← Sebut Saja Namanya

Chapter Twenty Eight

Empat Jam dari Kampus

POV: Fakhri


Rumah Om Har ada di pinggir kota, empat jam naik kereta lalu empat puluh menit naik mobil, dan halamannya cukup besar untuk memarkir enam mobil dengan cara yang sangat tidak rapi.

Kami sampai jam sebelas siang. Anggun memakai kemeja yang tidak pernah kulihat sebelumnya dan tidak berkata apa-apa sejak stasiun.

“Anggun.”

“Hm.”

“Kamu gugup.”

“Nggak.”

“Kamu udah ngelipet ujung lengan bajumu empat kali dari tadi.”

Dia melihat ke bawah. Tangannya sedang melipat ujung lengan bajunya.

“Fakhri, kalau kamu ngomentarin itu satu kali lagi aku dorong kamu keluar mobil.”

“Oke.”

Dia menarik napas.

“Maaf.”

“Nggak apa-apa.”

“Kamu boleh pulang kapan aja,” katanya cepat. “Beneran. Kalau nggak enak, bilang. Aku bikinin alasan.”

“Kamu bagus bikin alasan.”

Dia menoleh dan hampir tertawa dan menahannya, dan itu adalah hal paling normal yang dia lakukan sejak jam tujuh pagi.


Aku baik-baik saja di ruangan yang orangnya tidak mengenalku.

Aku sudah bilang ini ke Anggun di kantin belakang dan aku tidak sedang membesarkan diri. Ini keahlian yang kudapat dari empat puluh empat acara: masuk ke ruangan penuh orang asing, tidak mengganggu siapa pun, kerjakan yang perlu dikerjakan, pulang.

Empat belas orang dewasa di ruang tamu Om Har adalah versi lain dari hal yang sama.

Aku menyalami semuanya. Aku menjawab pertanyaan dengan kalimat pendek yang tidak membuka cabang. Aku menolak kue tiga kali dengan sopan lalu menerima di kali keempat karena menolak empat kali dianggap tidak sopan.

Ibu Anggun menyalamiku terakhir, dan menahan tanganku setengah detik lebih lama dari yang lain, dan berkata:

“Jadi ini Fakhri.”

“Iya, Tante.”

“Anggun cerita kamu yang ngurus suara acara-acara di kampus.”

Aku menoleh ke Anggun. Anggun sedang melihat ke arah lain dengan sangat serius.

“Iya.”

“Bagus.” Ibu Anggun tersenyum. Senyumnya sama persis dengan senyum nomor tiga milik anaknya, yang artinya pertanyaan ini sudah selesai dan kamu tidak menyadarinya. “Duduk, ya. Nanti makan.”


Ada satu bagian dari pagi itu yang tidak kuceritakan ke Anggun sampai berbulan-bulan kemudian.

Sekitar jam dua belas, waktu Anggun ditarik ke dapur oleh tiga tante, aku duduk sendirian di kursi rotan di sudut dan ada seorang om — bukan Om Har, om yang lain, yang belum kutahu namanya — duduk di sebelahku dengan piring kue.

“Fakhri, ya?”

“Iya, Om.”

“Teknik Elektro?”

“Iya.”

“Bagus.” Dia mengunyah. “Nanti mau kerja di mana?”

“Belum tahu.”

“Belum tahu?”

“Belum, Om.”

Dia mengangguk, dan ada jeda sekitar tiga detik, dan lalu dia berkata dengan nada yang sepenuhnya ramah dan sepenuhnya tanpa niat jahat:

“Ya nggak apa-apa. Masih muda.”

Dan lalu dia berdiri dan pindah ke sofa dan tidak berbicara denganku lagi selama sisa hari itu.

Aku duduk di kursi rotan itu memegang piring kue dan menyadari bahwa aku baru saja diukur, ditimbang, dan dikembalikan ke rak, dan bahwa semuanya berlangsung dalam waktu kurang dari empat puluh detik, dan bahwa orang yang melakukannya tidak menganggap dirinya sedang melakukan apa pun.

Aku sudah biasa. Itu bagian yang paling tidak enak.

Bayu Prakoso datang jam satu.

Aku ingin mencatat sesuatu di sini sebelum melanjutkan, karena aku curiga siapa pun yang mendengar cerita ini akan berharap Bayu Prakoso adalah orang yang menyebalkan.

Dia tidak.

Dia masuk membawa dua kotak kue dari toko yang jelas mahal, menyalami semua orang dengan urutan yang benar, memanggil setiap tante dan om dengan nama yang benar, dan duduk di tempat yang benar.

Dia menyalamiku dan berkata, “Bayu,” dan aku berkata, “Fakhri,” dan dia berkata, “Oh, yang dari Jogja ya?” dengan nada yang sepenuhnya ramah.

