Chapter Twenty Three
Nggak
POV: Fakhri
Dia mengirim pesan jam sebelas malam.
Anggun: maaf soal tadi
Anggun: aku kelewatan
Anggun: dan aku sadar aku hampir ngomong itu lagi
Aku membaca tiga baris itu tiga kali.
Anggun: tanggal 20 gimana? kamu bisa nggak?
Aku menaruh ponsel di meja.
Dua tahun lalu, kalau ada pesan seperti ini masuk, aku akan mengetik “bisa” dalam waktu kurang dari delapan detik. Lima minggu lalu juga. Kemarin juga.
Aku duduk di kos dengan lampu terlalu terang dan tidak mengetik apa-apa selama dua puluh menit.
Lalu aku mengetik:
Fakhri: besok kita ngomong
Dan tiga titik muncul, lalu hilang, lalu muncul lagi, lalu hilang, dan tidak ada apa-apa lagi sampai pagi.
Aku memikirkannya sepanjang malam, dan aku ingin mencatat bagaimana aku sampai ke sana, karena aku curiga aku akan meragukan diriku sendiri nanti dan aku ingin ada dokumentasinya.
Aku mulai dari data.
Lima minggu. Aku menghitungnya lagi, semuanya, satu per satu.
Berapa kali Anggun meminta sesuatu kepadaku: dua puluh tiga kali. Kantin, lorong, kafe, koridor, foto, tanggal, versi, alasan.
Berapa kali aku bilang tidak: nol.
Berapa kali aku meminta sesuatu kepadanya: satu. Aku menanyakan kenapa dia datang jam tiga.
Dan dia berbohong.
Aku tidak menulis itu untuk menyalahkannya. Dia menjawab jujur tiga minggu kemudian, di ruang alat, sambil menangis, dan jawabannya jauh lebih lengkap dari yang berhak kuterima.
Tapi datanya tetap begitu. Dua puluh tiga banding satu.
Dan yang membuatku tidak bisa tidur bukan angkanya.
Yang membuatku tidak bisa tidur adalah bahwa selama lima minggu ini aku merasa baik-baik saja.
Orang yang memberi dua puluh tiga dan menerima satu, lalu merasa baik-baik saja, punya sesuatu yang rusak di alat ukurnya.
Pak Wisnu mengatakannya ke Anggun di studio malam itu. Aku mendengarnya dari ruang belakang, karena aku selalu mendengar semuanya, dan aku memutuskan untuk pura-pura tidak mendengar karena itu lebih mudah.
Kalau orang nggak pernah minta, kita nggak tahu kapan dia udah kebanyakan dikasih beban. Nggak ada tandanya. Terus tiba-tiba aja capek sendiri.
Aku bukan capek.
Aku cuma menyadari, jam tiga pagi, bahwa aku sudah dua tahun menandai satu mic dari dua belas dan menaruh lakbannya di bagian bawah, di tempat yang tidak kelihatan kalau dipegang, dan bahwa itu bukan kerendahan hati.
Itu cara paling aman untuk mencintai seseorang tanpa pernah harus berdiri di mana-mana.
Dan Radit — Radit yang kalah, Radit yang ditolak di depan dua belas orang, Radit yang masih harus lewat depan sekre setiap hari — sudah mengatakan itu kepadaku di aula kosong dengan sopan sekali.
Sekitar jam empat pagi aku bangun dan melakukan sesuatu yang tidak pernah kulakukan.
Aku membuka file `11s.wav`.
Aku memakai headphone, di kos, dengan lampu mati, dan memutarnya sekali.
Sebelas detik. Aku sudah tahu isinya; aku yang merekamnya. Aku sudah mendengarnya mungkin dua ratus kali dalam dua tahun, biasanya waktu ada hal yang tidak beres dan aku butuh diingatkan tentang sesuatu.
Aku memutarnya lagi.
Dan untuk pertama kalinya, aku mendengar hal yang berbeda.
Selama dua tahun aku menyimpan sebelas detik itu sebagai bukti bahwa aku sudah tahu sejak hari itu. Itu yang selalu kuceritakan ke diriku sendiri. Ini bukti. Ini tanggalnya.
Jam empat pagi itu aku mendengarnya lagi dan menyadari bahwa itu bukan bukti apa-apa.
Itu cuma sebelas detik dari sebuah ruangan, disimpan di komputer orang lain, di dalam folder yang tidak pernah dibuka siapa pun, tanpa tanggal, tanpa nama.
Aku menandai satu mic dari dua belas dan menaruh lakbannya di bawah.
Aku menyimpan sebelas detik dan tidak memberi nama.
Aku duduk di aula dua tahun dan tidak pernah menanyakan satu pertanyaan pun sampai kepalanya ada di bahuku.
Semua yang kupunya adalah versi tersembunyi dari hal-hal yang seharusnya diucapkan.
Kami ketemu di kantin belakang jam sepuluh pagi. Tempat yang sama.
Dia sudah duduk waktu aku datang, dan sudah ada dua gelas di meja: kopi hitam dan es teh tawar.
Dia yang memesan kali ini.
