Chapter Thirty Four
Lima Menit
POV: Anggun
Radit yang memberikan slotnya, dan dia melakukannya dalam empat kalimat lewat pesan.
Anggun: dit, slot 5 menit sabtu. yang tadinya buat fakhri. aku yang mau pakai.
Radit W.: Oke.
Anggun: kamu nggak nanya isinya?
Radit W.: Nggak.
Radit W.: Ngun, aku ketua BEM, bukan sensor.
Radit W.: Tapi kalau kamu mau, aku bisa taruh di segmen paling akhir. Setelah penutupan resmi. Jadi yang mau pulang bisa pulang.
Aku menatap pesan terakhir itu lama sekali.
Itu bentuk kebaikan yang paling sulit dilihat: dia memberiku ruangan yang lebih kecil supaya lebih sedikit orang yang menonton kalau semuanya hancur.
Anggun: nggak usah.
Anggun: taruh sebelum penutupan.
Radit W.: Yakin?
Anggun: iya.
Anggun: dit
Anggun: maaf.
Radit W.: Sabtu aja.
Aku tidak menulis naskah.
Ini keputusan yang membuat Sasa hampir memukulku hari Kamis.
“Kamu nggak nulis?”
“Nggak.”
“Ngun, kamu itu nulis naskah buat ngucapin selamat ulang tahun ke Mel.”
“Iya.”
“Terus kenapa yang ini nggak?”
Kami di kos, hari Kamis malam, dua hari sebelum acara. Sasa duduk di lantai dengan seblak — dia membawa seblak lagi, dan itu artinya tujuh hari marahnya sudah lewat, dan aku tidak berani menyebutkannya karena takut waktunya di-reset.
“Karena aku terlalu bagus,” kataku.
Dia mendongak.
“Sas, kalau aku nulis, aku bakal nulis yang bagus. Aku bakal nulis yang bikin orang ngangguk-ngangguk dan bikin dua-tiga orang nangis dan bikin threadnya berhenti dalam dua hari.” Aku memegang bantal di pangkuanku. “Aku bisa. Kamu tahu aku bisa.”
“Terus?”
“Terus itu bakal jadi versi kelima.”
Sasa berhenti mengunyah.
“Aku udah bikin empat versi, Sas. Semua bagus. Semua bener sebagian.” Aku menggeleng. “Aku nggak mau bikin yang kelima. Aku mau ngomong satu kali tanpa nyusun.”
Dia menaruh bungkusnya.
“Ngun, kamu bakal berantakan di atas panggung.”
“Iya.”
“Kamu belum pernah berantakan di atas panggung seumur hidup.”
“Aku tahu.”
Sasa menatapku beberapa detik.
“Ya udah,” katanya. “Aku duduk di barisan dua.”
Sabtu.
Acaranya seminar terbuka fakultas, delapan ratus kursi, terisi mungkin enam ratus. Bukan Malam Puncak. Tidak ada tamu rektorat.
Tapi ada grup angkatan, dan grup angkatan punya jari, dan dua belas ribu tayangan itu belum berhenti bergerak sejak Minggu.
Aku sampai jam tiga.
Fakhri di lantai panggung, menempel jalur kabel. Satu meter demi satu meter.
Aku duduk di kursi barisan keempat, kursi ketiga dari lorong tengah, dan tidak berkata apa-apa selama empat puluh menit, dan dia juga tidak, dan itu adalah empat puluh menit paling tenang dalam enam minggu terakhir hidupku.
Jam setengah tujuh, dia menyerahkan mic-ku.
Nomor tujuh. Lakban biru di bawah batangnya.
“Baterainya baru?”
“Baru.”
“Monitor?”
Dia menatapku sebentar.
“Aku naikin lima,” katanya.
“Lima?”
“Setengah desibel lebih banyak dari dua tahun lalu.”
Aku memutar mic itu di tanganku dan hampir tidak bisa menjawab.
“Kenapa lebih banyak?”
“Karena kali ini kamu bakal ngomong lebih pelan dari biasanya,” katanya. “Dan aku nggak mau kamu ngira kamu kekecilan.”
