Chapter Five
Daftar
POV: Anggun
Pukul sebelas malam, di kos, aku membuka aplikasi catatan dan menulis judul:
HAL YANG DILAKUKAN PACAR BENERAN
Lalu aku menatap layar kosong itu selama tujuh menit.
Ini memalukan. Aku sadar ini memalukan. Aku dua puluh satu tahun, aku pernah pacaran, aku pernah memandu acara di depan delapan ratus orang tanpa naskah, dan sekarang aku duduk bersila di kasur sambil berusaha menyusun daftar tentang hal yang seharusnya diketahui manusia secara alamiah.
Masalahnya, aku tidak tahu.
Aku tahu bagaimana caranya terlihat pacaran. Itu beda. Terlihat pacaran itu koreografi: berdiri di jarak berapa, siapa yang jalan di sisi mana, kapan menoleh. Aku bisa mengarang koreografi apa pun dalam lima menit.
Yang aku tidak tahu adalah isinya. Karena kalau isinya kosong, koreografinya akan terlihat seperti koreografi, dan Sasa akan tahu dalam seminggu.
Aku mulai mengetik.
1. Duduk bareng di kantin ✓
2. Pegangan tangan ✓
3. Balas chat cepat
4. Tahu jadwal kuliah masing-masing
5. Punya panggilan khusus?
Aku menghapus nomor lima. Lalu menulisnya lagi. Lalu menambahkan tanda tanya kedua.
6. Nganterin pulang
7. Ada foto berdua
Nomor tujuh membuat perutku dingin. Sasa punya lima ratus foto acara di ponselnya dan tidak ada satu pun yang berisi kami berdua. Itu bukan celah kecil. Itu lubang seukuran empat bulan.
8. Tahu makanan kesukaan
9. Tahu hal kecil yang orang lain nggak tahu
Aku berhenti di nomor sembilan.
Karena nomor sembilan sudah dipenuhi kemarin, di kantin, di depan Sasa, dan yang memenuhinya bukan aku.
Dia nggak makan bakso di kampus. Cuma minum es teh, terus nanti jam empat beli roti di koperasi.
Aku menaruh ponselku telungkup di kasur dan berbaring menatap langit-langit.
Ponselku bergetar tiga kali sebelum aku sempat tertidur.
Yang pertama dari Sasa, jam sebelas lewat dua puluh:
Sasa: aku belum selesai sama kamu
Sasa: aku cuma lagi ngumpulin pertanyaan
Sasa: tidur yang nyenyak ngun 🙂
Yang kedua dari Gilang Mahesa, jam sebelas lewat empat puluh.
Aku sempat menghitung sebelumnya bahwa dia akan mengirim pesan dalam empat puluh delapan jam. Aku salah. Dua puluh sembilan.
Gilang: wah, selamat ya Ngun. beneran.
Gilang: aku baru denger tadi sore. rada kaget sih hahaha
Gilang: tapi ya udah, yang penting kamu seneng
Gilang: btw kalau nanti butuh apa-apa buat proker, aku tetep ada kok. santai.
Empat pesan. Semuanya sopan. Semuanya tidak bisa kulaporkan kepada siapa pun sebagai apa pun.
Yang ketiga bukan pesan. Yang ketiga adalah notifikasi bahwa seseorang mengomentari unggahan dokumentasi acara kemarin, yang isinya foto panggung dari kejauhan, di mana aku terlihat sebesar kuku.
kevin.adtm: ini yang bagian awalnya molor 40 menit bukan sih 😭 iconic
kevin.adtm: btw ada yang bisa jelasin ke aku pelan-pelan soal berita hari ini
Di bawahnya, empat belas balasan. Aku tidak membacanya. Aku tahu isinya, karena isinya selalu sama sejak semester lalu, karena setengah angkatan ini menganggap dua bulan hidupku sebagai serial yang mereka tonton bersama dan berhak menuntut musim kedua.
