← Sebut Saja Namanya

Chapter Ten

Observasi

POV: Anggun


Aku menyiapkan tiga belas hal sebelum jam tiga.

Aku menulis semuanya di catatan ponsel, aku menghafalnya di kamar mandi, dan aku menghapus catatannya sebelum berangkat karena Sasa punya kebiasaan meminjam ponsel orang untuk “cek sesuatu”.

Tiga belas hal, antara lain: pesanan Fakhri (kopi hitam, tanpa gula, dan kalau ditanya kenapa dia akan bilang “biasa aja”), tempat duduk (sudut, supaya sudut pandang Sasa terbatas), posisi duduk (aku di sisi dalam, dia di luar, supaya kalau Sasa datang mendadak yang terlihat duluan punggung Fakhri), topik cadangan (tiga), dan yang paling penting: satu foto.

Aku bahkan sudah memikirkan posenya. Aku memikirkan posenya di kamar mandi, di depan cermin, dengan tangan menggantung di udara memeluk orang yang tidak ada, dan kalau ada orang lain yang melihatku melakukan itu aku akan berhenti kuliah.

Yang tidak kusiapkan cuma satu hal, yaitu bahwa Sasa akan sampai di kafe itu lima belas menit sebelum kami.


“Wah,” kata Sasa dari meja tengah. “Kebetulan banget.”

Dia duduk di sana bersama Mel. Di depannya ada dua gelas yang jelas-jelas belum disentuh, yang artinya dia sudah memesan lalu menunggu, yang artinya dia tidak minum sama sekali selama lima belas menit itu karena dia sedang berjaga.

“Kebetulan,” ulangku.

“Iya, kebetulan.”

“Sas, kamu yang nyuruh kita ke sini.”

“Aku bilang ‘kafe deket gerbang belakang’. Ada tiga kafe di sana.” Dia menyeruput minumannya untuk pertama kalinya, dengan sangat puas. “Kalian milih yang ini.”

Fakhri, di sebelahku, melihat sekeliling.

“Yang dua lagi tutup hari Minggu,” katanya.

Sasa berhenti menyeruput.

“...Iya,” katanya. “Ya udah. Duduk sini.”


Pesanan datang lima menit kemudian, dan itu ujian pertama.

“Yang kopi hitam?” tanya pelayannya.

Aku sudah membuka mulut untuk bilang “punya dia” — karena itu ada di daftar tiga belas, nomor satu, dihafal di kamar mandi — waktu Fakhri mengangkat tangan.

Lalu pelayannya menaruh gelas kedua.

“Es teh tawar?”

Dan Fakhri, tanpa mendongak dari ponselnya, menggeser gelas itu ke depanku.

Aku menatap gelas itu.

Aku tidak memesan. Aku bahkan tidak melihat menunya; aku sibuk mengatur posisi duduk dan memeriksa sudut pandang Sasa. Seseorang memesan untukku ketika aku sedang tidak memperhatikan, dan orang itu memesan es teh tawar, yang mana adalah satu-satunya hal yang kuminum di kampus, yang mana adalah hal yang tidak pernah kuberi tahu siapa pun karena tidak ada yang bertanya.

Sasa melihat gelas itu. Sasa melihat aku. Sasa mencatat sesuatu di dalam kepalanya dengan bunyi yang hampir terdengar.

Empat puluh menit pertama berjalan seperti sidang skripsi yang penguji utamanya sedang menyamar sebagai teman.

Sasa tidak bertanya langsung. Sasa tidak pernah bertanya langsung setelah kegagalan interogasi pertamanya. Dia melempar kalimat ke udara dan menunggu siapa yang menangkap.

“Aku lupa, kalian ketemu pertama kali di mana sih?”

“Ruang alat,” kataku.

“Semester tiga,” kata Fakhri, di detik yang sama.

Sasa memicingkan mata. “Barengan banget jawabnya.”

“Ya emang gitu ceritanya.”

“Ceritanya apa?”

Fakhri meletakkan gelasnya. “Dia nanya kenapa mic-nya dengung kalau dipegang di atas.”

“Terus?”

“Terus aku jelasin.”

“Terus?”

“Terus dia pergi.”

Mel, yang dari tadi diam, mengeluarkan suara “aaaw” yang sangat panjang dan sangat tidak proporsional dengan cerita yang baru saja disampaikan.

Sasa menoleh ke Mel. “Itu bukan apa-apa, Mel. Itu cuma penjelasan teknis.”

“Sasa, dia inget.”

“Ya semua orang inget kalau ditanya!”

“Aku nggak inget pertama kali ngobrol sama kamu.”

“MEL.”

