Chapter Twenty Nine
Rekonstruksi
POV: Anggun
Yang membuat semuanya meledak bukan Kevin.
Aku perlu menuliskan ini dengan benar sejak awal, karena selama tiga hari berikutnya akan ada banyak sekali orang yang menyalahkan Kevin, dan Kevin tidak melakukan apa-apa.
Kevin mengunggah delapan puluh foto acara dengan caption yang hangat, menyebut dua puluh nama, dan menjawab satu pertanyaan tentang arsipnya sendiri dengan jujur.
Yang membuat semuanya meledak adalah orang keempat puluh delapan.
Namanya tidak penting. Aku bahkan tidak mengenalnya; dia anak semester lima dari jurusan sebelah yang kebetulan punya waktu luang di malam Minggu.
Dia membuat utas.
“oke jadi aku iseng nyusun timeline anggun x fakhri, dan ada yang aneh 🧵”
Dan dia melakukannya dengan sangat baik.
Itu bagian yang paling tidak bisa kutanggung. Dia tidak menuduh apa pun. Dia tidak menyebut kata bohong sekali pun. Dia cuma menyusun bukti dan membiarkan orang menyimpulkan sendiri, yang mana adalah cara paling efisien untuk menghancurkan seseorang.
1. Foto dokumentasi 2 tahun (dari arsip Kevin, 80 foto): 0 foto mereka berdua.
2. Katanya jadian bulan Mei. Ada yang punya foto mereka dari Mei–Oktober? Sejauh ini nihil.
3. Pengumuman pertama: malam gladi Malam Puncak, di lorong belakang. Ada ~12 saksi.
4. Konteks pengumuman: (sensor, tapi kalian tau lah)
5. Setelah malam itu, mereka mendadak ke mana-mana bareng. Kantin, koridor, semua.
Jadi kesimpulan sementara: kalian hitung sendiri.
Dua ribu tayangan dalam empat jam.
Aku membacanya di kereta hari Minggu siang, perjalanan pulang, empat jam, dengan Fakhri duduk di sebelahku dan tidak berkata apa-apa.
Poin nomor empat adalah yang paling kejam, karena tidak ditulis.
(sensor, tapi kalian tau lah)
Enam kata itu melakukan pekerjaan yang tidak berani dilakukan orang itu sendiri. Dia tidak menyebut Radit. Dia tidak perlu. Dua belas saksi sudah cukup, dan dua belas saksi punya mulut, dan lima setengah minggu sudah lewat sehingga cerita itu sudah bermutasi tiga kali.
Aku menggulung ke balasan.
Delapan ratus sekian.
Aku membaca dua ratus pertama dan berhenti, dan aku akan menuliskan versi-versi yang beredar karena aku sudah hafal semuanya di luar kepala:
Versi satu: Anggun ngarang pacar buat nolak Radit di depan umum.
Versi dua: Anggun make anak sound buat nolak Radit, terus ngerasa nggak enak, terus dipacarin beneran.
Versi tiga: Kasihan banget cowoknya. Dia nggak tahu apa-apa.
Versi empat, yang muncul di jam kelima dan langsung jadi paling populer:
sound engineer-nya kayaknya emang dari dulu suka sama dia deh. terus dipakai. sedih sih
Aku menutup ponselku di menit ke lima puluh perjalanan kereta.
“Fakhri.”
“Hm.”
“Kamu baca?”
“Iya.”
“Semua?”
“Sampai yang keempat.”
Aku tidak perlu bertanya yang keempat mana.
Dia sedang melihat ke luar jendela. Sawah, tiang listrik, sawah lagi. Wajahnya sama sekali tidak berubah.
Tangannya di pangkuan, dan tangannya diam.
“Fakhri, versi keempat itu—”
“Bener,” katanya.
“Nggak.”
“Anggun.” Dia menoleh. “Bagian ‘suka dari dulu’ itu bener. Bagian ‘dipakai’ juga bener. Aku tahu itu waktu aku setuju, dan aku tanda tangan.”
“Itu bukan—”
“Yang salah cuma bagian ‘sedih sih’,” katanya. “Itu doang.”
Dan dia kembali melihat ke luar jendela, dan aku duduk di kereta selama tiga jam sisanya dengan dada yang terasa seperti diisi beton basah.
Ada satu hal yang terjadi di kereta yang lebih buruk dari semuanya.
Sekitar jam empat sore, di gerbong tiga, dua orang di kursi seberang lorong sedang melihat ponsel bersama-sama.
Aku tidak mengenal mereka. Mereka bukan anak kampusku; salah satunya memakai jaket almamater kampus lain.
Salah satunya menunjukkan layar ke temannya dan berkata, “Eh baca ini deh, rame banget.”
Aku menunduk ke ponselku sendiri dengan kecepatan yang tidak wajar.
Dan aku duduk di sana selama empat puluh menit berikutnya sambil menghitung: berapa jauh sesuatu harus bergerak sebelum berhenti menjadi urusan orang yang membuatnya.
Dua belas orang di lorong.
Delapan ratus orang di aula.
Delapan ribu di satu angkatan.
