Chapter Eight
Aku Ngantuk
POV: Anggun
Hari kedelapan belas, dan aku sudah menjadi orang yang sangat berbeda dari yang kuduga.
Aku tidak menjadi lebih berani. Aku menjadi lebih terorganisir.
Ini yang tidak pernah diceritakan orang tentang berbohong: kebohongan yang baik itu bukan soal nekat, tapi soal manajemen. Aku punya catatan di ponsel berisi hal-hal yang sudah kukatakan ke siapa. Aku tahu bahwa Sasa mengira kami mulai empat bulan lalu di ruang alat, dan aku tahu bahwa anak konsumsi mengira “lama”, dan aku tahu bahwa Mel mengira ada surat, karena Mel selalu mengira ada surat.
Dan aku punya satu catatan terpisah, tanpa judul, berisi hal-hal yang sudah kulakukan dan alasan resminya.
Kantin — ramai.
Lorong FISIP — ada Sasa.
Gerbang — hujan.
Antrean fotokopi — sempit.
Empat baris. Semuanya benar secara teknis. Tidak ada satu pun yang jujur.
Aku membaca daftar itu di kos suatu malam dan menyadari bahwa aku sedang menyusun alibi untuk kejahatan yang korbannya adalah diriku sendiri.
Gladi acara penutupan rangkaian, hari Kamis, dan aku datang jam tiga seperti biasa.
Fakhri sudah di sana, tentu saja. Dia selalu sudah di sana. Aku sempat curiga dia tidur di ruang alat, lalu aku menyadari itu tidak lucu karena kemungkinannya cukup besar.
Aula belum ditata. Dia sedang di lantai, menempel jalur kabel ke lantai dengan lakban hitam, satu meter demi satu meter, ditekan dengan telapak tangan supaya rata.
“Kenapa harus ditempel?”
“Biar nggak keinjak.”
“Kayak minggu lalu?”
“Kayak minggu lalu.”
Aku duduk di kursi barisan keempat. Kursi yang sama dengan dua tahun lalu. Aku baru menyadarinya sekarang dan langsung memutuskan untuk tidak memikirkannya.
Dia bekerja. Aku menonton.
Ini bagian dari empat puluh tiga hari yang tidak ada di kontrak, tidak ada di daftar, dan tidak dilihat siapa pun. Tidak ada Sasa. Tidak ada empat ratus orang. Cuma aula kosong, satu orang di lantai dengan gulungan lakban, dan aku di kursi barisan keempat.
Ini bagian yang paling tidak berguna untuk penyamaran, dan bagian yang paling sering kudatangi.
“Fakhri.”
“Hm.”
“Kamu nggak bosen?”
“Sama apa?”
“Sama ini.” Aku melambaikan tangan ke seluruh aula. “Kamu udah dua tahun ngelakuin hal yang sama persis. Kabel, mic, lakban, kabel lagi.”
Dia menekan satu ruas lakban ke lantai dengan telapak tangannya, rata, lalu bergeser satu meter.
“Nggak sama persis.”
“Sama, Fakhri.”
“Ruangannya sama. Orangnya beda.” Dia menyobek lakban lagi. “Tiap acara, ada satu orang yang naik ke atas panggung terus takut. Biasanya bukan yang kelihatan takut. Biasanya yang diem.”
“Terus?”
“Terus aku naikin monitornya dikit. Biar dia denger suaranya sendiri.”
Aku menegakkan punggung di kursi barisan keempat. “Buat apa?”
“Orang yang bisa denger suaranya sendiri nggak akan ngomong makin pelan.” Dia menekan lakbannya. “Kalau nggak denger, dia bakal ngira dia kekecilan, terus dia ngomong makin keras, terus feedback, terus dia makin takut.”
“Kamu ngelakuin itu tiap acara?”
“Kalau ada yang butuh.”
“Ke berapa orang?”