Aku menutup semuanya dan menaruh ponsel di lantai, menjauh dari kasur, seperti orang membuang sesuatu yang berbau.
Kevin bukan orang jahat. Aku harus terus mengulang itu ke diriku sendiri karena akan jauh lebih nyaman kalau dia orang jahat.
Kami pacaran dua bulan di semester lalu. Dia lucu, dia ramah, dia mengingat nama semua orang. Yang tidak kusadari sampai minggu keenam adalah bahwa aku tidak pernah sekali pun berdua dengan dia. Selalu ada orang lain. Selalu ada meja panjang, selalu ada yang memotret, selalu ada “eh, kalian tuh lucu banget.”
Aku putus karena satu malam aku sadar bahwa aku tidak bisa mengingat satu pun percakapan yang kami lakukan tanpa penonton.
Dia menerima dengan sangat baik. Dia bilang “ya udah, nggak apa-apa, kita tetep temen.” Dia tidak pernah menjelekkanku ke siapa pun, sekali pun.
Dan justru karena itu, sampai sekarang, delapan bulan kemudian, setengah angkatan masih menganggap kami sedang jeda iklan.
Mama menelepon Minggu pagi, seperti empat Minggu sebelumnya.
Kami mengobrol enam menit tentang hal-hal normal. Menit ketujuh, seperti biasa, seperti orang yang membuka pintu tanpa mengetuk:
“Oh iya, Bayu kemarin nanyain kamu.”
“Nanyain apa?”
“Ya nanyain. Kabar.” Suara sendok di gelas di seberang sana. “Dia bulan depan pindah ke sini, Ngun. Kantornya buka cabang. Papa udah bilang nanti kalau dia butuh apa-apa, kamu yang tunjukin jalan.”
“Ma.”
“Kamu itu kenapa sih tiap Mama sebut namanya—”
“Aku nggak kenapa-kenapa.”
“Dia itu anak baik, Ngun. Kerjanya udah jelas. Sopan. Mama nggak nyuruh kamu apa-apa, Mama cuma bilang.”
Itu kalimat paling cerdik yang pernah diciptakan manusia. Mama cuma bilang. Tidak bisa ditolak, karena tidak ada permintaan. Tidak bisa dibantah, karena semuanya benar. Bayu memang anak baik. Bayu memang sopan. Bayu memang punya kerja yang jelas dan wajah yang tidak bisa kuingat selama lebih dari empat jam setelah bertemu.
“Iya, Ma.”
“Kamu udah makan?”
“Udah.”
Aku menutup telepon dan duduk di tepi kasur.
Dan di situlah, untuk pertama kalinya sejak lorong itu, aku menghitung semuanya sekaligus. Bukan satu-satu seperti biasa. Sekaligus, di atas meja, seperti orang menghitung tagihan.
Radit, yang tidak melakukan kesalahan apa pun, dan justru karena itu menolaknya akan jadi berita.
Gilang, yang tidak pernah bisa dituduh apa-apa, yang menganggap tiga penolakanku sebagai tiga jeda.
Kevin, yang sudah selesai delapan bulan lalu tapi tidak pernah selesai di kolom komentar orang lain.
Bayu, yang bahkan tidak ada di kampus ini, dan tetap berhasil masuk lewat telepon hari Minggu.
Empat orang, empat jenis tekanan, dan tidak ada satu pun dari mereka yang jahat. Itu bagian yang tidak pernah bisa kujelaskan ke siapa pun. Tidak ada penjahat di sini. Cuma ada empat laki-laki yang baik-baik saja dan satu kesepakatan tidak tertulis bahwa aku adalah sesuatu yang boleh dilamar.
Aku bukan orang. Aku lowongan.
Dan satu-satunya cara menutup lowongan adalah dengan mengumumkan bahwa posisinya sudah terisi.
Sekarang bagian yang tidak akan kutulis di catatan mana pun.