Dua orang di gerbong tiga kereta ekonomi yang bahkan tidak tahu nama fakultasku.
Fakhri tidak menoleh sama sekali. Aku tidak tahu apakah dia mendengar. Aku curiga dia mendengar, karena dia selalu mendengar semuanya, dan karena tangannya di pangkuan berhenti bergerak selama sisa perjalanan.
Hari Senin, kampus.
Aku sudah menyiapkan diri untuk hal-hal yang tidak terjadi.
Tidak ada yang meneriaki aku. Tidak ada yang menghadangku di gerbang. Tidak ada satu pun orang yang mengatakan apa pun secara langsung kepadaku sepanjang hari, dan itu jauh lebih buruk daripada semua skenario yang kususun semalaman.
Yang terjadi adalah ini:
Koridor gedung B, jam sembilan pagi. Volume percakapan turun sekitar dua puluh persen waktu aku lewat, lalu naik lagi setelah delapan meter.
Kantin, jam satu. Ada meja yang berhenti bicara total. Aku menghitung: empat meja.
Sekre, jam tiga. Empat orang di dalam. Semuanya menyapa dengan sangat ramah. Terlalu ramah. Tiga puluh persen lebih ramah dari biasanya, yang mana adalah bunyi orang yang sudah membahas kamu satu jam sebelumnya.
Aku bertahan sampai jam empat.
Ada dua pesan yang masuk hari itu yang tidak kubalas sampai malam.
Yang pertama dari Radit, jam sebelas pagi.
Radit W.: Anggun. Aku nggak akan nanya apa-apa.
Radit W.: Aku cuma mau bilang: kalau ada yang nanya ke aku, aku bakal bilang aku nggak inget kejadiannya.
Radit W.: Itu bohong. Tapi ya udah.
Aku membaca tiga baris itu di koridor gedung B dan harus berhenti berjalan.
Orang yang paling berhak marah dalam seluruh cerita ini baru saja menawarkan untuk berbohong demi aku.
Yang kedua dari Mama, jam dua siang.
Mama: Anggun, Bayu bilang acaranya seru kemarin. Fakhrinya sopan ya.
Mama: Om Har muji-muji terus soal soundnya.
Mama: kapan-kapan ajak lagi
Aku menatap tiga baris itu lebih lama dari yang pertama.
Empat jam dari sini, ada empat belas orang dewasa yang menganggap semuanya baik-baik saja.
Gilang menemukanku di parkiran.
“Ngun.”
“Bang.”
Dia berdiri di sebelah motorku dan tidak langsung bicara. Wajahnya benar-benar tidak enak, dan itu bukan akting; Gilang tidak punya akting.
“Aku mau minta maaf,” katanya.
Aku mengerjap. “Buat apa?”
“Aku nanya kamu tanggal berapa jadian, waktu rapat.” Dia menggaruk lehernya. “Aku nanya itu karena aku pengen tahu kamu bohong apa nggak. Aku nyusun pertanyaannya sengaja.”
“Aku tahu.”
“Iya. Kamu emang selalu tahu.” Dia menghela napas. “Dan aku cerita ke dua orang. Cuma dua. Aku bilang ‘tanggalnya nggak masuk sama yang dia bilang ke aku bulan Mei’.”
Sesuatu di perutku turun.
“Kapan?”
“Rabu.”
Empat hari sebelum utas itu dibuat.
“Ngun, aku nggak tahu bakal jadi kayak gini.” Suaranya benar-benar menyesal, dan itu tidak menolong sama sekali. “Aku cuma lagi... aku cuma pengen bukti bahwa aku nggak gila. Karena tiga kali aku ditolak dan tiap kali aku mikir ‘ya udah, mungkin emang nggak ada apa-apa’, terus tiba-tiba ada.”
“Bang.”
“Aku nggak minta apa-apa,” katanya cepat. “Aku cuma mau bilang aku minta maaf. Dan aku udah hapus komentarku semalem.”
Dia pergi.
Dan aku berdiri di parkiran dan menyadari bahwa tidak ada satu pun penjahat dalam seluruh cerita ini.
Kevin mengunggah arsipnya. Gilang mencari bukti bahwa dia tidak gila. Anak semester lima menyusun timeline karena malam Minggu membosankan. Dua belas orang punya mulut. Delapan ratus orang punya jari.
Semua orang melakukan hal kecil yang wajar.
Dan satu-satunya orang yang melakukan hal besar yang tidak wajar adalah aku, lima setengah minggu lalu, di lorong belakang, dalam satu setengah detik.
Yoga menghampiriku jam setengah lima, di depan kantin, dan aku hampir tidak mengenalinya karena wajahnya salah.
“Kak Anggun.”
Dia tidak pernah memanggilku “Kak”. Dia memanggilku “Ngun” sejak minggu kedua, dengan sangat percaya diri, seperti orang yang sudah memutuskan bahwa kami keluarga.
“Yog.”
“Aku mau minta maaf.”
“Buat apa?”
“Hipotesis empat,” katanya.
Aku mengerjap. “Apa?”
