← Sebut Saja Namanya

Chapter Twenty Seven

Naik

POV: Anggun


Acara penutupan rangkaian jatuh hari Sabtu, dan aku baru tahu tentang segmen tambahan itu waktu rundown final turun hari Kamis.

SEGMEN 9 — APRESIASI TIM TEKNIS (3 menit)

Aku membacanya tiga kali.

Lalu aku mengirim pesan ke Radit.

Anggun: dit, segmen 9 ini apa?
Radit W.: apresiasi tim teknis
Anggun: kita nggak pernah punya segmen itu
Radit W.: iya. makanya aku bikin.
Radit W.: aku ngecek arsip dokumentasi lima tahun ke belakang. tim teknis nggak pernah masuk sekali pun.
Radit W.: lima tahun, Ngun.

Aku menatap layar itu di kelas jam sepuluh dan tidak mendengar satu kata pun dari dosen.

Anggun: siapa yang naik?
Radit W.: semua. crew panggung, lighting, sound.
Radit W.: dan aku minta MC yang bacain namanya, bukan aku. lebih pantes.

Aku menaruh ponselku di meja dengan hati-hati sekali.


Aku sampai jam tiga hari Sabtu. Seperti biasa.

Fakhri di lantai panggung, menempel jalur kabel, seperti biasa.

“Fakhri.”

“Hm.”

“Kamu udah baca rundown final?”

“Udah.”

“Segmen sembilan.”

Lakbannya berhenti setengah sobekan.

“Iya.”

“Kamu tahu itu artinya kamu naik panggung.”

“Aku tahu.”

“Dan?”

Dia menyobek lakbannya sampai putus, menekannya rata dengan telapak tangan, dan bergeser satu meter.

“Aku nggak naik,” katanya.


Aku duduk di kursi barisan keempat dan menarik napas panjang karena aku sudah memperkirakan ini sejak hari Kamis dan sudah menyiapkan tiga argumen.

Aku membuang ketiganya dalam empat detik, karena ketiganya adalah argumen untuk memenangkan sesuatu, dan aku sudah selesai memenangkan sesuatu dari orang ini.

“Kenapa?” tanyaku.

“Karena kerjaanku jam segitu belum selesai.”

“Segmen sembilan itu tiga menit, Fakhri.”

“Iya. Dan di menit ketiga puluh dua ada penampilan musik, dan sebelum itu harus ganti setting dari tiga mic jadi lima plus DI box.” Dia menekan lakban. “Kalau aku di panggung tiga menit, settingnya molor tiga menit.”

“Bisa dititip ke crew.”

“Bisa.”

“Terus?”

Dia diam beberapa detik.

Dan lalu dia berkata sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan DI box sama sekali, dan aku tahu bahwa itu jawaban yang sebenarnya.

“Aku nggak tahu harus ngapain di atas sana.”


Aku turun dari kursi dan duduk di tepi panggung, dekat dia, dengan kaki menggantung.

“Ceritain,” kataku.

“Nggak ada yang diceritain.”

“Fakhri.”

Dia menaruh gulungan lakbannya.

“Aku udah dua tahun di gedung ini,” katanya. “Aku tahu persis di mana aku berdiri. Di belakang mixer, sisi kiri, dua meter dari tembok. Aku tahu berapa langkah dari situ ke panel listrik, ke ruang alat, ke pintu samping.”

“Terus?”

“Terus kalau aku di panggung, aku nggak tahu apa-apa.” Dia mengangkat bahu satu sentimeter. “Aku nggak tahu harus ngeliat ke mana. Aku nggak tahu tangan aku di mana. Aku nggak tahu berapa lama aku harus berdiri sebelum boleh turun.”

Aula itu kosong dan besar dan menelan suara.

Dan aku menyadari sesuatu yang membuat dadaku sakit dengan cara yang sangat spesifik: orang ini tidak sedang merendah, dan tidak sedang menolak penghargaan karena sok tidak butuh.

Dia benar-benar tidak tahu caranya.

Delapan ratus orang. Empat puluh empat acara. Dan tidak ada satu pun yang pernah mengajari dia bagaimana caranya berdiri di tempat yang terang.

“Fakhri.”

“Hm.”

“Aku ngajarin, ya.”

Dia menoleh.


Kami latihan selama dua puluh menit di aula kosong dan itu adalah dua puluh menit paling konyol dan paling penting dalam seluruh dua tahun karierku sebagai MC.

“Berdiri di titik ini.” Aku menandai lantai panggung dengan potongan lakban biru dari kantongnya, dan dia melihat lakban itu, dan tidak berkata apa-apa, dan aku juga tidak. “Ini titiknya. Nggak usah mikirin apa-apa selain berdiri di sini.”

