← Sebut Saja Namanya

Chapter Seventeen

Kabelnya Berat

POV: Fakhri


Aku mulai mencatatnya di hari kedua.

Bukan di kertas. Aku menghitungnya di kepala, sama seperti aku menghitung hal lain, karena tanganku sering kosong sekarang dan kepala yang tidak dikasih pekerjaan akan mencari pekerjaan sendiri.

Ini datanya, hari kedua sampai hari kelima:

Senin, 14.20, koridor gedung B. Memegang lenganku. Alasan: “Lantainya licin.”
Lantainya kering. Aku memeriksanya dua kali.

Senin, 19.40, ruang alat. Duduk di meja, kaki menyentuh lututku. Alasan: tidak ada. Ini yang membuatku curiga bahwa dia punya jatah harian dan sudah habis.

Selasa, 11.05, antrean fotokopi. Berdiri terlalu dekat. Alasan: “Antreannya sempit.”
Antreannya sempit. Ini satu-satunya yang benar sepanjang minggu.

Selasa, 16.30, parkiran. Membetulkan kerah kausku dengan dua tangan, sangat lama, untuk kerah yang tidak miring. Alasan: “Kerahmu kelipet.”

Rabu, 09.15, depan sekretariat. Menyandarkan bahu ke bahuku selama sekitar sepuluh detik. Alasan: “Aku ngantuk.”
Dia baru bangun tiga jam sebelumnya dan sudah minum dua es teh.

Rabu, 21.00, ruang alat. Mengambil tanganku dari mixer dan menaruhnya di pahanya. Alasan: “Tanganmu dingin.”
Tanganku memang dingin. Tapi tangannya juga dingin. Ruangannya enam belas derajat.

Kamis, 13.40, koridor gedung C. Merangkul. Alasan: “Ada Sasa.”
Sasa sedang ada rapat di gedung A. Aku tahu karena Sasa mengirim pesan ke grup panitia dua jam sebelumnya, ke grup yang aku juga ada di dalamnya, ke grup yang Anggun juga ada di dalamnya.


Kamis, 20.15, ruang alat. Mengambil jaketku dari sandaran kursi dan memakainya, padahal jaket yang hitam sudah ada di kosnya sejak lima minggu lalu. Alasan: “Dingin.”
Ruangannya memang dingin. Tapi ada dua jaket sekarang di kosnya, dan tidak satu pun dari keduanya milikku lagi dalam pengertian praktis.

Jumat, 07.50, parkiran. Datang jam delapan pagi ke kampus di hari yang tidak ada kelasnya. Alasan: “Ada urusan sekre.”
Sekretariat buka jam sembilan.

Hari kelima aku menyadari polanya.

Bukan polanya kapan. Polanya di mana.

Tujuh puluh persen dari kejadian itu terjadi di tempat yang tidak ada orangnya.

Koridor gedung B jam dua siang itu kosong karena semua kelas sedang berjalan. Parkiran jam setengah lima itu kosong karena belum bubaran. Ruang alat jam sembilan malam itu tidak perlu dijelaskan.

Anggun Prameswari, orang yang bisa membaca sebuah ruangan dalam tiga detik dan menghitung berapa ponsel yang terangkat, memberikan alasan penyamaran di ruangan yang tidak berisi satu orang pun.

Aku memikirkan ini sambil mengganti klem kabel di aula hari Jumat dan sampai pada kesimpulan yang tidak nyaman:

Alasan-alasan itu bukan untuk orang lain.

Alasan-alasan itu untuk dia sendiri.


Hari Jumat sore, di lorong belakang aula, dia merangkulku lagi.

Lorongnya kosong. Aula sudah dikunci. Panitia sudah pulang dua jam lalu karena minggu ini tidak ada acara.

“Ini biar nggak ketahuan,” katanya.

Aku berhenti jalan.

“Kenapa?”

“Anggun.”

“Apa.”

Aku menoleh ke kiri. Lalu ke kanan. Empat puluh meter ke satu arah, dua puluh ke arah lain. Lampu koridor mati semua kecuali satu di ujung.

Aku menoleh kembali ke dia.

Dan Anggun Prameswari — perempuan yang tidak pernah kehabisan kalimat di depan delapan ratus orang, yang pernah menyambung mic dekan yang mati dalam waktu kurang dari satu detik — membuka mulutnya, menutupnya lagi, dan menempelkan dahinya ke bahuku supaya wajahnya tidak kelihatan.

“Diem, Fakhri.”

“Aku diem.”

“Kamu nggak diem, kamu lagi nyusun sesuatu di kepalamu, aku bisa denger.”

“Kamu nggak bisa denger.”

“Aku bisa. Kamu kalau lagi mikir, napasmu jadi lebih pelan.”

Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan informasi itu.

Aku menyimpannya di tempat yang sama dengan semua informasi lain yang tidak tahu harus ditaruh di mana, yaitu tempat yang sekarang sudah sangat penuh.


Hari Jumat malam itu ada hal lain yang perlu kucatat, dan aku mencatatnya karena aku tidak tahu harus menaruhnya di mana.

Kami jalan keluar dari gedung dan berpapasan dengan tiga anak panitia di parkiran.

Salah satunya, perempuan, semester tiga, menyapa duluan.

“Bang Fakhri!”

Aku menoleh.

