Chapter Forty
Dua Belas Mic
POV: Anggun
Wisuda kami bulan Agustus, dan aula itu dipakai untuk syukuran fakultas seminggu sebelumnya.
Aku bukan MC.
Aku ingin mencatat itu tanpa nada apa pun, karena selama beberapa bulan aku tidak bisa menyebutkannya tanpa nada.
MC-nya anak semester lima, namanya Kirana, dan dia bagus. Dia gugup di sepuluh menit pertama dan kecepatan bicaranya terlalu tinggi dan dia menekan kata-kata di tempat yang salah, dan lalu di menit kedua belas dia menemukan pijakannya dan sisanya mulus.
Aku duduk di barisan dua bersama Sasa dan Mel dan menontonnya seperti orang yang menonton dirinya sendiri dari dua tahun lalu.
Di menit kesebelas, waktu Kirana mulai tenggelam, aku menoleh ke sisi kiri belakang.
Ke bagian gedung yang lampunya sengaja dimatikan.
Dua anak semester tiga berdiri di sana. Salah satunya membungkuk ke mixer.
Dan suara Kirana di monitor panggung naik — aku tidak mendengarnya sebagai penonton, tidak ada yang mendengarnya sebagai penonton, itu bukan yang ke ruangan — tapi aku melihat bahunya berubah di panggung, dan lima detik kemudian dia melempar kalimat yang tidak ada di naskah dan enam puluh orang tertawa.
Aku menoleh ke Sasa.
Sasa sudah menoleh ke aku.
“Dia yang ngajarin?” bisiknya.
“Iya.”
“Anjir.” Sasa menggosok matanya dengan pergelangan tangan. “Ngun, aku nggak siap nangis di syukuran.”
Setelah acara selesai aku mendatangi Kirana di lorong.
“Kak Anggun!”
“Tadi menit kesebelas kamu sempet turun.”
Wajahnya langsung jatuh. “Iya. Aku tahu. Maaf.”
“Bukan tegur.” Aku menggeleng. “Aku nanya. Kamu ngerasain nggak waktu suaranya balik?”
Dia mengerjap.
“Balik gimana?”
“Di kuping kamu sendiri. Di monitor.” Aku menunjuk ke arah panggung. “Menit kesebelas suara kamu di monitor naik. Kamu ngerasa nggak?”
Kirana berpikir. Aku melihat dia benar-benar berpikir, memutar ulang, mencari.
“...Nggak,” katanya akhirnya. “Aku nggak ngerasa apa-apa. Aku cuma tiba-tiba jadi lebih enak aja.”
Aku mengangguk.
“Iya,” kataku. “Emang gitu.”
“Kenapa, Kak?”
“Nggak apa-apa.” Aku menepuk bahunya dua kali. “Bagus tadi.”
Dan aku berjalan pergi, dan aku tidak menjelaskan apa-apa, karena dua tahun setengah aku juga tidak tahu, dan karena tidak tahu adalah bentuk hadiah yang paling utuh: kamu berdiri di panggung dan mengira semuanya kamu sendiri.
Fakhri ada di aula malam itu, tapi tidak di belakang mixer.
Dia duduk di barisan enam, bersama Yoga dan Fikri, memakai kemeja.
Kemeja.
Aku menghabiskan seluruh segmen pertama dengan tidak bisa berkonsentrasi pada apa pun, dan Mel menyadarinya, dan Mel tidak berhenti menyikut lenganku selama dua puluh menit.
Yang paling aneh bukan kemejanya.
Yang paling aneh adalah melihat dia duduk.
Dua tahun aku menonton orang itu dari panggung, selalu berdiri, selalu di sisi kiri, selalu dua meter dari tembok. Dan malam itu dia duduk di barisan enam seperti manusia biasa yang datang ke acara, dan tiga kali sepanjang malam ada orang yang lewat dan menyalaminya, dan satu kali ada anak semester tiga yang jongkok di lorong di sebelah kursinya dan bertanya sesuatu selama dua menit.
