← Sebut Saja Namanya

Chapter Thirty Seven

Aku Nggak Cemburu

POV: Anggun


Aku tidak cemburu.

Aku ingin menetapkan itu dulu sebelum apa pun, karena semua yang akan kutulis setelah ini akan dibaca dengan cara yang salah kalau aku tidak menetapkannya duluan.

Aku dua puluh satu tahun. Aku sudah memandu delapan puluh delapan acara. Aku berdiri di depan enam ratus orang tiga minggu lalu dan mengaku bahwa aku berbohong, tanpa naskah, dan bertahan sampai kalimat terakhir.

Aku bukan orang yang cemburu karena ada empat orang di ruang alat.

Aku cuma mengamati situasi.


Situasi, hari Kamis:

Ruang alat berisi lima orang. Tiga di antaranya perempuan. Salah satu dari tiga itu membawa risoles yang jelas-jelas buatan sendiri, yang mana adalah tingkat komitmen yang berbeda dari gorengan beli.

Fakhri sedang menjelaskan sesuatu tentang phantom power.

Aku berdiri di pintu selama sekitar empat detik, lalu berjalan masuk, lalu duduk di meja panjang — di tempatku, di sisi kiri, tempat aku sudah duduk selama dua tahun dengan kaki menggantung — dan mengeluarkan buku dari tas seolah aku punya rencana untuk membacanya.

Tidak ada satu pun dari lima orang itu yang tahu bahwa aku sudah duduk di meja itu sejak semester tiga.

Salah satunya bilang, “Eh, Kak Anggun.”

Dan salah satunya lagi bilang, ke temannya, tidak kepadaku, dengan volume yang sepenuhnya normal:

“Bang Fakhri sabar banget ya ngajarin.”

Aku membuka bukuku di halaman yang salah dan membacanya selama dua puluh menit.


Situasi, hari Jumat:

Aku menawarkan diri jadi asisten panggung.

Aku ingin menjelaskan konteksnya karena kalau tidak, ini terdengar aneh.

Ada gladi acara pengukuhan hari Sabtu. Aku bukan MC-nya — mereka memilih adik tingkat, “buat ngasih kesempatan” — jadi secara teknis aku tidak punya urusan apa pun di gedung itu hari Jumat.

Jadi aku datang jam tiga dan berkata, “Aku bantu, ya.”

Fakhri menoleh dari mixer.

“Bantu apa?”

“Apa aja.”

“Kamu nggak bisa apa-apa.”

“FAKHRI.”

“Itu bukan hinaan, itu deskripsi.”

“Aku bisa megang sesuatu.”

Dia menatapku selama tiga detik dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca, lalu menyerahkan gulungan velcro.

“Iket kabel.”

Aku mengikat kabel selama dua jam.

Aku mengikatnya dengan sangat buruk. Aku tahu aku mengikatnya dengan sangat buruk karena setiap kali dia lewat, dia mengambil satu gulungan yang sudah kuikat, membukanya diam-diam, dan mengikatnya ulang dalam empat detik sambil terus berjalan.

Dia melakukan itu sebelas kali dan tidak sekali pun menyebutkannya.

Dan aku duduk di lantai panggung mengikat kabel yang akan diikat ulang, di ruangan yang tidak berisi satu pun orang lain, dan itu adalah dua jam paling menyenangkan sepanjang minggu itu.


Situasi, hari Sabtu:

Aku memakai jaketnya ke kampus.

Yang hitam. Yang sudah tidak ada di kosnya sejak bulan pertama.

Suhu hari itu tiga puluh satu derajat.

Sasa melihatku di parkiran dan berhenti berjalan.

“Ngun.”

“Apa.”

“Tiga puluh satu derajat.”

“Aku masuk angin.”

“Kamu nggak masuk angin.”

“Aku bisa masuk angin, Sas. Aku manusia.”

Sasa menatapku dari atas ke bawah, sangat lama, dengan ekspresi yang perlahan berubah dari bingung menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

“Ngun.”

“Jangan.”