Dia bekerja di perusahaan konsultan. Dia pindah tanggal sebelas. Dia sudah menemukan apartemen. Dia berbicara tentang semua itu selama sepuluh menit dengan cara yang tidak sekali pun terdengar sombong dan tidak sekali pun terdengar menarik.

Empat belas orang dewasa di ruangan itu mendengarkan dengan senang.

Aku duduk di kursi rotan di sudut dan mengerti, untuk pertama kalinya secara fisik, apa yang Anggun maksud dengan “lowongan”.

Karena tidak ada satu pun orang di ruangan itu yang bermaksud jahat.

Mereka cuma sedang melihat dua benda dan membandingkan spesifikasinya.


Pertanyaan itu datang jam dua lewat sepuluh, dari tante yang duduk di sofa panjang, dengan volume yang cukup untuk seluruh ruangan.

“Anggun sekarang gimana? Udah ada yang deket?”

Ruangan itu berhenti mengunyah.

Aku sudah diberi tahu bahwa ini akan terjadi. Aku diberi tahu di kantin belakang jam sepuluh pagi, dengan detail, termasuk jamnya.

Yang tidak diberitahukan kepadaku adalah bagaimana rasanya duduk di kursi rotan di sudut ruangan dan melihat seluruh ruangan berputar ke arah satu orang.

Anggun tersenyum.

“Ada, Tante,” katanya, dan menoleh ke arahku, dan menunjuk dengan dagunya karena tangannya sedang memegang piring. “Itu.”

Empat belas kepala berputar.

Dan aku duduk di kursi rotan di sudut dengan piring kue di pangkuan dan menjadi jawaban dari sebuah pertanyaan untuk pertama kalinya dalam hidupku.

“Oooh.” Tante itu mengangguk-angguk. “Kok nggak bilang-bilang.”

“Baru, Tante.”

“Baru berapa lama?”

Dan aku, dari kursi rotan di sudut, mendengar diriku sendiri berkata:

“Lima setengah bulan.”

Anggun menoleh dengan sangat cepat.

Ruangan itu tertawa dan berkata “wah, lama itu” dan pindah ke topik lain dalam waktu kurang dari empat puluh detik, dan pertanyaan yang biasanya memakan enam jam itu selesai.

Anggun tidak melihat ke arahku selama dua puluh menit setelahnya.


Sekitar jam empat, sound system di teras berdengung.

Om Har menyewa satu set kecil untuk acara — dua speaker aktif, satu mixer empat channel, dua mic — untuk sambutan dan untuk anak-anak yang akan menyanyi nanti malam.

Dan setiap kali mic dinyalakan, ada dengung rendah yang naik pelan sampai membuat semua orang mengernyit.

Tiga om mencoba memperbaikinya. Salah satunya memutar semua tombol treble ke kiri. Salah satunya mencabut dan memasang ulang kabel yang tidak ada hubungannya. Salah satunya menyarankan supaya mic-nya jangan dipegang terlalu dekat.

Aku bertahan sebelas menit.

“Om,” kataku. “Boleh saya lihat?”

Om Har menoleh. “Bisa, Mas?”

“Sedikit.”

Aku jongkok di belakang mixer. Groundnya tidak terangkat; ini rumah lama, colokannya dua lubang, dan kabel speaker kanan melintang persis di atas kabel ekstensi kulkas.

Aku memindahkan jalur kabel speaker ke sisi lain teras, menjauh dari kabel ekstensi, dan menempelkannya ke lantai dengan lakban hitam yang selalu ada di ranselku, satu meter demi satu meter, ditekan rata dengan telapak tangan.

Lalu aku menurunkan gain channel satu dan menaikkan fader, yang mana adalah kebalikan dari yang dilakukan semua orang.

Dengungnya hilang.

“Loh,” kata Om Har.

“Nanti kalau ada yang naruh kursi di atas kabelnya, bunyi lagi,” kataku. “Jadi jangan ditaruh kursi.”

Om Har menoleh ke arah ruang tamu.

“Har!” teriaknya ke istrinya, tanpa alasan yang jelas. “Anaknya Anggun ini bisa benerin!”

Anggun, dari pintu ruang tamu, menutup wajahnya dengan satu tangan.

Empat belas orang dewasa memperlakukanku dengan cara yang sepenuhnya berbeda selama empat jam berikutnya, dan aku memikirkan, sambil menerima kue untuk kelima kalinya, bahwa manusia sebenarnya sangat mudah: mereka akan menghormati siapa pun yang bisa memperbaiki sesuatu di depan mata mereka.

Masalahnya cuma satu.

Di kampus, aku memperbaiki sesuatu empat puluh empat kali, dan tidak sekali pun ada yang menonton.


Ada satu momen jam enam sore yang perlu kucatat, karena aku curiga aku akan membutuhkannya nanti.