Dia menjawab dengan kalimat pendek dan menunjuk ke arah mixer dua kali.
Dan setelah anak itu pergi, dia melihat ke arahku dari barisan enam, dan aku sudah menoleh, karena aku selalu sudah menoleh.
Sasa menangkapku di lorong waktu segmen kedua, dan dia melakukannya dengan cara Sasa, yaitu dengan menarik lenganku tanpa peringatan.
“Ngun.”
“Apa?”
“Aku mau ngomong satu hal dan aku mau kamu nggak jawab.”
“Kamu selalu bilang gitu terus aku selalu jawab.”
“IYA MAKANYA JANGAN.”
Dia menarik napas.
“Sembilan tahun aku kenal kamu,” katanya. “Dan sembilan tahun kamu selalu jadi orang yang berdiri di depan.”
“Sas—”
“Nggak. Diem.” Dia menunjuk. “Waktu SMA kamu ketua kelas. Waktu semester satu kamu langsung ikut kepanitiaan. Kamu MC. Kamu selalu di depan, selalu megang mic, selalu jadi yang ditanya.”
Lorong itu berbau kue kotak dan karpet lama.
“Dan aku selalu mikir itu karena kamu emang suka di depan,” katanya.
“Sas.”
“Aku baru nyadar bulan lalu bahwa kamu di depan karena di depan itu satu-satunya tempat di mana kamu bisa ngatur gimana kamu keliatan.”
Aku tidak menjawab, karena dia menyuruhku tidak menjawab, dan karena aku tidak punya apa-apa.
“Dan malam ini kamu duduk di barisan dua,” kata Sasa, “dan kamu nonton anak semester lima megang mic, dan kamu keliatan seneng.”
Dia mengusap matanya dengan pergelangan tangan.
“Udah. Aku selesai. Jangan jawab.”
Dan dia pergi ke arah meja konsumsi dengan langkah yang sangat cepat, dan aku berdiri di lorong dan tidak menjawab, dan itu adalah satu-satunya kali dalam sembilan tahun aku benar-benar menuruti instruksinya.
Setelah acara, aula kosong jam sebelas.
Aku menemukannya di ruang alat.
Ruangan tiga meter kali empat, rak besi di dua sisi, meja panjang yang permukaannya berlubang di tiga tempat. Bau debu, karet kabel, dan kopi instan yang tidak pernah benar-benar bersih dari gelasnya.
Kardus inventaris ada di meja, terbuka.
Dua belas mic.
Fakhri sedang memeriksa baterainya satu per satu, seperti biasa, meskipun ini bukan lagi tugasnya dan besok bukan lagi urusannya.
“Fakhri.”
“Hm.”
“Kamu udah nggak kerja di sini.”
“Aku tahu.”
“Terus kenapa—”
“Baterai mic empat lemah dari bulan lalu,” katanya. “Kalau nggak diganti sekarang, minggu depan ada yang kena.”
Aku duduk di meja panjang, di sisi kiri, dengan kaki menggantung.
Tempatku.
Kirana masuk jam setengah dua belas.
Dia masih memakai baju acara dan masih memegang map dan wajahnya masih wajah orang yang baru pertama kali memandu acara besar dan belum turun adrenalinnya.
“Kak Anggun!”
“Bagus tadi.”
“Beneran?”
“Beneran.”
“Aku kacau banget sepuluh menit pertama.”
“Iya. Terus kamu benerin sendiri di menit kedua belas.” Aku mengayunkan kakiku. “Itu yang penting.”
Dia berdiri di ambang pintu dengan map di dada dan tidak tahu harus melakukan apa dengan pujian itu, dan aku ingat persis rasanya.
Lalu Fakhri berdiri dari kursi plastik berkaki triplek dan berjalan ke kardus inventaris.
Dia mengambil satu mic.
Nomor tujuh.
