← Sebut Saja Namanya

Chapter Nineteen

Sebelas Detik

POV: Anggun


Aku membalas Radit dengan kalimat paling pengecut yang pernah kutulis: besok siang aku ada kelas sampai sore, Dit. Nanti aku kabarin ya.

Lalu aku mematikan ponselku dan naik ojek ke Jalan Kaliurang, ke ruko lantai dua dengan plang kecil bertuliskan WISNU AUDIO — REKAMAN & LATIHAN, karena aku sudah memaksa Fakhri sejak Selasa dan dia akhirnya menyerah hari Kamis.

“Boleh,” katanya waktu itu. “Tapi nggak ada apa-apa di situ.”

Ternyata itu bohong yang paling besar yang pernah dia ucapkan kepadaku.


Aku memikirkan pesan Radit sepanjang perjalanan, dan aku menyadari sesuatu yang tidak enak sekitar simpang keempat.

Aku tidak takut Radit marah. Radit tidak akan marah; itu bukan bahan bakunya.

Aku takut Radit baik.

Karena kalau dia mengajakku bicara dan bersikap baik — kalau dia bilang “aku cuma mau mastiin kamu nggak nggak enak sama aku” atau sesuatu yang setara — maka aku harus duduk di depannya dan menerima kebaikan itu sambil tahu persis apa yang kulakukan kepadanya di lorong belakang lima minggu lalu.

Dan aku tidak punya kalimat untuk itu. Aku punya lima jawaban untuk tante-tante di ruang tamu Om Har, aku punya enam alasan untuk menyentuh Fakhri, aku punya tiga belas persiapan untuk empat puluh menit di kafe.

Untuk yang satu ini aku tidak punya apa-apa.

Tangganya sempit dan berbau kayu. Di lantai dua ada satu ruangan berisi sofa yang per-nya sudah lama menyerah, satu meja penuh alat, dan satu ruangan kecil di baliknya dengan kaca tebal.

Dindingnya ditempeli busa peredam yang warnanya tidak ada yang sama satu sama lain — abu-abu, hitam, dua lembar biru tua di sudut, satu lembar yang jelas-jelas potongan matras yoga.

“Ini kenapa warnanya beda-beda?”

“Nambah terus. Kalau ada duit, nambah satu.”

“Selama berapa tahun?”

“Empat.”

Aku menghitung lembar busa di dinding itu tanpa sadar dan berhenti di angka tiga puluh sekian.

Pak Wisnu keluar dari ruang belakang dengan kaus oblong dan sandal jepit, melihatku, lalu melihat Fakhri, lalu melihatku lagi, dan wajahnya melakukan sesuatu yang sangat sulit dijelaskan.

“Ini?”

“Iya, Pak.”

“Ini yang—”

“Iya, Pak.”

Pak Wisnu mengangguk tiga kali, terlalu banyak, dan berjalan ke arah dispenser dengan langkah orang yang butuh melakukan sesuatu dengan tangannya. “Ya udah, ya udah. Duduk, Mbak. Maaf berantakan.”

“Nggak apa-apa, Pak.”

“Fakhri nggak pernah bawa siapa-siapa ke sini.”

“PAK.”

“Ya emang nggak pernah.”

Aku duduk di sofa yang per-nya sudah menyerah dan memutuskan bahwa aku menyukai Pak Wisnu lebih dari sebagian besar orang yang kukenal.


Fakhri kerja. Aku menonton.

Ini bagian yang sudah kulakukan selama dua tahun di aula, dan ternyata sangat berbeda di sini.

Di aula, dia menangani orang lain. Di sini, dia menangani suara.

Ada rekaman gitar akustik yang harus dibersihkan. Dia memutar potongan yang sama — empat detik — kira-kira tiga puluh kali berturut-turut, dengan perubahan yang begitu kecil sampai aku tidak bisa mendengar bedanya sama sekali.

“Fakhri.”

“Hm.”

“Itu sama semua.”

“Nggak.”

“Fakhri, itu sama.”

Dia memutar dua versi berturut-turut. “Yang mana yang kedengeran lebih deket?”

Aku mendengarkan. Dua kali. Tiga kali.

“...Yang kedua.”

“Iya.”

“Kenapa aku bisa denger?”

“Karena kamu emang bisa denger.” Dia menggeser satu tombol. “Orang selalu bisa denger. Cuma nggak ada yang pernah nanya.”


