← Sebut Saja Namanya

Chapter Fourteen

Kursi Barisan Keempat

POV: Fakhri


Hari pertama, aku bekerja seperti biasa.

Ini bukan pernyataan yang mengesankan. Aku selalu bekerja seperti biasa. Itu bukan kekuatan karakter; itu cuma bentuk hidup yang paling sedikit menuntut.

Gladi acara penutupan rangkaian dijadwalkan pukul lima. Aku sampai di aula pukul tiga kurang seperempat, seperti biasa, dan menurunkan koper alat, dan mulai dari yang paling bawah. Kabel dulu, baru kotak, baru mixer.

Pukul tiga lewat lima, tidak ada siapa-siapa.

Pukul tiga lewat dua puluh, masih tidak ada siapa-siapa.

Pukul empat, panitia mulai datang, dan seseorang bertanya kepadaku apakah aku sudah makan, dan aku menjawab sudah.

Kursi barisan keempat kosong sepanjang sore.

Aku melakukan sesuatu yang bodoh sekitar pukul setengah lima: aku menghitung berapa kali aku menoleh ke barisan keempat.

Sembilan.

Aku berhenti menghitung setelah itu, bukan karena angkanya, tapi karena aku menyadari bahwa aku menghitung, dan menyadari bahwa kamu sedang menghitung sesuatu adalah cara paling cepat untuk mengetahui apa yang sedang kamu tunggu.


Gladi berjalan lancar. Aku pulang jam sembilan.

Di kos aku membuka ponsel dan menatap dua kata yang kukirim jam satu pagi kemarin.

udah sampai?

Centangnya dua, abu-abu. Belum dibaca.

Aku sudah lama tidak terbiasa dengan bentuk penantian seperti ini. Pekerjaanku tidak punya bentuk penantian; semua yang kukerjakan punya jawaban dalam hitungan detik. Kalau kabelnya benar, ada bunyi. Kalau salah, tidak ada. Tidak ada kabel di dunia ini yang membiarkanmu menunggu tiga hari.

Aku menaruh ponselku di rak, di seberang kamar, supaya aku tidak bisa mengambilnya tanpa berdiri.

Aku berdiri sebelas kali malam itu.

Hari kedua, dia tidak datang lagi, dan seseorang menyebutkan namanya di sekretariat.

“Kak Anggun kayaknya sakit. Kemarin nggak masuk juga.”

“Sakit apa?”

“Nggak tahu. Chat-nya dibales sih, tapi pendek-pendek.”

Aku sedang membetulkan klem kabel di lantai dan aku tidak berhenti membetulkannya.

Pendek-pendek.

Aku tahu persis seperti apa Anggun yang membalas pendek-pendek. Aku pernah melihatnya sekali, semester lalu, waktu ada kesalahan pencetakan sertifikat dan seluruh grup panitia menyalahkan divisi yang salah. Dia membalas semua orang dengan tiga kata, sepanjang hari, sampai jam sebelas malam.

Lalu dia berhenti membalas sama sekali.

Lalu besoknya dia datang jam tiga dan duduk di kursi barisan keempat dan tidak bicara selama empat puluh menit, dan aku tidak bertanya apa-apa, dan sekitar menit kelima puluh dia mulai bicara sendiri dan tidak berhenti sampai gladi dimulai.

Aku ingat itu. Aku ingat semuanya. Itu masalahku.

Aku mengencangkan klem terakhir dan berdiri, dan aku memutuskan sesuatu.


Di hari kedua itu juga, sore, seseorang membawa kabar lain ke sekretariat.

“Eh, katanya Kak Anggun sama Bang Fakhri lagi berantem.”

“Dari mana?”

“Ya keliatan. Udah tiga hari nggak keliatan bareng.”

Aku sedang menggulung kabel di sisi panggung, kira-kira delapan meter dari mereka, dan mereka tahu aku ada di situ. Delapan meter itu bukan jarak. Delapan meter itu keputusan.

“Ya emang bakal gitu, sih.”

“Sst.”

“Apa? Aku nggak ngomongin siapa-siapa.”

Aku menggulung kabel sampai habis, mengikatnya dengan velcro, dan menaruhnya di koper.

Ada satu hal yang perlu kucatat supaya jujur: ini tidak sakit.

Aku sudah menyiapkan diri untuk versi ini sejak sebelum kontrak ditandatangani. Aku bahkan sudah menyusun bagaimana bunyinya, dan bunyinya persis seperti ini, dan tepatnya prediksi itu justru membuatnya lebih mudah ditelan.

Yang sakit datang setengah jam kemudian, dari arah yang tidak kusiapkan.

Anak semester tiga yang minggu lalu bertanya tentang kabel snake selama empat menit menghampiriku sambil membawa dua gelas es teh, memberikan satu kepadaku, dan duduk di sisi panggung.