“Ngun, kamu—”

“Sasa Ardhini, kalau kamu ngomong satu kata lagi—”

“KAMU CEMBURU.”

Dan Sasa Ardhini tertawa di parkiran fakultas selama kira-kira empat puluh detik tanpa berhenti, dengan tangan di lutut, sampai ada orang yang lewat dan bertanya apakah dia baik-baik saja.


Mel mendengar ceritanya jam dua siang dan reaksinya lebih buruk.

Mel tidak tertawa.

Mel memegang kedua tanganku dan berkata, dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca:

“Ngun, ini bagus banget.”

“Mel.”

“Ini artinya kamu sayang.”

“Mel, jangan mulai.”

“Aku terharu—”

“MEL.”

“—karena kamu tuh dari dulu nggak pernah cemburu sama siapa-siapa. Sama Kevin nggak pernah. Aku sampai mikir kamu tuh emang nggak punya bagian itu di dalem.”

Aku membuka mulut dan menutupnya lagi.

Karena itu benar.

Dua bulan dengan Kevin. Kevin yang ramah, Kevin yang mengingat nama semua orang, Kevin yang selalu dikelilingi. Dan tidak sekali pun, tidak satu detik pun, aku merasakan apa yang kurasakan hari Kamis di depan pintu ruang alat waktu melihat kursi plastik berkaki triplek itu diduduki orang lain.

“Sialan,” kataku.

“Ngun!”

“Maaf. Tapi sialan.”

Sasa mulai tertawa lagi.


Situasi, hari Sabtu malam:

Ada thread.

Bukan thread yang itu. Thread baru, di grup angkatan, judulnya “anak sound aula ternyata” dan isinya empat puluh balasan yang sebagian besar berbunyi seperti ini:

sumpah baru ngeh
dia tuh tinggi bgt ya astaga
gue kira dia anak luar
bang kalo lagi ngangkat speaker itu emang harus lengan digulung apa gimana

Aku membacanya di kos jam sepuluh malam sambil memakai jaket yang bukan milikku.

Dan aku ingin mencatat, dengan sejujur-jujurnya, apa yang kurasakan waktu membacanya.

Bagian pertama dari dadaku bilang: bagus.

Karena itu benar. Itu yang kuinginkan selama dua tahun. Aku marah selama dua tahun karena tidak ada satu pun yang menoleh, dan sekarang empat puluh orang menoleh dalam satu utas, dan itu adalah persis hal yang kudoakan.

Bagian kedua dari dadaku bilang sesuatu yang lain, dan bagian kedua ini yang membuatku menutup ponsel dan menaruhnya telungkup di lantai.

Bagian kedua bilang: kalian nggak berhak.

Kalian tidak berhak baru menoleh sekarang. Kalian tidak berhak menemukan dia lewat potongan lima puluh detik. Kalian tidak berhak bilang “baru ngeh” tentang orang yang sudah berdiri di ruangan yang sama dengan kalian empat puluh empat kali.

Dan lalu bagian ketiga dari dadaku, yang paling jujur dan paling tidak enak, bilang:

Kamu juga baru nyadar semester tiga. Sebelumnya kamu juga nggak tahu dia ada.

Aku berbaring di kasur dengan jaket yang kebesaran dan tidak tidur sampai jam dua.


Bagian yang paling tidak bisa kutanggung dari seluruh minggu ini bukan risoles buatan sendiri.

Bagian yang paling tidak bisa kutanggung adalah bahwa Fakhri tidak menyadari apa pun.

Sama sekali.

Nol.

Hari Minggu, di ruang alat, jam delapan malam, akhirnya kosong.

“Fakhri.”

“Hm.”

“Yang bawa risoles itu siapa?”

“Yang mana?”

“YANG MANA.”

Dia mendongak dari mixer. “Anggun, ada empat orang bawa makanan minggu ini.”

“EMPAT?”

“Iya. Kenapa?”

Aku menutup wajahku dengan dua tangan.

“Fakhri, kamu nggak curiga sedikit pun?”

“Curiga apa?”

“Kenapa tiba-tiba ruang alat rame.”