“Aku bikin tujuh hipotesis soal kalian. Enam minggu lalu. Di kantin belakang, di depan lima orang.” Dia menggaruk lehernya dengan gerakan yang tidak berhenti-berhenti. “Hipotesis empat itu ‘Anggun lagi dalam masalah dan butuh perlindungan sosial’.”
Aku merasakan tanah bergeser sedikit.
“Dan aku ngomongin itu sambil ketawa-ketawa,” katanya. “Kayak lagi bahas bola. Di depan Bang Fakhri.”
“Yog, itu—”
“Aku nggak tahu kalau bener, Kak. Aku sumpah nggak tahu.” Suaranya mulai naik dan langsung dia turunkan lagi. “Tapi kemarin aku baca thread itu dan aku nyadar bahwa aku udah nyebut kesimpulannya enam minggu lalu sambil ketawa, dan Bang Fakhri duduk di situ dan minum es teh.”
Dia berhenti.
“Terus aku mikir: berapa kali lagi aku ngomongin orang sambil ketawa dan ternyata orangnya lagi denger.”
Aku tidak tahu harus berkata apa kepada anak ini.
“Yog.”
“Aku nggak minta apa-apa,” katanya cepat, persis seperti Gilang, persis seperti Radit. “Aku cuma pengen ada satu orang yang tahu aku nyesel.”
Dan dia pergi.
Tiga orang meminta maaf kepadaku dalam satu hari, dan tidak satu pun dari mereka bersalah.
Aku melihatnya jam lima sore.
Fakhri berjalan dari arah gedung teknik ke aula, dengan koper alat di tangan kanan dan gulungan kabel di bahu kiri, lewat koridor utama, yang mana adalah jalur yang paling ramai di kampus jam lima sore.
Dia selalu lewat situ. Sudah dua tahun. Itu jalur terpendek.
Aku berdiri di depan gedung C dan melihatnya lewat, dan aku melihat sesuatu terjadi yang belum pernah kulihat seumur hidup.
Koridor itu diam.
Bukan turun dua puluh persen. Diam.
Sekitar tiga puluh orang, dan semuanya berhenti bicara, dan semuanya menoleh, dan tidak satu pun dari mereka berbisik karena berbisik butuh dua orang yang berani.
Fakhri berjalan lewat tiga puluh orang yang menatapnya dalam diam sambil membawa koper alat dan gulungan kabel.
Dia tidak mempercepat langkahnya. Dia tidak memperlambatnya. Dia tidak menoleh ke kiri atau ke kanan sekali pun.
Dia berjalan dengan kecepatan yang persis sama seperti hari Senin lalu, dan hari Senin sebelumnya, dan seluruh dua tahun.
Dan di ujung koridor, dia memindahkan gulungan kabel dari bahu kiri ke tangan kiri supaya bisa membuka pintu dengan bahunya, karena kedua tangannya penuh, seperti biasa, karena tidak ada yang pernah membukakan pintu untuk orang yang membawa koper alat.
Pintu menutup.
Koridor itu mulai bersuara lagi, seperti aula yang mulai bersuara, berat sekali, seperti sesuatu yang bergeser di bawah lantai.
Dan aku berdiri di depan gedung C dengan tas di bahu dan menyadari bahwa aku tidak melangkah sedikit pun.
Tiga puluh orang menonton pacarku berjalan dalam diam.
Dan aku berdiri di ujung koridor dan tidak bergerak, karena kalau aku bergerak — kalau aku berjalan ke arahnya, kalau aku mengambil gulungan kabel dari bahunya, kalau aku membukakan pintu itu — maka tiga puluh orang akan melihat, dan besok ada versi kelima.
Aku sudah memikirkan seluruh perhitungan itu dalam waktu kurang dari dua detik.
Aku sudah sangat, sangat mahir.
- 1 Dua Belas Mic, Satu Lakban Biru
- 2 Dia Pacarku
- 3 Empat Puluh Tiga Hari
- 4 Kantin Nggak Ramai
- 5 Daftar
- 6 Satu Langkah di Belakang
- 7 Empat Puluh Detik
- 8 Aku Ngantuk
- 9 Hipotesis
- 10 Observasi
- 11 Payung
- 12 Ada yang Lihat
- 13 CCTV
- 14 Kursi Barisan Keempat
- 15 Dua Tahun
- 16 Versi yang Bakal Nempel
- 17 Kabelnya Berat
- 18 Tempat Paling Nggak Romantis di Kampus
- 19 Sebelas Detik
- 20 Boleh Saya Potong Sebentar
- 21 Kantong Dalam
- 22 Tanggal Dua Puluh
- 23 Nggak
- 24 Nama di Kontak
- 25 Hari Keempat Puluh Tiga
- 26 Satu Orang
- 27 Naik
- 28 Empat Jam dari Kampus
- 29 Rekonstruksi reading
- 30 Satu-satunya Orang yang Tahu
- 31 Aman
- 32 Yang Direkam
- 33 Tujuh Belas Menit
- 34 Lima Menit
- 35 Yang Nggak Manis
- 36 Hipotesis Keempat Belas
- 37 Aku Nggak Cemburu
- 38 Nggak Menarik untuk Difoto
- 39 Channel Tujuh
- 40 Dua Belas Mic