Aku minum dan berusaha keras terlihat seperti orang yang tidak sedang menyaksikan pertahanannya diselamatkan oleh dua kalimat dari orang yang tidak bicara lebih dari dua belas kata.

“Oke, oke.” Sasa mengangkat tangan. “Pertanyaan gampang. Bang Fakhri, Anggun kalau lagi bete tandanya apa?”

“Diem.”

“Semua orang diem kalau bete.”

“Dia nggak.” Fakhri memutar gelasnya seperempat putaran. “Kalau dia bete, dia ngomong lebih banyak. Sama semua orang. Sampai capek. Baru terus diem.”

Sendok Mel berhenti di udara.

Sasa tidak berkata apa-apa selama kira-kira lima detik, yang untuk Sasa adalah keheningan geologis.

“...Iya,” katanya akhirnya, pelan. “Emang gitu.”

“Sas,” kataku.

“Nggak.” Dia mengambil sendoknya lagi. “Nggak, aku cuma... nggak. Lanjut.”

Yang tidak kuceritakan ke siapa pun, termasuk ke Fakhri, adalah bahwa aku juga ingat. Aku ingat aku memakai kemeja kotak-kotak biru hari itu. Aku ingat aula baru setengah menyala. Aku ingat aku bertanya soal dengung bukan karena aku peduli soal dengung, tapi karena aku sudah berdiri di pintu selama hampir semenit dan butuh alasan untuk berhenti berdiri di pintu.


Menit kelima puluh, Sasa mengubah taktik.

“Bang Fakhri,” katanya, “boleh tahu kamu suka Anggun karena apa?”

Mel menahan napas. Aku juga.

Ini pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan fakta. Semua pertanyaan Sasa sebelumnya bisa dijawab dengan pengamatan — es teh, bakso, cara orang bete. Yang ini tidak. Yang ini butuh sesuatu yang tidak bisa dilihat dari balik meja mixer.

Fakhri menaruh gelasnya.

“Dia kerja,” katanya.

Sasa mengerjap. “Hah?”

“Dia benerin naskah pembuka tiap acara terus nggak pernah bilang. Dia ngukur durasi video biar nggak ada jeda kosong. Dia dateng sejam lebih awal padahal nggak ada yang minta.” Dia mengangkat bahunya satu sentimeter. “Nggak ada yang tahu. Dia tetep ngelakuin.”

Meja itu benar-benar diam.

Aku menatap gelas es tehku dan menemukan bahwa aku tidak bisa mengangkat kepala, karena kalau aku mengangkat kepala, Sasa akan melihat wajahku, dan wajahku sedang tidak berada di bawah kendali siapa pun.

“Itu...” Sasa berdeham. “Itu jawaban yang aneh banget.”

“Kamu nanya.”

“Iya. Aku nanya.” Dia mengaduk minumannya. “Ya udah.”

Fotonya diambil di menit kelima puluh empat.

Aku tidak merencanakannya seperti yang kurencanakan di kamar mandi. Yang terjadi adalah Mel tiba-tiba berdiri dan bilang “aku mau foto kalian” dengan nada orang yang sudah menahannya selama satu jam, dan Sasa langsung berkata “iya, foto,” dengan nada yang sama sekali berbeda dan jauh lebih berbahaya.

Karena Sasa tidak ingin foto kenangan. Sasa ingin melihat bagaimana kami berperilaku ketika disuruh berfoto.

Ini hal yang sangat tajam untuk disadari tentang sahabatmu sendiri.

“Sini, rapetan,” kata Mel, mengangkat ponsel.

Aku menggeser kursiku. Fakhri tidak bergerak.

“Bang, rapetan.”

Dia menggeser kursinya lima sentimeter.

“Bang.”

“Ini udah.”

“Bang, kalian ini pacaran empat bulan, bukan lagi ngantre di bank.”

Aku menoleh cepat ke Mel, karena itu kalimatku, karena aku mengucapkan kalimat itu di ruang alat malam itu, dan sejenak aku benar-benar berpikir bahwa entah bagaimana Mel mendengarnya.

Lalu aku melakukan sesuatu yang tidak ada di daftar tiga belas.

Aku menyandarkan kepalaku ke bahunya, sama seperti di ruang alat, dan aku mengangkat tanganku ke depan dan membentuk tanda damai yang paling bodoh dalam sejarah, karena aku butuh satu hal di foto itu yang bisa kutertawakan nanti kalau aku menatapnya terlalu lama.

Mel memotret empat kali.

Di foto pertama, Fakhri melihat ke kamera dengan ekspresi orang yang difoto untuk kartu identitas.

Di foto kedua, dia melihat ke arahku.

Aku menemukan itu tiga hari kemudian, jam dua pagi, waktu aku memperbesar keempat foto itu satu per satu di bawah selimut seperti kriminal.


