Chapter Six
Satu Langkah di Belakang
POV: Fakhri
Hari kedua, ada yang menyapaku di parkiran.
Aku tidak mengenalnya. Dia anak semester tiga, memakai jaket himpunan, dan dia bilang “eh, halo Bang” dengan nada orang yang sedang menguji apakah aku benar-benar ada.
Aku mengangguk. Dia berjalan pergi, lalu aku mendengarnya bicara ke temannya sekitar delapan meter kemudian, dengan volume orang yang mengira delapan meter itu jauh.
“Itu yang katanya.”
Hari ketiga, ada dua orang yang menoleh waktu aku masuk perpustakaan.
Hari keempat, seorang anak panitia bertanya kepadaku tentang jadwal kabel, memanggilku “Bang Fakhri,” lalu terlihat bangga pada dirinya sendiri karena berhasil menyebut namaku.
Ini pengalaman yang aneh. Bukan menyenangkan, bukan tidak menyenangkan. Anehnya spesifik: aku melakukan pekerjaan yang persis sama seperti minggu lalu, di ruangan yang sama, dengan orang-orang yang sama, dan sekarang ruangan itu tahu aku ada.
Yang berubah bukan aku. Yang berubah adalah tiga detik di lorong belakang.
Hari kelima, seorang anggota panitia inti — perempuan, senior, sangat ramah — menghampiriku di depan sekretariat dan berkata sesuatu yang akan kuingat lebih lama dari yang seharusnya.
“Bang, seneng ya sekarang jadi kelihatan.”
Dia mengatakannya dengan tulus. Dia benar-benar senang untukku. Dia melanjutkan, “Anggun tuh emang gitu orangnya, suka ngangkat orang. Bagus banget, Bang. Beneran.”
Aku bilang terima kasih.
Aku memikirkannya lagi malam itu waktu menggulung kabel, dan aku memutuskan bahwa dia tidak salah dan bahwa aku tidak marah, dan kedua keputusan itu bertahan sekitar dua jam.
Yoga bertahan dua hari sebelum akhirnya bicara. Itu rekor pribadinya.
Kami di kantin belakang, yang lebih murah dan lebih sepi, dan Fikri sedang mengambil minum.
“Bang.”
“Hm.”
“Aku udah bikin empat belas hipotesis.” Dia menaruh buku tulisnya di meja, tapi tidak membukanya. “Terus semuanya aku coret.”
“Kenapa?”
“Karena semuanya nyenengin.” Dia menggaruk lehernya. “Terus aku nyoba bikin satu yang nggak nyenengin, dan yang itu langsung masuk akal, dan aku jadi nggak enak.”
Fikri kembali dengan tiga gelas dan duduk. Dia melihat wajah Yoga, lalu wajahku, lalu meletakkan gelasnya pelan-pelan.
“Yog,” katanya. “Nggak usah.”
“Kamu mikir hal yang sama.”
“Aku mikir hal yang sama dan aku nggak ngomong. Itu bedanya kita.”
Aku minum es tehku dan menunggu, karena aku sudah tahu kalimatnya. Aku sudah tahu kalimat itu sejak malam pertama, sejak sebelum Yoga menyusun hipotesis mana pun.
“Bang,” kata Yoga akhirnya. “Kalau nanti selesai, kamu bakal gimana?”
“Selesai gimana?”
“Ya... selesai.” Dia mengaduk minumannya tanpa perlu. “Orang kayak Anggun itu... maksudku, bukan kamu nggak pantes. Bukan itu. Cuma dunianya beda, Bang. Dia tuh ada di poster. Kamu tuh di balik poster.”
“Yoga.”
“Aku cuma nggak mau kamu jadi...” Dia mencari kata dan tidak menemukan yang cukup halus, jadi dia memakai yang ada. “...periode.”
Fikri menghela napas panjang dan menatap langit-langit.
Aku memutar tutup botol yang sudah tertutup.
