Chapter Thirty One
Aman
POV: Fakhri
Ini yang tidak dimengerti siapa pun tentang posisiku minggu itu:
Aku menang.
Bukan menang dalam arti apa pun yang menyenangkan. Menang dalam arti yang paling dingin: dari semua orang yang terlibat dalam kejadian ini, akulah satu-satunya yang keluar tanpa kerugian.
Aku menghitungnya hari Kamis, di studio, sambil mengedit rekaman gitar akustik yang tidak butuh diedit.
Anggun. Rusak. Dua belas ribu tayangan, empat versi cerita, empat meja yang berhenti bicara di kantin. Dia akan membawa ini sampai wisuda dan mungkin lebih lama.
Radit. Rusak. Namanya tidak pernah disebut di utas itu, dan justru karena tidak disebut, semua orang menyebutnya. Dia sekarang jadi orang yang ditolak pakai bohongan.
Sasa. Rusak dengan cara yang paling sunyi. Dia tahu semuanya dan tidak boleh mengatakan apa pun, dan dia duduk di sekre memegang stempel sambil mendengar empat orang mengasihaniku.
Aku.
Aku dikasihani.
Itu saja. Itu seluruh kerugianku.
Dan kasihan, kalau kamu berdiri di tempat yang tepat, adalah bentuk perlindungan yang sangat efektif.
Tidak ada satu orang pun di kampus ini yang menyalahkanku. Tidak satu pun dari dua belas ribu tayangan itu berisi kalimat yang menuduhku. Anak semester tiga tetap bertanya soal monitor. Panitia tetap memanggil “Bang Fakhri”. Ada yang menitipkan roti di ruang alat hari Selasa tanpa nama.
Aku bisa diam.
Aku bisa diam selamanya, dan versi keempat akan mengeras jadi sejarah, dan dalam dua tahun tidak akan ada satu pun orang di fakultas ini yang mengingat detailnya kecuali bahwa ada perempuan yang memakai anak sound dan anak soundnya kasihan.
Dan aku akan aman.
Aku sudah pernah aman seperti ini sebelumnya.
Dua tahun aman. Berdiri di sisi kiri belakang, dua meter dari tembok, di bagian gedung yang lampunya sengaja dimatikan. Menandai satu mic dari dua belas dan menaruh lakbannya di bawah. Menyimpan sebelas detik tanpa memberi nama pada filenya.
Aku ahli dalam aman. Aman adalah satu-satunya hal yang benar-benar kukuasai.
Dan hari Kamis malam di studio itu aku menyadari sesuatu yang membuatku berhenti mengedit selama sepuluh menit dengan tangan di atas mouse.
Kalau aku diam sekarang, aku tidak sedang berkorban.
Aku sedang pulang.
“Kamu nggak ngedit.”
Pak Wisnu berdiri di pintu dengan gelas kopi.
“Ngedit.”
“Fakhri, waveform-nya nggak gerak dari tadi. Saya ngeliatin sepuluh menit.”
Aku melepas headphone.
Pak Wisnu duduk di sofa yang per-nya sudah menyerah dan tidak bertanya apa-apa selama beberapa menit, yang mana adalah caranya bertanya.
“Pak.”
“Hm.”
“Kalau ada dua orang,” kataku, “terus salah satunya bisa selamat kalau diem, dan yang satu lagi hancur. Terus yang bisa selamat itu diem.”
“Ya itu wajar.”
“Iya.”
“Itu wajar dan itu jelek,” kata Pak Wisnu. “Dua-duanya bisa bener sekaligus.”
Aku memutar mouse tanpa mengklik apa pun.
“Yang saya nggak ngerti,” katanya, “kenapa kamu nanya ke saya.”
“Karena Bapak yang bilang saya lagi nabung.”
“Oh.” Dia tertawa. “Saya lupa saya ngomong gitu.”
“Bapak ngomong gitu.”
“Ya udah kalau gitu saya tambahin.” Dia menyeruput kopinya. “Le, orang yang nabung terus itu bukannya nggak punya apa-apa. Dia punya banyak. Cuma nggak pernah dibelanjain.”
“Terus?”
“Terus suatu hari ada yang butuh, dan dia masih nabung.” Pak Wisnu menaruh gelasnya. “Dan hari itu tabungannya berubah jadi pengecut.”
Yang paling sulit dijelaskan adalah kenapa aku tidak bisa menerima dikasihani.
Aku sudah dikasihani sebelumnya. Aku dikasihani sejak minggu kedua — Yoga menyebutnya “periode”, ada yang bilang “kasihan, nanti kalau udah bosen ya gitu” di meja belakang Anggun di kantin, senior yang bilang aku beruntung sekarang jadi kelihatan.
Semua itu tidak apa-apa. Aku menelannya dan melanjutkan bekerja dan tidak sekali pun kehilangan tidur.
