← Sebut Saja Namanya

Chapter Thirteen

CCTV

POV: Anggun


Dia masih di lorong.

Aku setengah berharap dia sudah pergi. Kalau dia sudah pergi, semuanya akan selesai dengan sendirinya, dan besok pagi aku bisa mengirim stiker lucu dan kami akan berpura-pura bahwa lorong ini tidak pernah ada, dan aku sangat, sangat bagus dalam melakukan hal itu.

Tapi dia masih di sana. Koper alat di kakinya. Berdiri menghadap dinding tempat papan panel listrik, seperti orang yang sedang membaca sesuatu yang tidak ada tulisannya.

Dia mendengar sepatuku dari dua puluh meter. Tentu saja.

Dia tidak berbalik.

“Fakhri.”

“Hm.”

“Aku belum selesai.”

Baru waktu itu dia berbalik.

Aku sudah menyiapkan enam kalimat pembuka dalam perjalanan empat puluh meter itu dan aku membuang semuanya begitu melihat wajahnya, karena tidak satu pun dari enam kalimat itu cocok untuk orang yang sedang berdiri seperti itu.

Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Dia berdiri seperti biasa. Bahunya seperti biasa, wajahnya seperti biasa.

Yang tidak seperti biasa adalah tangannya. Tangannya diam.

“Kamu marah?” tanyaku.

“Nggak.”

“Kamu kelihatan marah.”

“Aku nggak marah, Anggun.”

“Terus kenapa kamu bilang berhenti bilang itu?”

Dia diam beberapa detik.

“Karena tiap kali kamu bilang itu,” katanya, “aku harus percaya.”

Lorong itu empat puluh meter dan aku bisa mendengar suara Sasa dari aula, jauh, masih menanyakan soal kunci gudang, dan bunyi kursi lipat ditumpuk, dan seseorang tertawa.

“Kamu nggak harus percaya.”

“Aku harus.” Dia mengangkat koper alatnya, lalu menaruhnya lagi, yang mana adalah gerakan paling tidak efisien yang pernah kulihat dia lakukan. “Kalau aku nggak percaya, berarti aku mikir hal lain. Dan aku nggak boleh mikir hal lain.”

“Kenapa nggak boleh?”

“Karena ada tanggalnya, Anggun.” Suaranya sama sekali tidak naik. Itu bagian yang paling tidak adil. “Dua puluh satu hari. Ada kertasnya. Ada tanda tanganku.”


Aku pernah membaca bahwa manusia mengambil keputusan besar dalam waktu jauh lebih singkat daripada yang mereka kira, dan bahwa seluruh proses berpikir setelahnya cuma penyusunan alasan.

Aku tidak akan berpura-pura bahwa yang kulakukan berikutnya adalah hasil pemikiran.

Aku melangkah maju dan menunjuk ke atas, ke sudut lorong, ke kotak putih kecil yang menempel di pertemuan dinding dan langit-langit.

“Ada CCTV,” kataku.

Fakhri tidak mengikuti arah tanganku. Dia tetap menatapku.

“Anggun.”

“Di lorong ini ada CCTV, Fakhri. Semua koridor ada. Dan rekamannya masuk ke ruang keamanan, dan Pak Har nonton itu, dan Pak Har ngobrol sama semua orang di gedung ini—”

“Anggun.”

“—jadi kalau ada dua orang yang katanya pacaran empat bulan berdiri di lorong kosong terus salah satunya kabur, itu masuk rekaman, dan itu—”

Aku berhenti karena aku kehabisan napas, bukan karena aku kehabisan kalimat.

Fakhri berdiri di sana dan menatapku selama kira-kira tiga detik.

Dan dia tahu.

Aku menyadarinya di detik itu juga. Orang ini tahu setiap kabel di gedung ini. Orang ini bisa memberitahumu jenis lampu di setiap ruangan dan kapan terakhir diganti. Orang ini pernah menyebutkan bahwa AC sebelah kiri di gedung C bocor karena bunyinya beda.

Tidak mungkin dia tidak tahu tentang satu kotak putih di sudut lorong yang paling sering dia lewati selama dua tahun.

Dia tahu, dan dia tidak mengatakannya.

Dia menurunkan koper alatnya ke lantai.

“Oke,” katanya.

Satu kata. Dua suku kata. Sama seperti di malam pertama, waktu Radit mengulurkan tangan dan dia berkata “makasih” dan membiarkan aku menulis ulang hidupnya dalam tiga detik.

Dia memberikannya lagi. Dia memberikan alasan itu kepadaku seperti orang memberikan payung, tanpa menagih apa pun, tanpa menyebut bahwa dia tahu payungnya bocor.


