← Sebut Saja Namanya

Chapter Thirty Two

Yang Direkam

POV: Anggun


Aku sampai di ruko lantai dua di Jalan Kaliurang jam empat sore, hari Sabtu, dengan pidato yang sudah kususun sepanjang empat puluh menit perjalanan.

Aku punya sembilan poin. Aku sudah mengurutkannya. Aku sudah memutuskan poin mana yang akan kupakai kalau dia mulai membereskan alat di tengah percakapan, yang mana adalah caranya mengakhiri sesuatu tanpa mengakhiri apa pun.

Tangganya sempit dan berbau kayu. Aku naik dua-dua.

Pak Wisnu yang membuka pintu.

“Loh. Mbak Anggun.”

“Fakhrinya, Pak?”

“Turun. Beli tinta printer.” Dia melihat jam dinding. “Setengah jam lagi kali ya. Masuk dulu.”

Aku berdiri di ambang pintu dengan sembilan poin di dalam kepala dan tidak ada satu pun tempat untuk menaruhnya.

“Masuk, Mbak. Berdiri di tangga panas.”


Aku duduk di sofa yang per-nya sudah menyerah.

Pak Wisnu menuang teh dari termos ke gelas dan menaruhnya di meja, lalu duduk di kursi kantor bekas — kursi Fakhri — dan memutarnya setengah supaya menghadap ke arahku.

“Rame ya di kampus.”

Aku mengangkat kepalaku.

“Bapak tahu?”

“Ya nggak tahu detailnya.” Dia mengangkat bahu. “Cuma Fakhri dua minggu ini kerjanya sampai jam dua pagi terus. Kalau anak itu kerja sampai jam dua pagi, artinya ada yang lagi nggak beres, dan dia nggak akan cerita.”

Aku memegang gelas teh itu dengan dua tangan dan tidak meminumnya.

“Pak.”

“Hm.”

“Dia mau naik panggung minggu depan.”

Pak Wisnu berhenti memutar kursinya.

“Naik panggung.”

“Buat ngomong. Di depan delapan ratus orang.” Suaraku sudah salah dari kata ketiga. “Dan kalau dia ngomong, semua yang selama ini cuma tebakan bakal jadi kepastian, dan dia bakal jadi bahan omongan sampai wisuda, dan dia—”

Aku berhenti.

“Dia nggak ngerti apa yang bakal terjadi, Pak.”

“Ngerti kok.”

Aku menoleh.

“Fakhri itu ngitung semuanya, Mbak. Semuanya.” Pak Wisnu menyandarkan punggungnya. “Kalau dia mutusin sesuatu, dia udah tahu harganya. Dia cuma nggak pernah ngomongin harganya ke siapa-siapa.”

“Terus kenapa dia tetep mau?”

“Ya nggak tahu.” Dia menggaruk lengannya. “Itu Mbak yang harusnya tanya, bukan saya.”


Aku duduk di sofa itu selama beberapa menit dan tidak tahu harus melakukan apa dengan tanganku.

Layar komputer di meja menyala dengan screensaver bergerak.

“Pak,” kataku.

“Hm.”

“Boleh saya nanya sesuatu yang mungkin nggak sopan?”

“Boleh. Saya udah tua, nggak apa-apa.”

“Bapak tahu ada file di komputer itu namanya `11s.wav`?”

Pak Wisnu menoleh ke layar. Lalu ke aku.

“Oh. Yang itu.”

“Bapak tahu isinya?”

“Nggak.”

“Nggak?”

“Nggak pernah saya buka.” Dia menggeser kursinya. “Tapi saya tahu kapan dia muter.”

Aku menegakkan punggung.

“Kapan?”

“Kalau ada yang nggak beres.” Pak Wisnu menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. “Empat tahun saya lihat pola yang sama. Kalau kerjaan lagi susah, kalau ada klien rewel, kalau dia keliatan capek — dia pakai headphone, dia muter sesuatu yang pendek banget, terus dia lanjut kerja.”

“Pendek banget.”

“Sepuluh, dua belas detik. Saya pernah ngitung dari jarak jauh.” Dia mengangkat bahu. “Saya nggak pernah nanya. Bukan urusan saya.”

Aku menatap layar itu.

“Pak, boleh saya—”

“Nggak.”

Cepat sekali. Tanpa jeda. Nadanya tetap ramah dan tetap tidak ada ruang di dalamnya.

“Itu punya dia, Mbak.”

Aku menunduk ke gelas teh.

“Iya. Maaf.”

Kami duduk diam sekitar dua menit.

Lalu Pak Wisnu berdiri, berjalan ke arah komputer, dan duduk di kursi Fakhri.

“Tapi,” katanya, “saya juga nggak pernah bilang saya nggak boleh muter.”


“Pak, jangan—”

“Mbak Anggun.” Dia menggeser mouse dan layarnya menyala. “Saya udah tiga puluh tahun kenal bapaknya anak ini, dan bapaknya persis kayak dia. Nggak ngomong. Kerja terus. Kalau ada yang rusak, dia benerin, terus pergi.”

Dia mengklik satu kali. Daftar file terbuka.

