Chapter Sixteen
Versi yang Bakal Nempel
POV: Anggun
Kami ketemu di kantin belakang jam sepuluh pagi, karena kantin belakang jam sepuluh pagi adalah tempat paling kosong di kampus ini, dan karena aku sudah janji akan menjelaskan.
Aku menyiapkan penjelasan itu semalaman. Aku menulisnya di catatan ponsel, membacanya keras-keras di kamar mandi, dan menghapusnya sebelum berangkat.
Aku hampir selalu menghapus catatan sebelum berangkat. Aku baru sadar itu kebiasaan orang yang tidak ingin ada bukti tentang seberapa keras dia berusaha.
Fakhri datang jam sepuluh tepat.
Dia meletakkan dua gelas di meja tanpa bertanya: kopi hitam dan es teh tawar.
“Aku belum pesen.”
“Aku tahu.”
Aku memegang gelasku dengan dua tangan dan tidak meminumnya.
“Oke,” kataku. “Aku jelasin.”
“Coba bayangin ini,” kataku. “Besok kita ngomong ke semua orang. Kita bilang, ‘sebenernya dulu itu bohongan, tapi sekarang beneran.’”
“Oke.”
“Nah, sekarang bayangin gimana cerita itu nyampai ke orang ketiga.”
Fakhri diam.
“Karena nggak ada cerita yang nyampai utuh, Fakhri. Nggak pernah. Aku udah dua tahun di panggung, aku tahu persis gimana kalimat berubah kalau lewat tiga mulut.” Aku menaruh gelasku. “Yang bakal beredar itu bukan versi kita. Yang bakal beredar itu versi paling gampang diceritain.”
“Versi paling gampang diceritain itu apa?”
Dan di sinilah aku harus mengucapkannya keras-keras, yang mana adalah alasan kenapa aku butuh semalaman.
“‘Anggun make orang buat nolak Radit. Terus dia ngerasa nggak enak. Terus ya udah, dipacarin beneran.’”
Fakhri tidak bergerak.
“Itu satu kalimat,” lanjutku. “Gampang. Enak diceritain. Ada tokoh jahatnya, ada korbannya, ada endingnya. Itu versi yang bakal nempel, dan nempelnya bukan di aku.”
“Anggun.”
“Nempelnya di kamu.”
Aku menunggu dia membantah. Dia tidak membantah, karena dia tidak pernah membantah hal yang benar.
“Kamu bakal jadi ‘cowok yang dipacarin karena kasihan’,” kataku. “Selamanya. Sampai wisuda. Tiap kali kita masuk ruangan bareng, ada satu orang yang mikir itu. Dan kamu nggak akan pernah tahu yang mana, karena orang nggak ngomong di depan, orang ngomong delapan meter di belakang.”
Aku menelan.
“Dan aku nggak bisa ngasih kamu itu. Aku udah ngasih kamu cukup banyak.”
“Ada satu lagi,” kataku. “Dan ini yang paling nggak enak.”
“Oke.”
“Radit.”
Fakhri mengangkat kepalanya.
“Kalau ketahuan yang dulu bohongan, ada satu orang yang bakal jadi bahan tertawaan satu fakultas selama sisa masa kuliahnya, dan orang itu bukan aku.” Aku memutar gelasku di meja. “Dia berdiri di lorong bawa tas kertas di depan dua belas orang. Kalau orang tahu aku ngarang pacar buat nolak dia, dia bukan cuma ditolak. Dia jadi orang yang ditolak pakai bohongan.”
“Iya.”
“Dan dia nggak ngelakuin apa-apa, Fakhri. Dia sopan. Dia nyalamin kamu. Dia bilang selamat.”
“Aku tahu.”
“Aku nggak sanggup ngasih dia itu.”
Fakhri memutar gelas kopinya seperempat putaran.
“Berarti ada tiga orang yang kamu jagain,” katanya.
“Hah?”
“Aku, Radit, sama kamu.”
Aku membuka mulut untuk membantah bagian ketiga.
Aku menutupnya lagi, karena membantah bagian ketiga akan membutuhkan pembuktian, dan aku tidak punya.
Kantin belakang jam sepuluh pagi punya suara kipas angin yang berputar tidak rata.
“Terus rencananya apa?” tanya Fakhri.
“Kontraknya tinggal sembilan belas hari.”
“Iya.”
“Kita jalanin sampai habis.” Aku mengangkat bahu, berusaha membuatnya terdengar seperti hal kecil. “Kita jalanin persis kayak rencana. Habis itu semester tinggal sisa dikit, orang sibuk skripsi, dan pacaran kita jadi... ya, pacaran orang. Nggak ada yang inget lagi ini mulainya dari mana.”
