Chapter Thirty Six
Hipotesis Keempat Belas
POV: Fakhri
Dua minggu setelah acara, Yoga mengumpulkan orang lagi di kantin belakang.
Aku tidak diberi tahu bahwa ini akan terjadi. Aku diberi tahu bahwa “kita makan Sabtu kayak biasa”, dan waktu aku sampai, sudah ada lima orang di meja itu dan Yoga sudah berdiri.
“Duduk, Yog.”
“Aku nggak bisa nyampein ini sambil duduk.”
“Kamu selalu bilang itu.”
“Karena selalu bener.” Dia membuka buku tulisnya. “Selamat siang. Terima kasih sudah hadir.”
“Kita emang makan di sini tiap Sabtu.”
“Terima kasih sudah hadir.” Dia membalik halaman. “Hari ini saya menutup Penelitian Peristiwa Lorong, yang berjalan selama sembilan minggu dan menghasilkan empat belas hipotesis.”
Deni menepuk meja. Rio, yang tidak pernah bicara, juga tidak bicara hari itu.
“Sebelum saya sampaikan hipotesis keempat belas,” kata Yoga, “saya mau melakukan koreksi resmi terhadap hipotesis ketujuh.”
Fikri menyandarkan punggungnya dan melipat tangan dengan ekspresi orang yang sudah menunggu delapan minggu.
“Hipotesis ketujuh,” baca Yoga, “berbunyi: Anggun yang suka duluan, dari sebelum kejadian di lorong.”
Meja itu diam.
“Hipotesis tersebut dicoret pada tanggal yang sama, di meja ini, di depan lima saksi, oleh saya sendiri, sambil tertawa.” Dia menaruh bukunya. “Hipotesis tersebut benar.”
Deni bertepuk tangan satu kali dan berhenti karena tidak ada yang mengikuti.
“Saya juga mau menyampaikan,” lanjut Yoga, “bahwa hipotesis ketujuh sebenarnya bukan punya saya.”
Dia menoleh ke Fikri.
“Fikri Ramadhan menyampaikan hipotesis tersebut di kantin ini, sembilan minggu lalu, pada hari pertama. Dengan kalimat: ‘mungkin mereka beneran saling suka.’”
Fikri tidak bergerak.
“Dan saya menjawab,” kata Yoga, “‘Fik, kamu nggak boleh ikut riset.’”
Dia menutup bukunya.
“Fikri, saya minta maaf. Kamu boleh ikut riset.”
Fikri mengambil gelasnya, minum, menaruhnya kembali.
“Aku nggak mau ikut riset.”
“KAMU HARUS.”
“Aku nggak mau, Yog. Riset kamu jelek.”
“Sembilan minggu, Fikri! Sembilan minggu penelitian lapangan!”
“Kamu nyatet di buku tulis anak SD.”
“ITU BUKU TULIS BIASA.”
“Hipotesis keempat belas,” kata Yoga, setelah meja itu tenang.
Dia berdiri lagi. Dia tidak membaca dari buku.
“Hipotesis keempat belas tidak tentang Anggun.”
Aku mengangkat kepalaku.
“Hipotesis keempat belas berbunyi begini.” Dia menatapku. “Bang Fakhri udah pantes dari dulu. Dan kita semua tahu. Dan kita nggak pernah bilang, karena kalau kita bilang, kita harus ngaku bahwa kita udah tiga tahun ngeliat orang pantes terus kita biarin aja dia di belakang panggung.”
Kantin belakang jam dua siang punya suara kipas angin yang berputar tidak rata.
“Itu bukan hipotesis,” kata Fikri pelan.
“Aku tahu,” kata Yoga. “Aku udah kehabisan bentuk lain buat ngomong.”
Dia duduk.
Dan lalu, karena dia Yoga, dia langsung menambahkan: “Oke sekarang siapa yang mau traktir, karena secara emosional saya baru saja mengeluarkan banyak sekali sumber daya.”
“Kamu selalu ditraktir.”
“KARENA SAYA SELALU MENGELUARKAN SUMBER DAYA.”
Aku pulang dari kantin belakang jam tiga dan aku memikirkan sesuatu yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya, yaitu bahwa aku punya teman.
Ini kedengarannya bodoh kalau ditulis begitu.
Yang kumaksud lebih spesifik: aku selalu menganggap Yoga dan Fikri sebagai dua orang yang kebetulan duduk di meja yang sama denganku selama tiga tahun. Aku menyediakan kehadiran, mereka menyediakan suara, dan sistem itu berjalan.
Aku tidak pernah menghitung bahwa selama sembilan minggu terakhir, Yoga datang ke kos membawa nasi tiga kali, Fikri berdiri di pintu kos dua kali dan mengatakan hal yang paling tidak enak yang perlu kudengar, dan tidak satu pun dari mereka pernah bertanya “kamu baik-baik aja?” karena mereka berdua tahu aku akan bilang iya.
