Chapter Thirty
Satu-satunya Orang yang Tahu
POV: Anggun
Aku menyusun pernyataan itu Senin malam.
Empat versi. Aku menulisnya di catatan ponsel, satu per satu, dengan cara yang sama seperti aku menulis pembukaan acara.
Versi satu (tegas): “Aku nggak akan jelasin apa pun soal hubungan aku ke orang yang nggak pernah nanya langsung.”
Bagus. Kuat. Dan akan dibaca sebagai pengakuan oleh delapan ratus orang dalam waktu dua belas menit.
Versi dua (jenaka): sesuatu yang lucu tentang bagaimana aku memang jarang difoto karena aku selalu di panggung.
Ini akan berhasil. Ini akan sangat berhasil. Aku bisa membuat empat ratus orang tertawa dan pindah topik dalam sehari.
Dan itu akan menjadi kebohongan kelima.
Versi tiga (jujur sebagian): mengakui bahwa awalnya rumit, tanpa detail.
“Rumit” adalah bensin. “Rumit” akan menghasilkan seribu balasan yang menebak-nebak isi kata itu.
Versi empat (jujur penuh).
Aku menulisnya sampai selesai. Empat paragraf. Aku menyebut lorong, aku menyebut kontrak, aku menyebut empat puluh tiga hari, aku menyebut bahwa yang bohong adalah aku dan bahwa Fakhri tidak tahu apa-apa sampai dia sudah terlanjur berdiri di sana.
Aku membacanya ulang jam satu pagi.
Dan aku menemukan masalahnya di kalimat ketujuh.
Fakhri nggak tahu apa-apa.
Itu bohong. Fakhri tahu semuanya, dari detik ketiga, dan dia setuju, dan dia menandatanganinya dengan tanda tangan yang bisa dibaca.
Kalau aku menulis kalimat itu, aku sedang menyelamatkan diriku dengan cara menjadikan dia korban di depan delapan ribu orang.
Kalau aku menghapus kalimat itu — kalau aku menulis bahwa dia tahu dan tetap setuju — maka pertanyaan berikutnya dari delapan ribu orang adalah:
Kenapa dia mau?
Dan jawaban dari pertanyaan itu adalah rahasia orang lain, disimpan selama dua tahun, ditandai dengan tiga sentimeter lakban biru di bagian bawah batang mic, di tempat yang tidak kelihatan kalau dipegang.
Aku tidak berhak mengumumkan itu.
Aku menghapus keempat versi jam dua pagi dan tidak memposting apa pun.
Aku ingin menuliskan sesuatu di sini dengan jujur, karena kalau tidak, aku akan mengarang versi kelima untuk diriku sendiri nanti.
Ada alasan kelima yang tidak masuk daftar.
Kalau aku mengaku, semua orang akan tahu bahwa aku bohong di depan dua belas orang untuk menolak seseorang yang tidak melakukan kesalahan apa pun.
Dan aku tidak akan pernah bisa memandu acara di gedung itu lagi tanpa ada satu orang di antara delapan ratus yang memikirkan hal itu.
Dua tahun. Delapan puluh delapan acara. Satu-satunya hal yang benar-benar kupunya.
Aku menulis empat versi malam itu, dan dua di antaranya kuhapus karena melindungi Fakhri.
Dan dua sisanya kuhapus karena melindungi diriku sendiri, dan aku menyebut keempatnya dengan nama yang sama.
Sasa datang ke kos hari Selasa jam tujuh malam tanpa memberi tahu.
Dia tidak membawa seblak.
“Kenapa kamu diem?”
“Sas—”
“Ngun.” Dia berdiri di tengah kamarku dan tidak duduk. “Udah tiga hari. Dua ribu tayangan udah jadi dua belas ribu. Ada yang bikin meme. Ada yang bikin meme, Ngun.”
“Aku tahu.”
“Terus kenapa kamu diem?”
“Karena apa pun yang aku tulis bakal bikin lebih parah.”
“BOHONG.”
Sasa jarang berteriak. Dalam sembilan tahun, mungkin empat kali.
“Kamu diem karena kamu ngitung,” katanya. “Kamu selalu ngitung. Kamu ngitung mana yang paling aman terus kamu pilih yang itu, dan kamu nyebut hasilnya sebagai keputusan.”
“Sas, kalau aku ngaku, Fakhri yang jatuh.”
“Fakhri UDAH jatuh!”
Kamarku kecil dan tiba-tiba tidak muat untuk suara sebesar itu.
“Kemarin aku lewat koridor utama jam lima,” kata Sasa, lebih pelan sekarang, dan lebih pelan itu lebih buruk. “Aku lihat semua orang diem waktu dia lewat. Tiga puluh orang, Ngun.”