Aku sudah memikirkannya sejak malam di lorong itu dan sudah menolak memikirkannya sebanyak yang bisa dilakukan manusia dalam empat puluh delapan jam.
Ada dua belas orang di lorong itu. Aku panik. Otakku mencari nama.
Kenapa nama itu?
Jawaban pertama yang kusiapkan untuk diriku sendiri adalah: karena dia lewat. Kebetulan. Refleks. Tangan bergerak duluan.
Masalahnya aku tahu itu bohong, karena aku ingat urutan kejadiannya, dan aku sudah dilatih dua tahun untuk mengingat urutan kejadian dengan tepat.
Aku menyebut namanya dulu. Baru tanganku bergerak.
Semester tiga. Bulan Oktober. Kelas siang dibatalkan karena dosennya ada urusan, dan aku punya empat jam kosong sebelum gladi acara sore, dan aku tidak punya tempat untuk membuang empat jam itu.
Jadi aku ke aula lebih awal.
Aula itu kosong. Kursinya belum ditata. Lampunya baru setengah menyala. Dan di sisi panggung ada satu orang, sendirian, sedang berdiri di tengah barisan mic dengan kepala menunduk, mengucapkan hal yang paling aneh yang pernah kudengar:
“Satu. Dua. Satu, dua.”
Berulang-ulang. Ke mic pertama, lalu mic kedua, lalu mic ketiga.
Aku berdiri di pintu selama hampir semenit sebelum akhirnya bertanya, “Kenapa cuma satu dua? Kenapa nggak sampai sepuluh?”
Dia mendongak. Rambutnya waktu itu belum sepanjang sekarang.
“Karena yang diuji bunyi ‘S’ sama ‘D’,” katanya. “Yang lain nggak penting.”
“Oh.”
“Kalau ‘S’-nya nyangkut, berarti trebelnya kebanyakan.”
“Oh.”
Lalu dia kembali bekerja. Tidak bertanya siapa aku. Tidak berdiri lebih tegak. Tidak mengubah apa pun tentang cara dia berdiri, padahal aku sudah cukup terbiasa dengan orang yang mengubah cara mereka berdiri.
Aku duduk di kursi barisan keempat dan menonton orang itu memeriksa dua belas mic selama empat puluh menit, dan untuk pertama kalinya dalam entah berapa lama, aku duduk di sebuah ruangan tanpa harus menjadi siapa pun.
Minggu berikutnya, aku datang satu jam lebih awal lagi.
Dia sedang menempel lakban di lantai waktu itu. Aku bertanya kenapa harus ditempel, dan dia menjawab “biar nggak keinjak”, dan aku bilang “kayaknya nggak akan ada yang nginjak”, dan dia bilang “selalu ada.”
Aku duduk lagi di kursi barisan keempat.
Minggu ketiga, aku membawa dua gelas es teh dan meletakkan satu di meja mixer tanpa bilang apa-apa, karena aku tidak tahu cara memberikan sesuatu kepada orang yang tidak pernah meminta apa pun. Waktu aku pergi, gelasnya sudah kosong. Dia tidak pernah menyebutkannya. Minggu berikutnya, ada dua gelas es teh di meja itu sebelum aku datang.
Kami tidak pernah membahas ini. Dalam dua tahun, kami tidak pernah sekali pun membahas apa pun yang bukan tentang mic, kabel, atau rundown.
Dan tetap saja, kalau ada yang bertanya kepadaku sekarang, di ruangan mana aku merasa paling tidak perlu jadi siapa-siapa, jawabannya adalah aula kosong pukul empat sore dengan satu orang di lantai memegang gulungan lakban.
Aku bilang ke Sasa itu karena macet.
Aku bilang ke panitia itu karena mau cek panggung.
Aku bilang ke diriku sendiri itu karena aku suka aula yang kosong.