Mel datang ke ruang tunggu MC jam tujuh.
Aku tidak mengundangnya. Aku belum berbicara dengannya sejak depan perpustakaan hari Rabu, dan aku sudah menulis empat pesan permintaan maaf dan menghapus keempatnya karena keempatnya bagus.
Dia berdiri di pintu dengan tas selempangnya.
“Ngun.”
“Mel.”
“Aku denger kamu mau ngomong nanti.”
“Iya.”
Dia mengangguk. Lalu dia masuk, dan duduk di kursi plastik di sebelahku, dan tidak menangis, yang mana adalah hal paling mengkhawatirkan yang bisa dilakukan Mel.
“Aku masih sakit hati,” katanya.
“Aku tahu.”
“Aku bakal sakit hati lumayan lama.”
“Iya.”
“Tapi aku mikir dua hari ini.” Dia memegang tali tasnya. “Dan aku sadar aku marah bukan karena aku tahu belakangan.”
Aku menoleh.
“Aku marah karena kamu bener,” katanya. “Aku emang nggak bisa nyimpen apa-apa. Kalau kamu cerita ke aku hari Jumat itu, satu fakultas tahu hari Sabtu.”
“Mel, itu bukan—”
“Ngun.” Dia menoleh. “Aku nggak minta dibantah. Aku cuma mau kamu tahu bahwa aku ngerti, dan aku tetep sakit hati, dan dua-duanya bisa bener sekaligus.”
Dia berdiri.
“Aku duduk sama Sasa di barisan dua.”
“Mel.”
“Hm.”
“Makasih.”
“Jangan makasih,” katanya, persis seperti Sasa, dan aku baru sadar malam itu bahwa dua orang yang sudah sembilan tahun berteman denganku ternyata sudah lama saling menular. “Ngomong yang bener aja nanti.”
Segmen terakhir sebelum penutupan. Jam sembilan lewat dua puluh.
Aku naik lewat tangga kiri.
Enam ratus orang. Aku sudah berdiri di depan enam ratus orang mungkin tiga puluh kali. Aku tahu persis bagaimana rasanya: seperti ruangan yang menahan napas untukmu, dan tugasmu cuma mengembalikannya.
Malam itu berbeda.
Malam itu enam ratus orang sudah tahu aku akan bicara, karena Radit menulis di rundown “SEGMEN 12 — PENYAMPAIAN PRIBADI (5 menit)” dan tidak ada satu pun orang di fakultas ini yang tidak bisa menghitung.
Ruangannya bukan menahan napas.
Ruangannya menunggu.
Aku berdiri di titik tengah panggung dan melihat ke belakang aula, ke kotak lampu di atas pintu belakang, karena itu yang kuajarkan ke orang lain dua minggu lalu dan ternyata aku sendiri belum pernah mencobanya.
Lalu aku menurunkan pandanganku, karena itu curang.
Aku melihat ke orang-orang.
“Halo semuanya.”
Suaraku keluar dari empat speaker yang dia gantung sendiri, lewat mixer yang dia bersihkan fadernya dengan kuas kecil.
“Aku nggak nyiapin naskah buat ini, jadi kalau berantakan, ya berantakan.”
Ada suara kecil di barisan tengah. Bukan tawa.
“Enam minggu lalu, di lorong belakang gedung ini, ada dua belas orang. Aku salah satunya.”
Ruangan itu diam total.
“Dan malam itu aku bilang ke semua orang bahwa Fakhri Wirawan pacarku.”
Aku menarik napas.
“Itu bohong.”
Aku tidak tahu apa yang kuharapkan.
Yang terjadi adalah tidak ada apa-apa. Enam ratus orang tidak bergerak. Tidak ada yang berbisik. Tidak ada yang mengangkat ponsel — atau mungkin ada, tapi aku tidak melihat, karena aku sudah berhenti menghitung ponsel untuk pertama kalinya sejak semester tiga.
“Aku bohong karena aku panik,” kataku. “Ada yang nyatain perasaannya ke aku di depan dua belas orang, dan orang itu nggak salah apa-apa. Dia sopan. Dia baik. Dia bahkan udah minta maaf ke aku minggu lalu soal sesuatu yang bukan salah dia.”