Dan dia menyerahkannya ke Kirana.
“Ini punya kamu,” katanya.
Kirana menerimanya dengan dua tangan, seperti orang menerima piring panas.
“Bang, ini kan inventaris—”
“Iya. Tetep di kardus. Tapi ini yang kamu pakai.”
“Kenapa harus yang ini?”
Dan Fakhri, tanpa mendongak, sambil menutup kardus, dengan nada orang menyebutkan cuaca:
“Ada tandanya. Biar nggak ketukar.”
Kirana memutar mic itu di tangannya dan menemukan lakban biru di bagian bawah batangnya — tiga sentimeter, sudah sangat kusam di pinggirnya sekarang, sudah dua tahun setengah di situ.
“Oh iya. Ada lakban.”
“Iya.”
“Yang lain nggak ada?”
“Nggak.”
Dia mengangkat bahu, dan berkata “makasih, Bang”, dan memasukkan mic itu ke kardus dengan hati-hati, dan pergi.
Dia tidak bertanya kenapa cuma satu yang ditandai.
Aku duduk di meja panjang dan melihat pintu ruang alat menutup di belakangnya.
“Fakhri.”
“Hm.”
“Kamu nggak jelasin.”
“Nggak.”
“Kenapa?”
Dia menaruh kardus itu di rak, di tempatnya, di rak kedua dari bawah di sisi kanan, tempat kardus itu sudah berada selama dua tahun setengah.
“Karena dia nggak perlu tahu ceritanya,” katanya.
Dia menepuk debu dari tangannya.
“Dia cuma perlu suaranya kedengeran.”
“Fakhri.”
“Hm.”
“Kamu sedih nggak?”
Dia menutup pintu lemari alat, dan berdiri di tengah ruangan tiga meter kali empat itu, dan melihat sekeliling dengan cara yang tidak pernah kulihat dia lakukan sebelumnya.
Rak besi di dua sisi. Meja panjang yang berlubang di tiga tempat. Kursi plastik yang kakinya diganjal triplek. Cermin kecil di pintu lemari yang tidak pernah dipakai siapa pun.
“Iya,” katanya.
Dan itu saja. Satu kata, tanpa “tapi nggak apa-apa”, tanpa penjelasan teknis, tanpa dialihkan ke pekerjaan.
Aku turun dari meja dan berdiri di depannya.
“Kamu barusan bilang iya.”
“Iya.”
“Kamu nggak nambahin apa-apa.”
“Nggak.”
Aku memeluknya di ruangan tiga meter kali empat yang berbau debu dan karet kabel, di gedung yang akan dikunci dua puluh menit lagi, untuk terakhir kalinya.
“Anggun.”
“Hm.”
“Aku bakal kangen ruangan ini.”
“Aku tahu.”
“Aku nggak pernah bilang gitu ke siapa-siapa seumur hidup.”
“Aku tahu.”
Kami keluar jam dua belas lewat.
Pak Har mengunci gedung di belakang kami dan berkata “hati-hati ya, Mas, Mbak”, dan Fakhri berkata “iya, Pak”, dan lalu berhenti.
“Pak.”
“Iya?”
“Makasih ya, Pak. Dua tahun.”
Pak Har mengibaskan tangannya. “Ah, apaan. Saya cuma buka gerbang.”
“Bapak buka gerbang jam tiga tiap ada acara,” kata Fakhri. “Padahal jadwalnya jam empat.”
Pak Har berhenti mengibaskan tangannya.
“Loh.” Dia menoleh ke arahku. “Mas Fakhri tahu?”
“Saya tahu.”
“Dari kapan?”
“Dari awal.”
Dan Pak Har berdiri di depan gerbang belakang dengan kunci di tangan dan tertawa, agak lama, sambil menggeleng-geleng.
“Ya sama-sama, Mas,” katanya akhirnya. “Sama-sama.”
Kami berjalan ke parkiran.