Yang berbeda sekarang adalah kasihan itu punya harga, dan bukan aku yang membayar.
Setiap kali ada satu orang berkata “kasihan cowoknya”, kalimat itu punya bagian kedua yang tidak perlu diucapkan. Bagian keduanya adalah “karena ceweknya begitu.”
Enam minggu lalu, di lorong belakang, seseorang memilih untuk berdiri di depan dan membuat keputusan buruk dalam satu setengah detik supaya empat orang berhenti mengetuk pintunya.
Dan sekarang seluruh kampus sedang membagi hasilnya: dia mendapat kerugiannya, aku mendapat simpatinya.
Aku sudah dua tahun hidup dari hal-hal yang tidak kubayar.
Dia datang jam tiga. Aku tidak pernah bertanya kenapa selama dua tahun karena aku takut jawabannya akan menghentikannya.
Dia menyebut namaku di lorong. Aku tidak menolak, karena menolak berarti berdiri di depan dua belas orang.
Dia menarik kerahku di lorong yang kosong dengan alasan CCTV yang sudah mati, dan aku menunduk, dan aku menunduk terlalu cepat.
Aku menerima semuanya.
Aku sangat, sangat bagus dalam menerima.
Fikri datang ke kos hari Jumat.
Yoga tidak datang. Yoga mengirim empat puluh pesan tapi tidak datang, dan Fikri menjelaskan kenapa dalam satu kalimat: “Dia takut dia bakal ngomong yang salah.”
Kami duduk di lantai kos dengan dua bungkus nasi.
“Bang, aku nggak akan nanya kamu baik-baik aja.”
“Bagus.”
“Aku mau nanya yang lain.” Fikri membuka bungkusnya. “Kamu inget nggak waktu aku bilang kamu udah ngasih dia semuanya kecuali kesempatan buat milih kamu?”
“Iya.”
“Aku salah.”
Aku menoleh.
“Bukan salah total. Salah setengah.” Dia mengaduk nasinya. “Aku waktu itu mikir masalahnya kamu nggak pernah minta. Ternyata bukan itu.”
“Terus apa?”
“Masalahnya kamu nggak pernah bikin dirimu bisa rugi.”
Kos itu kecil dan lampunya terlalu terang.
“Kamu ngasih dia semuanya, Bang,” kata Fikri. “Waktu, kerja, dua tahun, jaket, hujan, semuanya. Tapi nggak ada satu pun dari itu yang bisa bikin kamu jatuh.”
“Aku jatuh kalau dia pergi.”
“Iya, tapi itu di dalem.” Fikri menunjuk dadanya dengan sumpit. “Nggak ada yang lihat. Nggak ada yang bisa nunjuk kamu terus ketawa.”
Dia mengunyah.
“Radit bisa,” katanya. “Radit ditolak di depan dua belas orang dan sekarang tiap dia lewat sekre ada yang ngeliatin. Itu rugi yang bisa dilihat.”
Aku menaruh bungkus nasiku.
“Dan Anggun sekarang juga,” lanjut Fikri. “Dua belas ribu tayangan. Itu rugi yang bisa dilihat.”
Dia menoleh ke arahku.
“Bang, dari tiga orang di cerita ini, cuma kamu yang nggak punya apa-apa buat kehilangan di depan umum.”
“Bang.”
“Hm.”
“Kalau kamu ngomong, kamu bakal rugi.”
“Iya.”
“Ruginya beneran.” Fikri menaruh sumpitnya. “Bukan yang di dalem. Yang bisa dilihat. Orang bakal nunjuk kamu terus ketawa, Bang. Ada yang bakal bikin meme. Kamu bakal jadi orang yang dipakai terus naik panggung ngaku dipakai.”
“Iya.”
“Kamu ngerti itu?”
“Aku ngerti.”
Fikri menatapku beberapa detik.
“Bang, aku nggak lagi ngelarang,” katanya. “Aku cuma mau mastiin kamu ngerti bahwa ini bukan pengorbanan yang keren.”
“Aku tahu.”
“Kalau kamu naik panggung, kamu nggak jadi pahlawan. Kamu jadi bahan.”
“Iya.”
Dia mengangguk pelan dan kembali makan.
“Ya udah,” katanya. “Aku nggak bakal ketawa.”
Aku tidak tidur Jumat malam.
Sekitar jam tiga pagi aku membuka `11s.wav` dan memutarnya sekali dengan headphone di kos yang gelap.
Sebelas detik.
Aku sudah menceritakan kepada diriku sendiri selama dua tahun bahwa file itu adalah bukti. Bukti bahwa aku sudah tahu sejak hari itu, sejak acara pengukuhan semester tiga, sejak MC yang sakit mendadak dan perempuan yang disuruh menggantikan tanpa naskah.