Dia berhenti sebentar, benar-benar menghitung, yang mana adalah hal paling tidak masuk akal yang bisa dilakukan seseorang terhadap pertanyaan seperti itu.
“Nggak tahu. Banyak.”
Aku duduk di kursi barisan keempat di aula kosong dan tiba-tiba tidak tahu harus menaruh tanganku di mana.
Gladinya selesai jam tujuh. Panitia bubar jam setengah delapan seperti biasa, dengan kecepatan yang mengesankan.
Aku tidak pulang.
“Kamu nggak pulang?” tanya Fakhri.
“Nanti.”
“Udah sepi.”
“Aku tahu.”
Dia tidak bertanya lagi. Itu keahlian dia yang paling berbahaya: dia tidak pernah memaksa penjelasan keluar dari orang. Kalau kamu diam, dia membiarkanmu diam. Kalau kamu bicara, dia dengar. Tidak ada tarikan di antaranya, dan justru karena tidak ada tarikan, aku selalu berakhir menceritakan lebih banyak daripada yang kurencanakan.
Kami di ruang alat. Dia duduk di kursi plastik yang kakinya diganjal triplek, di depan meja panjang, sedang membuka casing mic nomor tujuh untuk membersihkan busanya. Aku duduk di meja itu, di sisi kirinya, dengan kaki menggantung.
Ruangan ini tiga meter kali empat dan aku sudah hafal semua isinya sekarang.
AC-nya rusak sejak zaman entah kapan dan menyala terus di angka enam belas, dan sekitar sepuluh menit setelah aku duduk, aku mulai memeluk lenganku sendiri.
Aku melakukannya dengan sangat halus. Aku bahkan tidak menganggapnya sebagai gerakan.
Empat puluh detik kemudian, ada jaket jatuh di pangkuanku.
Aku mendongak. Fakhri sudah kembali menunduk ke mic-nya, kaus hitam lengan pendek, tanpa jaket, di ruangan berpendingin enam belas derajat.
“Kamu nggak dingin?”
“Nggak.”
“Bohong.”
“Aku di sini tiap hari.”
Aku memakai jaketnya.
Ini adalah keputusan taktis yang buruk, karena jaket itu berbau seperti dia — lakban, sabun cuci, sedikit debu — dan sekarang bau itu ada di sekelilingku selama sisa malam, dan aku harus terus berpura-pura bahwa hal itu tidak melakukan apa-apa terhadap kemampuanku menyusun kalimat.
Aku tidak mengembalikan jaket itu malam itu.
Aku juga tidak mengembalikannya minggu itu.
Dia tidak pernah menagihnya sekali pun.
“Fakhri.”
“Hm.”
“Besok jam berapa?”
“Empat.”
“Aku dateng jam tiga.”
“Aku tahu.”
Aku menoleh cepat. “Kamu tahu?”
Dia mengangkat busa mic ke arah lampu, memeriksanya, lalu memasangnya kembali. “Kamu selalu jam tiga.”
“Ya kali kamu inget.”
“Aku selalu di situ.”
Dan dia mengatakannya persis seperti dia mengatakan hal lain: seperti fakta cuaca, tanpa berat, tanpa maksud. Lalu dia melanjutkan pekerjaannya.
Ada sesuatu yang menyakitkan tentang cara dia mengatakan hal-hal seperti itu. Bukan karena dingin. Justru sebaliknya. Karena kalau dia mengatakannya dengan cara yang berbeda — dengan senyum, dengan jeda, dengan penekanan — maka aku bisa mendudukkannya di kategori tertentu dan menanganinya. Aku bagus menangani laki-laki yang memberi penekanan.
Aku tidak punya penanganan untuk orang yang menyebutkan bahwa dia selalu ada di situ, lalu kembali memasang busa mic.
Jam delapan lewat. Lampu neon di ruang alat berdengung halus, satu-satunya suara di gedung itu selain gerakan tangannya.
“Fakhri.”
“Hm.”
