Chapter Eighteen
Tempat Paling Nggak Romantis di Kampus
POV: Anggun
Kencan pertama kami sebagai orang yang benar-benar pacaran diadakan di belakang gedung laboratorium, di antara dua tandon air, di sebelah tempat penampungan sementara sampah anorganik.
Ini bukan kecelakaan. Ini keputusan yang kubuat dengan sadar setelah tiga hari berpikir.
Aku akan menjelaskan logikanya, dan aku minta jangan menghakimi sampai selesai.
Masalahnya begini. Kami sedang menjalani dua minggu terakhir kontrak. Artinya, di mata seluruh kampus, kami adalah pasangan yang sudah pacaran empat setengah bulan. Pasangan yang sudah pacaran empat setengah bulan tidak melakukan kencan pertama. Mereka melakukan hal-hal membosankan berdua: makan, jalan, duduk.
Jadi kalau kami tiba-tiba pergi ke kafe yang bagus, dengan lampu yang bagus, dan aku memakai baju yang bagus, maka dua hal akan terjadi. Satu, akan ada foto. Dua, akan ada orang yang berkata “wah, tumben banget.”
Dan “tumben banget” adalah kalimat paling berbahaya di kampus ini.
Karena orang yang bilang “tumben banget” akan mulai menghitung mundur. Dan kalau orang mulai menghitung mundur, mereka akan sampai di malam di lorong belakang.
Jadi: belakang gedung laboratorium.
Tidak ada yang ke sana. Tidak ada yang pernah ke sana. Tidak ada sinyal yang bagus di sana. Dan yang paling penting, tidak ada satu pun orang di dunia ini yang akan berkata “tumben banget” tentang dua orang yang duduk di antara tandon air.
Aku menjelaskan seluruh logika itu ke Fakhri sambil kami berjalan ke sana, dengan lengkap, termasuk bagian tentang “tumben banget”.
Dia mendengarkan sampai selesai.
Lalu dia berkata, “Kamu mikirin ini tiga hari?”
“Iya.”
“Buat milih tempat duduk.”
“IYA.”
“Anggun, ini di belakang lab.”
“Aku tahu ini di belakang lab.”
“Ini bau.”
“Ini nggak—” Aku berhenti. Angin bergerak. “Oke, ini agak bau.”
Dia meletakkan ranselnya di lantai beton, duduk di sebelahnya, dan menepuk tempat di sebelahnya sekali.
Aku duduk.
Dan kemudian, karena semesta punya selera humor yang sangat spesifik, kami duduk di sana selama dua jam dan itu adalah dua jam terbaik yang pernah kualami di kampus ini.
Ini yang kami lakukan selama dua jam itu:
Kami makan roti dari koperasi. Dua bungkus. Yang kacang punya dia, yang cokelat punyaku.
Kami berdebat selama dua puluh menit tentang apakah suara tandon air yang menetes itu berirama atau tidak. Fakhri bilang tidak; menurutnya jarak antar tetes berubah karena tekanan. Aku bilang iya; menurutku dia cuma tidak mau mengaku ada hal di dunia ini yang berirama tanpa dibuat berirama.
Dia diam sebentar setelah aku bilang itu. Lalu dia bilang, “Itu kalimat yang bagus.”
Aku hampir mati.
Kami membahas skripsi. Dia mau bikin sistem monitoring akustik ruangan; aku mau bikin apa saja yang bisa selesai. Dia menanyakan pertanyaan yang benar-benar teknis tentang topikku dan aku menyadari, di tengah menjawab, bahwa tidak ada satu orang pun yang pernah menanyakan itu kepadaku, termasuk pembimbingku.
Dan kami tidak berfoto sekali pun.
Aku baru menyadari itu di jam ketiga, waktu sudah di kos. Dua jam, dan tidak ada satu pun bukti bahwa itu terjadi.
Untuk pertama kalinya sejak lorong itu, aku tidak keberatan.
Ada satu momen di menit keempat puluh yang akan kusimpan.
Aku sedang bicara tentang sesuatu yang tidak penting — aku lupa apa, mungkin tentang dosen metodologi — dan aku berhenti di tengah kalimat karena ada mobil lewat di jalan sebelah dan bunyinya menutupi suaraku.
Aku menunggu mobil itu lewat, lalu melanjutkan.
Dan Fakhri berkata, “Tadi sampai bagian dia nyuruh kamu ganti judul.”
Aku menoleh.
“Kamu masih inget?”
“Ya kamu baru berhenti tiga detik.”
“Iya, tapi orang biasanya nggak—” Aku berhenti. “Orang biasanya bilang ‘tadi apa?’”
“Buat apa nanya kalau aku denger.”
Dan itu saja.