“Empat puluh satu hari lagi,” kataku.
Yoga mengangkat kepalanya. “Apa?”
“Nggak.”
“Bang, kamu barusan ngomong angka.”
“Nggak ada.”
Yang harus kucatat di sini, supaya jujur: Yoga tidak salah. Tidak ada satu pun kalimat dalam percakapan itu yang keliru. Dia benar tentang poster, dia benar tentang balik poster, dan dia bahkan benar tentang periode, karena aku punya tanggal kedaluwarsanya tertulis di balik lembar rundown yang dilipat delapan di dalam tas orang lain.
Yang salah cuma satu hal kecil: dia mengira aku belum memikirkannya.
Aku sudah memikirkannya dua tahun sebelum ada yang perlu dipikirkan.
Sore itu Anggun mengirim pesan pukul tiga lewat sepuluh.
Anggun: lorong FISIP jam 4. jalan dari arah tangga.
Anggun: jangan liat sekitar, jalan biasa aja
Fakhri: ada apa
Anggun: ada sasa
Aku sampai di ujung lorong pukul empat kurang dua menit. Anggun sudah berdiri di dekat papan pengumuman, pura-pura membaca poster lomba esai yang tenggat waktunya sudah lewat bulan lalu.
Dia melihatku. Lalu, tanpa menoleh ke arah mana pun, dia berjalan mendekat dan mengangkat tangan kanannya melewati punggungku, dan merangkulku dari sisi kiri, dan menempel.
Aku berhenti berpikir selama kira-kira satu detik penuh.
Ini bukan gaya bicara. Aku bisa menjelaskannya secara teknis. Ada momen ketika input terlalu besar untuk headroom yang tersedia, dan alat tidak rusak, alat cuma berhenti memproses sebentar dan mengeluarkan diam.
“Jalan,” bisiknya.
Aku jalan.
Lorong FISIP panjangnya empat puluh meter. Aku tahu karena aku pernah mengukurnya untuk kabel.
Empat puluh meter itu ternyata sangat jauh.
Dia lebih pendek dariku sekitar sekepala, jadi rangkulannya jatuh agak canggung di punggung bawah, dan dia menyesuaikannya dua kali sambil jalan sampai menemukan posisi yang pas. Rambutnya digelung asal dengan pensil — bukan jepit, pensil, dan aku baru menyadari sekarang bahwa dia selalu memakai pensil — dan ada beberapa helai yang lepas di tengkuknya.
Aku melihat itu karena aku menunduk. Aku menunduk karena kalau aku menatap lurus ke depan, aku akan menatap wajah setidaknya sembilan orang yang sedang menatap balik.
Dan karena aku menunduk, aku melihat hal-hal yang seharusnya tidak kulihat dari jarak sedekat itu.
Kulitnya sangat putih di dekat pelipis, sampai pembuluh halus di bawahnya terlihat kalau cahayanya dari samping. Bulu matanya, dari atas begini, terlihat lebih panjang lagi. Ada bekas tinta di sisi jari telunjuknya, biru, dari pulpen yang bocor entah kapan.
Dan lehernya berbau seperti sesuatu yang tidak akan pernah bisa kuberi nama, tapi akan langsung kukenali sepuluh tahun lagi kalau aku mencium lagi.
Aku tidak akan pernah mengatakan satu pun dari kalimat di atas kepada siapa pun.
Ada bentuk-bentuk memperhatikan yang boleh dilakukan asal tidak diucapkan. Aku sudah lama tinggal di dalam kategori itu dan aku tahu batas-batasnya dengan sangat baik. Kamu boleh melihat. Kamu tidak boleh menyimpulkan.
“Kamu kaku banget,” bisiknya.
“Kamu bilang jangan kaget.”
“Aku bilang jangan kaget, bukan jangan bernapas.”
“Aku bernapas.”
“Nggak dari tadi.”