“Dan bapaknya meninggal empat tahun lalu tanpa pernah ngomong satu hal pun ke anaknya,” kata Pak Wisnu, “dan saya udah empat tahun nyesel karena saya nggak pernah maksa.”

Kursor berhenti di file paling bawah. Yang tanpa tanggal.

“Jadi kalau saya salah, ya saya salah,” katanya. “Tapi saya udah pernah bener dan diem, dan itu lebih jelek.”

Dia menaikkan volume monitor speaker.

Dan mengklik.


Sebelas detik.

Bunyi pertama bukan suara manusia.

Ada klik kecil di detik nol — bunyi mekanis, pendek, seperti sesuatu yang digeser.

Lalu suara ruangan. Ruangan besar, banyak orang, tapi jenis kebisingan yang salah: itu bukan bunyi kerumunan yang senang, itu bunyi kerumunan yang mulai tidak sabar. Aku hafal bunyi itu. Aku sudah mendengarnya delapan puluh delapan kali dari atas panggung dan aku bisa mengenalinya dari dua detik.

Lalu suara perempuan.

Suaraku.

Lebih muda. Lebih cepat. Sedikit lebih tinggi dari sekarang.

“—jadi Bapak Ibu sekalian, mohon bersabar sedikit, karena berdasarkan pengalaman saya, acara yang molor itu tandanya panitianya perfeksionis, bukan tandanya panitianya lupa—”

Dan lalu dua ratus orang tertawa.

Bukan tawa sopan. Bukan tawa satu-dua orang di barisan depan. Dua ratus orang, sekaligus, dan gelombangnya naik dari barisan depan ke belakang seperti sesuatu yang tumpah.

Rekamannya berhenti di situ.

Sebelas detik.


Aku duduk di sofa yang per-nya sudah menyerah dan tidak bisa bergerak.

Semester tiga. Bulan Oktober.

Acara pengukuhan. MC-nya sakit mendadak dan tidak ada yang mau menggantikan dan aku disuruh naik tanpa naskah, dan aku berdiri di sana selama empat puluh menit mengarang sambungan antar segmen dengan tangan yang basah.

Dan di menit ketujuh belas, ruangan itu tertawa untuk pertama kalinya.

Aku ingat menit ketujuh belas. Aku ingat karena aku menghitungnya waktu itu — aku menghitung dari atas panggung, tujuh belas menit tanpa satu pun tanda bahwa ada yang mendengarkan, dan aku sudah hampir memutuskan bahwa aku akan menyerahkan mic ke ketua panitia dan turun.

Dan lalu mereka tertawa.

Dan setelah mereka tertawa, semuanya jadi mudah, dan aku bertahan dua puluh tiga menit sisanya, dan setelah itu aku jadi MC di gedung itu selama dua tahun.

“Itu suara Mbak, ya,” kata Pak Wisnu pelan.

“Iya.”

“Kapan?”

“Dua tahun lalu.” Suaraku hampir tidak keluar. “Hari pertama saya jadi MC.”


Aku memintanya memutar sekali lagi.

Yang kedua, aku mendengarkan suaraku sendiri.

Aku tidak suka mendengar suaraku sendiri. Tidak ada satu pun orang di dunia yang suka, dan orang yang bekerja dengan suara jauh lebih tidak suka lagi, karena kami mendengar semua yang salah.

Dan yang kudengar di rekaman itu adalah perempuan dua puluh tahun yang sedang ketakutan setengah mati dan menutupinya dengan kecepatan bicara.

Kalimatnya terlalu cepat. Napasnya di tempat yang salah. Dia menekan kata “perfeksionis” terlalu keras karena dia tidak yakin leluconnya akan bekerja.

Aku hafal versi diriku yang itu.

Aku sudah menghabiskan dua tahun untuk mengubur perempuan itu di bawah delapan puluh delapan acara, senyum nomor tiga, lima jawaban untuk tante di ruang tamu, dan satu setengah detik yang tidak pernah gagal.

Dan orang di balik mixer itu merekamnya.

Bukan versi yang mahir. Bukan versi Malam Puncak, bukan versi yang menyambung mic dekan dalam kurang dari satu detik.

Versi yang hampir menyerah di menit keenam belas.

Dan sekali lagi.

Yang keempat, aku memintanya menaikkan volume dan aku menutup mata dan mendengarkan detik nol.

Klik kecil itu.

“Pak, yang bunyi pertama itu apa?”

Pak Wisnu memundurkan kursornya, memutar dua detik pertama, dan mendengarkan dengan kepala miring.

“Fader,” katanya.

“Fader?”

“Iya. Bunyi fader digeser. Kalau mixernya analog dan mic talkback-nya kebuka, kadang kerekam.” Dia memutarnya lagi. “Ini digeser naik. Dengar? Bunyinya naik terus berhenti.”

“Naik.”

“Naik.”

Aku duduk di sofa itu dan menyusun urutannya di dalam kepalaku, pelan-pelan, seperti orang menyusun rundown.

Menit ketujuh belas. Aku di panggung selama tujuh belas menit tanpa ada yang mendengarkan. Suaraku mulai turun karena orang yang tidak didengar akan bicara makin pelan.