Aku duduk di lantai beton di antara dua tandon air dan merasakan sesuatu yang sangat besar dan sangat tidak proporsional dengan kejadiannya.
Karena aku bicara untuk hidup. Itu profesiku, itu jurusanku, itu satu-satunya hal yang orang tahu tentangku. Delapan ratus orang mendengarkan aku setiap Malam Puncak.
Dan tidak ada satu pun dari delapan ratus orang itu yang mendengarkan.
Mereka menunggu. Itu beda.
Bagian yang tidak berjalan mulus adalah perjalanan pulang.
Kami keluar dari belakang lab lewat jalur samping, dan jalur samping itu tembus ke koridor gedung B, dan koridor gedung B jam enam sore itu ramai karena kelas sore baru selesai.
Aku merasakannya di detik pertama kami masuk koridor: sembilan orang menoleh.
Bukan ke aku.
“Fakhri,” bisikku.
“Hm.”
“Jalan biasa aja.”
“Aku jalan biasa.”
Dia memang jalan biasa. Itu masalahnya.
Karena selama dua tahun, orang ini berjalan di koridor kampus tanpa satu pun orang menoleh, dan sekarang ada sembilan orang menoleh, dan dia tidak menyadarinya sama sekali.
“Eh, itu.”
“Iya, yang itu.”
“Serius yang rambutnya gondrong itu?”
Aku menoleh setengah. Tiga anak perempuan, semester berapa aku tidak tahu, berdiri di depan papan pengumuman dan tidak sedang membaca papan pengumuman.
“Kok aku baru ngeh ya.”
“Kamu emang baru ngeh, orangnya emang selalu di belakang panggung.”
“Tinggi banget sih.”
Aku memindahkan tanganku ke lengannya.
Dan aku menyadari, dengan sangat jelas dan sangat memalukan, bahwa aku baru saja melakukannya tanpa alasan apa pun — tanpa menyusun, tanpa menghitung, tanpa menyiapkan kalimat penutup.
Aku melakukannya dengan refleks.
Aku melakukannya seperti orang yang menutup tasnya di pasar.
Kami sampai di ujung koridor dan aku menarik dia ke tangga darurat, yang mana adalah tempat paling tidak romantis kedua di kampus ini setelah belakang lab.
“Anggun.”
“Bentar.”
“Kamu kenapa?”
“Bentar.”
Aku memeluknya.
Aku memeluknya di tangga darurat gedung B, di antara dinding beton yang dicat abu-abu dan tabung pemadam api yang kedaluwarsa tahun lalu, dan aku menaruh wajahku di dadanya dan tidak melepaskan selama sangat lama.
Dia tidak bertanya lagi. Tangannya naik ke punggungku, satu, lalu yang satu lagi.
“Kamu tahu nggak,” kataku ke kausnya, “dua tahun aku nunggu ada yang nyadar.”
“Nyadar apa?”
“Kamu.”
Dia diam.
“Aku marah tiap kali orang bilang ‘mas audio’. Aku marah tiap kali ada yang bilang ‘kok bisa sih’. Aku marah waktu delapan puluh tiga komentar di video dokumentasi nggak ada satu pun yang nyebut suara.” Aku mengeratkan pelukanku. “Selama tiga minggu aku marah terus dan aku nggak boleh ngomong apa-apa.”
“Aku tahu.”
“Kamu tahu?”
“Kamu diem lebih lama dari biasanya tiap habis ada yang ngomong.”
Aku memejamkan mata.
“Dan sekarang ada yang nyadar,” kataku. “Sembilan orang di koridor. Baru sembilan. Dan aku—”
Aku berhenti.
“Kamu apa?”
Aku tidak menjawab, karena jawabannya adalah sesuatu yang baru kusadari dua menit yang lalu di koridor gedung B, dan karena jawabannya jelek, dan karena aku belum siap mengucapkannya.
Jawabannya adalah: dan aku nggak suka.
Dua tahun aku marah karena tidak ada yang melihatnya.
Dan hari pertama orang mulai melihatnya, hal pertama yang kulakukan adalah memegang lengannya.
“Anggun.”
“Hm.”
“Kamu nggak harus jagain aku.”
Aku mengangkat kepalaku dari kausnya.
“Aku nggak jagain kamu.”
“Kamu megang lenganku di koridor.”
“Itu—”
“Dan kamu milih belakang lab.” Suaranya sama sekali tidak menuduh; itu bagian yang paling tidak nyaman. Dia menyebutkannya seperti orang membaca hasil pengukuran. “Kamu milih tempat yang nggak ada orangnya buat kencan pertama kita, terus kamu jelasin logikanya tiga menit, dan logikanya bener semua.”
