Chapter Twenty Four
Nama di Kontak
POV: Anggun
Aku tidak ke kampus hari Kamis.
Bukan menghindar. Atau — ya, menghindar, tapi bukan dari dia. Aku butuh satu hari untuk duduk di kos dan melakukan sesuatu yang sudah kutunda lima minggu, yaitu membaca ulang seluruh perbuatanku sendiri tanpa menyusun versi apa pun.
Aku mulai dari yang paling gampang: galeri.
Empat foto dari kafe hari Minggu. Itu saja. Lima setengah minggu, dan yang ada di ponselku cuma empat foto yang diambil oleh Mel karena Sasa ingin menguji reaksi kami.
Lalu aku membuka folder dokumentasi Malam Puncak yang dikirim panitia ke grup.
Dua ratus tiga puluh empat foto.
Aku ada di enam puluh delapan di antaranya.
Aku menggulung semuanya, satu per satu, dengan ibu jari, selama hampir empat puluh menit.
Foto panitia inti: tiga puluh delapan orang, semuanya berdiri di panggung, aku di tengah. Caption di grup mencantumkan tiga puluh delapan nama.
Foto divisi acara. Foto divisi konsumsi. Foto divisi dekorasi. Ada foto anak-anak dekorasi sedang memasang backdrop jam dua siang, berkeringat, tertawa.
Aku menemukan dia di dua foto.
Yang pertama, foto panggung dari kejauhan waktu penampilan musik. Di sudut kiri bawah, gelap, di balik meja mixer, ada bentuk manusia yang bisa siapa saja.
Yang kedua, foto anak dekorasi yang sedang memasang backdrop. Di latar belakang, jauh, kabur, ada orang jongkok di lantai sedang menempel lakban.
Dua ratus tiga puluh empat foto. Dua, dan keduanya kecelakaan.
Lalu aku melakukan hal yang lebih buruk.
Aku membuka aplikasi telepon dan mencari kontaknya.
Aku sudah tahu apa yang akan kutemukan. Aku yang menyimpannya. Aku menyimpannya lima setengah minggu lalu, di ruang alat, jam sembilan malam, dengan ponsel dimiringkan menjauh dari arahnya supaya dia tidak bisa melihat layar.
Jam 3
Itu namanya. Dua karakter dan satu angka.
Aku ingat betul kenapa aku menyimpannya begitu. Aku ingat logikanya, dan logikanya bagus: kalau ada yang meminjam ponselku — Sasa selalu meminjam ponselku — dan melihat nama “Fakhri” di riwayat panggilan, akan ada pertanyaan. Kalau melihat “Jam 3”, tidak ada apa-apa. Itu terlihat seperti pengingat.
Aku menatap dua karakter dan satu angka itu di layar ponselku selama sangat lama.
Dan aku memikirkan hal-hal berikut, berurutan, dan aku tidak akan memperhalus satu pun.
Bahwa selama dua tahun, seluruh gedung itu menyimpan orang ini sebagai “Audio”. Aku pernah melihat tangkapan layar yang salah kirim di grup panitia; ada yang menyimpannya sebagai “Audio Aula”, ada yang “Mas Sound”.
Bahwa aku pernah marah tentang itu. Aku marah di dalam hati selama tiga minggu dan tidak boleh menunjukkannya. Aku marah waktu delapan puluh tiga komentar tidak ada satu pun yang menyebut suara. Aku marah waktu ada yang bilang “kok bisa sih” di lorong.
Dan bahwa di ponselku sendiri, orang itu disimpan sebagai jam.
Bukan nama. Jam.
Waktu di mana dia berguna.
Aku menaruh ponsel di kasur dan berjalan ke kamar mandi dan duduk di lantai, karena itu tempat yang selalu kupilih kalau sesuatu di dalam dadaku tidak muat.
Aku sudah menyusun pembelaan sepanjang jalan ke kamar mandi. Tentu saja. Itu yang kulakukan.
Pembelaan satu: aku menyembunyikannya untuk melindungi dia.
Pembelaan dua: kalau ketahuan, versi yang beredar akan menempel di dia, bukan di aku.
Pembelaan tiga: Radit akan jadi bahan tertawaan satu fakultas.
Semuanya benar. Aku sudah bilang itu ke Fakhri di kantin belakang dan dia bahkan tidak membantah, karena dia tidak pernah membantah hal yang benar.
Tapi ada satu hal yang tidak bisa dijelaskan oleh tiga pembelaan itu.
Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang bisa melihat nama kontak di ponselku.
Itu di dalam ponselku. Kunci layarnya sidik jariku. Sasa meminjam ponselku mungkin sekali sebulan, dan itu pun untuk kalkulator.
