku. “Aku mau bilang itu juga, sekalian, biar selesai.”
“Anggun—”
“Aku make kamu, Fakhri. Itu yang kejadian. Aku butuh nama dan aku ambil punya kamu tanpa nanya, di depan dua belas orang, dan setelah itu aku bikin kamu bohong ke Sasa, dan aku bikin kamu berdiri di kantin jam satu siang di depan empat ratus orang yang selama dua tahun nggak pernah tahu nama kamu.”
Aku mengusap mataku dengan punggung tangan, marah pada mataku sendiri.
“Dan orang-orang ngomongin kamu. Kamu tahu, kan? Aku tahu kamu tahu, kamu denger semuanya. Mereka bilang kamu bakal dibuang. Mereka bilang kasihan. Ada yang bilang aku lagi ngangkat orang.”
Tangannya bergerak sedikit di sisi tubuh, lalu diam lagi.
“Dan tiap kali ada yang ngomong gitu, aku marah, dan aku nggak boleh marah, karena orang yang marah segitu buat pacar bohongan bukan orang yang punya pacar bohongan.” Aku tertawa lagi, dan bunyinya lebih jelek dari yang pertama. “Jadi aku diem. Tiga minggu. Dan sekarang aku capek banget diem.”
“Aku tahu semua alasan yang aku pakai itu bohong,” lanjutku, karena kalau aku berhenti sekarang aku tidak akan bisa mulai lagi. “Kantin nggak ramai. Aku nggak ngantuk. Payungnya ada di tasku, kering, dan kamu udah lihat, dan kamu nggak bilang apa-apa. Dan CCTV-nya mati dari tahun lalu dan kamu tahu itu, dan kamu tetep nunduk.”
Aku mengangkat kepala.
“Kamu tahu semuanya dari awal, dan kamu diem, dan kamu ngasih aku alasan terus-terusan kayak orang ngasih payung ke orang yang nggak mau ngaku lagi kehujanan.”
Napasku pendek-pendek sekarang.
“Jadi aku ke sini buat bilang: aku bukan lagi butuh pacar bohongan. Aku udah nggak butuh dari lama. Aku cuma nggak punya cara lain buat berdiri di deket kamu tanpa keliatan kayak orang gila, karena selama dua tahun kita nggak punya satu pun alasan buat ngobrol selain mic sama kabel.”
Aku berhenti.
“Udah. Itu aja.”
Fakhri berdiri di tengah ruangan itu dengan kotak inventaris di kakinya.
Dan lalu dia melakukan hal yang paling tidak kuduga dari semua kemungkinan yang sudah kususun sepanjang perjalanan.
Dia menunduk, membuka kantong depan koper alat, dan mengambil sesuatu.
Gulungan lakban biru.
Dia menaruhnya di meja panjang, di antara kami, seperti orang meletakkan barang bukti.
“Ini,” katanya.
“...Lakban?”
“Mic-nya dua belas. Semuanya sama.” Dia menatap gulungan itu, bukan menatapku. “Aku nandain satu.”
“Iya, kamu udah bilang. Biar nggak ketukar.”
“Anggun.” Dia mengangkat kepalanya. “Cuma satu yang ditandain.”
Aku membuka mulut.
Lalu aku menutupnya.
Dua belas mic. Semuanya sama. Kalau kamu ingin memastikan mic tidak tertukar, kamu menandai dua belasnya. Nomor satu sampai dua belas. Itu yang dilakukan orang normal.
Kamu tidak menandai satu.
Kamu menandai satu kalau yang ingin kamu temukan cuma satu.
“Sejak kapan?” tanyaku, dan suaraku hampir tidak keluar.
“Semester tiga.”
“Fakhri.”
“Bulan Oktober.”
Dan aku berdiri di ambang pintu ruang alat jam sebelas lewat empat puluh lima malam, di gedung yang akan dikunci lima belas menit lagi, dan aku menangis dengan cara yang sangat tidak elegan di depan orang yang selama dua tahun memastikan suaraku terdengar sampai ke kursi paling belakang.
“Kenapa kamu nggak pernah bilang?” tanyaku.
“Karena nggak perlu.”
“Nggak perlu gimana—”
“Anggun.” Dia mengambil dua langkah dan berhenti tepat di depanku. “Kalau aku bilang, kamu harus jawab. Kalau kamu jawab nggak, kamu bakal berhenti dateng jam tiga.”
Aku menatapnya.
“Jadi kamu diem dua tahun,” kataku, “biar aku tetep dateng.”
“Iya.”
“Itu—” Suaraku pecah lagi. “Fakhri, itu keputusan paling bodoh yang pernah aku denger seumur hidup.”
“Iya.”
“Dua tahun.”
“Iya.”
“Dua tahun aku dateng ke aula kosong tiap jam tiga—”
“Aku tahu.”
“—dan kamu ada di situ tiap kali—”
“Iya.”
“—dan kita berdua diem.”
“Iya.”
“Kamu tahu apa yang paling bikin aku pengen teriak?” kataku.
“Apa.”
“Tiap acara. Empat puluh tiga acara.” Aku menghitung dengan jari yang gemetar. “Kamu ngasih mic ke tanganku. Tiap kali. Dan tiap kali aku mikir, ini orang hafal banget ya mana punya siapa. Dan aku mikir kamu emang rapi.”