Dia benar. Aku bernapas lagi.
Di ujung lorong, Sasa berdiri di depan ruang sekretariat dengan ponsel di tangan, dan sudah jelas sekali sedang tidak menelepon siapa pun.
Anggun mengeratkan rangkulannya dan menyandarkan kepalanya ke lenganku selama tiga langkah terakhir.
Lalu kami belok, dan lorongnya habis, dan Sasa tidak terlihat lagi.
Dia melepas rangkulannya. Mundur setengah langkah. Merapikan rambut yang tidak perlu dirapikan.
“Sori,” katanya. “Itu tadi... ya. Biar nggak ketahuan.”
“Iya.”
“Dia dari tadi di situ. Dari jam tiga.”
“Aku tahu.”
Anggun mendongak. “Kamu tahu?”
“Dia lewat depan ruang alat tiga kali. Sepatunya bunyi.”
Dia menatapku beberapa detik dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca.
“Kamu ini serem, ya.”
“Aku cuma dengar.”
“Iya. Itu yang serem.”
Aku berjalan mengantarnya sampai gerbang samping, dan aku melakukan hal yang biasa kulakukan tanpa pernah kupikirkan: aku berjalan satu langkah di belakangnya.
Bukan karena sopan santun. Ini kebiasaan kerja. Kalau kamu berjalan satu langkah di belakang seseorang di kerumunan, kamu bisa melihat seluruh jalur di depannya, dan kamu bisa menahan orang yang mau memotong, dan kamu bisa lihat kalau ada kabel melintang.
Di dekat gerbang ada penjual roti bakar yang selalu buka dari jam empat. Anggun berhenti tanpa memberi tanda apa pun dan langsung memesan.
“Dua. Cokelat sama kacang, dipisah.”
“Aku nggak—”
“Yang kacang buat kamu.”
Aku tidak pernah bilang aku suka kacang. Aku tidak pernah bilang apa pun tentang makanan kepada siapa pun, karena tidak ada yang bertanya, dan karena pertanyaan tentang makanan biasanya cuma basa-basi menuju pertanyaan lain.
“Kenapa kacang?”
“Karena kamu nggak pernah nyentuh yang manis.” Dia membayar sebelum aku sempat mengeluarkan dompet. “Es teh kamu tuh tawar. Kopi kamu tuh item. Kamu tuh kayak orang yang punya dendam sama gula.”
“Kamu perhatiin?”
Dia menerima bungkusan dari penjualnya dan tidak menjawab selama kira-kira tiga detik.
“Ya kelihatan,” katanya akhirnya, dan menyerahkan bungkusan yang kacang ke tanganku, dan berjalan lagi.
Anggun berhenti di gerbang dan menoleh.
“Kamu selalu di belakang.”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Biar kelihatan semuanya.”
Dia membuka mulut. Menutupnya. Lalu tersenyum, dan yang kiri lebih dalam, dan dia berbalik dan pergi tanpa mengatakan apa pun.
Aku berdiri di gerbang itu lebih lama dari yang dibutuhkan orang untuk berdiri di gerbang.
Malam Kamis aku kerja di studio.
Studio itu milik Pak Wisnu, teman ayahku dari zaman keduanya masih memasang sound sistem kawinan di Semarang. Ruangannya kecil, di lantai dua ruko, dengan busa peredam di dinding yang warnanya sudah tidak sama satu sama lain karena ditambal bertahun-tahun.
Aku mengerjakan rekaman paduan suara gereja: dua puluh empat orang, tiga mikrofon, dan satu tenor yang selalu masuk seperempat ketukan lebih cepat.
Ini pekerjaan yang kusukai karena tidak ada yang bisa dipalsukan di dalamnya. Suara itu jujur secara brutal. Kamu tidak bisa membuat orang menyanyi dengan benar dengan cara berharap. Kamu cuma bisa memindahkan mic, mengubah jarak, mengubah ruangan, dan memberi mereka kondisi supaya hal yang benar jadi lebih mudah dilakukan daripada hal yang salah.
