Chapter Twenty Five
Hari Keempat Puluh Tiga
POV: Fakhri
Dia datang jam tiga kurang sepuluh.
Aku sudah di sana sejak jam satu, memasang jalur untuk acara penutupan rangkaian yang jatuh hari Sabtu. Kabel dulu, baru kotak, baru mixer. Aku sudah menyelesaikan kabel dan sedang di bagian kotak waktu aku mendengar sepatunya di koridor.
Aku tidak mendongak.
Aku ingin menuliskan itu dengan jujur karena kelihatannya seperti sikap dan sebenarnya bukan. Aku tidak mendongak karena aku tidak tahu wajah apa yang harus kupasang, dan aku belum pernah dalam hidupku harus memikirkan wajah apa yang harus kupasang.
Dia berhenti di pintu.
“Fakhri.”
“Hm.”
“Aku duduk di sini, ya.”
“Iya.”
Dia duduk di kursi barisan keempat, kursi ketiga dari lorong tengah.
Dan tidak bicara selama empat puluh menit.
Ada satu hal yang perlu kucatat tentang empat puluh menit itu, dan aku mencatatnya karena aku curiga aku akan salah mengingatnya nanti.
Aku tidak menunggu dia bicara.
Itu terdengar sepele. Bukan.
Dua tahun aku duduk di ruangan yang sama dengan orang ini dan tidak pernah sekali pun memulai percakapan. Empat puluh tiga acara. Setiap kali, dia yang bicara duluan. Setiap kali.
Aku selalu mengira itu karena dia memang orang yang bicara duluan dan aku memang orang yang tidak.
Empat puluh menit hari itu aku duduk di panggung sambil menempel lakban dan menyadari bahwa aku sedang melakukan hal yang persis sama seperti dua tahun terakhir — menunggu — dan bahwa menunggu selama dua tahun adalah cara yang sangat sopan untuk tidak pernah bertanggung jawab atas apa pun.
Aku sudah menyaksikan Anggun Prameswari diam sebelumnya. Sekali, semester lalu, waktu sertifikat salah cetak.
Ini beda.
Yang semester lalu itu diam yang berat, diam yang mendorong. Yang ini diam yang menunggu.
Aku bekerja. Aku memasang lakban jalur kabel di lantai, satu meter demi satu meter, ditekan rata dengan telapak tangan. Aku mengganti dua baterai. Aku mengetes empat mic dengan “satu, dua” dan pada mic ketiga aku mendengar dia bergerak sedikit di kursinya dan aku tahu persis apa yang sedang dia ingat.
Menit keempat puluh satu, dia berdiri dan turun ke panggung dan berjalan ke arahku, dan tali sepatu kirinya putus di anak tangga terakhir.
Aku tidak sedang mengarang untuk keperluan cerita. Talinya benar-benar putus. Aku mendengarnya sebelum aku melihatnya — ada bunyi kecil, seperti benang yang lepas — dan lalu dia berhenti di anak tangga dengan satu kaki setengah terangkat.
“Yah.”
Dia jongkok, memegang dua ujung tali yang sudah tidak menyatu, dan mencoba menyimpulkannya. Talinya terlalu pendek. Simpulnya lepas dua kali.
“Yah.”
Aku menaruh kuas di meja, membuka kotak alat kecil di sisi koper, dan mengambil sesuatu.
“Angkat kaki.”
“Hah?”
“Kaki kirinya.”
Dia mengangkat kakinya. Aku berlutut di satu kaki, seperti di studio waktu memasang in-ear, karena tinggiku selalu jadi masalah untuk hal-hal semacam ini.
Aku menarik sisa tali yang putus keluar dari dua lubang teratas, membuangnya, dan mengambil cable tie hitam dari kotak.
Aku memasukkannya lewat lubang kiri, lalu lubang kanan, lalu menarik kepalanya sampai bunyi klik-nya berhenti di kekencangan yang benar. Lalu aku memotong ekornya dengan tang kecil, rata dengan kepalanya, supaya tidak menusuk mata kaki.
Aku menepuk sepatunya sekali.
“Udah.”
Dia tidak menurunkan kakinya.
Aku mendongak.
Anggun berdiri di anak tangga panggung dengan satu kaki masih terangkat dan air matanya sudah sampai dagu dan tidak ada satu pun bunyi yang keluar dari dia, yang mana adalah cara menangis yang paling tidak kukenal darinya dan paling tidak bisa kutangani.
“Anggun.”
Dia menurunkan kakinya.
Lalu dia turun satu anak tangga, dan memelukku, dan menekan wajahnya ke dadaku dengan kekuatan yang tidak masuk akal untuk orang seukuran dia.
Aku tidak bertanya kenapa.