“Bang, aku boleh nanya soal monitor nggak?”

“Boleh.”

Dia bertanya selama dua puluh menit. Dia tidak menyebut Anggun sekali pun.

Aku baru menyadari di perjalanan pulang bahwa dia melakukannya dengan sengaja.

Aku menulisnya malam itu di kos.

Fakhri: soal kontrak. kalau kamu mau berhenti, nggak usah alasan. poin lima.
Fakhri: aku nggak akan nanya apa-apa.
Fakhri: dan yang di lorong itu bukan salah kamu.

Aku menatap tiga baris itu selama lima belas menit.

Lalu aku menghapus semuanya, satu per satu, dari yang paling bawah.

Bukan karena aku pengecut. Aku memang pengecut, tapi bukan itu alasannya kali ini.

Alasannya adalah baris ketiga.

Yang di lorong itu bukan salah kamu.

Itu bohong. Itu bohong yang sangat halus dan sangat sopan dan sangat mudah dipercaya, dan kalau aku mengirimnya, dia akan membacanya, dan dia akan lega, dan semuanya akan kembali ke posisi semula dengan rapi.

Yang di lorong itu bukan salah siapa-siapa, karena aku menundukkan kepala.

Dia menarik kerahku, dan aku menunduk, dan aku menunduk terlalu cepat.

Kalau aku mengirim pesan yang mengatakan bahwa itu bukan salahnya, aku sedang berbohong tentang bagian di mana aku ikut.

Aku menaruh ponsel di meja dan tidur jam dua.


Hari ketiga, Yoga datang ke kos membawa dua bungkus nasi dan tidak bertanya apa-apa selama empat puluh menit, yang mana adalah pencapaian terbesar dalam hidupnya.

Di menit keempat puluh satu dia menyerah.

“Bang.”

“Hm.”

“Aku boleh nanya satu hal, dan kalau kamu bilang nggak, aku nggak akan nanya lagi selamanya.”

“Nggak.”

“Oke.” Dia mengunyah. “Aku nggak nanya.”

Tiga menit.

“Bang.”

“Yoga.”

“Aku nggak nanya! Aku cuma mau bilang!” Dia mengangkat tangannya. “Aku mau bilang bahwa aku minta maaf soal hipotesis empat.”

Aku menoleh.

“Yang perlindungan sosial itu.” Dia menunduk ke nasinya. “Aku baca lagi catatanku semalem dan aku baru sadar itu jahat banget. Bukan buat Anggun. Buat kamu.”

“Kenapa buat aku?”

“Karena kalau hipotesis empat bener, artinya kamu cuma alat.” Yoga mengaduk nasinya tanpa perlu. “Dan aku nyampein itu di depan lima orang sambil ketawa-ketawa kayak lagi bahas sepak bola.”

Aku tidak menjawab.

“Bang.”

“Hm.”

“Kamu nggak marah?”

“Nggak.”

“Kenapa nggak?”

“Karena hipotesis empat bener,” kataku.

Yoga berhenti mengunyah.

“Bang—”

“Itu emang alasannya, Yog. Dari awal. Ada empat orang yang bikin dia nggak bisa napas dan dia butuh satu nama buat nutup semuanya.” Aku menutup bungkus nasiku yang masih setengah. “Aku tahu itu waktu aku setuju. Aku tanda tangan.”

Yoga menaruh sendoknya dengan sangat pelan.

“Terus kenapa kamu setuju?”

Dan untuk pertama kalinya sejak ruang alat malam itu, aku tidak punya jawaban teknis yang siap.


Fikri datang jam sembilan malam, sendirian, dan berdiri di pintu kos tanpa masuk.

“Yoga cerita.”

“Iya.”

“Aku nggak akan lama.” Dia bersandar di kusen. “Aku cuma mau ngingetin kamu satu hal yang kamu udah tahu.”

“Oke.”

“Waktu di kantin, hari pertama itu.” Fikri melipat tangannya. “Yoga bikin tiga hipotesis. Terus dia nanya aku punya yang lebih bagus nggak. Terus aku bilang apa?”

Aku ingat.

“Mungkin kalian beneran saling suka.”

“Iya.” Fikri mengangguk. “Dan Yoga bilang aku nggak boleh ikut riset.”

Aku diam.

“Bang, aku salah satu hal doang,” katanya. “Aku kira itu hipotesis. Ternyata itu satu-satunya yang bukan hipotesis.” Dia mendorong badannya dari kusen. “Kamu udah suka dia dari semester tiga. Aku tahu dari semester tiga. Semua orang yang pernah duduk semeja sama kamu pas ada acara juga tahu, cuma nggak ada yang berani bilang karena kamu tuh kalau nggak mau ngomongin sesuatu, orang jadi nggak enak ngomongin.”

“Fikri.”

“Aku belum selesai.”

