← Sebut Saja Namanya

Chapter Twenty Two

Tanggal Dua Puluh

POV: Anggun


Aku sampai jam tiga kurang sepuluh, seperti biasa, dan dia sudah di sana, seperti biasa.

Aku berhenti di pintu aula selama beberapa detik sebelum masuk.

Aku sudah melakukan ini empat puluh tiga kali dan aku baru menghitung berapa kali aku berhenti di pintu.

Yang pertama, semester tiga, bulan Oktober. Aku berdiri di sana hampir semenit sebelum menemukan alasan untuk berhenti berdiri di pintu, dan alasan itu berbentuk pertanyaan tentang dengung.

Yang kedua, hari ini.

Bedanya, dulu aku berhenti karena tidak punya alasan untuk masuk.

Sekarang aku berhenti karena aku punya dua permintaan di dalam tas dan aku sudah tahu bahwa yang kedua tidak adil.

Aula kosong. Kursi masih ditumpuk di sisi kanan karena tidak ada acara minggu ini. Dia sedang di meja mixer, membuka casing, membersihkan bagian dalam fader dengan kuas kecil.

Aku duduk di kursi barisan keempat.

“Fakhri.”

“Hm.”

“Aku mau minta sesuatu.”

Kuasnya berhenti sebentar, lalu lanjut.

“Oke.”


Aku sudah menyusun urutannya semalam. Yang kecil dulu, baru yang besar. Itu aturan dasar: kalau kamu meminta dua hal, minta yang mudah dulu, karena orang yang sudah bilang iya sekali akan lebih sulit bilang tidak yang kedua.

Aku menyadari, sambil menyusunnya, bahwa aku sedang merancang cara memanipulasi orang yang sudah dua tahun tidak pernah menolak apa pun dariku.

Aku tetap menyusunnya.

“Yang pertama,” kataku. “Tanggal dua puluh ada acara keluarga di rumah Om Har. Aku harus pulang.”

“Oke.”

“Aku mau kamu ikut.”

Kuasnya berhenti.

Kali ini benar-benar berhenti.

“Ikut ke acara keluarga.”

“Iya.”

Dia menaruh kuasnya di meja. “Kenapa?”

“Karena ada Bayu Prakoso.” Aku menarik napas. “Anak kolega Papa. Dia pindah ke sini tanggal sebelas dan dia bakal ada di acara itu dan semua orang dewasa di ruangan itu udah setuju bahwa dia cocok buat aku, dan aku udah enam kali duduk di acara itu sendirian, Fakhri. Enam kali.”

“Oke.”

“Kalau aku dateng sendiri, aku bakal ditanya sama empat belas orang selama enam jam. Dan tahun ini ada Bayu duduk tiga kursi dari aku dan Mama bakal senyum ke arahku dari seberang meja dengan senyum yang artinya ‘kan’.”

Aku berhenti karena suaraku mulai naik.

“Kalau aku dateng bawa kamu, semuanya lewat.”

Fakhri tidak berkata apa-apa selama beberapa detik.

“Yang kedua?” tanyanya.


Aku sempat berpikir untuk tidak mengatakan yang kedua.

Aku sempat berpikir untuk berhenti di situ, membiarkan dia bilang iya, dan menyimpan yang kedua sampai minggu depan, sampai bulan depan, sampai kapan pun.

Tapi aku sudah janji ke diriku sendiri di ruang alat malam itu bahwa aku akan berhenti menyusun versi.

“Kontraknya habis lima hari lagi,” kataku.

“Iya.”

“Aku mau kita lanjut kayak sekarang. Sampai semester habis.”

“Lanjut gimana?”

“Ya gini.” Aku melambaikan tangan ke arah aula kosong. “Kayak sekarang. Nggak usah ngomong apa-apa ke siapa-siapa. Nggak usah ada pengumuman. Semua orang udah ngira kita pacaran empat setengah bulan, jadi ya biarin aja. Nggak ada yang berubah. Nggak ada yang perlu tahu bahwa yang dulu itu—”

“Bohongan.”

“Iya.”

Fakhri mengambil kuasnya lagi.

Dia tidak melanjutkan pekerjaannya. Dia cuma memegangnya.

“Sampai semester habis itu berapa lama?”

“Dua bulan setengah.”

“Terus habis itu?”

“Habis itu udah nggak ada yang inget.”

“Anggun.” Dia menoleh. “Terus habis itu kita ngomong ke orang?”

Dan aku membuka mulut untuk bilang iya, dan tidak ada yang keluar.