Aku tahu kenapa, sebagian. Aku sudah menghitung sendiri sepanjang minggu ini. Tapi bahkan kalau aku tidak tahu, aku tidak akan bertanya, karena bertanya kepada orang yang sedang menangis adalah cara paling cepat untuk membuat mereka menyusun kalimat, dan orang yang sedang menyusun kalimat berhenti menangis dan mulai bekerja.
Anggun sudah terlalu banyak bekerja.
Jadi aku berdiri di anak tangga panggung aula yang kosong dan tidak berkata apa-apa selama entah berapa lama.
Tanganku naik ke punggungnya. Satu, lalu yang satu lagi.
Dia bicara pertama, dan suaranya masuk ke kausku sehingga aku harus menebak dua kata.
“Aku nyimpen nomormu ‘Jam 3’.”
Aku diam.
“Lima setengah minggu,” katanya. “Di ponselku sendiri. Yang nggak ada yang bisa lihat.”
“Anggun—”
“Aku marah tiap kali ada yang manggil kamu ‘mas audio’.” Napasnya tersentak. “Dan aku nyimpen kamu sebagai jam.”
Aula itu punya gema yang menunggu di dinding belakang.
“Aku udah ganti,” katanya. “Kemarin. Jam empat sore.”
“Oke.”
“Itu nggak ngubah apa-apa.”
“Iya,” kataku. “Tapi kamu ngubahnya.”
Kami berdiri di situ sampai napasnya normal.
Lalu dia mundur setengah langkah, mengusap wajahnya dengan dua tangan, dan tertawa dengan bunyi yang basah dan jelek.
“Aku jelek banget ya sekarang.”
“Nggak.”
“Fakhri, aku barusan nangis lima menit.”
“Iya.”
“Terus?”
Aku memikirkan jawabannya lebih lama dari yang seharusnya, dan aku sadar bahwa aku sedang memikirkan apakah aku boleh mengatakannya, dan aku sadar bahwa memikirkan apakah aku boleh mengatakan sesuatu adalah persis penyakit yang sudah dua tahun kubawa.
“Kamu nggak pernah jelek,” kataku.
Dia berhenti mengusap wajahnya.
“...Kamu barusan ngomong apa?”
“Kamu denger.”
“Ulang.”
“Nggak.”
“FAKHRI.”
“Sekali aja.”
Dia memukul lenganku, dan telinganya berubah warna, dan aku menyimpan informasi itu di tempat yang sudah sangat penuh dan sekarang mulai bocor ke tempat lain.
“Fakhri.”
“Hm.”
“Kenapa kamu selalu punya cable tie di kotak alat?”
“Buat ngiket kabel.”
“Kamu punya velcro buat ngiket kabel. Aku pernah liat, sepuluh gulung.”
Dia memindahkan kotak alat ke rak.
“Cable tie itu buat yang permanen,” katanya. “Velcro buat yang bakal dibuka lagi.”
Aku menunduk ke sepatuku.
Cable tie hitam. Ekornya dipotong rata dengan kepalanya supaya tidak menusuk mata kaki.
“Jadi ini permanen?”
“Sampai sepatunya rusak.”
“Fakhri.”
“Iya.”
“Kamu tahu nggak kamu barusan ngomong apa?”
Dia berhenti sebentar dengan kotak alat masih setengah di rak.
“Nggak,” katanya.
Dan aku tidak tahu apakah itu benar, dan aku memutuskan bahwa aku tidak ingin tahu, karena kedua kemungkinannya sama-sama tidak bisa kutanggung malam itu.
Kami duduk di tepi panggung, kaki menggantung, sampai jam enam.
Aku tidak bertanya tentang Sasa. Itu keputusan yang kubuat di kos jam empat pagi kemarin: aku sudah minta satu hal, dan orang yang minta satu hal lalu menagihnya setiap hari sebenarnya tidak sedang meminta.
Dia juga tidak menyebutnya.
Yang dia sebut malah ini, sekitar jam setengah enam:
“Fakhri.”
“Hm.”
“Kamu tahu kenapa kamu nggak pernah minta apa-apa?”
Aku tidak menjawab.
“Aku mikirin itu dua hari,” katanya. “Dan aku sampai di jawaban yang aku nggak suka.”
“Apa.”
“Karena orang yang minta itu bisa ditolak.” Dia mengayunkan kakinya. “Dan kamu nggak pernah mau ada di posisi itu, jadi kamu bikin sistem di mana kamu nggak pernah minta apa-apa ke siapa pun seumur hidup.”
Panggung itu dari kayu lapis dan agak melengkung di tengah karena sudah tua.
“Dan yang paling ngeselin,” katanya, “adalah semua orang ngira itu kebaikan.”
“Anggun.”
“Aku juga ngira gitu. Lima minggu.” Dia menoleh. “Aku ngira kamu orang paling baik yang pernah aku ketemu.”