“Karena aku lulus semester depan,” katanya, sambil kembali ke mixernya, dengan nada orang membacakan spesifikasi alat. “Dan nggak ada yang mau pegang sound tahun depan. Jadi aku harus ngajarin minimal dua orang sebelum wisuda, dan aku udah bilang itu di grup bulan lalu.”

Aku menurunkan tanganku dari wajah.

“...Kamu bilang di grup?”

“Iya.”

“Kamu bilang di grup bahwa kamu nyari orang buat diajarin?”

“Iya.”

“Dan kamu ngira mereka dateng karena itu.”

Dia berhenti. Menoleh.

“Emang enggak?”

Dan aku duduk di meja panjang di ruang alat tiga kali empat dengan kaki menggantung, dan menatap orang yang selama dua tahun bisa mendengar volume suaraku turun tiga desibel dari jarak dua puluh meter di ruangan berisi dua ratus orang.

“Nggak,” kataku. “Bukan cuma karena itu.”

Dia mengerjap.

“Terus kenapa?”


Aku tidak menjawab.

Aku turun dari meja, berjalan ke koper alatnya, membuka kantong depan, dan mengambil gulungan lakban biru.

“Anggun?”

Aku menyobek satu potong. Tidak sampai tiga sentimeter.

Lalu aku mengambil jaketnya — yang hitam, yang sudah jadi milikku sejak bulan pertama, yang tergantung di sandaran kursi karena dia baru datang — dan menempelkan lakban itu di lengan kirinya, di bagian atas, di tempat yang paling kelihatan.

Aku menekannya rata dengan telapak tangan. Dua kali. Seperti yang dia lakukan ke lantai.

Lalu aku mundur satu langkah.

Fakhri melihat lengan jaket itu.

Lalu melihat aku.

Dan aku menghitung, karena aku selalu menghitung: satu, dua, tiga, empat.

Empat detik penuh.

Lalu sesuatu terjadi di wajahnya — sesuatu yang tidak ada namanya, sesuatu yang tidak bergerak sama sekali dan tetap saja berubah total — dan tangannya, yang sedang memegang kuas kecil, berhenti.

“Anggun.”

“Apa.”

“Ini apa?”

“Penanda.”

“Penanda apa?”

Aku melipat tanganku.

“Orangnya banyak,” kataku. “Semuanya sama.”

Ruang alat itu tiga meter kali empat dan neonnya berdengung.

“Biar nggak ketukar,” kataku.


Aku ingin mencatat, untuk arsip, bahwa Fakhri Wirawan tidak berkata apa-apa selama kira-kira sepuluh detik setelah itu.

Dan bahwa waktu dia akhirnya bicara, yang keluar adalah:

“Aku ambil jaketnya.”

“Kamu nggak boleh ambil jaketnya.”

“Itu jaketku.”

“Itu jaketku dari bulan pertama.”

“Anggun, kamu baru nempelin lakban di jaket yang kamu bilang punya kamu.”

“IYA. BIAR JELAS.”

Dan orang itu — orang yang bicara di bawah dua belas kata, orang yang menjawab pertanyaan tentang perasaan dengan penjelasan teknis, orang yang tidak pernah bercanda kecuali empat kali dalam tiga tahun menurut catatan Fikri —

tertawa.

Bukan satu kali pendek. Beneran tertawa, dengan suara, sampai harus memegang meja.

Dan aku berdiri di ruang alat itu memegang gulungan lakban biru di tangan dan menyadari bahwa dalam dua tahun aku belum pernah sekali pun mendengar bunyi itu, dan bahwa aku baru saja kehilangan seluruh sisa argumenku, dan bahwa aku tidak keberatan sama sekali.


Dia memakai jaket itu ke kampus hari Senin.

Dengan lakban birunya masih menempel di lengan kiri.

Selama tiga hari.

Sampai ada anak semester tiga yang bertanya “Bang, itu lengan jaketnya kenapa?” dan dia menjawab, tanpa mendongak dari mixer, dengan nada orang menyebutkan cuaca:

“Penanda.”