Pak Wisnu masuk sekitar jam sepuluh sambil membawa dua gelas kopi.
“Kamu kelihatan beda.”
“Beda gimana.”
“Nggak tahu.” Dia duduk di sofa yang per-nya sudah lama menyerah. “Biasanya kamu kalau ngedit nggak ngeliat jam.”
Aku melihat jam.
Aku sudah melihat jam empat kali dalam sepuluh menit terakhir, dan bukan karena rekamannya.
“Ada apa?” tanya Pak Wisnu.
“Nggak ada.”
“Fakhri.”
“Nggak ada, Pak.”
Dia menyeruput kopinya dan tidak bertanya lagi, karena dia sudah kenal ayahku selama tiga puluh tahun dan tahu bahwa keluarga kami tidak menjawab pertanyaan yang ditanyakan dua kali.
Ponselku bergetar di meja jam sebelas kurang.
Anggun: kamu masih di studio?
Anggun: jgn lupa makan
Anggun: ini bukan bagian kontrak ya. ini basa basi normal antar manusia
Aku menatap tiga baris itu lebih lama dari yang dibutuhkan orang untuk membaca tiga baris.
Fakhri: udah makan
Anggun: bohong
Fakhri: iya
Layarnya menunjukkan “mengetik” cukup lama untuk sesuatu yang akhirnya keluar sebagai satu kata.
Anggun: makan.
Aku turun ke warung di bawah ruko dan makan.
Malamnya, di kos, aku membuka kalender di ponsel.
Aku tidak pernah memakai kalender. Semua jadwal acara ada di grup, semua rundown ada di kertas, dan aku tidak punya apa pun dalam hidupku yang butuh diingat lebih dari tiga hari ke depan.
Aku menghitung dari malam di lorong itu. Empat puluh tiga hari.
Lalu aku menghitung berapa yang sudah lewat. Dua.
Empat puluh satu.
Aku menatap angka itu, dan aku menyadari sesuatu yang tidak menyenangkan.
Pekerjaanku adalah menghitung mundur. Aku sudah melakukannya ratusan kali. Tiga, dua — lalu sesuatu dimulai. Hitungan mundur selalu berarti awal.
Ini pertama kalinya aku menghitung mundur ke arah sebaliknya.
Aku menutup kalender dan tidur.
- 1 Dua Belas Mic, Satu Lakban Biru
- 2 Dia Pacarku
- 3 Empat Puluh Tiga Hari
- 4 Kantin Nggak Ramai
- 5 Daftar
- 6 Satu Langkah di Belakang reading
- 7 Empat Puluh Detik
- 8 Aku Ngantuk
- 9 Hipotesis
- 10 Observasi
- 11 Payung
- 12 Ada yang Lihat
- 13 CCTV
- 14 Kursi Barisan Keempat
- 15 Dua Tahun
- 16 Versi yang Bakal Nempel
- 17 Kabelnya Berat
- 18 Tempat Paling Nggak Romantis di Kampus
- 19 Sebelas Detik
- 20 Boleh Saya Potong Sebentar
- 21 Kantong Dalam
- 22 Tanggal Dua Puluh
- 23 Nggak
- 24 Nama di Kontak
- 25 Hari Keempat Puluh Tiga
- 26 Satu Orang
- 27 Naik
- 28 Empat Jam dari Kampus
- 29 Rekonstruksi
- 30 Satu-satunya Orang yang Tahu
- 31 Aman
- 32 Yang Direkam
- 33 Tujuh Belas Menit
- 34 Lima Menit
- 35 Yang Nggak Manis
- 36 Hipotesis Keempat Belas
- 37 Aku Nggak Cemburu
- 38 Nggak Menarik untuk Difoto
- 39 Channel Tujuh
- 40 Dua Belas Mic