“Kalau empat puluh tiga hari itu selesai,” kataku, “kamu bakal ngapain?”
Dia memasang busa mic. “Kerja.”
“Bukan itu maksudku.”
“Aku tahu.”
Dia tidak melanjutkan. Aku juga tidak. Kami membiarkan pertanyaan itu tergeletak di meja di antara kami seperti alat yang tidak ada yang mau mengambil, dan neon di atas kepala kami berdengung, dan aku menghitung berapa hari yang tersisa dan menemukan angka dua puluh lima, dan aku memutuskan untuk berhenti menghitung selama-lamanya.
Aku memperhatikan bahu kirinya kira-kira selama satu menit penuh.
Ini bagian yang harus kuakui: aku merencanakannya di kos. Semalam sebelumnya. Aku berbaring di kasur dan menyusunnya seperti menyusun rundown — kapan, di mana, kalimat pembukanya apa, kalimat penutupnya apa kalau gagal.
Aku bahkan menyiapkan tiga versi.
Versi satu: langsung, tanpa alasan. Terlalu berisiko.
Versi dua: pura-pura pusing. Terlalu dramatis, dia akan mengantarku pulang, gagal total.
Versi tiga: ngantuk.
Aku menguap.
Aku menguap dengan kualitas akting yang harus kuakui berada jauh di bawah standar profesionalku, tapi ruangannya remang dan dia sedang menunduk, jadi mari kita anggap berhasil.
“Ngantuk,” kataku.
“Pulang sana.”
“Nanggung.”
“Nanggung apa? Kamu nggak ngapa-ngapain.”
“Aku menyaksikan. Itu melelahkan secara emosional.”
Dia berhenti. Menoleh setengah. “Itu kalimat Yoga.”
“Aku tahu. Bagus, kan?”
Dan sebelum dia sempat menjawab, aku menurunkan kepalaku ke bahunya.
Tangannya berhenti.
Aku sudah tahu itu akan terjadi. Aku sudah menghafal tanda itu sejak kantin hari pertama: wajahnya tidak berubah sama sekali, sama sekali, tapi tangannya berhenti bekerja. Itu satu-satunya alat ukur yang kupunya dan aku menggunakannya tanpa ampun.
Bahunya keras dan agak dingin karena AC ruang alat rusak sejak zaman entah kapan dan menyala terus di angka enam belas. Kausnya berbau lakban dan sedikit sabun cuci. Dari sedekat ini, aku bisa melihat rahangnya dari bawah, dan garis lehernya, dan satu titik kecil di dagunya yang mungkin bekas luka lama.
Aku memejamkan mata karena itu bagian dari akting, dan juga karena kalau aku tidak memejamkan mata, aku akan terus melihat.
“Anggun.”
“Hm.”
“Kamu bisa tidur di kursi.”
“Kursinya cuma satu dan kamu dudukin.”
“Aku pindah.”
“Jangan.”
Satu detik. Dua detik.
Dia tidak pindah.
Dan aku, karena aku sudah terlalu jauh dan karena mulutku bergerak lebih cepat dari otakku sejak lorong itu, menambahkan kalimat yang sudah kusiapkan sebagai jaring pengaman, kalimat yang sudah kupakai dua kali sebelumnya dan selalu berhasil menutup semuanya dengan rapi:
“Ini biar nggak ketahuan aja.”
Ruangan itu diam.
Lalu, pelan sekali, aku mendengar suaranya di atas kepalaku.
“Nggak ada orang, Anggun.”
Aku tidak membuka mata.
“Aku tahu,” kataku.
Aku tidak tahu berapa lama kami begitu. Mungkin sepuluh menit. Mungkin dua puluh.
Aku memikirkan sesuatu yang aneh sepanjang menit-menit itu.
Aku memikirkan bahwa selama tiga minggu terakhir, aku sudah menyentuh orang ini lebih sering daripada aku menyentuh siapa pun sepanjang tahun ini. Tangan di kantin. Rangkulan di lorong. Lengan di antrean fotokopi. Semuanya kuhitung, kucatat, kuberi alasan resmi.