“Terus?”

“Kaki selebar bahu. Jangan rapet, nanti keliatan kayak upacara.”

Dia melebarkan kakinya.

“Kejauhan.”

“Kamu bilang selebar bahu.”

“Bahunya bahu orang normal, Fakhri, bukan bahu kamu.”

Dia menyempitkan.

“Nah.” Aku mengangguk. “Tangan?”

“Di sisi.”

“Boleh. Tapi kalau kamu nggak tahu mau diapain, tangan kanan pegang pergelangan kiri di depan. Itu aman. Semua orang pakai itu.”

Dia melakukannya.

“Nah, itu bagus.” Aku memiringkan kepala. “Ngeliat ke mana?”

“Ke penonton.”

“Salah. Penonton itu delapan ratus wajah, kamu bakal panik.” Aku menunjuk ke belakang aula. “Ke sana. Ke atas pintu belakang, ada kotak lampu. Liat itu. Dari bawah, kelihatan kayak kamu ngeliat ke seluruh ruangan.”

Dia melihat ke kotak lampu di atas pintu belakang.

“Berapa lama?”

“Sampai tepuk tangannya turun. Nggak usah dihitung.”

“Aku selalu ngitung.”

“Aku tahu.” Aku turun dari panggung dan berjalan mundur sampai barisan keempat, lalu berbalik dan melihatnya. “Ya udah, hitung. Delapan sampai dua belas detik. Habis itu turun lewat tangga kiri, jangan yang kanan, yang kanan ada kabel.”

“Aku yang masang kabelnya.”

“MAKANYA.”

Dia berdiri di titik lakban biru di tengah panggung aula kosong, kaki selebar bahu orang normal, tangan kanan memegang pergelangan kiri, mata ke kotak lampu di atas pintu belakang.

Aku berdiri di barisan keempat dan melihatnya.

Dan aku harus duduk, karena kakiku memutuskan begitu.


Jam lima, di ruang alat, aku menemukan dia sedang berdiri di depan cermin kecil yang ditempel di pintu lemari alat — cermin yang dipasang entah oleh siapa, entah kapan, dan tidak pernah dipakai siapa pun.

Dia sedang mengikat rambutnya.

Dia melihatku lewat cermin dan langsung menurunkan tangannya seperti orang tertangkap.

“Fakhri.”

“Berat hari ini.”

“Aku nggak ngomong apa-apa.”

“Kamu ngomong pakai muka.”

Aku masuk dan berdiri di belakangnya.

“Sini,” kataku. “Kamu ngiketnya kekencengan, nanti pusing.”

Dan aku membuka karet gelang itu dan mengikat rambutnya lagi, lebih rendah, lebih longgar, dan itu memakan waktu mungkin lima belas detik, dan selama lima belas detik itu tidak ada satu pun dari kami yang bernapas dengan benar.

“Anggun.”

“Hm.”

“Aku nggak lagi dandan.”

“Aku tahu.”

“Aku cuma—”

“Fakhri.” Aku menepuk bahunya dua kali dari belakang. “Nggak apa-apa.”

Dia diam sebentar.

“Aku nggak pernah difoto,” katanya.

Dan itu — kalimat pendek yang dia ucapkan ke cermin, bukan ke aku — adalah kalimat paling telanjang yang pernah kudengar dari orang ini, dan dia mengucapkannya seperti orang melaporkan kerusakan alat.

Acaranya mulai jam tujuh.

Segmen sembilan jatuh jam delapan lewat dua puluh.

Aku berdiri di titik tengah panggung dengan mic nomor tujuh di tangan — lakban biru di bawah batangnya, sudah kusam di pinggirnya, sudah dua tahun di situ — dan aku membaca dari kartu:

“Bapak, Ibu, dan teman-teman sekalian. Setiap tahun kita berdiri di ruangan ini dan menikmati acara yang berjalan lancar. Dan setiap tahun, ada orang-orang yang membuat ‘lancar’ itu terjadi, dan tidak satu pun dari mereka pernah kita panggil ke atas panggung.”

Delapan ratus orang.

“Malam ini kita ubah.”

Aku membacakan sembilan nama.

Crew panggung: empat orang. Lighting: tiga orang. Dan dua nama terakhir.

Aku sampai di nama kesembilan dan aku harus berhenti setengah detik, dan aku menutupnya dengan tarikan napas yang terdengar seperti jeda dramatis dan sebenarnya bukan.

“Dan sound engineer kita, yang sudah memegang seluruh acara di gedung ini selama dua tahun—”

Suaraku keluar dari empat speaker yang dia gantung sendiri, lewat mixer yang dia bersihkan fadernya dengan kuas kecil, dari mic yang dia tandai dengan lakban biru supaya tidak tertukar di antara dua belas.