Anggun keluar ke teras belakang membawa dua gelas teh dan duduk di kursi plastik di sebelahku, dan kami tidak bicara selama beberapa menit.

“Fakhri.”

“Hm.”

“Lima setengah bulan.”

“Iya.”

“Kamu ngarang.”

“Aku nambahin.” Aku memutar gelasku. “Empat bulan itu aku ngarang di kantin. Sekarang udah lewat enam minggu.”

Dia menoleh.

“Kamu ngitungin?”

“Aku ngitungin semuanya.”

Dia tertawa satu kali, pendek, lalu berhenti.

“Aku hampir nggak bisa jawab tadi,” katanya. “Waktu Tante nanya.”

“Kamu jawab dalam dua detik.”

“Iya. Tapi aku hampir nggak bisa.” Dia memegang gelasnya dengan dua tangan. “Enam kali aku duduk di ruangan itu, Fakhri. Enam kali aku punya jawaban yang lucu, dan tiap kali aku ngeluarin jawaban lucu itu, semua orang ketawa dan aku ngerasa menang.”

“Terus?”

“Terus hari ini aku nunjuk kamu pakai dagu karena tanganku megang piring.” Dia menoleh ke arahku. “Dan itu bukan menang. Itu rasanya kayak duduk.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa untuk yang itu.

Jadi aku tidak menjawab, dan kami minum teh di teras belakang rumah Om Har sampai anak-anak mulai menyanyi.

Ponselku bergetar jam delapan lewat empat puluh.

Aku sedang di teras belakang, sendirian, karena anak-anak sedang menyanyi dan aku sudah menyerahkan mixer kepada sepupu Anggun yang berumur enam belas tahun dan sangat antusias.

Yoga: bang
Yoga: bang kamu lagi di mana
Yoga: bang angkat

Lalu:

Fikri: Bang, ada yang harus kamu lihat. Jangan panik.

Kalimat “jangan panik” adalah cara paling efisien untuk membuat orang panik.

Fikri mengirim tangkapan layar.

Unggahan Kevin Aditama, dua jam lalu. Album. Judulnya: “2 tahun pegang dokumentasi. makasih, fakultas.”

Delapan puluh foto. Semuanya foto acara. Malam Puncak tahun lalu, seminar, wisuda kakak tingkat, Dies, Malam Apresiasi.

Caption panjang, hangat, nostalgik. Kevin menyebut dua puluh nama.

Aku menggulung ke komentar.

Empat puluh tiga komentar. Semuanya biasa. keren bang, jadi kangen, foto yang ke-31 aku nangis.

Komentar keempat puluh empat, dari akun yang tidak kukenal:

eh kok gaada foto kak anggun sama bang fakhri sih dari dulu? padahal kan udah lama ya mereka

Balasan pertama: iyaya baru sadar

Balasan kedua: mungkin emang jarang bareng pas acara?

Balasan ketiga: tapi kan mereka sama2 tiap acara ada

Dan balasan keempat, dari Kevin sendiri, yang jelas sekali tidak bermaksud apa-apa, yang jelas sekali cuma sedang menjawab pertanyaan tentang arsipnya sendiri:

iya aku juga baru ngeh. aku pegang dokumentasi 2 tahun dan aku nyari tadi, gaada satu pun. aneh sih


Aku membaca komentar itu tiga kali.

Lalu aku menggulung ke atas, ke daftar delapan puluh foto, dan aku menghitung.

Aku ada di enam. Semuanya kebetulan; sudut kiri bawah, gelap, di balik meja mixer, bentuk manusia yang bisa siapa saja.

Anggun ada di tiga puluh sembilan.

Dan tidak ada satu pun foto yang berisi kami berdua sebelum enam minggu lalu, karena tidak pernah ada momen di mana kami berdua berdiri cukup dekat untuk masuk ke satu bingkai yang sama.

Bukan karena kami menyembunyikannya.

Karena selama dua tahun, kami memang tidak pernah berdiri cukup dekat.

Aku menaruh ponselku di pagar teras dan melihat ke halaman belakang rumah Om Har, ke lampu taman yang salah satunya mati, ke suara anak-anak menyanyi dari teras depan lewat speaker yang baru saja kuperbaiki.

Empat jam dari kampus.

Ponselku bergetar lagi.

Yoga: bang udah sampai 200 komentar
Yoga: ada yang bikin thread
Yoga: bang ini rame banget

Aku berdiri di teras belakang selama mungkin dua menit.

Lalu aku mendengar pintu geser di belakangku, dan langkah yang kukenal, dan Anggun berkata dengan suara yang sudah salah sebelum kalimatnya selesai:

“Fakhri. Ponselku dari tadi—”

Aku menoleh.

Dia berhenti di ambang pintu dengan ponsel di tangan dan layar yang masih menyala, dan aku bisa melihat dari jarak tiga meter bahwa jumlah notifikasinya sudah lewat tiga digit.