Aku duduk.
“Fakhri, soal kemarin—”
“Aku ikut tanggal dua puluh,” kataku.
Dia berhenti. “Beneran?”
“Iya. Aku ikut. Enam jam, empat belas orang, Bayu Prakoso, semuanya. Aku ikut.”
Bahunya turun sekitar dua sentimeter dan aku melihatnya turun dan aku hampir berhenti di situ.
“Tapi aku nggak bisa yang kedua,” kataku.
Dia tidak langsung menjawab.
Itu bagus. Anggun yang menjawab cepat adalah Anggun yang sedang mengarang. Anggun yang diam adalah Anggun yang sedang mendengar.
“Yang kedua,” ulangnya.
“Dua bulan setengah tanpa ngomong apa-apa ke siapa-siapa.” Aku memegang gelasku dan tidak meminumnya. “Aku nggak bisa.”
“Kenapa?”
“Karena nggak ada ujungnya.”
“Ada. Semester habis.”
“Terus habis itu apa?”
Dia membuka mulut. Menutupnya.
“Anggun, kemarin aku nanya itu dan kamu bilang nggak tahu.” Aku menaruh gelasku. “Dan aku percaya kamu. Kamu beneran nggak tahu. Kamu bukan lagi nunda sampai tanggal tertentu, kamu nunda sampai aman. Dan aman itu nggak punya tanggal.”
Kipas angin di kantin belakang berputar tidak rata.
“Tiap bulan bakal ada alasan yang bener,” kataku. “Selalu ada. Bulan depan ada wisuda kakak tingkat. Bulan depannya lagi ada pemilihan BEM. Terus skripsi. Terus sidang. Dan tiap alasan itu bener, Anggun, itu yang bikin susah. Kamu nggak pernah ngasih alasan yang salah sekali pun.”
“Terus aku harus gimana?”
“Aku nggak minta kamu ngumumin.”
Dia mendongak.
“Aku nggak minta kamu berdiri di panggung dan ngomong ke delapan ratus orang,” kataku. “Aku nggak butuh itu. Aku nggak akan pernah butuh itu.”
“Terus?”
“Satu orang,” kataku.
“Satu orang,” ulangnya.
“Sasa.”
Dia menatapku.
“Sasa udah tahu ada yang salah dari hari Minggu di kafe,” kataku. “Dia berhenti nanya bukan karena dia percaya. Dia berhenti nanya karena dia capek nebak. Dan kemarin dia buka tasmu terus nggak jadi ngambil apa-apa.”
Wajah Anggun berubah.
“Kamu tahu soal tas?”
“Kamu cerita ke aku sendiri semalam sebelumnya.” Aku mengangkat bahu. “Kamu bilang ‘Sasa hampir’. Terus kamu nggak ngelanjutin.”
Dia menutup matanya sebentar.
“Satu orang,” kataku lagi. “Bukan buat aku. Aku bisa hidup dua bulan setengah tanpa satu orang pun tahu; aku udah hidup dua tahun kayak gitu, aku ahli.”
Aku menarik napas, dan aku menyadari bahwa aku sudah bicara lebih banyak dalam sepuluh menit terakhir daripada yang biasanya kulakukan dalam seminggu.
“Aku minta satu orang,” kataku, “karena kalau nggak ada satu orang pun di dunia ini yang tahu ini beneran, maka nggak ada bedanya sama sekali antara ini dan yang lima minggu lalu. Dan aku nggak mau bangun tiga bulan lagi terus nggak bisa nunjukin satu hal pun yang berubah.”
Anggun duduk di kantin belakang jam sepuluh pagi dan tidak berkata apa-apa selama hampir satu menit.
“Kamu nolak aku,” katanya akhirnya.
“Iya.”
“Ini pertama kali.”
“Aku tahu.”
Dia tertawa satu kali, pendek, dan bunyinya jelek.
“Aku sempet mikir kamu nggak bisa,” katanya. “Beneran. Aku mikir gitu semalem. Aku mikir ‘ya udah dia bakal bilang iya’, dan aku ngerasa lega, dan terus aku ngerasa jijik sama diriku sendiri karena lega.”
“Anggun.”
“Nggak, biarin.” Dia mengusap matanya dengan punggung tangan, cepat, marah. “Aku pantes.”
“Aku nggak lagi ngehukum kamu.”
“Aku tahu.” Dia menarik napas. “Itu yang bikin lebih parah.”
Kami duduk di sana beberapa saat.
“Boleh aku mikir dulu?” tanyanya.
“Boleh.”
“Berapa lama?”
Dan aku hampir — hampir sekali — mengatakan “terserah kamu”.
Itu kalimatku. Itu kalimat yang sudah kupakai selama dua tahun. Itu kalimat yang membuat semua orang merasa nyaman di sekitarku dan membuat tidak ada satu pun dari mereka yang pernah harus memikirkan apa yang kubutuhkan.
“Sampai tanggal dua puluh,” kataku.
Dia mendongak.
“Kita berangkat ke rumah Om Har tanggal dua puluh,” kataku. “Sebelum itu, kabarin.”