Aku berdiri di sana beberapa detik dengan tangan masih setengah terangkat ke arah kotak putih itu.

Ada satu momen — sangat pendek — di mana aku hampir mundur.

Aku memikirkan semua hal yang akan hancur. Kontrak. Dua puluh satu hari. Sasa. Empat orang yang sudah kututup dengan satu nama. Ibunya di Semarang yang akan senang lalu sedih. Kertas rundown yang dilipat delapan di kantong dalam tasku, dengan tanda tangan yang bisa dibaca.

Aku memikirkan bahwa kalau aku mundur sekarang, semuanya bisa diselamatkan, dan bahwa aku sangat bagus dalam menyelamatkan sesuatu di detik terakhir. Itu pekerjaanku. Itu satu-satunya keahlianku.

Lalu aku memikirkan wajahnya waktu bilang karena tiap kali kamu bilang itu, aku harus percaya.

Dan aku menyadari bahwa selama tiga minggu ini aku sudah memaksa satu orang mempercayai enam kebohongan berturut-turut, dan bahwa dia melakukannya, setiap kali, tanpa mengeluh, karena itulah yang tertulis di kertas yang dia tanda tangani.

Aku melangkah satu langkah lagi.

Dia jauh lebih tinggi dariku dan aku sudah belajar dari kesalahan sepuluh menit yang lalu, jadi kali ini aku memegang kerah kausnya dengan dua tangan dan menariknya turun.

Dia menunduk.

Dia menunduk terlalu cepat untuk orang yang tidak tahu apa yang akan terjadi.


Aku sudah pernah dicium sebelumnya. Aku dua puluh satu tahun, aku pernah pacaran dua bulan, ini bukan hal baru bagi tubuhku dan aku sudah menyiapkan diriku untuk sesuatu yang bisa kutangani.

Yang tidak kusiapkan adalah kesunyiannya.

Bukan sunyi karena lorongnya kosong. Sunyi di dalam kepalaku.

Selama tiga minggu ini, setiap kali aku menyentuhnya, ada suara di dalam kepalaku yang bekerja sepanjang waktu — menghitung siapa yang melihat, mengukur jarak, menyusun alasan untuk dipakai setelahnya, memeriksa apakah wajahku sudah benar. Suara itu tidak pernah berhenti sejak lorong ini, tiga minggu lalu. Suara itu bahkan tidak berhenti waktu aku tidur.

Suara itu berhenti.

Dan yang tersisa cuma: tangannya yang naik ke sisi wajahku, pelan, seperti orang yang memegang sesuatu yang belum dia tahu beratnya. Kausnya di dalam kepalan tanganku. Rahangnya yang kasar sedikit karena dia sudah di gedung ini sejak jam satu siang.

Dan bau lakban dan sabun cuci dan debu, yang sudah dua minggu ini ada di jaket yang kupakai tidur dan tidak akan pernah kukembalikan.

Aku tidak menghitung berapa lama.

Untuk pertama kalinya sejak semester tiga, aku tidak menghitung apa pun.


Kami berpisah.

Aku masih memegang kerahnya. Dahiku ada di dagunya, karena aku tidak sanggup mengangkat kepala.

Kami bernapas, dan tidak ada satu pun dari kami yang mengatakan sesuatu, dan lorong itu tetap kosong, dan dari aula suara Sasa akhirnya menemukan kunci gudang dan berteriak kepada seseorang bahwa kuncinya ada di tas Mel dari tadi.

Fakhri bicara pertama.

“Anggun.”

“Jangan.”

“Aku harus.”

“Fakhri, jangan.”

Dia menunggu satu detik penuh, dan aku tahu persis apa yang akan dia katakan, dan aku tahu bahwa dia tahu bahwa aku tahu, dan dia tetap mengatakannya, karena dia tidak pernah sekali pun berbohong kepadaku sejak hari pertama kecuali satu kali tentang kenapa dia setuju.

“CCTV lorong ini udah mati dari tahun lalu,” katanya. “Kabelnya dipotong waktu renovasi plafon. Nggak pernah disambung lagi.”


Aku melepaskan kerahnya.

Aku mundur satu langkah. Lalu satu lagi.

“Kamu tahu dari tadi.”

“Iya.”

“Kenapa kamu diem aja?”

Dan orang itu — orang yang bicara di bawah dua belas kata, orang yang menjawab pertanyaan tentang perasaan dengan penjelasan teknis, orang yang selama dua tahun tidak pernah meminta apa pun dari siapa pun — mengatakan hal berikut, dengan suara yang sepenuhnya datar:

“Karena aku pengen.”