Aku menutup mulutku.

“Selama tiga minggu ini,” kata Fikri, “kamu ngasih dia semuanya. Kamu bohong buat dia di depan Sasa. Kamu diem waktu orang bilang kamu bakal dibuang. Kamu jalan di hujan biar kepalanya nggak basah, terus kamu pulang naik motor dua puluh menit dalam ujan gede — jangan bilang nggak, Yoga liat jaketmu.”

“Itu—”

“Dan sekarang kamu duduk di sini nyalahin diri sendiri karena kamu nunduk.” Fikri menggelengkan kepalanya pelan. “Bang. Kamu udah ngasih dia semuanya kecuali satu hal.”

“Apa.”

“Kesempatan buat milih kamu.”


Dia pergi. Aku duduk di kos dengan bungkus nasi setengah dan lampu yang terlalu terang.

Sekitar jam sepuluh aku berdiri, mengambil kunci motor, dan pergi ke kampus.

Bukan untuk sesuatu. Ada kotak inventaris yang harus kupindahkan ke gudang sebelum acara penutupan, dan aku memang berencana melakukannya besok pagi, dan aku memutuskan untuk melakukannya malam ini karena melakukan sesuatu dengan tangan adalah satu-satunya bentuk pengobatan yang pernah berhasil untukku.

Aku sempat berhenti di lampu merah dekat kampus dan memikirkan kalimat Fikri lagi.

Kesempatan buat milih kamu.

Masalahnya, aku tidak yakin kalimat itu masuk akal.

Memilih itu butuh pilihan. Pilihan butuh dua hal yang sepadan, diletakkan di atas meja, dan seseorang yang bebas mengambil salah satunya. Yang ada di meja ini adalah perempuan yang wajahnya ada di spanduk depan gerbang, dan seorang laki-laki yang kontaknya disimpan sembilan orang sebagai “Audio”.

Aku bukan sedang merendahkan diri. Aku sedang membaca meteran.

Lampunya hijau. Aku jalan.

Dan di sepanjang jalan menuju gerbang belakang, ada satu hal kecil yang terus mengganggu, yang tidak cocok dengan pembacaanku sendiri, dan yang tidak bisa kuhapus sejak Pak Har mengatakannya di pos satpam malam hujan itu.

Dia menunggu di luar gerbang. Sebelum jam tiga. Selama dua tahun.

Aku tidak punya penjelasan teknis untuk itu.

Pak Har membukakan gerbang dan bertanya kenapa malam-malam.

“Mindahin kotak, Pak.”

“Ya udah, saya kunci lagi jam dua belas ya.”

Aula gelap. Aku tidak menyalakan lampu utama karena tidak perlu; aku hafal jalannya.

Aku berhenti sebentar di tengah ruangan.

Delapan ratus kursi, sudah ditumpuk di sisi kanan. Panggung kosong. Meja mixer ditutup kain supaya tidak berdebu.

Dan barisan keempat di sisi kiri, kursi ketiga dari lorong tengah.

Aku tidak pernah menghitung posisinya sebelum ini. Aku baru menghitungnya sekarang, berdiri di aula gelap jam sepuluh malam, dan setelah menghitungnya aku merasa seperti orang yang baru saja tertangkap melakukan sesuatu.

Dua tahun. Aku tahu kursinya yang mana.

Aku menyalakan lampu ruang alat. Neon panjang di tengah, cahaya yang membuat semua orang terlihat lebih pucat dari aslinya.

Aku mengangkat kotak pertama.

Kotak kedua isinya mic. Dua belas, semuanya seri yang sama, semuanya hitam.

Aku membukanya untuk memeriksa baterai sebelum masuk gudang, dan tanganku berhenti di nomor tujuh, dan aku duduk di kursi plastik yang kakinya diganjal triplek itu dengan mic di tangan selama entah berapa lama.

Tiga senti lakban biru. Sudah kusam di pinggirnya.

Aku sempat memikirkan untuk melepasnya.

Itu terdengar dramatis kalau ditulis begini, dan sebenarnya tidak dramatis sama sekali; itu pemikiran yang sangat praktis. Kontraknya dua puluh hari lagi. Setelah itu aku akan kembali menyerahkan mic ini kepada siapa pun yang bertugas, dan menandai satu di antara dua belas tidak akan punya guna apa pun kecuali membuatku mengingat sesuatu setiap minggu selama sisa kuliahku.

Orang yang waras akan melepasnya.

Aku menaruh mic itu kembali ke kotak dengan lakbannya masih menempel, dan menutup kotaknya, dan mengangkatnya ke rak.

Dan sekitar sebelas lewat empat puluh, waktu aku sedang menurunkan kotak ketiga dari rak, aku mendengar sesuatu di koridor luar.

Sepatu.

Aku tahu bunyi sepatu itu.