“Jadi kita pacaran beneran,” kata Fakhri, “sambil pura-pura masih pura-pura.”
“Iya.”
Dia meminum kopinya.
“Ini kedengerannya bodoh banget kalau diomongin,” kataku.
“Iya.”
“Kamu bisa bilang nggak. Poin lima. Nggak usah alasan.”
“Aku tahu poin lima. Aku yang setuju sama poin lima.”
“Terus?”
Dia meletakkan gelasnya.
“Sembilan belas hari,” katanya. “Oke.”
Ada satu bagian yang tidak kuceritakan pagi itu, dan aku akan menuliskannya di sini karena aku sudah janji pada diriku sendiri untuk berhenti menyusun versi.
Mama menelepon dua hari lalu, waktu aku masih tidak ke kampus.
“Bayu jadi pindah bulan depan. Tanggal sebelas.”
“Oh.”
“Nanti tanggal dua puluh ada acara di rumah Om Har. Kamu pulang, ya.”
“Ma, aku ada—”
“Anggun.” Nada Mama berubah setengah nada, cuma setengah, dan itu selalu cukup. “Kamu udah nggak pulang tiga bulan.”
Tanggal dua puluh.
Aku menghitungnya malam itu di kasur, dengan jari, seperti orang bodoh.
Kontrak habis di hari kesembilan belas dari sekarang. Acara di rumah Om Har jatuh empat hari sesudahnya.
Empat hari.
Kalau aku datang ke acara itu sebagai perempuan yang baru saja putus, aku akan duduk di sana selama enam jam sambil ditanya oleh empat belas orang dewasa tentang rencana hidupku, dan Bayu Prakoso akan duduk tiga kursi dari aku, sopan dan mapan dan membosankan, dan Mama akan tersenyum ke arahku dari seberang meja dengan senyum yang artinya kan.
Kalau aku datang sebagai perempuan yang punya pacar, semuanya lewat.
Aku sudah tahu persis bagaimana acara itu berjalan, karena aku sudah menghadirinya enam kali.
Ruang tamu Om Har. Empat belas orang dewasa. Meja panjang dengan tiga jenis kue yang selalu sama. Dan sekitar jam dua siang, setelah semua basa-basi habis, akan ada satu tante yang bertanya kepadaku, dengan suara yang cukup keras untuk didengar seluruh ruangan:
“Anggun sekarang gimana? Udah ada yang deket?”
Dan seluruh ruangan akan berhenti mengunyah.
Aku sudah melewati momen itu enam kali. Aku punya lima jawaban yang berbeda, semuanya sudah teruji, semuanya cukup lucu untuk membuat orang tertawa dan lupa.
Tahun ini akan ada Bayu Prakoso duduk tiga kursi dari aku, dan lima jawaban itu tidak akan cukup.
Aku tidak menceritakan bagian itu ke Fakhri di kantin belakang.
Aku bilang ke diriku sendiri bahwa itu karena bagian itu tidak relevan; alasan utamanya tetap yang pertama, dan yang pertama itu benar.
Yang pertama memang benar.
Itu justru yang membuatnya berguna.
Kami keluar dari kantin belakang jam sebelas.
Dan di situlah aku menemukan masalah yang sama sekali tidak ada di semalaman perencanaanku.
“Fakhri.”
“Hm.”
“Kita harus jalan bareng.”
“Iya.”
“Kayak biasa.”
“Iya.”
Kami berdiri di depan kantin belakang seperti dua orang yang lupa cara berjalan.
Karena inilah yang terjadi: selama tiga minggu, aku punya sistem. Aku punya daftar tiga belas. Aku punya enam alasan. Aku tahu persis di mana harus menaruh tanganku dan berapa lama, dan aku tahu itu karena setiap sentuhan adalah operasi dengan tujuan yang jelas.
Sekarang tujuannya hilang.
Sekarang kalau aku memegang tangannya, itu bukan untuk siapa-siapa.
Dan ternyata — ini bagian yang sangat memalukan — aku tidak tahu caranya.
“Kamu gugup,” kata Fakhri.
“Nggak.”
“Tanganmu ngelipet ujung lengan bajumu.”
Aku melihat ke bawah. Tanganku sedang melipat ujung lengan bajuku.
“Itu bukan gugup.”
“Itu apa?”
“Itu kebiasaan.”
“Kebiasaan pas apa?”
Aku membuka mulut untuk menjawab dan menyadari, dengan ngeri yang sangat pribadi, bahwa aku tidak tahu jawabannya, dan bahwa dia mungkin tahu, karena dia sudah dua tahun duduk di belakang mixer memperhatikan orang yang mengira dirinya tidak diperhatikan.
“Jalan,” kataku.
