← Sebut Saja Namanya

Chapter Twenty Six

Satu Orang

POV: Anggun


Aku mengajak Sasa ke kos hari Jumat malam.

Bukan kafe. Bukan sekre. Bukan tempat mana pun yang ada orang lain di dalamnya, karena aku tahu persis apa yang akan terjadi dan aku tidak ingin Sasa harus mengatur wajahnya untuk siapa pun.

Dia datang jam delapan sambil membawa dua bungkus seblak dan langsung duduk bersila di lantai kamarku seperti sembilan tahun terakhir.

“Kenapa? Kamu kayak mau ngasih tahu aku kena penyakit.”

“Sas.”

“Ngun, muka kamu itu—”

Aku mengeluarkan kertas rundown yang dilipat delapan dari kantong dalam tasku dan menaruhnya di lantai di antara kami.

Sasa melihat kertas itu.

Lalu melihat aku.

“Buka,” kataku.


Dia membukanya pelan-pelan, seperti orang yang membuka surat dari rumah sakit.

Aku menonton matanya bergerak dari atas ke bawah. Judul. Enam poin. Dua tanda tangan.

Aku tahu persis di baris mana dia sampai, karena wajahnya berubah tiga kali.

Yang pertama di poin satu: batas waktu empat puluh tiga hari.

Yang kedua di poin dua: nggak ada yang boleh tahu. Kecuali dua orang bermasalah milik Fakhri. Dan di sebelahnya, dengan tulisanku sendiri, huruf kapital semua: SASA NGGAK BOLEH TAHU.

Yang ketiga di bagian bawah, di tanda tangan.

Dia meletakkan kertas itu di lantai. Dia meratakannya dengan telapak tangan, dua kali, padahal sudah rata.

“Jelasin,” katanya.

Suaranya sangat tenang. Sasa yang tenang tidak pernah bagus.


Aku menjelaskan semuanya.

Empat puluh lima menit. Dari lorong belakang, dari Radit dan tas kertas, dari dua belas orang dan empat ponsel. Kontrak di ruang alat. Kantin yang tidak ramai. Foto di kafe yang diambil karena aku panik. Payung kering di dalam tas. CCTV yang mati sejak tahun lalu.

Dan bagian tentang dua tahun. Kursi barisan keempat. Lakban biru tiga sentimeter di bagian bawah batang mic, di tempat yang tidak kelihatan kalau dipegang.

Sasa tidak memotong sekali pun.

Itu bagian yang paling tidak bisa kutanggung. Kalau dia memotong, kalau dia berteriak, aku akan tahu harus bagaimana. Sasa yang berteriak itu Sasa yang masih berbicara denganku.

Sasa yang mendengarkan empat puluh lima menit tanpa memotong adalah orang asing.

Waktu aku selesai, dia diam sekitar sepuluh detik.

“Jadi hari Minggu di kafe itu,” katanya, “kalian lagi ujian.”

“Iya.”

“Dan aku pengujinya.”

“Iya.”

“Dan kalian lulus.”

“Sas—”

“Aku nanya empat puluh menit,” katanya. “Aku nyusun pertanyaannya dari Kamis. Aku bangga banget sama pertanyaan yang soal ‘Anggun kalau bete tandanya apa’, aku mikirin itu di kamar mandi.”

Dia tertawa satu kali, pendek, dan bunyinya membuatku ingin menghilang.

“Terus dia jawab bener,” katanya. “Dan aku duduk di situ mikir ‘oh, ternyata beneran’. Dan aku pensiun. Aku pensiun jadi jaksa hari itu juga, di meja itu, dan aku ngerasa jadi sahabat yang jelek karena udah curiga.”

“Sasa, jawaban dia bener karena dia emang tahu—”

“AKU TAHU.” Dia mengangkat tangannya. “Aku tahu, Ngun. Aku ngerti. Bagian dia itu beneran. Aku ngerti.”

Dia menarik napas.

“Yang bohong bukan dia,” katanya. “Yang bohong kamu.”


Aku sudah menyiapkan diri untuk marah.

Aku tidak menyiapkan diri untuk yang ini.

Sasa mengambil bungkus seblaknya, membukanya, menutupnya lagi, dan menaruhnya di lantai.

“Kamu tahu bagian mana yang paling nggak enak?” katanya.

“Bagian aku bohong.”

“Bukan.”

Dia mendongak.

“Bagian di mana aku mundur,” katanya.

Kamarku kecil dan lampunya kuning dan tiba-tiba terasa terlalu terang.