Aku tidak menyebut namanya. Semua orang di ruangan itu tahu namanya.
“Dan aku nggak sanggup jawab di depan dua belas orang. Jadi aku narik orang yang lagi lewat.”
Suaraku mulai tidak stabil dan aku membiarkannya.
“Setelah itu kami bikin perjanjian. Beneran, di kertas. Empat puluh tiga hari. Enam poin. Ada tanda tangan dua-duanya.” Aku hampir tertawa. “Salah satu poinnya aku tulis pakai huruf kapital: sahabatku sendiri nggak boleh tahu.”
Barisan dua. Aku tidak melihat ke sana. Aku sudah janji ke diriku sendiri untuk tidak melihat ke sana.
“Jadi buat semua orang yang enam minggu ini nebak-nebak: kalian bener. Timeline-nya bener. Foto-fotonya emang nggak ada. Semuanya bener.”
“Tapi ada tiga hal yang salah, dan aku ke sini buat itu.”
Aku memindahkan mic ke tangan kiri.
“Yang pertama. Semua orang bilang dia dipakai.”
Aku menelan.
“Dia tahu. Dari detik ketiga. Dia tahu semuanya waktu dia setuju, dan dia tanda tangan pakai tulisan yang bisa dibaca.” Aku menatap ke barisan tengah. “Jadi kalau kalian mau bilang ada yang bodoh di cerita ini, orangnya bukan dia.”
“Yang kedua.” Suaraku pecah dan aku melanjutkan. “Semua orang bilang aku ngangkat dia. Ada yang bilang ke dia langsung: ‘seneng ya sekarang jadi kelihatan.’”
Aku menggeleng.
“Orang itu udah pegang suara di gedung ini selama dua tahun. Empat puluh empat acara. Termasuk semua acara yang kalian datengin dan kalian bilang rapi banget tahun ini.”
Ada gerakan kecil di barisan tengah. Beberapa kepala menoleh ke arah meja mixer, ke sisi kiri belakang, ke bagian gedung yang lampunya sengaja dimatikan.
“Yang mati listrik empat puluh detik di Malam Apresiasi — yang suaraku ilang di tengah kalimat — itu dia yang benerin. Jalan kaki. Bukan lari.” Aku menahan napasku sebentar. “Videonya dipotong sama editor karena itu bagian yang rusak. Delapan puluh tiga komentar di video itu dan nggak ada satu pun yang nyebut suara.”
Ruangan itu benar-benar diam sekarang.
“Aku nggak ngangkat dia. Kalian aja yang nggak pernah nengok.”
“Yang ketiga.”
Dan di sinilah aku berhenti, dan berhenti itu bukan teknik, karena aku benar-benar tidak bisa melanjutkan selama kira-kira tiga detik.
“Selama enam minggu itu, tiap kali aku megang tangannya di depan orang, aku selalu ngasih alasan.”
Enam ratus orang.
“Kantin ramai. Ada temenku yang ngikutin. Lantainya licin. Antreannya sempit.”
Aku memegang mic dengan dua tangan.
“Dan kalimat yang paling sering aku pakai — aku udah ngitung, tujuh kali dalam enam minggu — adalah ini.”
Aku menarik napas.
“‘Biar nggak ketahuan.’”
Suaraku keluar dari empat speaker dan memenuhi ruangan yang menampung delapan ratus kursi.
“Aku selalu ngomong gitu. Tiap kali. Bahkan waktu nggak ada satu orang pun di lorong. Bahkan waktu gedungnya udah dikunci.”
Aku menutup mataku sebentar dan membukanya lagi.
“Dan alasannya bukan karena aku takut ketahuan sama kalian.”
Aku menatap enam ratus orang di ruangan itu.
“Alasannya karena kalau ada alasan, berarti bukan aku yang mau. Dan kalau bukan aku yang mau, berarti kalau nanti selesai, bukan aku juga yang kehilangan.”
Aku menurunkan mic sedikit, lalu mengangkatnya lagi.