Jam delapan, dia menyerahkan sesuatu kepadaku.

In-ear monitor. Yang kecil, yang dipakai penyanyi di panggung, yang selama dua tahun aku lihat orang lain pakai dan tidak pernah kupakai karena MC tidak dapat jatah.

“Buat apa?”

“Coba pakai.”

“Aku nggak bisa masangnya.”

Dia berdiri dari kursinya.

Dan berjalan ke sofa.

Dan berlutut di satu kaki di depanku, karena sofa itu rendah dan dia terlalu tinggi, dan mengambil sisi kiri lebih dulu.

Aku berhenti bernapas.

Tangannya menyentuh telingaku — kabelnya harus diputar ke belakang daun telinga dulu, itu yang selalu kulihat orang lakukan, dan ternyata butuh tangan yang sangat pelan — dan jari-jarinya menyelipkan rambutku ke belakang untuk memberi jalan.

Dia melakukannya dengan konsentrasi penuh, dahi sedikit berkerut, seperti orang yang sedang menyolder.

Aku menatap wajahnya dari jarak dua puluh sentimeter selama kira-kira dua puluh detik dan tidak ada satu pun kalimat di dalam kepalaku.

“Yang kanan.”

“Hm?”

“Kepalanya miring dikit.”

Aku memiringkan kepala.

Dan aku menyadari bahwa aku bisa mendengar napasnya, dan bahwa napasnya lebih pelan dari biasanya, dan bahwa dia pernah bilang di lorong bahwa aku salah kalau mengira aku bisa mendengar dia berpikir.

Dia salah. Aku bisa.

“Udah,” katanya. Dia berdiri, kembali ke kursinya, dan duduk dengan punggung yang mungkin sedikit terlalu tegak. “Dengerin.”

Dia memutar rekaman paduan suara yang dia kerjakan minggu lalu.

Dua puluh empat orang. Di dalam kepalaku.

Aku pernah mendengar paduan suara. Aku pernah berdiri tiga meter dari paduan suara di panggung. Tapi ini bukan mendengar dari luar; ini seperti berdiri di tengah mereka, di antara alto dan tenor, dengan satu suara sopran di belakang kiri yang sedikit lebih tinggi dari yang lain dan satu bass yang bernapas terlalu keras di bar ketujuh.

Aku menutup mataku.

“Ini yang kamu denger tiap hari?” tanyaku.

“Iya.”

“Selama dua tahun?”

“Empat.”

Aku membuka mataku dan menatap orang yang duduk di kursi kantor bekas dengan lampu meja kuning di sebelahnya, di ruko lantai dua di Jalan Kaliurang, dengan tiga puluh sekian lembar busa yang tidak ada yang warnanya sama.

Empat ratus orang di aula tidak tahu.

Aku baru mulai tahu.


Pak Wisnu duduk di sofa sebelahku sekitar jam setengah sembilan, waktu Fakhri sedang di ruang belakang mengganti kabel.

“Mbak Anggun ya?”

“Iya, Pak.”

“Saya kenal bapaknya Fakhri dari tahun sembilan puluh dua.” Dia menyeruput kopinya. “Dulu kita masang sound kawinan bareng. Di Semarang.”

“Bapaknya juga audio?”

“Teknisi. Bukan cuma audio, apa aja.” Pak Wisnu tertawa kecil. “Orangnya persis kayak anaknya. Nggak ngomong. Kerja terus. Kalau ada yang rusak, dia benerin, terus pergi. Nggak pernah bilang ‘ini tadi saya yang benerin’.”

Aku menoleh ke arah ruang belakang.

“Fakhri kalau di sini gimana, Pak?”

“Ya gitu.”

“Gitu gimana?”

Pak Wisnu berpikir agak lama.

“Dia tuh nggak pernah minta apa-apa, Mbak,” katanya akhirnya. “Empat tahun. Saya nggak pernah dengar dia minta satu hal pun. Bayaran, jam kerja, apa aja. Saya kasih berapa, ya dia terima.”

“Itu bagus, kan?”

“Ya nggak.” Pak Wisnu menaruh gelasnya. “Kalau orang nggak pernah minta, kita nggak tahu kapan dia udah kebanyakan dikasih beban. Nggak ada tandanya. Terus tiba-tiba aja capek sendiri.”