Fakhri satu langkah di belakangku, seperti biasa, karena kalau kamu berjalan satu langkah di belakang seseorang kamu bisa melihat seluruh jalur di depannya.
Aku berhenti di tengah parkiran dan menunggu sampai dia sejajar.
“Kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
Kami jalan berdampingan sisanya.
Ada satu hal terakhir yang perlu kutulis, dan aku menyimpannya untuk paling akhir karena ini satu-satunya bagian yang benar-benar milikku sendiri.
Dua tahun setengah lalu, aku berdiri di pintu aula selama hampir satu menit karena aku tidak punya alasan untuk masuk.
Lalu aku menemukan satu — pertanyaan tentang dengung — dan aku memakainya, dan setelah itu aku memakai empat puluh tiga alasan lagi selama dua tahun, dan enam alasan lagi selama enam minggu, dan setiap satu dari mereka benar secara teknis dan tidak satu pun jujur.
Aku pernah mengira alasan-alasan itu adalah kelicikan.
Aku menghabiskan sembilan minggu berikutnya untuk berpikir bahwa itu adalah kepengecutan.
Sekarang, di parkiran fakultas jam dua belas lewat, di malam terakhirku di gedung itu, aku sampai pada versi yang menurutku paling jujur:
Itu adalah cara satu-satunya yang kupunya untuk berdiri di dekat seseorang yang tidak pernah kuminta izinnya.
Dan orang itu tahu. Sejak awal, setiap kali, semuanya.
Dan dia memberikan alasan-alasan itu kepadaku selama dua tahun, satu per satu, tanpa menagih apa pun, seperti orang memberikan payung kepada orang yang tidak mau mengaku sedang kehujanan.
Kalau ada satu hal yang ingin kukatakan kepada siapa pun yang pernah berdiri di pintu sebuah ruangan selama satu menit, ini dia:
Suatu hari kamu tidak akan butuh alasan lagi.
Tapi seseorang harus menunggu di dalam ruangan itu lebih dulu.
“Anggun.”
“Hm.”
“Kamu besok jam berapa?”
Aku menoleh.
Tidak ada acara besok. Tidak ada gladi. Tidak ada gedung; kami sudah menyerahkan kuncinya, dua-duanya, dalam pengertian yang berbeda.
“Jam tiga,” kataku.
“Oke.”
Dan dia menyalakan motornya, dan aku naik di belakang, dan aku memegang pinggangnya sejak lampu merah pertama.
— TAMAT —
- 1 Dua Belas Mic, Satu Lakban Biru
- 2 Dia Pacarku
- 3 Empat Puluh Tiga Hari
- 4 Kantin Nggak Ramai
- 5 Daftar
- 6 Satu Langkah di Belakang
- 7 Empat Puluh Detik
- 8 Aku Ngantuk
- 9 Hipotesis
- 10 Observasi
- 11 Payung
- 12 Ada yang Lihat
- 13 CCTV
- 14 Kursi Barisan Keempat
- 15 Dua Tahun
- 16 Versi yang Bakal Nempel
- 17 Kabelnya Berat
- 18 Tempat Paling Nggak Romantis di Kampus
- 19 Sebelas Detik
- 20 Boleh Saya Potong Sebentar
- 21 Kantong Dalam
- 22 Tanggal Dua Puluh
- 23 Nggak
- 24 Nama di Kontak
- 25 Hari Keempat Puluh Tiga
- 26 Satu Orang
- 27 Naik
- 28 Empat Jam dari Kampus
- 29 Rekonstruksi
- 30 Satu-satunya Orang yang Tahu
- 31 Aman
- 32 Yang Direkam
- 33 Tujuh Belas Menit
- 34 Lima Menit
- 35 Yang Nggak Manis
- 36 Hipotesis Keempat Belas
- 37 Aku Nggak Cemburu
- 38 Nggak Menarik untuk Difoto
- 39 Channel Tujuh
- 40 Dua Belas Mic reading