Aku menyembunyikan namanya di tempat yang tidak ada penontonnya sama sekali.
Sama seperti alasan-alasan yang kuberikan di lorong kosong. Sama seperti “kantin ramai” di kantin yang tidak ramai. Sama seperti CCTV yang sudah mati dari tahun lalu.
Fakhri sudah menyimpulkannya berminggu-minggu lalu dan tidak pernah mengatakannya kepadaku. Aku baru sampai sekarang.
Alasan-alasan itu bukan untuk orang lain.
Aku menyembunyikan dia dari diriku sendiri.
Ada bagian yang lebih jelek, dan aku menemukannya sekitar setengah jam kemudian, masih di lantai kamar mandi.
Aku selalu berpikir bahwa aku dan kampus ini berdiri di dua pihak yang berbeda soal Fakhri.
Kampus tidak melihatnya. Aku melihatnya. Itu ceritanya. Itu cerita yang kupakai untuk merasa lebih baik dari empat ratus orang di aula, dari delapan puluh tiga komentar, dari anak semester tiga yang bertanya “eh siapa tuh”.
Cerita itu bohong.
Kampus memperlakukan dia sebagai fungsi. Mas audio. Dipanggil kalau ada yang mati, dilupakan kalau semuanya jalan.
Dan aku memperlakukan dia sebagai fungsi juga.
Jam 3.
Bedanya cuma satu: aku tahu namanya, dan aku tetap memilih menyimpannya sebagai jam.
Itu lebih buruk. Itu jauh lebih buruk. Orang yang tidak tahu bisa dimaafkan karena tidak tahu.
Ada satu pembelaan lagi yang kucoba, dan ini yang paling licin, jadi aku menuliskannya supaya tidak bisa kupakai lagi nanti.
Pembelaan empat: aku memang begitu ke semua orang. Aku menyimpan banyak kontak dengan nama aneh. Mama disimpan “Mama”. Sasa disimpan “Sasa 🔪”. Kevin dulu disimpan—
Dan aku berhenti di situ, karena aku ingat.
Kevin disimpan “Kevin Aditama”. Nama lengkap. Dari hari pertama.
Dua bulan pacaran yang seluruh isinya adalah meja panjang dan orang lain dan foto, dan aku menyimpan namanya dengan lengkap sejak hari pertama tanpa berpikir sedetik pun.
Karena tidak ada yang perlu disembunyikan tentang Kevin.
Karena Kevin adalah versi diriku yang boleh dilihat orang.
Aku mengubah nama kontaknya jam empat sore.
Aku duduk di kasur, membuka kontak, menghapus dua karakter dan satu angka itu, dan mengetik namanya.
Fakhri Wirawan
Aku menatapnya.
Lalu aku menghapus “Wirawan” karena itu berlebihan, lalu mengetiknya lagi karena menghapusnya terasa seperti mengurangi sesuatu.
Aku menyimpannya.
Dan aku duduk di kasur dengan ponsel di tangan dan merasakan sesuatu yang sangat besar dan sangat tidak proporsional dengan tindakan yang baru saja kulakukan, yaitu mengetik tujuh belas karakter di sebuah aplikasi.
Karena itu tidak berguna sama sekali.
Tidak ada satu orang pun yang akan melihatnya. Tidak ada yang berubah di dunia. Kampus tetap tidak tahu. Sasa tetap tidak tahu. Kertas perjanjian itu tetap ada di kantong dalam tasku.
Yang berubah cuma satu hal: sekarang kalau dia menelepon, yang muncul di layarku adalah manusia.
Aku menangis di kasur selama sekitar sepuluh menit untuk hal sekecil itu, dan aku memutuskan untuk tidak menceritakannya kepada siapa pun, termasuk kepada dia, karena menceritakannya akan mengubahnya menjadi hadiah.
Dan itu bukan hadiah.
Itu utang yang dibayar sebagian.
Sekitar jam lima, aku melakukan satu hal lagi.
Aku membuka grup panitia — grup yang isinya delapan puluh empat orang — dan menggulung ke atas, jauh, sampai enam bulan lalu.
Aku mencari namanya.
Dia mengirim pesan dua puluh sembilan kali dalam enam bulan. Aku menghitungnya semua.
Isinya:
jalur kabel udah aku pindah ke atas, jangan taruh kursi di sisi kiri
mic 4 baterainya lemah, jangan dipakai buat sambutan
file video tolong dikirim minimal H-1, bukan H-0
besok aku dateng jam 1
aula kebuka jam 3, gerbang belakang
sound udah aman
sound udah aman
sound udah aman
Dua puluh sembilan pesan dalam enam bulan, dan tidak ada satu pun yang berisi kata yang tidak perlu.