Dan tidak satu pun dari sentuhan itu terasa seperti ini.
Karena semuanya kulakukan untuk dilihat orang. Ini tidak. Ini di ruangan tiga kali empat, jam delapan malam, di gedung yang sudah dikunci dari luar, dengan satu-satunya saksi berupa lampu neon yang bahkan sudah kami matikan.
Kalau tidak ada yang melihat, lalu ini untuk apa?
Aku tahu jawabannya. Aku sudah tahu jawabannya sejak lorong itu. Aku cuma belum pernah membiarkannya berdiri tegak di dalam kepalaku dengan cahaya cukup untuk dibaca.
Yang aku tahu, di suatu titik, dia mulai bekerja lagi — pelan, dengan satu tangan, karena bahu kirinya tidak bisa dipakai. Aku bisa merasakan otot bahunya bergerak setiap kali tangan kanannya meraih sesuatu, dan setiap kali aku merasakannya, ada sesuatu di dadaku yang meleset satu ketukan.
Dan di suatu titik lain, aku merasakan lampu di ruangan itu meredup.
Aku membuka mata sedikit. Dia sedang menjangkau tombol di dinding dengan tangan kanannya, mematikan neon utama, menyisakan lampu meja kecil yang menyala kuning di ujung.
Dia melakukannya tanpa menggeser bahunya satu sentimeter pun.
Aku menutup mata lagi dan berhenti berpura-pura mengantuk, karena sudah tidak perlu.
“Anggun.”
“Hm.”
“Boleh nanya sesuatu?”
Suaranya berbeda. Bukan lebih lembut — Fakhri tidak punya lebih lembut. Lebih hati-hati. Seperti orang yang memeriksa kabel yang mungkin masih bertegangan.
“Boleh.”
Dia meletakkan sesuatu di meja. Bunyinya kecil di ruangan yang sekarang gelap dan kuning.
“Kenapa kamu selalu datang sejam lebih awal?”
Aku membuka mata.
Dua tahun. Empat puluh tiga acara. Setiap kali, satu jam lebih awal, dan tidak sekali pun dia bertanya, dan aku sudah menyimpulkan sendiri bahwa itu karena dia tidak peduli.
Ternyata dia menyimpan pertanyaan itu selama dua tahun.
Dan dia menunggu sampai kepalaku ada di bahunya untuk menanyakannya.
- 1 Dua Belas Mic, Satu Lakban Biru
- 2 Dia Pacarku
- 3 Empat Puluh Tiga Hari
- 4 Kantin Nggak Ramai
- 5 Daftar
- 6 Satu Langkah di Belakang
- 7 Empat Puluh Detik
- 8 Aku Ngantuk reading
- 9 Hipotesis
- 10 Observasi
- 11 Payung
- 12 Ada yang Lihat
- 13 CCTV
- 14 Kursi Barisan Keempat
- 15 Dua Tahun
- 16 Versi yang Bakal Nempel
- 17 Kabelnya Berat
- 18 Tempat Paling Nggak Romantis di Kampus
- 19 Sebelas Detik
- 20 Boleh Saya Potong Sebentar
- 21 Kantong Dalam
- 22 Tanggal Dua Puluh
- 23 Nggak
- 24 Nama di Kontak
- 25 Hari Keempat Puluh Tiga
- 26 Satu Orang
- 27 Naik
- 28 Empat Jam dari Kampus
- 29 Rekonstruksi
- 30 Satu-satunya Orang yang Tahu
- 31 Aman
- 32 Yang Direkam
- 33 Tujuh Belas Menit
- 34 Lima Menit
- 35 Yang Nggak Manis
- 36 Hipotesis Keempat Belas
- 37 Aku Nggak Cemburu
- 38 Nggak Menarik untuk Difoto
- 39 Channel Tujuh
- 40 Dua Belas Mic