Karena aku belum memikirkan bagian itu.

Aku sudah memikirkan segalanya — aku memikirkan tanggal, aku memikirkan versi yang akan beredar, aku memikirkan Radit, aku memikirkan empat belas orang dewasa di ruang tamu Om Har — dan aku tidak sekali pun sampai ke bagian di mana ini berhenti.

“Nanti,” kataku.

“Nanti kapan?”

“Fakhri, aku nggak tahu.”


“Boleh aku cerita satu hal dulu?” katanya.

Itu pertanyaan yang aneh, karena Fakhri tidak pernah minta izin untuk bicara, karena Fakhri hampir tidak pernah bicara.

“Cerita.”

“Kemarin Radit dateng ke aula.”

Aku merasakan sesuatu jatuh di perutku. “Radit?”

“Iya.”

“Ngomong apa?”

“Dia minta maaf.” Fakhri menaruh kuasnya di meja. “Bukan ke aku. Ke kamu. Dia bilang dia milih tempat yang salah, dia bikin kamu harus jawab di depan dua belas orang, dan itu nggak adil.”

Aku duduk kembali ke kursi barisan keempat, pelan-pelan, karena kakiku memutuskan begitu.

“Dan dia nggak nyampein itu ke kamu,” lanjut Fakhri, “karena katanya kalau dia nyampein, kamu bakal ngerasa harus balas minta maaf, dan kamu nggak punya utang apa-apa ke dia.”

Aula itu besar dan menelan suara.

“Fakhri, aku bohong ke dia.”

“Aku tahu.”

“Aku bohong ke dia di depan dua belas orang dan dia minta maaf ke aku.”

“Iya.”

Aku menutup wajahku dengan dua tangan selama beberapa detik.

“Dia nanya sesuatu ke aku sebelum pergi,” kata Fakhri.

“Apa?”

Dia tidak menjawab yang itu.

Dia menaruh kuasnya. Dia menutup casing mixer. Dia melakukan keduanya dengan sangat pelan, dan aku sudah cukup lama mengenalnya untuk tahu bahwa gerakan pelan dari orang ini bukan tanda tenang.

“Aku mau nanya satu hal,” katanya.

“Tanya.”

“Berapa orang yang tahu kita pacaran beneran?”

“Kamu sama aku.”

“Iya.” Dia mengangguk. “Terus berapa orang yang tahu kita pacaran bohongan?”

Aku diam.

“Satu kampus,” jawabnya sendiri. “Delapan ratus orang di Malam Puncak. Grup angkatan. Sasa, Mel, Yoga, Fikri, Radit, Gilang. Anak-anak panitia. Pak Har.”

“Fakhri—”

“Aku nggak lagi marah.”

“Kamu selalu bilang gitu.”

“Aku tahu.” Dia bersandar ke meja mixer. “Tapi aku lagi coba ngomongin sesuatu dan kalau kamu bilang aku marah, aku bakal berhenti ngomong. Aku selalu berhenti ngomong. Itu masalahku.”

Aula itu punya dengung lampu di langit-langit dan napas AC di sisi kiri, dan aku bisa mendengar keduanya, karena selama lima minggu terakhir aku belajar mendengar hal-hal yang tidak pernah kudengar.

“Ngomong,” kataku.

“Aku bisa ikut acara keluargamu,” katanya. “Aku bisa duduk enam jam di ruangan yang isinya empat belas orang yang nggak kenal aku. Itu gampang. Aku bagus di ruangan yang orangnya nggak kenal aku; aku udah dua tahun latihan.”

Sesuatu di dadaku mengencang.

“Yang aku nggak bisa,” katanya, “adalah jadi rahasia di ruangan yang orangnya kenal aku.”


“Itu bukan rahasia,” kataku, dan aku tahu suaraku sudah salah begitu keluar. “Semua orang tahu kita pacaran, Fakhri. Semua orang.”

“Semua orang tahu versi yang kamu bikin di lorong.”

“Versi itu sekarang bener.”

“Iya.” Dia mengangguk. “Tapi mereka percaya versi itu karena kamu bohong, bukan karena kita ngomong.”

“Bedanya apa?”

“Bedanya,” katanya, “kalau versi itu ketahuan bohong, yang jatuh cuma satu orang. Dan kamu udah milih orangnya lima minggu lalu.”

Aku berdiri dari kursi barisan keempat.

“Aku milih orangnya biar dia nggak jatuh!”

“Aku tahu.”

“Semua ini aku lakuin biar kamu—”

“Anggun.” Suaranya masih tidak naik. “Aku tahu. Aku percaya kamu. Aku selalu percaya kamu, itu juga masalahku.”