Lalu aku mencari sesuatu yang lain: berapa kali ada orang yang membalas pesannya.
Empat.
Tiga di antaranya “oke”.
Yang keempat: “makasih bang 🙏” dari anak semester tiga yang bertanya soal monitor.
Delapan puluh empat orang di satu grup. Dua puluh sembilan pesan. Empat balasan.
Aku menutup grup itu dan menaruh ponsel telungkup di kasur dan berbaring di sebelahnya dengan mata terbuka selama entah berapa lama.
Malamnya aku membuka catatan dan menulis daftar baru.
Bukan daftar sepuluh poin. Daftar itu sudah kuhapus di Bab hidupku yang lain.
Yang ini judulnya cuma satu kata:
BUKTI
Dan isinya pertanyaan, bukan poin.
Apa yang berubah di dunia kalau bukan cuma aku yang tahu?
Aku menatap pertanyaan itu, dan aku menyadari bahwa Fakhri sudah menanyakan persis pertanyaan itu di kantin belakang jam sepuluh pagi, dengan kalimat yang berbeda, dan aku menjawabnya dengan “boleh aku mikir dulu”.
Aku minta satu orang, karena kalau nggak ada satu orang pun di dunia ini yang tahu ini beneran, maka nggak ada bedanya sama sekali antara ini dan yang lima minggu lalu.
Aku menutup catatan itu.
Lalu aku mengambil kertas rundown dari kantong dalam tasku dan membukanya di kasur, dan aku membaca poin satu.
Batas waktu: empat puluh tiga hari. Nggak diperpanjang.
Aku menghitung dengan jari, seperti orang bodoh, untuk yang kesekian kalinya.
Besok.
Besok hari keempat puluh tiga.
Aku tidak tidur sampai lewat tengah malam, dan sekitar jam setengah dua belas aku melakukan hal terakhir hari itu.
Aku mengetik pesan ke Sasa.
sas, besok bisa ke kos aku?
Aku menatapnya selama empat menit dan menghapusnya.
Aku mengetiknya lagi.
sas
Hapus.
sas ada yang mau aku ceritain
Aku menatap kalimat itu paling lama. Enam menit. Aku bahkan mengeja ulang setiap katanya di dalam kepala, seperti membaca rundown sebelum naik.
Dan lalu aku menghapusnya juga, dan menaruh ponsel di lantai, dan berbaring menatap langit-langit.
Bukan karena aku berubah pikiran.
Karena aku menyadari bahwa aku sedang menyiapkan kalimat pembuka lagi. Menyusun. Mengukur. Memilih versi yang paling aman.
Dan kalau aku mengirim pesan malam ini, besok aku akan datang ke pertemuan itu dengan tiga argumen dan lima jawaban cadangan dan satu senyum nomor tiga.
Sasa tidak butuh Anggun yang menyiapkan.
Aku mengirim satu pesan jam sebelas malam.
Anggun: besok aku dateng jam 3
Balasannya datang dalam empat puluh detik.
Fakhri Wirawan: aku di aula
Dan aku menatap nama itu — nama yang utuh, di layarku sendiri, di tempat yang tidak ada penontonnya — sampai layarnya redup sendiri.
- 1 Dua Belas Mic, Satu Lakban Biru
- 2 Dia Pacarku
- 3 Empat Puluh Tiga Hari
- 4 Kantin Nggak Ramai
- 5 Daftar
- 6 Satu Langkah di Belakang
- 7 Empat Puluh Detik
- 8 Aku Ngantuk
- 9 Hipotesis
- 10 Observasi
- 11 Payung
- 12 Ada yang Lihat
- 13 CCTV
- 14 Kursi Barisan Keempat
- 15 Dua Tahun
- 16 Versi yang Bakal Nempel
- 17 Kabelnya Berat
- 18 Tempat Paling Nggak Romantis di Kampus
- 19 Sebelas Detik
- 20 Boleh Saya Potong Sebentar
- 21 Kantong Dalam
- 22 Tanggal Dua Puluh
- 23 Nggak
- 24 Nama di Kontak reading
- 25 Hari Keempat Puluh Tiga
- 26 Satu Orang
- 27 Naik
- 28 Empat Jam dari Kampus
- 29 Rekonstruksi
- 30 Satu-satunya Orang yang Tahu
- 31 Aman
- 32 Yang Direkam
- 33 Tujuh Belas Menit
- 34 Lima Menit
- 35 Yang Nggak Manis
- 36 Hipotesis Keempat Belas
- 37 Aku Nggak Cemburu
- 38 Nggak Menarik untuk Difoto
- 39 Channel Tujuh
- 40 Dua Belas Mic