“Aku udah suka sama orang itu dari semester tiga,” kataku. “Dua tahun. Dan aku terlalu pengecut buat ngaku bahkan ke diriku sendiri, jadi aku nunggu sampai ada keadaan darurat yang maksa aku nyebut namanya.”
Aku berhenti.
“Itu aja. Makasih.”
Ada satu bagian yang tidak kurencanakan sama sekali, dan aku baru menyadari kekuatannya beberapa hari kemudian waktu ada yang mengirimkan rekamannya kepadaku.
Sebelum kalimat terakhir, aku berhenti sekitar dua detik dan menoleh ke sisi kiri belakang.
Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku cuma menoleh.
Dan enam ratus orang di ruangan itu ikut menoleh, karena begitulah cara kerja ruangan: kalau orang di panggung menoleh, semuanya ikut.
Enam ratus kepala berputar ke arah bagian gedung yang lampunya sengaja dimatikan.
Ke meja mixer di sisi kiri, dua meter dari tembok.
Ke tempat yang selama dua tahun dirancang khusus supaya tidak ada yang melihat ke sana.
Aku tidak akan pernah bisa memberi dia lampu. Kami berdua tahu itu; orang itu tidak akan pernah mau berdiri di panggung sendirian dan tidak akan pernah tahu harus menaruh tangannya di mana.
Tapi malam itu, selama dua detik, aku membuat enam ratus orang menoleh ke arah gelap.
Aku tidak ingat turun tangga.
Aku ingat suara. Aku ingat bahwa ruangan itu tidak bertepuk tangan selama kira-kira dua detik, dan dua detik itu adalah dua detik terpanjang dalam dua tahun karierku.
Lalu ada satu orang di barisan dua yang bertepuk tangan sangat keras, dengan cara yang sangat tidak elegan, dan aku tidak perlu melihat untuk tahu siapa.
Lalu barisan depan.
Lalu sebagian besar ruangan, dan sebagian tidak, dan aku bisa melihat dengan sangat jelas mana yang mana.
Aku turun lewat tangga kiri, karena yang kanan ada kabel.
Dan di sisi kiri belakang, di balik meja mixer, di bagian gedung yang lampunya sengaja dimatikan, ada satu orang yang tidak bertepuk tangan sama sekali.
Dia berdiri.
Cuma itu. Dia berdiri di belakang mixernya, di ruangan yang gelap, di tempat yang tidak ada satu pun dari enam ratus orang itu bisa melihat.
Dan aku menyerahkan mic nomor tujuh ke tangannya dan tidak bisa mengatakan apa-apa, dan dia menerimanya dengan dua tangan, seperti orang menerima piring panas.
- 1 Dua Belas Mic, Satu Lakban Biru
- 2 Dia Pacarku
- 3 Empat Puluh Tiga Hari
- 4 Kantin Nggak Ramai
- 5 Daftar
- 6 Satu Langkah di Belakang
- 7 Empat Puluh Detik
- 8 Aku Ngantuk
- 9 Hipotesis
- 10 Observasi
- 11 Payung
- 12 Ada yang Lihat
- 13 CCTV
- 14 Kursi Barisan Keempat
- 15 Dua Tahun
- 16 Versi yang Bakal Nempel
- 17 Kabelnya Berat
- 18 Tempat Paling Nggak Romantis di Kampus
- 19 Sebelas Detik
- 20 Boleh Saya Potong Sebentar
- 21 Kantong Dalam
- 22 Tanggal Dua Puluh
- 23 Nggak
- 24 Nama di Kontak
- 25 Hari Keempat Puluh Tiga
- 26 Satu Orang
- 27 Naik
- 28 Empat Jam dari Kampus
- 29 Rekonstruksi
- 30 Satu-satunya Orang yang Tahu
- 31 Aman
- 32 Yang Direkam
- 33 Tujuh Belas Menit
- 34 Lima Menit reading
- 35 Yang Nggak Manis
- 36 Hipotesis Keempat Belas
- 37 Aku Nggak Cemburu
- 38 Nggak Menarik untuk Difoto
- 39 Channel Tujuh
- 40 Dua Belas Mic