Aku memegang gelasku dengan dua tangan dan tidak berkata apa-apa.

Aku menemukannya sekitar jam sembilan, waktu dia turun ke bawah membeli makan dan menyuruhku “jangan sentuh apa-apa” yang mana adalah kalimat paling tidak efektif dalam sejarah bahasa Indonesia.

Aku tidak menyentuh apa-apa. Aku bersumpah. Aku cuma menggeser mouse-nya sedikit supaya layarnya menyala kembali, karena aku ingin melihat bagaimana bentuk gelombang suaraku sendiri kalau direkam.

Layarnya menyala di daftar file.

Folder demi folder, semuanya dinamai dengan sistem: 2024-11-03PS-GEREJA, 2025-02-14DEMO-BAND-RUANGAN, 2025-06-21_VOKAL-TAKE3. Rapi. Tanggal dulu, baru isi. Persis seperti orang itu.

Dan di paling bawah, di luar semua folder, ada satu file sendirian.

11s.wav

Tidak ada tanggal. Tidak ada keterangan. Sebelas detik.

Aku menatap nama file itu lebih lama dari yang bisa kubenarkan.

Lalu aku mendengar langkah di tangga, dan aku mundur dari meja dengan kecepatan yang sepenuhnya menghancurkan alibiku, dan Fakhri masuk membawa dua bungkus nasi dan berhenti di ambang pintu.

Dia melihat layar. Lalu melihat aku.

“Aku nggak buka apa-apa,” kataku.

“Aku tahu.”

“Aku cuma—”

“Aku tahu, Anggun.”

Dia menaruh nasi di meja, dan mengambil mouse, dan mengunci layarnya.

Bukan buru-buru. Bukan panik. Dia melakukannya dengan cara yang sama seperti dia menutup kardus inventaris.

“Itu apa?”

“File.”

“Fakhri.”

“Bukan apa-apa.”

“Semua file di situ ada tanggalnya,” kataku. “Semua. Kamu itu orang yang naruh tanggal di depan nama file. Cuma satu yang nggak.”

Dia membuka bungkus nasinya.

“Makan,” katanya.


Aku memikirkan sesuatu sambil makan.

Bukan tentang file itu. Tentang caranya mengunci layar.

Aku pernah melihat orang menyembunyikan sesuatu. Aku lumayan ahli soal itu; aku menghabiskan lima minggu terakhir menjadi orang yang menyembunyikan sesuatu, dan sebelum itu dua tahun.

Orang yang menyembunyikan sesuatu bergerak cepat. Mereka menutup layar dengan satu gerakan, mereka tertawa terlalu keras, mereka mengubah topik dalam waktu kurang dari dua detik.

Fakhri tidak melakukan satu pun dari itu.

Dia mengunci layar dengan kecepatan yang sama seperti dia menutup kardus inventaris, lalu duduk, lalu membuka nasinya.

Itu bukan gerakan orang yang menyembunyikan.

Itu gerakan orang yang menunda.

Aku bertanya dua kali lagi malam itu.

Yang pertama waktu makan. Dia bilang, “nanti.”

Yang kedua waktu turun tangga, jam sepuluh, sambil dia mengunci pintu ruko.

“Fakhri.”

“Hm.”

“Sebelas detik itu apa?”

Dia memasukkan kunci ke sakunya. Berdiri di anak tangga paling bawah, di bawah lampu neon jalan yang bikin semuanya kelihatan agak hijau.

“Anggun.”

“Kalau kamu bilang ‘bukan apa-apa’ lagi aku pulang jalan kaki.”

Dia diam beberapa detik.

“Aku nggak bisa jelasin sekarang,” katanya.

“Kenapa?”

“Karena sekarang tinggal dua belas hari.” Dia mengangkat ranselnya ke bahu. “Dan kalau aku jelasin sekarang, kamu bakal ngerasa harus ngelakuin sesuatu soal itu.”

“Fakhri—”

“Aku bakal jelasin,” katanya. “Tapi nanti. Waktu nggak ada yang tinggal berapa hari lagi.”

Dan dia menyalakan motornya, dan aku naik di belakang, dan sepanjang jalan pulang aku memegang jaketnya dan memikirkan satu hal berulang-ulang:

Orang itu sudah menunggu dua tahun untuk mengatakan satu kalimat.

Dan dia baru saja memberitahuku bahwa masih ada satu lagi yang belum dia katakan.