“Aku juga lihat.”
“Kamu ada di situ?”
Aku tidak menjawab.
“Kamu ada di situ,” katanya. “Dan kamu nggak ngapa-ngapain.”
“Kalau aku jalan ke dia di depan tiga puluh orang, besok ada versi baru—”
“YA UDAH BIARIN ADA VERSI BARU!”
Sasa duduk di lantai. Aku duduk di kasur. Kami tidak bicara selama mungkin dua menit.
“Aku mau ngomong sesuatu dan aku mau kamu dengerin sampai selesai,” katanya akhirnya.
“Oke.”
“Kamu cerita ke aku hari Jumat. Kamu kasih aku kertasnya. Kamu ceritain empat puluh lima menit dan aku marah dan aku pulang jam setengah dua belas.”
“Iya.”
“Dan sejak hari itu,” katanya, “aku jadi satu-satunya orang di kampus ini yang tahu ini beneran.”
Dia mendongak.
“Ngun, kamu tahu nggak rasanya gimana?”
Aku tidak menjawab.
“Kemarin ada empat orang di sekre lagi ngomongin kalian,” katanya. “Empat. Salah satunya bilang ‘kasihan sih cowoknya, dipake terus dibuang nanti’. Dan aku duduk di situ megang stempel.”
Suaranya mulai naik lagi.
“Dan aku tahu. Aku satu-satunya orang di ruangan itu yang tahu bahwa orang itu nandain satu mic dari dua belas selama dua tahun. Aku tahu dia nolak permintaan kamu karena dia minta satu orang. Aku tahu semuanya.”
“Sas.”
“Dan aku nggak bisa ngomong apa-apa, karena aku janji sama kamu.” Dia mengusap matanya dengan kasar. “Kamu tahu apa yang aku lakuin? Aku bilang ‘ah, nggak tahu deh’. Itu yang aku bilang. ‘Nggak tahu deh.’ Terus aku keluar ruangan.”
Aku menutup mataku.
“Kamu bikin aku jadi satu-satunya orang yang tahu,” katanya, “terus kamu nyuruh aku diem.”
“Aku nggak nyuruh—”
“Kamu nggak perlu nyuruh, Ngun.” Sasa berdiri. “Kamu cerita ke aku hari Jumat terus kamu diem tiga hari. Itu udah instruksi.”
“Sas.”
“Apa.”
“Kamu mau aku ngomong apa?”
Sasa berhenti di tengah kamar.
“Aku nggak tahu,” katanya. “Itu jujur. Aku nggak tahu.”
“Nah.”
“Tapi aku tahu apa yang aku nggak mau.” Dia menoleh. “Aku nggak mau kamu diem karena itu paling aman terus kamu nyebut itu ngelindungin.”
“Aku emang lagi ngelindungin—”
“Ngun, kamu udah lima setengah minggu ngelindungin dia,” kata Sasa. “Dan hasilnya dia jalan sendirian lewat tiga puluh orang.”
Dia mengambil tasnya.
“Aku pulang.”
“Sas.”
“Aku masih marah,” katanya di pintu. “Aku bilang seminggu, kan? Ini baru hari keempat.”
Yang paling buruk terjadi hari Rabu, dan bukan Sasa pelakunya.
Mel menghadangku di depan perpustakaan.
Mel, yang menangis di parkiran karena aku akhirnya punya orang yang tahu aku suka es teh tawar. Mel, yang menangis di lorong itu sebelum ada apa-apa. Mel, yang menangis melihat spanduk.
Mel tidak menangis.
“Ngun.”
“Mel—”
“Bener nggak?”
Aku membuka mulut.
“Jangan mikir dulu,” katanya. “Aku hafal muka kamu kalau lagi mikir. Aku udah sembilan tahun juga, Ngun, sama kayak Sasa.”
Aku menutup mulut.
“Bener nggak?” ulangnya.
Dan aku berdiri di depan perpustakaan dan menyadari bahwa aku punya dua pilihan dan dua-duanya sudah terlambat, karena pilihan yang benar ada di hari Jumat, di kamar kos, waktu Sasa duduk di lantai dengan kertas di depannya dan aku memutuskan bahwa satu orang sudah cukup.
“Bener,” kataku.
Mel mengangguk sekali.
“Sasa udah tahu duluan ya.”
“Mel—”
“Nggak apa-apa.” Dia mengangguk lagi, cepat-cepat, dengan cara orang yang sedang menahan sesuatu supaya tidak keluar di tempat umum. “Aku emang gitu. Aku nangisan. Aku nggak bisa nyimpen apa-apa. Aku ngerti kok kenapa aku yang terakhir.”