“Aku emang rapi.”
“FAKHRI.”
“Iya.”
“Dua tahun aku megang benda itu tiap minggu.” Suaraku hancur di tengah. “Dan jawabannya nempel di situ. Tiga senti. Di bawah, di tempat yang nggak keliatan kalau dipegang.”
Dia tidak berkata apa-apa.
“Kenapa di bawah?”
“Biar nggak keliatan kalau dipegang,” katanya.
Aku memukul dadanya sekali dengan telapak tangan, tidak keras, dan tanganku tidak turun lagi setelah itu.
Dia menciumku, dan kali ini tidak ada CCTV, tidak ada kamera, tidak ada Sasa di ujung lorong, tidak ada dua belas orang, tidak ada alasan.
Tidak ada apa-apa. Cuma ruangan tiga meter kali empat dengan neon berdengung dan bau lakban dan gulungan lakban biru di atas meja panjang.
Aku memegang kausnya lagi dan kali ini bukan untuk menariknya turun. Dia sudah turun.
Dan yang aku pikirkan — satu-satunya hal yang muncul di kepalaku yang untuk pertama kali dalam tiga minggu benar-benar kosong — adalah bahwa aku sudah membuang dua tahun karena tidak ada satu pun dari kami berdua yang cukup berani untuk berdiri di aula kosong dan mengatakan satu kalimat.
“Fakhri.”
“Hm.”
“Tiga hari ini kamu ngapain?”
“Kerja.”
“Bohong.”
“Kerja,” ulangnya. “Terus Yoga dateng bawa nasi. Terus Fikri dateng dan ngomong panjang.”
“Ngomong apa?”
Dia tidak langsung menjawab. Dia mengambil gulungan lakban biru dari meja dan memasukkannya kembali ke kantong depan koper, seperti orang yang merapikan sesuatu supaya tangannya punya kerjaan.
“Dia bilang aku udah ngasih kamu semuanya kecuali satu.”
“Kecuali apa?”
“Kesempatan buat milih aku.”
Aku berdiri di ambang pintu itu dan merasakan sesuatu yang panas naik ke belakang mataku lagi, untuk kesekian kali malam ini, dan aku sudah menyerah melawannya sejak sepuluh menit lalu.
“Fakhri, aku milih kamu di lorong itu tiga minggu lalu,” kataku. “Di depan dua belas orang. Aku cuma terlalu pengecut buat ngaku bahwa itu milih.”
Pak Har mengunci gedung jam dua belas lewat sepuluh, sepuluh menit lebih lambat dari yang dia bilang, dan tidak berkomentar apa-apa.
Kami duduk di tangga depan aula. Lampu koridor sudah dimatikan semua. Fakhri duduk satu anak tangga di bawahku, dan aku menaruh daguku di bahunya, dan tidak ada satu pun orang di dunia ini yang bisa melihat kami.
“Fakhri.”
“Hm.”
“Kontraknya masih ada dua puluh hari.”
“Iya.”
“Kertasnya masih di tasku.”
“Aku tahu.”
Aku mengangkat kepalaku.
“Jangan bilang siapa-siapa dulu.”
Dia berbalik dan menatapku.
“Kenapa?”
Dan aku tidak menjawab, karena jawabannya panjang, dan karena aku belum menyusunnya, dan karena aku baru menyadari sendiri sepanjang perjalanan tadi bahwa aku sudah membangun sesuatu yang sekarang tidak bisa kubongkar tanpa merobohkan satu orang di dalamnya.
“Besok,” kataku. “Aku jelasin besok.”
Fakhri menatapku beberapa detik lebih lama dari yang wajar.
“Oke,” katanya.
Dua suku kata. Seperti biasa. Diberikan begitu saja, tanpa menagih apa pun.
Dan itulah, kalau aku benar-benar jujur, saat pertama aku merasa takut.
- 1 Dua Belas Mic, Satu Lakban Biru
- 2 Dia Pacarku
- 3 Empat Puluh Tiga Hari
- 4 Kantin Nggak Ramai
- 5 Daftar
- 6 Satu Langkah di Belakang
- 7 Empat Puluh Detik
- 8 Aku Ngantuk
- 9 Hipotesis
- 10 Observasi
- 11 Payung
- 12 Ada yang Lihat
- 13 CCTV
- 14 Kursi Barisan Keempat
- 15 Dua Tahun reading
- 16 Versi yang Bakal Nempel
- 17 Kabelnya Berat
- 18 Tempat Paling Nggak Romantis di Kampus
- 19 Sebelas Detik
- 20 Boleh Saya Potong Sebentar
- 21 Kantong Dalam
- 22 Tanggal Dua Puluh
- 23 Nggak
- 24 Nama di Kontak
- 25 Hari Keempat Puluh Tiga
- 26 Satu Orang
- 27 Naik
- 28 Empat Jam dari Kampus
- 29 Rekonstruksi
- 30 Satu-satunya Orang yang Tahu
- 31 Aman
- 32 Yang Direkam
- 33 Tujuh Belas Menit
- 34 Lima Menit
- 35 Yang Nggak Manis
- 36 Hipotesis Keempat Belas
- 37 Aku Nggak Cemburu
- 38 Nggak Menarik untuk Difoto
- 39 Channel Tujuh
- 40 Dua Belas Mic