Dua tahun. Empat puluh tiga acara. Setiap kali, satu jam lebih awal, dan tidak pernah sekali pun aku membiarkan diriku menyelesaikan kalimat tentang kenapa.
Sebelum tidur aku mengeluarkan sesuatu dari kantong dalam tasku.
Lembar rundown gladi yang dilipat delapan. Sudah agak lecek di lipatannya karena aku memindahkannya dari tas ke tas.
Aku membukanya di atas kasur. Tulisanku besar-besar dan miring ke kanan, enam poin, dua di antaranya dicoret dan ditulis ulang. Di bawahnya ada tanda tanganku.
Dan di sebelahnya, tanda tangan Fakhri.
Aku belum pernah melihat tanda tangannya sebelum ini. Ternyata kecil. Rapi. Sama sekali tidak seperti tanda tangan orang seusia kami, yang biasanya berupa coretan sok penting. Punya dia terbaca: F, lalu Wirawan, lalu satu garis pendek di bawahnya.
Orang yang menandatangani sesuatu dengan tulisan yang bisa dibaca adalah orang yang tidak berniat mengingkarinya.
Aku melipatnya lagi jadi delapan dan memasukkannya kembali ke tempat orang biasanya menyimpan kartu identitas.
Aku mengambil ponselku dari lantai dan membuka daftar itu lagi.
Sembilan poin. Aku membacanya ulang dari atas, pelan, dan menghitung berapa yang benar-benar dibutuhkan sebagai penyamaran.
Tiga. Duduk bareng, pegangan tangan, foto berdua. Itu saja yang dilihat orang.
Enam sisanya — tahu jadwal kuliahnya, tahu makanan kesukaannya, dianterin pulang, panggilan khusus — tidak ada satu pun dari itu yang bisa dilihat siapa pun.
Aku menatap layar cukup lama sampai layarnya redup sendiri.
Lalu aku menyalakannya lagi dan menambahkan poin kesepuluh:
10. Jangan kelewatan.
Aku memasang alarm untuk besok. Gladi acara berikutnya pukul lima sore, jadi aku memasangnya pukul tiga, seperti biasa, seperti dua tahun terakhir.
Lalu aku mematikan lampu dan berbaring, dan di dalam gelap aku menyadari sesuatu yang membuatku membuka mata lagi.
Selama dua tahun aku selalu datang satu jam lebih awal, dan tidak sekali pun dia bertanya kenapa.
Orang yang tidak bertanya biasanya karena tidak peduli.
Atau karena sudah tahu.
- 1 Dua Belas Mic, Satu Lakban Biru
- 2 Dia Pacarku
- 3 Empat Puluh Tiga Hari
- 4 Kantin Nggak Ramai
- 5 Daftar reading
- 6 Satu Langkah di Belakang
- 7 Empat Puluh Detik
- 8 Aku Ngantuk
- 9 Hipotesis
- 10 Observasi
- 11 Payung
- 12 Ada yang Lihat
- 13 CCTV
- 14 Kursi Barisan Keempat
- 15 Dua Tahun
- 16 Versi yang Bakal Nempel
- 17 Kabelnya Berat
- 18 Tempat Paling Nggak Romantis di Kampus
- 19 Sebelas Detik
- 20 Boleh Saya Potong Sebentar
- 21 Kantong Dalam
- 22 Tanggal Dua Puluh
- 23 Nggak
- 24 Nama di Kontak
- 25 Hari Keempat Puluh Tiga
- 26 Satu Orang
- 27 Naik
- 28 Empat Jam dari Kampus
- 29 Rekonstruksi
- 30 Satu-satunya Orang yang Tahu
- 31 Aman
- 32 Yang Direkam
- 33 Tujuh Belas Menit
- 34 Lima Menit
- 35 Yang Nggak Manis
- 36 Hipotesis Keempat Belas
- 37 Aku Nggak Cemburu
- 38 Nggak Menarik untuk Difoto
- 39 Channel Tujuh
- 40 Dua Belas Mic