“Mel, itu bukan—”
“Aku ada kelas,” katanya.
Dan dia pergi, dan dia berjalan cepat sekali, dan dia tidak menangis sampai belok koridor, dan aku tahu dia tidak menangis sampai belok koridor karena aku berdiri di sana menghitung langkahnya.
Aku duduk di tangga perpustakaan selama dua puluh menit setelah Mel pergi.
Dan aku melakukan hal yang paling tidak berguna di dunia, yaitu menyusun ulang minggu terakhir untuk mencari titik di mana aku masih bisa memilih benar.
Jumat malam, kamar kos. Sasa duduk di lantai. Kertas terbuka di antara kami.
Fakhri minta satu orang.
Aku memberikan satu orang.
Dan aku merasa sangat berani waktu itu — aku ingat betul perasaannya, aku ingat duduk di lantai setelah Sasa pulang dan berpikir aku baru saja melakukan hal yang paling sulit dalam hidupku.
Satu orang.
Fakhri minta satu orang karena itu jumlah paling kecil yang bisa dia minta tanpa terdengar seperti menuntut. Bukan karena satu orang cukup.
Aku memberikan angka minimum dan menyebutnya keberanian.
Dan sekarang Sasa memegang stempel di sekre sambil mendengar empat orang mengasihani pacar sahabatnya, dan Mel berjalan cepat ke koridor supaya tidak menangis di depan umum, dan tidak satu pun dari keduanya terjadi karena aku bercerita.
Keduanya terjadi karena aku berhenti bercerita di angka satu.
Aku sampai di aula jam empat sore hari Rabu.
Fakhri di lantai panggung, menempel jalur kabel untuk acara hari Sabtu. Satu meter demi satu meter, ditekan rata dengan telapak tangan.
Aku duduk di kursi barisan keempat.
Dan aku tidak bisa bicara.
Empat puluh menit. Persis seperti dia dua minggu lalu, dan aku baru mengerti sekarang berapa mahal empat puluh menit itu.
“Anggun,” katanya akhirnya, tanpa mendongak.
“Hm.”
“Kamu nggak harus ngomong apa-apa.”
Dan itu — kalimat itu, diucapkan dengan nada paling biasa di dunia oleh orang yang berjalan lewat tiga puluh orang yang menatapnya dalam diam kemarin sore — adalah hal yang akhirnya membuatku sadar apa yang sudah kulakukan.
Karena dia benar-benar berpikir begitu.
Dia benar-benar berpikir bahwa aku tidak harus mengatakan apa-apa. Selamanya. Bahwa ini wajar. Bahwa berjalan sendirian lewat koridor yang diam adalah bagian dari harga yang memang sudah dia setujui di ruang alat, jam sembilan malam, dengan tanda tangan yang bisa dibaca.
“Fakhri.”
“Hm.”
“Kalau aku nggak pernah ngomong apa-apa,” kataku, “kamu bakal marah nggak?”
Dia menekan lakbannya rata. Bergeser satu meter.
“Nggak,” katanya.
Dan itu jawaban paling jujur yang pernah kudengar dari siapa pun, dan itu membuatku ingin muntah.
- 1 Dua Belas Mic, Satu Lakban Biru
- 2 Dia Pacarku
- 3 Empat Puluh Tiga Hari
- 4 Kantin Nggak Ramai
- 5 Daftar
- 6 Satu Langkah di Belakang
- 7 Empat Puluh Detik
- 8 Aku Ngantuk
- 9 Hipotesis
- 10 Observasi
- 11 Payung
- 12 Ada yang Lihat
- 13 CCTV
- 14 Kursi Barisan Keempat
- 15 Dua Tahun
- 16 Versi yang Bakal Nempel
- 17 Kabelnya Berat
- 18 Tempat Paling Nggak Romantis di Kampus
- 19 Sebelas Detik
- 20 Boleh Saya Potong Sebentar
- 21 Kantong Dalam
- 22 Tanggal Dua Puluh
- 23 Nggak
- 24 Nama di Kontak
- 25 Hari Keempat Puluh Tiga
- 26 Satu Orang
- 27 Naik
- 28 Empat Jam dari Kampus
- 29 Rekonstruksi
- 30 Satu-satunya Orang yang Tahu reading
- 31 Aman
- 32 Yang Direkam
- 33 Tujuh Belas Menit
- 34 Lima Menit
- 35 Yang Nggak Manis
- 36 Hipotesis Keempat Belas
- 37 Aku Nggak Cemburu
- 38 Nggak Menarik untuk Difoto
- 39 Channel Tujuh
- 40 Dua Belas Mic