Orang yang tidak pernah minta apa-apa itu bukan orang yang tidak diberi apa-apa.
Dia cuma tidak pernah menghitung yang masuk.
Ada satu hal lagi dari siang itu.
Waktu semuanya sudah bubar dan tinggal aku dan Fikri di meja, dia berkata, sambil merapikan bungkus nasinya:
“Bang, boleh nanya?”
“Boleh.”
“Kamu marah nggak sama Yoga?”
“Nggak.”
“Bang.”
“Aku nggak marah, Fik.”
Fikri menatapku beberapa detik.
“Coba jawab yang bener.”
Aku memikirkannya. Aku sudah lebih sering memikirkan pertanyaan seperti ini sejak enam minggu lalu, dan aku masih belum bagus, tapi aku sudah tidak langsung menjawab.
“Aku nggak marah,” kataku. “Tapi hipotesis empat itu nyakitin.”
“Nah.”
“Bukan karena salah. Karena bener.” Aku memutar tutup botol yang sudah tertutup. “Dan aku duduk di situ sambil minum es teh, dan aku bahkan ngatur muka biar keliatan biasa aja. Itu yang nyakitin. Bukan Yoga-nya. Aku-nya.”
Fikri mengangguk pelan.
“Bang, kamu tahu nggak itu kemajuan?”
“Apanya?”
“Kamu barusan ngaku sesuatu nyakitin, terus kamu nggak langsung nambahin ‘tapi nggak apa-apa’.”
Aku membuka mulut.
Aku sudah menyiapkan “tapi nggak apa-apa”.
Aku menutupnya lagi.
Fikri tertawa dan berdiri dan meninggalkanku sendirian di kantin belakang dengan botol yang tutupnya sudah kuputar entah berapa kali.
Sekarang bagian yang tidak kusadari sama sekali sampai Fikri menyebutkannya.
Hari Senin, di parkiran.
“Bang.”
“Hm.”
“Kamu ngerti nggak apa yang lagi terjadi?”
“Nggak.”
“Ya, itu masalahnya.”
Dia memutar kunci motornya di jari.
“Hari ini ada tiga orang nanya soal kamu.”
“Nanya apa?”
“Bukan nanya kabel, Bang.”
Aku menutup jok motorku. “Aku nggak ngerti.”
“Anak semester tiga, di depan sekre, jam sepuluh. Nanya ke Yoga kamu ambil skripsi topik apa.” Fikri mengangkat satu jari. “Anak semester lima, jam satu, nanya ke aku kamu biasanya di aula jam berapa.”
“Itu ada di grup.”
“Dia tahu ada di grup, Bang.”
Dia mengangkat jari ketiga.
“Dan tadi jam empat, ada yang nanya ke aku kamu udah pacaran apa belum.”
Aku menoleh.
“Fikri, satu kampus tahu.”
“Iya.”
“Dua puluh ribu tayangan.”
“IYA, BANG. Itu poinnya.” Dia menepuk stangnya. “Orangnya tahu. Dia tetep nanya.”
Aku memikirkan itu selama beberapa detik dan tidak menemukan tempat untuk menaruhnya.
“Terus aku harus ngapain?”
“Nggak usah ngapa-ngapain.” Fikri memakai helmnya. “Aku cuma ngasih tahu, karena kamu nggak akan nyadar sampai enam bulan lagi dan waktu itu udah kelewat lucu.”
Aku menceritakan percakapan parkiran itu ke Anggun malam harinya, sambil dia mengikat kabel dengan sangat buruk di lantai panggung.
“Tiga orang,” kataku.
“Hm.”
“Fikri bilang tiga orang nanya soal aku hari ini.”
“Hm.”
“Aku nggak ngerti maksudnya.”
Anggun mengikat velcro itu sangat kencang sampai kabelnya melengkung.
“Terlalu kenceng,” kataku.
“Aku tahu.”
“Nanti melintir.”
“AKU TAHU, FAKHRI.”
Aku berhenti dan menoleh.
“Kamu kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
“Kamu—”
“Aku nggak apa-apa.” Dia melempar gulungan itu ke kotak. “Cepet banget ya orang.”
“Cepet apa?”
“Nggak ada.”
Dia mengambil gulungan berikutnya dan mengikatnya, juga terlalu kencang, dan aku memutuskan untuk tidak menyebutkan yang itu.
Aku tidak menyadarinya sampai hari Rabu, dan bahkan waktu itu aku menyadari hal yang salah.
Hari Rabu, jam empat, ruang alat.
Ada empat orang di dalamnya.
Aku berhenti di pintu.
Ruang alat itu tiga meter kali empat. Dalam dua tahun, jumlah orang maksimum yang pernah ada di dalamnya secara bersamaan adalah dua, dan yang kedua selalu Anggun.