Tiga kata.

Aku berdiri di lorong itu dan merasakan seluruh sistem yang kubangun selama tiga minggu — enam alasan, tiga belas persiapan, satu daftar sepuluh poin, satu lembar rundown yang dilipat delapan — runtuh sekaligus, tanpa suara, seperti kursi lipat yang ditumpuk terlalu tinggi.

“Aku harus pulang,” kataku.

“Anggun—”

“Aku harus pulang.”

Aku berbalik.

Aku berjalan empat puluh meter dengan punggung tegak dan dagu naik, karena itu satu-satunya hal yang masih bekerja di tubuhku, dan aku keluar gedung dan naik ojek dan sampai kos dan duduk di lantai kamar mandi selama dua puluh menit dengan lampu menyala.

Dan aku menyadari sesuatu yang sangat sederhana dan sangat terlambat.

Selama tiga minggu ini, aku sibuk sekali menyusun alasan supaya boleh menyentuhnya.

Dan tidak sekali pun, tidak satu detik pun, aku berhenti untuk memikirkan bahwa dia juga tidak pernah menolak.


Sasa menelepon jam dua belas lewat dua puluh.

Aku mengangkatnya karena kalau tidak, Sasa akan datang ke kos.

“Ngun.”

“Aku capek banget, Sas.”

“Aku tahu. Aku cuma mau bilang satu hal terus aku tutup.” Ada suara jalanan di belakangnya; dia masih di ojek. “Aku minta maaf soal hari Minggu.”

Aku mengerjap. “Minggu?”

“Yang di kafe. Aku ngajakin kalian ke situ bukan buat nongkrong.” Dia berhenti sebentar. “Aku ngetes kamu, Ngun. Empat puluh menit. Aku nyusun pertanyaannya dari Kamis.”

“Aku tahu.”

“Iya, kamu emang selalu tahu, itu yang bikin aku ngerasa jahat banget.”

Aku menutup mataku di lantai kamar mandi.

“Sas, kamu nggak jahat.”

“Aku ngetes sahabatku sendiri kayak dia tersangka.”

“Karena aku bohong sama kamu.”

Kalimat itu keluar sebelum aku sempat menahannya, dan begitu keluar, ruangannya jadi sangat sunyi di kedua ujung telepon.

Sasa tidak bertanya bohong yang mana.

“Ya udah,” katanya akhirnya, pelan sekali. “Kalau udah siap, cerita.”

“Sas—”

“Tidur, Ngun.”

Dia menutup teleponnya duluan, yang tidak pernah dia lakukan seumur hidupnya.

Ponselku menyala jam satu lewat.

Fakhri: udah sampai?

Aku menatap dua kata itu di lantai kamar mandi.

Aku mengetik sesuatu. Menghapusnya. Mengetik lagi. Menghapus lagi.

Aku mengetik “udah” dan menatapnya selama empat menit dan tidak mengirimnya.

Aku mengetik “maaf” dan menghapusnya dalam dua detik karena itu adalah kata paling pengecut yang pernah diciptakan manusia dan aku sudah memakainya tiga kali kepada orang ini.

Akhirnya aku mengunci ponselku dan menaruhnya telungkup di ubin.

Aku tidak tidur sampai jam empat.

Sekitar jam tiga aku melakukan hal yang paling memalukan sepanjang tiga minggu ini, yang mana adalah standar yang tinggi: aku membuka galeri, mencari empat foto dari kafe hari Minggu itu, dan menatap yang kedua.

Yang di foto kedua dia melihat ke arahku.

Aku sudah menatap foto itu belasan kali sejak Minggu, selalu dengan penjelasan yang siap: dia menoleh karena Mel bilang sesuatu, dia menoleh karena aku bergerak, dia menoleh karena kebetulan.

Jam tiga pagi, penjelasan-penjelasan itu tidak ada satu pun yang bertahan.

Karena orang yang menoleh karena kebetulan tidak punya wajah seperti itu.

Besoknya aku tidak ke kampus.

Lusanya aku ke kampus dan mengambil jalur memutar lewat gedung B supaya tidak lewat aula.

Hari ketiga, aku duduk di kelas jam sepuluh dan menyadari bahwa aku sudah membaca satu paragraf yang sama sebanyak sebelas kali, dan bahwa jam tiga sore hari itu adalah gladi untuk acara penutupan rangkaian, dan bahwa untuk pertama kalinya dalam dua tahun aku tidak akan datang jam tiga.