“Aku mundur tiga kali, Ngun. Aku inget semuanya.” Dia mulai menghitung dengan jari, dan tangannya gemetar sedikit, dan itu jauh lebih buruk daripada kalau dia berteriak. “Di koridor gedung C, waktu kamu meluk dia, aku mau nanya sesuatu terus aku bilang ‘nggak jadi’. Di depan gedung C, aku bilang aku pensiun. Dan di sekre, waktu aku buka tasmu.”

Aku menutup mataku.

“Aku megang kantong dalam tasmu, Ngun.” Suaranya mulai pecah. “Tanganku udah di situ. Dan aku narik tanganku keluar karena aku mikir ‘ini sahabat aku, aku nggak boleh gini’.”

“Sas—”

“Dan yang aku nggak buka itu ini.” Dia menunjuk kertas di lantai dengan seluruh tangannya. “Ini. Yang ada tulisan aku nggak boleh tahu. Pakai huruf gede. Pakai tulisan tangan kamu.”

Aku mulai menangis dan aku tidak berhak, dan aku tahu aku tidak berhak, dan aku tetap menangis.

“Tiap kali aku milih baik sama kamu,” kata Sasa, “kamu lagi ngeliatin aku buat mastiin aku nggak curiga.”

“Iya.”

“Ngun, aku nggak butuh kamu bilang iya, aku butuh kamu bilang—” Dia berhenti. “Nggak. Nggak tahu. Aku nggak tahu aku butuh apa.”


“Boleh aku nanya satu hal yang nggak enak?” kata Sasa.

“Boleh.”

“Waktu di lorong itu. Malam Radit.” Dia menggeser kertas di lantai dengan satu jari. “Kenapa dia?”

“Sas—”

“Ngun, ada dua belas orang di lorong itu. Ada aku. Kamu bisa narik aku.” Dia menatapku. “Kamu bisa bilang ‘maaf Dit, aku lagi nggak bisa mikirin itu’ terus jalan pergi, dan aku bakal berdiri di depan kamu sampai semua orang bubar. Kamu tahu itu.”

Aku menelan.

“Iya. Aku tahu.”

“Terus kenapa dia?”

Dan aku mengatakan hal yang belum pernah kukatakan keras-keras kepada siapa pun kecuali kepada orangnya sendiri, di ruang alat, jam sebelas lewat empat puluh lima malam.

“Karena aku udah dua tahun dateng ke aula jam tiga,” kataku, “dan aku nggak pernah ngizinin diriku nyelesaiin kalimat tentang kenapa.”

Sasa tidak berkata apa-apa.

“Malam itu otakku nyari nama, Sas. Satu setengah detik. Dan yang keluar bukan nama yang paling aman.”

“Kamu nyebut duluan, baru narik tangannya.”

Aku menoleh cepat. “Kok kamu tahu?”

“Aku berdiri empat meter dari kamu.” Sasa mengusap matanya. “Ngun, aku inget urutannya. Aku inget sejak malam itu dan aku nggak pernah nanya karena aku pikir aku salah denger.”

Kami duduk di lantai kamarku selama mungkin sepuluh menit tanpa bicara. Seblaknya dingin. Tidak ada yang menyentuhnya.

“Kenapa sekarang?” tanya Sasa akhirnya.

“Hah?”

“Kenapa kamu cerita sekarang. Kontraknya udah habis kemarin, kan? Kalian udah aman. Kalau kamu diem, aku nggak akan pernah tahu seumur hidup.”

Dan ini pertanyaan yang paling kutakuti, karena jawabannya bukan jawaban yang membuatku terlihat baik.

“Karena Fakhri minta,” kataku.

Sasa mengangkat kepalanya.

“Dia nolak permintaanku minggu lalu,” lanjutku. “Pertama kali dalam dua tahun dia nolak sesuatu. Aku minta kita terus diem sampai semester habis, dan dia bilang nggak.”

“Kenapa dia bilang nggak?”

“Karena kalau nggak ada satu orang pun yang tahu ini beneran, nggak ada bedanya sama yang bohongan.”

Sasa memandang kertas di lantai.

“Dan dia minta satu orang,” lanjutku. “Bukan pengumuman. Bukan panggung. Satu orang.”

“Dan dia milih aku?”

“Aku yang milih kamu.”

Sasa menoleh cepat.

“Dia bilang ‘satu orang’,” kataku. “Aku yang bilang Sasa.”

Dia menatapku beberapa detik.

Lalu dia mengambil bungkus seblaknya lagi, membukanya, dan makan tiga suap berturut-turut tanpa bicara, yang mana adalah cara Sasa membeli waktu sejak SMA.