“Fakhri, itu emang bener.”
“Iya.” Dia mengangguk. “Tapi kamu udah tiga minggu bikin keputusan yang bener terus, dan tiap keputusan yang bener itu isinya kita ngumpet.”
Aku melepaskan pelukanku dan mundur setengah langkah.
“Kamu marah?”
“Nggak.”
“Kamu selalu bilang nggak.”
“Karena emang nggak.” Dia memasukkan tangannya ke saku. “Aku cuma lagi ngitung.”
“Ngitung apa?”
Dia tidak menjawab yang itu.
Kami turun tangga darurat jam tujuh kurang.
Fakhri berjalan satu langkah di belakangku seperti biasa, dan di anak tangga keenam dia berkata, tanpa aku tanya:
“Anggun.”
“Hm.”
“Sembilan orang itu nggak penting.”
“Aku nggak bilang penting.”
“Kamu megang lenganku di depan mereka.”
Aku berhenti di anak tangga dan tidak berbalik.
“Itu refleks.”
“Iya,” katanya. “Aku tahu.”
Dan cara dia mengatakan aku tahu itu — datar, tanpa berat, seperti fakta cuaca — membuatku menyadari bahwa dia sudah menyimpulkan hal yang sama sepuluh menit sebelum aku, dan memutuskan untuk tidak menyebutkannya sampai aku sendiri yang menyentuhnya.
Dia melakukan itu terus. Dia sudah melakukan itu selama dua tahun.
Aku turun tangga sisanya tanpa bicara.
Di kos, malam itu, aku duduk di kasur dan melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan.
Aku membuka catatan lama. Yang berjudul HAL YANG DILAKUKAN PACAR BENERAN, yang kutulis lima minggu lalu, jam sebelas malam, sambil bersila.
Sepuluh poin. Aku membacanya dari atas.
Duduk bareng di kantin. Sudah.
Pegangan tangan. Sudah.
Balas chat cepat. Sudah, kadang terlalu cepat.
Tahu jadwal kuliah masing-masing. Sudah.
Punya panggilan khusus. Belum. Dia memanggilku Anggun. Selalu Anggun, tidak pernah Ngun seperti semua orang, dan aku baru sadar bahwa itu justru panggilan khususnya.
Nganterin pulang. Sudah.
Ada foto berdua. Empat. Semuanya dari kafe hari Minggu itu.
Tahu makanan kesukaan. Sudah, dan aku kalah telak di kategori ini.
Tahu hal kecil yang orang lain nggak tahu. Sudah, dan aku kalah telak lagi.
Poin sepuluh.
Jangan kelewatan.
Aku menatap poin sepuluh itu selama sangat lama.
Aku menulisnya lima minggu lalu sebagai peringatan supaya jangan terlalu jauh masuk ke dalam kebohongan sendiri.
Aku membacanya sekarang dan artinya sudah berubah total, dan yang paling mengganggu adalah aku tidak tahu persis kapan artinya berubah.
Aku menghapus catatan itu.
Malamnya ada pesan masuk jam sembilan.
Radit W.: Anggun, maaf ganggu malam-malam.
Radit W.: Besok siang ada waktu? Aku mau ngomong sebentar.
Radit W.: Bukan soal proker.
- 1 Dua Belas Mic, Satu Lakban Biru
- 2 Dia Pacarku
- 3 Empat Puluh Tiga Hari
- 4 Kantin Nggak Ramai
- 5 Daftar
- 6 Satu Langkah di Belakang
- 7 Empat Puluh Detik
- 8 Aku Ngantuk
- 9 Hipotesis
- 10 Observasi
- 11 Payung
- 12 Ada yang Lihat
- 13 CCTV
- 14 Kursi Barisan Keempat
- 15 Dua Tahun
- 16 Versi yang Bakal Nempel
- 17 Kabelnya Berat
- 18 Tempat Paling Nggak Romantis di Kampus reading
- 19 Sebelas Detik
- 20 Boleh Saya Potong Sebentar
- 21 Kantong Dalam
- 22 Tanggal Dua Puluh
- 23 Nggak
- 24 Nama di Kontak
- 25 Hari Keempat Puluh Tiga
- 26 Satu Orang
- 27 Naik
- 28 Empat Jam dari Kampus
- 29 Rekonstruksi
- 30 Satu-satunya Orang yang Tahu
- 31 Aman
- 32 Yang Direkam
- 33 Tujuh Belas Menit
- 34 Lima Menit
- 35 Yang Nggak Manis
- 36 Hipotesis Keempat Belas
- 37 Aku Nggak Cemburu
- 38 Nggak Menarik untuk Difoto
- 39 Channel Tujuh
- 40 Dua Belas Mic