Jam tiga pagi hari Sabtu aku mendengarnya untuk yang mungkin ke dua ratus lima puluh kali dan menyadari bahwa aku sudah salah selama dua tahun tentang isinya.
Isinya bukan Anggun.
Aku merekam sebelas detik itu bukan karena suaranya.
Aku akan menjelaskan bagian ini nanti, karena hari Sabtu itu aku belum bisa menjelaskannya dengan kalimat, aku cuma tahu tangan siapa yang harus kupindahkan ke lubang mana.
Aku mengirim satu pesan jam empat pagi.
Fakhri: anggun. nanti siang aku ke sekre.
Fakhri: aku mau minta slot lima menit di acara sabtu depan.
Aku menulis pesan itu enam kali sebelum mengirimnya.
Versi pertama panjang dan berisi penjelasan. Aku menghapusnya karena penjelasan adalah cara meminta izin tanpa terdengar meminta izin.
Versi kedua berisi kata “maaf”. Aku menghapusnya karena aku tidak menyesal.
Versi ketiga sampai kelima berisi variasi dari “menurutku sebaiknya”, yang mana adalah kalimat yang sudah kupakai selama dua tahun untuk menyampaikan pendapat tanpa harus memilikinya.
Versi keenam adalah dua kalimat tanpa satu pun kata pelunak, dan aku mengirimnya, dan aku duduk di kos jam empat pagi dengan perasaan yang sangat aneh: seperti orang yang baru pertama kali mengangkat sesuatu yang berat dan menemukan bahwa berat itu ada di tangannya sendiri, bukan di lantai.
Balasannya datang jam tujuh.
Anggun: slot buat apa
Fakhri: buat ngomong
Anggun: ngomong apa
Fakhri: yang bener
Tiga titik muncul dan hilang delapan kali. Aku menghitungnya.
Anggun: jangan
Anggun: fakhri jangan
Anggun: kamu nggak ngerti apa yang bakal terjadi
Fakhri: aku ngerti
Anggun: NGGAK
Anggun: kamu bakal jadi bahan omongan sampai wisuda
Anggun: dan yang lebih parah, kamu bakal ngasih mereka konfirmasi. sekarang mereka cuma nebak. kalau kamu naik panggung, mereka jadi tahu.
Fakhri: iya
Anggun: TERUS KENAPA
Fakhri: karena sekarang yang nanggung cuma kamu sama radit
Fakhri: dan aku nggak nanggung apa apa
Fakhri: dan itu nggak bener
Tidak ada balasan selama dua puluh menit.
Lalu:
Anggun: aku ke aula jam 3
Fakhri: aku nggak di aula
Anggun: kamu selalu di aula
Fakhri: hari ini nggak. aku di studio sampai malem.
Fakhri: dan anggun
Fakhri: aku nggak minta izin. aku ngasih tau.
Aku menaruh ponselku dan tidak menyalakannya lagi sampai sore.
Itu kalimat paling kejam yang pernah kutulis kepada siapa pun seumur hidup, dan aku mengetiknya jam tujuh pagi di kos dengan tangan yang tidak gemetar sedikit pun, dan aku baru menyesalinya jam sebelas malam.
Tapi jam tujuh pagi itu aku belum tahu apa yang akan dia lakukan.
- 1 Dua Belas Mic, Satu Lakban Biru
- 2 Dia Pacarku
- 3 Empat Puluh Tiga Hari
- 4 Kantin Nggak Ramai
- 5 Daftar
- 6 Satu Langkah di Belakang
- 7 Empat Puluh Detik
- 8 Aku Ngantuk
- 9 Hipotesis
- 10 Observasi
- 11 Payung
- 12 Ada yang Lihat
- 13 CCTV
- 14 Kursi Barisan Keempat
- 15 Dua Tahun
- 16 Versi yang Bakal Nempel
- 17 Kabelnya Berat
- 18 Tempat Paling Nggak Romantis di Kampus
- 19 Sebelas Detik
- 20 Boleh Saya Potong Sebentar
- 21 Kantong Dalam
- 22 Tanggal Dua Puluh
- 23 Nggak
- 24 Nama di Kontak
- 25 Hari Keempat Puluh Tiga
- 26 Satu Orang
- 27 Naik
- 28 Empat Jam dari Kampus
- 29 Rekonstruksi
- 30 Satu-satunya Orang yang Tahu
- 31 Aman reading
- 32 Yang Direkam
- 33 Tujuh Belas Menit
- 34 Lima Menit
- 35 Yang Nggak Manis
- 36 Hipotesis Keempat Belas
- 37 Aku Nggak Cemburu
- 38 Nggak Menarik untuk Difoto
- 39 Channel Tujuh
- 40 Dua Belas Mic