Dan di suatu tempat di belakang ruangan itu, di balik meja mixer, ada anak semester tiga yang belum pernah bicara denganku, yang tidak tahu namaku, yang tidak punya kepentingan apa pun.

Dan dia menggeser fader monitor panggung ke atas.

Orang yang bisa denger suaranya sendiri nggak akan ngomong makin pelan.

Dia mengatakan itu kepadaku enam minggu lalu, di aula kosong, sambil menempel lakban di lantai, dengan nada orang menyebutkan cuaca. Aku bertanya dia melakukannya ke berapa orang dan dia bilang tidak tahu, banyak.

Dan setelah dia menggeser fader itu, dia menekan rekam.

Sebelas detik.

Bukan suaraku.

Dia merekam apa yang terjadi setelahnya.


“Mbak Anggun.”

Aku tidak menjawab, karena kalau aku membuka mulut aku akan mengeluarkan bunyi yang tidak pantas dikeluarkan di tempat kerja orang lain.

Pak Wisnu berdiri, mengambil kotak tisu dari atas rak, dan menaruhnya di meja di depanku tanpa berkata apa-apa lagi.

Aku menangis di sofa yang per-nya sudah menyerah selama entah berapa lama, dengan tiga puluh sekian lembar busa peredam warna-warni di dinding dan bau kayu dari tangga.

Dan yang terus berputar di kepalaku bukan bagian yang manis.

Yang terus berputar adalah ini:

Selama empat tahun, setiap kali orang itu lelah, setiap kali ada yang tidak beres, setiap kali kerjaannya berat sampai jam dua pagi — dia memakai headphone dan memutar sebelas detik.

Sebelas detik yang berisi bukti bahwa satu kali, di satu ruangan, sesuatu yang dia lakukan mengubah sesuatu.

Satu-satunya bukti yang dia punya.

Disimpan tanpa tanggal, tanpa nama, di paling bawah, di luar semua folder.

Sama seperti tiga sentimeter lakban biru di bagian bawah batang mic, di tempat yang tidak kelihatan kalau dipegang.

Orang itu tidak sedang menyembunyikan perasaannya kepadaku selama dua tahun.

Orang itu menyembunyikan seluruh bukti bahwa dirinya pernah berarti bagi siapa pun.


Pak Wisnu kembali sekitar sepuluh menit kemudian dengan gelas teh baru dan duduk di sofa, bukan di kursi.

“Mbak.”

“Iya, Pak.”

“Saya mau minta maaf duluan sebelum dia naik.”

Aku mengusap wajahku. “Bapak nggak salah.”

“Salah.” Dia menaruh gelasnya. “Itu barang orang. Saya muter tanpa izin. Nggak ada versi di mana saya bener.”

“Terus kenapa Bapak muter?”

Pak Wisnu memandang ke arah dinding busa yang warnanya tidak ada yang sama.

“Bapaknya dulu punya kotak,” katanya. “Kotak rokok kaleng, tapi isinya bukan rokok. Isinya kertas-kertas kecil. Nota, kuitansi, sobekan koran.”

“Kuitansi?”

“Iya. Kuitansi kerjaan yang udah lama banget.” Dia mengangkat bahu. “Saya pernah nanya buat apa, dia bilang ‘ya buat inget aja’. Cuma itu jawabannya. Empat kata.”

Aku memegang gelas teh yang sudah dingin.

“Habis dia meninggal, saya yang bantu beresin barangnya,” kata Pak Wisnu. “Dan saya buka kotak itu. Isinya kuitansi dari kerjaan-kerjaan di mana ada orang yang bilang makasih.”

Ruangan itu diam.

“Semua,” katanya. “Semuanya kerjaan yang ada orang bilang makasih. Dia nyimpen kertasnya. Dua puluh tahunan.”

Aku menaruh gelasku karena tanganku tidak stabil.

“Fakhri nggak tahu soal kotak itu?”

“Nggak.”

“Bapak nggak pernah cerita?”

“Nggak pernah.” Pak Wisnu tertawa satu kali, dan tidak ada senang di dalamnya sama sekali. “Empat tahun. Tiap kali saya mau cerita, saya mikir ‘ah, nanti aja, nanti kalau waktunya pas’.”

Dia menoleh ke arah komputer.

“Terus tadi Mbak nanya soal file itu.”

Aku mendengar tangga berbunyi jam lima kurang sepuluh.

Pak Wisnu sudah kembali ke ruang belakang lima menit sebelumnya, dan dia melakukannya tanpa berkata apa-apa, yang mana adalah hal paling sopan yang bisa dilakukan siapa pun terhadapku hari itu.

Pintu terbuka.

Fakhri berdiri di ambang pintu dengan kantong plastik berisi tinta printer, kaus hitam, rambut diikat asal.

Dia melihat aku di sofa.

Dia melihat kotak tisu di meja.

Dia melihat layar komputer, yang masih menyala di daftar file, dengan satu baris di paling bawah tersorot biru.

Dan untuk kedua kalinya sejak aku mengenalnya, wajahnya berubah.