“—Fakhri Wirawan.”


Dia naik lewat tangga kiri.

Delapan ratus orang bertepuk tangan, dan sebagian besar bertepuk tangan seperti orang bertepuk tangan untuk nama yang tidak mereka kenal, yaitu sopan dan pendek.

Sampai lampu panggung mengenainya.

Aku tidak akan menuliskan ini dengan berlebihan, karena kalau kutulis berlebihan orang tidak akan percaya. Jadi aku akan menuliskannya persis seperti yang terjadi.

Ada gelombang suara kecil dari barisan tengah. Bukan tepuk tangan. Suara orang yang bicara ke sebelahnya dengan mulut tertutup.

Lalu barisan depan. Lalu sisi kiri.

Dua tahun orang ini berdiri di sisi kiri belakang, dua meter dari tembok, di bagian gedung yang lampunya sengaja dimatikan supaya penonton tidak terganggu.

Dan malam itu dia berdiri di bawah dua lampu par LED enam puluh watt, tinggi seratus delapan puluh tiga sentimeter, rambut yang agak gondrong itu diikat asal ke belakang karena hari ini berat, kaus hitam, lengan digulung sampai siku.

Kaki selebar bahu.

Tangan kanan memegang pergelangan kiri.

Mata ke kotak lampu di atas pintu belakang.

Aku berdiri tiga meter dari dia memegang mic yang sudah ditandai untukku selama dua tahun, dan aku mendengar seorang perempuan di barisan kedua berkata, cukup keras untuk masuk ke mic-ku:

“...itu siapa?”


Ada satu detik di tengah tepuk tangan itu di mana dia menoleh.

Bukan ke penonton. Bukan ke kotak lampu di atas pintu belakang yang sudah kami sepakati.

Ke arahku.

Setengah detik, mungkin kurang, dan wajahnya sama sekali tidak berubah — tidak ada senyum, tidak ada alis yang naik, tidak ada apa pun yang bisa difoto.

Tapi aku sudah lima setengah minggu belajar membaca alat ukur yang benar, dan alat ukurnya bukan wajah.

Tangan kanannya, yang tadi memegang pergelangan kiri, sudah tidak memegang apa-apa.

Tangannya diam.

Dia turun di detik kesebelas.

Aku tahu karena aku menghitung.

Sisa acara berjalan tanpa cacat. Penampilan musik jam delapan lewat tiga puluh dua, setting lima mic plus DI box, tepat waktu, karena tentu saja.

Aku sempat mendengar satu percakapan lagi, dari barisan tiga, waktu aku sedang menunggu segmen berikutnya di sisi panggung.

“Dia yang tadi mati listriknya beres empat puluh detik itu ya?”

“Yang mana?”

“Yang Malam Apresiasi. Yang suaranya Kak Anggun ilang.”

“Oh iya! Serius itu dia?”

“Iya. Aku baru nyambung.”

Aku baru nyambung.

Tiga kata itu masuk ke telingaku dan tinggal di sana sepanjang sisa acara.

Karena selama enam minggu ini aku sudah mendengar segala macam versi tentang Fakhri — “kok bisa sih”, “kasihan”, “mas audio”, “yang rambutnya” — dan tidak satu pun dari kalimat itu menyakitkan seperti aku baru nyambung.

Yang lain itu penghinaan, dan penghinaan bisa dilawan.

Aku baru nyambung artinya semua bahannya sudah ada di sana selama dua tahun. Semua orang sudah menonton empat puluh empat acara yang berjalan lancar. Semua orang pernah melihat empat puluh detik itu.

Datanya lengkap. Tidak ada yang menghitung.

Selesai jam sepuluh.

Dan di lorong belakang, waktu aku keluar, ada tiga orang perempuan yang belum pulang dan sedang berdiri di dekat pintu ruang alat sambil melihat ke dalam.

Bukan menunggu. Cuma berdiri.

Aku lewat dan mereka menyingkir dengan sopan, dan salah satunya bilang “eh, Kak Anggun,” dan aku tersenyum dan mengangguk dan berjalan terus.

Dan di tengah lorong itu — lorong yang sama, empat puluh meter itu — aku menyadari bahwa ada sesuatu yang sangat kecil dan sangat busuk bergerak di dalam dadaku, dan bahwa aku belum pernah merasakannya seumur hidup, dan bahwa aku sama sekali tidak berhak merasakannya.

Dua tahun aku marah karena tidak ada yang melihat dia.

Malam ini delapan ratus orang melihat dia.

Dan aku ingin sekali mematikan lampunya.