“Aku nggak—”
“Kamu emang baik,” potongnya. “Itu dua hal yang beda dan aku baru bisa misahin kemarin.”
Aku memikirkan Pak Wisnu di sofa yang per-nya sudah menyerah. Orang yang nggak pernah nolak itu bukan orang baik. Itu orang yang lagi nabung.
Dua orang mengatakan hal yang sama kepadaku dalam empat hari, dengan kalimat yang berbeda, dan tidak satu pun dari mereka saling kenal.
“Iya,” kataku.
Jam enam kurang lima, aku melihat jam di dinding aula.
“Anggun.”
“Hm.”
“Hari ini hari keempat puluh tiga.”
Dia berhenti mengayunkan kakinya.
Kami duduk di tepi panggung aula yang kosong dan tidak ada satu pun dari kami yang bicara selama kira-kira dua puluh detik.
“Kertasnya masih di tasku,” katanya akhirnya.
“Iya.”
“Kamu mau aku sobek?”
Dan aku memikirkan pertanyaan itu dengan serius, karena dia menanyakannya dengan serius.
“Nggak,” kataku.
“Kenapa?”
“Karena itu satu-satunya benda di dunia yang ada tanda tangan kita berdua di kertas yang sama.”
Anggun menoleh ke arahku dengan sangat pelan.
“Fakhri Wirawan,” katanya, “kamu itu kalau ngomong dua kalimat dalam sehari, dua-duanya bunuh orang.”
“Aku udah ngomong lebih dari dua.”
“AKU TAHU. ITU MASALAHNYA.”
Dia mendorong bahuku, dan aku hampir jatuh dari tepi panggung, dan dia menarik lenganku untuk menahanku dan akhirnya kami berdua hampir jatuh, dan aula kosong itu berisi suara dua orang tertawa untuk pertama kalinya sejak lima setengah minggu.
Aku mengantarnya ke gerbang belakang jam tujuh.
Pak Har sedang duduk di pos, menuang teh ke tutup termos, dan mengangkat tangan waktu melihat kami.
“Mas Fakhri! Tadi bagus lho segmen yang di rundown baru itu.”
Aku berhenti. “Bapak baca rundown?”
“Ya baca. Ditempel di sekre.” Dia menyeruput tehnya. “Ada segmen buat tim teknis. Baru pertama kali itu.”
Anggun menoleh ke arahku dengan cepat.
“Segmen apa?” tanyanya.
“Nggak tahu,” kataku.
Itu jujur. Rundown final baru turun besok Kamis.
“Nanti Mas naik panggung dong,” kata Pak Har, dan dia tertawa sendiri seolah itu lelucon.
Aku tidak menjawab.
Anggun tidak berkata apa-apa sampai ojeknya datang, dan waktu dia naik, dia menoleh sekali dan menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca sama sekali.
Hari keempat puluh tiga lewat jam dua belas malam tanpa ada yang mengumumkan apa-apa.
Tidak ada yang berubah keesokan harinya. Kampus tetap mengira kami sudah lima setengah bulan. Grup angkatan tetap tenang.
Yang berubah cuma satu hal yang tidak bisa dilihat siapa pun: mulai hari itu, tidak ada lagi kertas yang mengatur apa pun di antara kami.
Yang tersisa cuma dua orang yang memilih.
- 1 Dua Belas Mic, Satu Lakban Biru
- 2 Dia Pacarku
- 3 Empat Puluh Tiga Hari
- 4 Kantin Nggak Ramai
- 5 Daftar
- 6 Satu Langkah di Belakang
- 7 Empat Puluh Detik
- 8 Aku Ngantuk
- 9 Hipotesis
- 10 Observasi
- 11 Payung
- 12 Ada yang Lihat
- 13 CCTV
- 14 Kursi Barisan Keempat
- 15 Dua Tahun
- 16 Versi yang Bakal Nempel
- 17 Kabelnya Berat
- 18 Tempat Paling Nggak Romantis di Kampus
- 19 Sebelas Detik
- 20 Boleh Saya Potong Sebentar
- 21 Kantong Dalam
- 22 Tanggal Dua Puluh
- 23 Nggak
- 24 Nama di Kontak
- 25 Hari Keempat Puluh Tiga reading
- 26 Satu Orang
- 27 Naik
- 28 Empat Jam dari Kampus
- 29 Rekonstruksi
- 30 Satu-satunya Orang yang Tahu
- 31 Aman
- 32 Yang Direkam
- 33 Tujuh Belas Menit
- 34 Lima Menit
- 35 Yang Nggak Manis
- 36 Hipotesis Keempat Belas
- 37 Aku Nggak Cemburu
- 38 Nggak Menarik untuk Difoto
- 39 Channel Tujuh
- 40 Dua Belas Mic