Dan itu — itu yang membuat semuanya lepas.

“Terus kamu mau apa?” Aku melangkah maju. “Kamu mau aku ngumumin? Sekarang? Empat hari sebelum kontrak habis? Kamu tahu apa yang bakal terjadi?”

“Aku tahu.”

“Kamu bakal jadi bahan omongan sampai wisuda, Fakhri! Kamu bakal jadi—”

“Aku udah jadi.”

Aku berhenti.

“Aku udah jadi bahan omongan dari hari pertama,” katanya. “Kantin, hari pertama, jam satu siang. Ada yang bilang ‘kok bisa sih’ di lorong. Ada yang bilang ‘kasihan, nanti kalau udah bosen ya gitu’ di meja belakang kamu. Ada senior yang bilang aku beruntung sekarang jadi kelihatan.”

Tanganku turun ke sisi tubuh.

“Kamu denger yang di kantin?”

“Aku selalu denger.”


Aku berdiri di aula kosong itu dengan dada naik turun.

Dan aku melakukan hal yang paling refleks, paling terlatih, paling otomatis dari seluruh lima minggu ini.

Aku melangkah maju dan memegang lengannya di atas siku.

“Fakhri—”

Dia tidak menarik lengannya. Dia tidak pernah menarik lengannya. Dia berdiri di sana dan membiarkannya, seperti biasa, seperti dua tahun, seperti selalu.

“Kita omongin nanti aja, ya,” kataku, dan suaraku sudah pindah ke nada yang kupakai untuk menyelamatkan acara yang molor. “Kita lagi capek dua-duanya. Ini biar nggak—”

Aku berhenti.

Aku mendengar diriku sendiri.

Aku sudah sampai di suku kata kelima dan aku mendengar diriku sendiri, dan aku berdiri di aula kosong dengan tangan di lengannya dan setengah kalimat yang sudah keluar dari mulutku dan tidak bisa ditarik masuk lagi.

Aula itu kosong. Tidak ada dua belas orang. Tidak ada Sasa. Tidak ada CCTV. Tidak ada satu pun manusia di gedung ini selain kami berdua.

Fakhri menatapku.

“Terusin,” katanya.

Pelan sekali.

“Fakhri—”

“Terusin, Anggun.”

Dan aku tidak bisa.

Aku melepaskan lengannya dan mundur satu langkah dan tidak bisa menyelesaikan kalimat yang sudah kupakai lima kali dalam lima minggu.

“Aku pulang,” kataku.

“Anggun.”

“Aku pulang.”

Aku mengambil tasku dari kursi barisan keempat dan berjalan keluar aula, dan aku tidak menoleh, dan dia tidak memanggil lagi.

Di parkiran aku menyadari bahwa untuk pertama kalinya sejak semester tiga, aku meninggalkan gedung itu sebelum dia selesai bekerja.

Aku duduk di atas motor ojek dua puluh menit kemudian dan memutar ulang seluruh percakapan itu, seperti orang memutar ulang rekaman untuk mencari klik kecil yang salah.

Dan aku menemukan tiga hal yang tidak nyaman.

Yang pertama: dia tidak sekali pun menaikkan suaranya. Aku menaikkan suaraku empat kali.

Yang kedua: dia meminta izin sebelum bercerita. Dia meminta izin. Kepada orang yang lima minggu ini menariknya, memeluknya, menciumnya, dan menandatanganinya di atas kertas tanpa sekali pun bertanya lebih dulu.

Yang ketiga, dan ini yang membuatku menekan wajahku ke punggung jaket ojek supaya tidak ada yang melihat:

Setiap kali dia mulai mengatakan sesuatu yang sulit, aku memotongnya.

Aku memotongnya dengan “kamu marah”. Aku memotongnya dengan “terus aku harus gimana”. Aku memotongnya dengan tangan di lengannya.

Dan setiap kali, dia berhenti.

Aku selalu berhenti ngomong. Itu masalahku.

Dia sudah bilang itu sendiri, di tengah-tengah, dengan suara biasa, seperti orang menyebutkan cuaca. Dan aku bahkan tidak berhenti untuk mendengarnya, karena aku sedang sibuk menyiapkan kalimat berikutnya.

Aku dua tahun bicara untuk hidup.

Dan orang yang bicaranya paling sedikit di seluruh gedung itu baru saja mengatakan kepadaku, dengan sangat jelas, bahwa dia punya kebiasaan berhenti — dan aku melewatkannya.