Dia memegang tanganku.
Bukan aku. Dia.
Untuk pertama kalinya sejak lorong itu, bukan aku yang memulai, dan tidak ada satu pun orang di koridor kantin belakang jam sebelas pagi, dan tidak ada alasan sama sekali.
Aku hampir menjatuhkan tasku.
Kami berjalan sampai gedung C dan aku menghitung — karena aku selalu menghitung — bahwa dia tidak melepaskan tanganku selama seratus empat puluh meter, melewati tiga orang yang kukenal namanya, dan tidak satu kali pun menoleh untuk memeriksa siapa yang melihat.
Aku memeriksa empat kali.
Aku baru menyadarinya di kelas jam dua belas, waktu dosen sedang membahas hal yang tidak kudengar sama sekali.
Selama tiga minggu, aku memeriksa siapa yang melihat karena aku butuh saksi.
Hari ini aku memeriksa siapa yang melihat karena aku tidak butuh saksi.
Pekerjaannya sama persis. Alat ukurnya sama. Cuma tanda plus-minusnya yang terbalik, dan tidak ada satu orang pun di dunia ini yang bisa melihat bedanya dari luar.
Termasuk aku, sampai hari ini.
Sasa menghadangku di depan gedung C jam satu siang.
“Ngun.”
“Hai, Sas.”
“Kamu balik.”
“Aku sakit.”
“Kamu nggak sakit.” Dia menyeimbangkan tumpukan map di tangannya. “Tapi aku nggak akan nanya.”
“Sas—”
“Aku nggak akan nanya!” Dia mengangkat satu tangan. “Aku udah pensiun. Aku pensiun dari jadi jaksa hari Minggu kemarin, di kafe, waktu aku denger cowok itu jawab pertanyaanku.”
Aku diam.
“Ngun, kamu tahu nggak dia jawab apa?”
“Aku ada di situ.”
“Iya, tapi kamu nggak dengerin, kamu sibuk ngeliatin es teh.” Sasa memiringkan kepalanya. “Aku nanya dia suka kamu karena apa. Dan dia nggak nyebut satu pun hal yang bisa difoto.”
Kipas angin di koridor berputar.
“Semua cowok yang pernah aku tanyain,” kata Sasa, “jawabnya sama. Cantik. Asik. Seru. Pinter ngomong.” Dia menaikkan tumpukan mapnya. “Dia nyebut kamu benerin naskah pembuka terus nggak pernah bilang.”
“Sas.”
“Aku pensiun, Ngun.” Dia mulai berjalan. “Tapi aku mau kamu tahu satu hal, dan habis ini aku nggak bakal ngomongin lagi.”
“Apa?”
Sasa berhenti dua langkah dari aku dan menoleh.
“Apa pun yang kamu lagi jagain,” katanya, “kamu jagainnya kekencengan. Dan barang yang dipegang kekencengan itu biasanya bukan hilang. Biasanya patah.”
Dia pergi.
Aku berdiri di depan gedung C dengan tas di bahu, dan aku memikirkan bahwa Sasa adalah satu-satunya orang di kampus ini yang punya data tentangku, dan bahwa aku baru saja memutuskan untuk membohonginya selama sembilan belas hari lagi.
- 1 Dua Belas Mic, Satu Lakban Biru
- 2 Dia Pacarku
- 3 Empat Puluh Tiga Hari
- 4 Kantin Nggak Ramai
- 5 Daftar
- 6 Satu Langkah di Belakang
- 7 Empat Puluh Detik
- 8 Aku Ngantuk
- 9 Hipotesis
- 10 Observasi
- 11 Payung
- 12 Ada yang Lihat
- 13 CCTV
- 14 Kursi Barisan Keempat
- 15 Dua Tahun
- 16 Versi yang Bakal Nempel reading
- 17 Kabelnya Berat
- 18 Tempat Paling Nggak Romantis di Kampus
- 19 Sebelas Detik
- 20 Boleh Saya Potong Sebentar
- 21 Kantong Dalam
- 22 Tanggal Dua Puluh
- 23 Nggak
- 24 Nama di Kontak
- 25 Hari Keempat Puluh Tiga
- 26 Satu Orang
- 27 Naik
- 28 Empat Jam dari Kampus
- 29 Rekonstruksi
- 30 Satu-satunya Orang yang Tahu
- 31 Aman
- 32 Yang Direkam
- 33 Tujuh Belas Menit
- 34 Lima Menit
- 35 Yang Nggak Manis
- 36 Hipotesis Keempat Belas
- 37 Aku Nggak Cemburu
- 38 Nggak Menarik untuk Difoto
- 39 Channel Tujuh
- 40 Dua Belas Mic