Kami pulang jalan kaki lewat kampus karena Sasa bersikeras “sekalian, aku mau ambil barang di sekre”.

Artinya: Sasa ingin melihat kami berjalan.

Koridor gedung C panjang dan sudah sepi karena hari Minggu. Aku berjalan di sisi kanan Fakhri, Sasa dan Mel di belakang kami sekitar empat meter, dan aku sedang menyusun kalimat penutup untuk hari ini waktu aku melihat ke ujung koridor.

Radit berdiri di depan pintu sekretariat BEM, memegang setumpuk map, sedang mengunci pintu.

Semua di tubuhku berhenti.

Bukan karena Radit menakutkan. Radit tidak menakutkan. Radit adalah orang yang menjabat tangan Fakhri dan berkata selamat sambil memegang tas kertas berisi sesuatu yang tidak pernah dia keluarkan.

Justru itu.

Aku tidak takut ketahuan. Aku takut berpapasan dengan orang yang sudah kubuat menjadi sopan, di lorong sepi, dengan dua saksi di belakangku, dan tidak punya satu pun kalimat yang tidak akan terdengar kejam.

Aku bergerak sebelum aku memutuskan bergerak.

Aku memeluknya.

Bukan rangkulan. Aku memutar badanku, melangkah masuk, dan memeluk Fakhri dengan dua tangan di punggungnya, dan menempelkan sisi wajahku ke dadanya, tepat di tengah koridor gedung C, dengan Sasa dan Mel empat meter di belakang.


Ada beberapa hal yang terjadi sekaligus dan aku akan mencatatnya sebisaku.

Yang pertama, dia tidak mundur. Aku sudah menyiapkan diri untuk mundur setengah langkah, untuk tubuh yang menegang, untuk tangan yang mengambang bingung di udara. Tidak ada.

Tangannya naik ke punggungku. Satu, lalu yang satu lagi. Pelan, seperti orang yang memegang barang yang belum dia tahu beratnya.

Yang kedua, dia hangat. Ini terdengar bodoh. Semua orang hangat. Tapi aku baru sadar bahwa selama tiga minggu ini aku selalu menyentuhnya di tempat-tempat yang dingin — tangan, lengan, bahu, di ruangan ber-AC enam belas derajat — dan aku tidak pernah tahu bahwa di balik kaus hitam itu ada orang yang suhunya normal seperti manusia lain.

Yang ketiga, dan ini bagian yang tidak kusiapkan sama sekali:

Jantungku.

Aku sudah memandu delapan puluh tujuh acara. Aku pernah berdiri di depan delapan ratus orang dengan naskah yang salah cetak. Aku pernah menutup acara yang molor dua jam sambil tersenyum. Tubuhku tidak melakukan hal seperti ini. Tubuhku terlatih.

Dan sekarang aku berdiri di koridor gedung C dengan detak yang sangat cepat dan sangat keras, dan tidak ada satu pun penjelasan teknis untuk itu.

Aku memejamkan mata dan berharap dia tidak—

“Anggun.”

Suaranya datang dari atas kepalaku, pelan sekali.

“Hm.”

“Jantungmu cepet banget.”


Aku melepaskan diri dengan kecepatan yang sepenuhnya menghancurkan semua kredibilitas yang kubangun selama empat puluh menit di kafe.

“Panas,” kataku.

“Panas?”

“Iya. Panas. Koridornya panas.”

“Ini gedung C.”

“Terus?”

“Ini gedung paling adem di kampus. Ada dua AC di ujung.” Dia menunjuk dengan dagunya, ke tempat yang memang ada dua AC di ujung. “Itu yang sebelah kiri bocor. Bunyinya beda.”

“FAKHRI.”

“Iya.”

Di ujung koridor, pintu sekretariat berbunyi. Radit sudah pergi entah sejak kapan. Mungkin sejak awal. Mungkin dia bahkan tidak sempat melihat kami; mungkin seluruh hal itu terjadi untuk penonton yang sudah keluar dari ruangan.

Aku berbalik ke belakang.

Sasa dan Mel masih berdiri empat meter di sana.

Mel menangis. Tentu saja Mel menangis.

Sasa tidak. Sasa berdiri diam dengan ponsel di tangan, tidak memotret, tidak bicara, dan menatapku dengan tatapan yang benar-benar baru — bukan tatapan jaksa, bukan tatapan sahabat yang tersinggung.

Tatapan orang yang baru saja melihat sesuatu yang tidak sedang diperagakan.

“Ngun,” katanya.

“Apa.”

“Nggak.” Dia memasukkan ponselnya ke saku. “Nggak jadi.”

Dan itu jauh lebih menakutkan daripada empat belas pertanyaan.