“Dan kalau aku nggak bisa?”
“Ya kita tetep berangkat.”
“Fakhri—”
“Aku udah bilang aku ikut.” Aku berdiri dan mengambil ranselku. “Aku nggak akan narik itu buat maksa kamu. Itu bukan minta, itu ancaman.”
“Fakhri.”
“Hm.”
“Kalau aku bilang ke Sasa,” katanya, “kamu tahu apa yang bakal terjadi, kan?”
“Nggak semuanya.”
“Sasa bakal marah. Bukan karena aku bohong.” Anggun memegang gelasnya dengan dua tangan. “Sasa bakal marah karena aku nggak percaya sama dia. Dan dia bener.”
“Iya.”
“Dan habis itu dia bakal mikirin ulang semuanya. Lima minggu. Tiap pertanyaan yang dia tanyain, tiap kali dia mundur, tiap kali dia nggak jadi buka tasku.” Suaranya menipis. “Dan dia bakal sadar bahwa tiap kali dia milih baik ke aku, aku lagi ngeliatin dia buat mastiin dia nggak curiga.”
Aku tidak berkata apa-apa, karena tidak ada apa pun yang bisa kukatakan yang tidak akan menjadi bantalan, dan hari ini bukan hari untuk bantalan.
“Kamu tetep minta aku bilang.”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena kamu udah mikirin semua yang bakal rusak,” kataku, “dan kamu belum sekali pun mikirin apa yang bakal rusak kalau kamu nggak bilang.”
Dia mendongak menatapku dari kursinya, dan aku berdiri di kantin belakang jam sepuluh pagi dan menyadari bahwa selama lima minggu ini aku selalu berjalan satu langkah di belakangnya, dan bahwa hari ini adalah hari pertama aku berdiri di depan dan tidak menoleh untuk memastikan dia masih di sana.
Rasanya jelek sekali.
Aku tetap pergi.
Aku berjalan ke parkiran dan menyalakan motor dan sampai di studio empat puluh menit lebih awal dari jadwal.
Pak Wisnu melihatku masuk dan langsung tahu.
“Berantem?”
“Nggak.”
“Fakhri.”
“Nggak berantem, Pak. Aku nolak sesuatu.”
Pak Wisnu mengangguk pelan, menuang kopi ke gelas kedua tanpa bertanya, dan menaruhnya di meja mixer.
“Bagus.”
Aku menoleh.
“Bagus?”
“Ya bagus.” Dia duduk di sofa yang per-nya sudah menyerah. “Empat tahun kamu di sini, kamu nggak pernah nolak apa-apa. Sekali pun. Saya kasih kerjaan jam sebelas malam, kamu kerjain. Saya lupa bayar dua minggu, kamu nggak nagih.”
“Bapak selalu bayar.”
“Iya, tapi kamu nggak pernah nagih.” Dia menunjuk dengan gelasnya. “Orang yang nggak pernah nolak itu bukan orang baik, Fakhri. Itu orang yang lagi nabung.”
“Nabung apa?”
“Ya nabung.” Dia mengangkat bahu. “Nabung sampai penuh. Terus tumpah. Terus semua orang kaget, padahal yang nabung dari dulu ya dia sendiri.”
Aku duduk di kursi kantor bekas itu dan tidak menyentuh apa pun selama beberapa menit.
“Pak.”
“Hm.”
“Kalau nolaknya kecepetan gimana?”
Pak Wisnu tertawa.
“Kamu nolak setelah dua tahun, Le,” katanya. “Kalau itu kecepetan, saya nggak tahu lagi ukurannya apa.”
- 1 Dua Belas Mic, Satu Lakban Biru
- 2 Dia Pacarku
- 3 Empat Puluh Tiga Hari
- 4 Kantin Nggak Ramai
- 5 Daftar
- 6 Satu Langkah di Belakang
- 7 Empat Puluh Detik
- 8 Aku Ngantuk
- 9 Hipotesis
- 10 Observasi
- 11 Payung
- 12 Ada yang Lihat
- 13 CCTV
- 14 Kursi Barisan Keempat
- 15 Dua Tahun
- 16 Versi yang Bakal Nempel
- 17 Kabelnya Berat
- 18 Tempat Paling Nggak Romantis di Kampus
- 19 Sebelas Detik
- 20 Boleh Saya Potong Sebentar
- 21 Kantong Dalam
- 22 Tanggal Dua Puluh
- 23 Nggak reading
- 24 Nama di Kontak
- 25 Hari Keempat Puluh Tiga
- 26 Satu Orang
- 27 Naik
- 28 Empat Jam dari Kampus
- 29 Rekonstruksi
- 30 Satu-satunya Orang yang Tahu
- 31 Aman
- 32 Yang Direkam
- 33 Tujuh Belas Menit
- 34 Lima Menit
- 35 Yang Nggak Manis
- 36 Hipotesis Keempat Belas
- 37 Aku Nggak Cemburu
- 38 Nggak Menarik untuk Difoto
- 39 Channel Tujuh
- 40 Dua Belas Mic