“Ngun.”

“Hm.”

“Kamu tahu nggak, dari semua yang kamu ceritain empat puluh lima menit tadi,” katanya sambil mengunyah, “bagian yang paling bikin aku pengen nangis itu bagian yang mana?”

“Bagian mana?”

“Bagian lakban.”

Dia menaruh bungkusnya.

“Dua tahun,” katanya. “Dua tahun dia nandain satu mic dari dua belas terus naruh lakbannya di bawah biar nggak keliatan.” Matanya merah. “Ngun, itu orang nggak minta apa-apa selama dua tahun. Terus sekali dia minta, dia minta satu orang. Satu.”

“Iya.”

“Dan kamu hampir nggak ngasih.”

Aku menunduk.

“Iya.”


“Ngun.”

“Hm.”

“Aku mau bilang satu hal dan aku nggak yakin ini bakal kedengeran kayak yang aku maksud.”

“Bilang aja.”

Sasa menaruh bungkus seblaknya.

“Aku sembilan tahun kenal kamu,” katanya. “Dan selama sembilan tahun, tiap kali kamu suka sama orang, aku selalu tahu duluan. Selalu. Kamu nggak bisa nyimpen apa-apa; kamu pernah nangis tiga hari gara-gara nggak bisa nyimpen kejutan ulang tahunku dua jam.”

“Aku tahu.”

“Terus kali ini kamu nyimpen dua tahun.”

Aku mengangkat kepalaku.

“Dua tahun, Ngun. Dari aku.” Suaranya pelan. “Dan aku nggak marah soal yang lima minggu. Aku bisa ngerti yang lima minggu; kamu panik, kamu bikin sistem, kamu jalanin. Itu emang kamu banget.”

Dia menatap kertas di lantai.

“Yang bikin aku pengen nangis itu bagian dua tahunnya,” katanya. “Karena artinya ada bagian dari kamu yang udah dua tahun sendirian, dan aku duduk di sebelah kamu tiap hari, dan aku nggak nyadar sama sekali.”

Aku tidak bisa menjawab yang itu.

“Aku sahabat yang jelek.”

“Sasa, kamu bukan—”

“Aku nggak lagi minta dibantah.” Dia mengusap wajahnya. “Aku cuma lagi ngomong.”

Sasa pulang jam setengah dua belas.

Di pintu kos, dengan sandal sudah dipakai dan helm di tangan, dia berhenti dan berkata:

“Aku masih marah.”

“Aku tahu.”

“Aku bakal marah lumayan lama. Mungkin seminggu. Mungkin dua.”

“Oke.”

“Tapi ada dua hal yang aku mau bilang sekarang, biar nggak ketuker sama marahnya.”

Aku menunggu.

“Satu.” Dia mengangkat satu jari. “Aku nggak akan bilang ke siapa-siapa. Termasuk Mel. Terutama Mel.”

“Sas—”

“Bukan buat kamu.” Dia menurunkan jarinya. “Buat dia. Kalau ini bocor lewat aku, yang jatuh bukan kamu.”

Aku menelan.

“Dua.” Dia memutar helmnya di tangan. “Kamu harus ngomong ke Mel sendiri. Nggak harus sekarang. Tapi harus kamu.”

“Iya.”

Dia memakai helmnya, lalu membukanya lagi.

“Tiga—”

“Katanya cuma dua.”

“Aku nambah.” Dia menatapku lewat visor yang terbuka. “Ngun, waktu kamu cerita bagian dia jawab pertanyaanku di kafe, kamu nunduk terus.”

“Terus?”

“Kamu nunduk karena kamu malu udah bohongin aku.” Sasa menutup visornya setengah. “Coba lain kali angkat kepala. Bagian itu bukan bohongan.”

Dia pergi.

Aku menutup pintu kos dan berdiri di belakangnya, dan aku mengetik satu pesan.

Anggun: udah.
Fakhri Wirawan: gimana
Anggun: dia marah
Anggun: dan dia bilang dia nggak akan bilang siapa-siapa, buat kamu, bukan buat aku
Fakhri Wirawan: oke
Fakhri Wirawan: makasih

Dan aku duduk di lantai kamar dengan seblak dingin dan satu lembar kertas terbuka dan berpikir bahwa untuk pertama kalinya sejak lorong itu, ada satu orang di dunia ini selain kami berdua yang tahu ini benar.

Satu dari delapan ribu.

Rasanya seperti gedung yang terbakar dan seperti jendela yang akhirnya dibuka, sekaligus, dan aku tidak tahu bagaimana dua hal itu bisa muat di dada yang sama.