“Bang Fakhri!”
“Bang, aku bawain gorengan.”
“Bang, ini kabelnya yang mana ya yang buat—”
Aku menaruh koper alat dan mulai bekerja, dan aku menjawab pertanyaan tentang kabel, dan tiga puluh menit kemudian jumlah orangnya jadi enam.
Dan yang kupikirkan sepanjang tiga puluh menit itu adalah:
Bagus. Akhirnya ada yang mau belajar.
Aku benar-benar berpikir begitu. Aku bahkan senang. Aku mengajari dua orang cara menggulung kabel dengan lipatan yang sama besar supaya tidak melintir tahun depan, dan salah satunya mencatat di ponselnya, dan aku merasa hari itu produktif.
Anggun masuk jam setengah lima.
Dia berhenti di pintu.
Dia melihat enam orang di dalam ruang alat.
Dia melihat gorengan.
Dan wajahnya melakukan sesuatu yang belum pernah kulihat seumur hidup, dan aku tidak punya nama untuk itu, dan aku baru punya namanya tiga hari kemudian.
“Anggun.”
“Hai,” katanya.
“Duduk?”
“Nggak, aku—” Dia melihat ke kursi plastik yang kakinya diganjal triplek, yang saat itu sedang diduduki oleh anak semester tiga yang membawa gorengan. “Aku ada urusan bentar.”
Dan dia pergi.
Aku mengejarnya sampai koridor.
“Anggun.”
“Aku beneran ada urusan.”
“Kamu nggak punya urusan jam setengah lima.”
“Fakhri.”
“Kamu selalu di sini jam setengah lima.”
Dia berhenti di tengah koridor dan berbalik, dan wajahnya masih melakukan hal yang tidak punya nama itu, dan dia berkata dengan nada yang sangat ringan dan sangat salah:
“Ya udah, bagus dong. Kamu udah rame sekarang.”
Dan dia pergi.
Aku berdiri di koridor selama beberapa detik, lalu kembali ke ruang alat, dan mengajari dua orang lagi cara memeriksa baterai.
Aku benar-benar tidak mengerti.
Aku akan menuliskan itu sekali lagi supaya jelas bahwa aku tidak sedang berpura-pura:
Aku benar-benar, sepenuhnya, tidak mengerti.
Malamnya aku mengirim pesan.
Fakhri: kamu marah?
Anggun: nggak
Fakhri: kamu marah
Anggun: aku nggak marah fakhri
Anggun: aku cuma capek
Fakhri: capek kenapa
Anggun: capek aja
Tiga titik muncul dan hilang empat kali. Aku menghitungnya.
Anggun: fakhri
Fakhri: hm
Anggun: kursi plastik yang kakinya diganjel triplek itu
Fakhri: kenapa
Anggun: nggak jadi
Anggun: selamat malam
Aku menatap layar itu selama sekitar delapan menit.
Kursi plastik yang kakinya diganjal triplek.
Aku memasang triplek itu sendiri, semester empat, karena kaki kursinya patah dan aku terlalu malas mengurus penggantian ke bagian inventaris.
Ada satu orang yang duduk di kursi itu hari Rabu, dan orang itu bukan Anggun, dan itu pertama kalinya dalam dua tahun.
Aku memikirkan itu sampai jam satu pagi dan tetap tidak sampai ke kesimpulan yang benar, dan aku ingin dicatat bahwa aku sudah berusaha.
- 1 Dua Belas Mic, Satu Lakban Biru
- 2 Dia Pacarku
- 3 Empat Puluh Tiga Hari
- 4 Kantin Nggak Ramai
- 5 Daftar
- 6 Satu Langkah di Belakang
- 7 Empat Puluh Detik
- 8 Aku Ngantuk
- 9 Hipotesis
- 10 Observasi
- 11 Payung
- 12 Ada yang Lihat
- 13 CCTV
- 14 Kursi Barisan Keempat
- 15 Dua Tahun
- 16 Versi yang Bakal Nempel
- 17 Kabelnya Berat
- 18 Tempat Paling Nggak Romantis di Kampus
- 19 Sebelas Detik
- 20 Boleh Saya Potong Sebentar
- 21 Kantong Dalam
- 22 Tanggal Dua Puluh
- 23 Nggak
- 24 Nama di Kontak
- 25 Hari Keempat Puluh Tiga
- 26 Satu Orang
- 27 Naik
- 28 Empat Jam dari Kampus
- 29 Rekonstruksi
- 30 Satu-satunya Orang yang Tahu
- 31 Aman
- 32 Yang Direkam
- 33 Tujuh Belas Menit
- 34 Lima Menit
- 35 Yang Nggak Manis
- 36 Hipotesis Keempat Belas reading
- 37 Aku Nggak Cemburu
- 38 Nggak Menarik untuk Difoto
- 39 Channel Tujuh
- 40 Dua Belas Mic