“Bang, yang minggu lalu itu makasih ya. Yang soal monitor.” Dia tersenyum, ramah, biasa saja. “Aku coba di latihan kemarin, beneran ngefek.”

“Bagus.”

“Nanti kalau ada yang mau ditanyain lagi boleh nggak, Bang?”

“Boleh.”

Mereka pergi. Kami lanjut jalan.

Dua belas langkah kemudian Anggun berkata, “Dia siapa?”

“Panitia acara.”

“Namanya siapa?”

Aku berpikir. “Nggak tahu.”

“Fakhri, dia manggil kamu ‘Bang Fakhri’ dan kamu nggak tahu namanya?”

“Nggak.”

Anggun tidak berkata apa-apa selama sekitar empat langkah.

Lalu dia memegang tanganku.

“Lantainya licin,” katanya.

Parkiran itu aspal dan kering dan sudah tidak hujan selama empat hari.

Aku memutuskan untuk membalasnya hari Sabtu.

Ini bukan keputusan besar. Ini keputusan yang setara dengan memindahkan satu kabel ke lubang lain untuk melihat apa yang terjadi.

Kami di depan koperasi, jam empat sore, karena dia selalu beli roti jam empat.

Aku memegang tangannya.

Dia menoleh dengan kecepatan yang mengesankan.

“Kabelnya berat,” kataku.

Anggun melihat ke tangan kananku, yang kosong, dan tangan kiriku, yang sedang memegang tangannya, dan ranselku, yang ada di punggungku, dan tidak ada satu pun kabel dalam radius tiga puluh meter.

“Kabel apa?”

“Kabel.”

“Fakhri, kamu nggak bawa kabel.”

“Ada di ransel.”

“KABEL APA.”

“Kabel snake.”

“Kabel snake itu panjangnya lima puluh meter dan beratnya delapan kilo, aku pernah bantu kamu angkat!”

“Iya. Berat.”

Dia menatapku selama tiga detik penuh.

Lalu dia tertawa.

Bukan tawa MC-nya. Yang ini pecah di tengah, agak keras, dan dia langsung menutup mulutnya dengan punggung tangan seperti orang yang malu pada suaranya sendiri, persis seperti di ruang alat malam pertama, dan dua orang di depan koperasi menoleh.

“Kamu ngeledek aku,” katanya.

“Nggak.”

“KAMU NGELEDEK AKU.”

“Aku cuma pakai sistem yang udah ada.”

“Fakhri Wirawan—”

“Kamu yang bikin sistemnya.”

Dia memukul lenganku dengan roti yang baru dibelinya.


Yoga menyaksikan seluruh kejadian di depan koperasi itu dari jarak sepuluh meter dan mendatangiku sepuluh menit kemudian dengan wajah orang yang baru melihat gerhana.

“Bang.”

“Hm.”

“Kamu barusan bercanda.”

“Nggak.”

“Bang, kamu bercanda. Di depan umum. Sengaja.” Dia menunjuk ke arah koperasi dengan seluruh tangannya. “Aku kenal kamu tiga tahun. Kamu nggak pernah bercanda. Kamu cuma ngomong hal bener yang kebetulan lucu.”

“Ini juga bener.”

“KABEL SNAKE ITU DI GUDANG, BANG.”

“Ada satu di ransel.”

“NGGAK ADA.”

Fikri, yang berdiri di sebelahnya, membuka ranselku, melihat ke dalam, dan menutupnya lagi.

“Ada,” katanya.

Yoga menoleh dengan gerakan yang sangat lambat.

“Kabel snake beneran?”

“Bukan. Kabel mic tiga meter.”

“ITU BEDA.”

“Kabel juga.”

Setelah itu jadi permainan, dan permainan itu berjalan selama sisa minggu.

Selasa: aku memegang tangannya di perpustakaan. “Bukunya berat.”
Buku yang kupegang setebal tiga sentimeter.

Rabu: aku duduk terlalu dekat di kantin. “Kursinya goyang.”
Kursinya beton.

Kamis: aku membetulkan rambut yang jatuh di pipinya dengan satu jari, di ruang alat, jam sembilan malam, tanpa siapa pun dalam radius satu gedung. “Kena mata.”

Yang itu dia tidak protes.

Yang itu dia diam selama hampir semenit, dan aku bisa melihat telinganya berubah warna di bawah lampu neon, dan aku menyimpan informasi itu juga di tempat yang sudah sangat penuh.


Yang paling sering kupikirkan minggu itu bukan alasan-alasannya.

Yang paling sering kupikirkan adalah kalimat Fikri di pintu kos: kesempatan buat milih kamu.

Aku sudah memutuskan waktu itu bahwa kalimat itu tidak masuk akal, karena memilih butuh dua hal yang sepadan di atas meja.

Aku salah, dan aku baru menyadari letak salahnya hari Kamis, sambil menyolder.

Bukan sepadan yang jadi masalah. Yang jadi masalah adalah bahwa aku tidak pernah menaruh apa pun di atas meja itu.

Dua tahun aku menandai satu mic dari dua belas dan menaruh lakbannya di bagian bawah, di tempat yang tidak kelihatan kalau dipegang. Lima minggu aku menandatangani kertas orang lain, memakai alasan orang lain, dan menunggu di tempat yang tidak ada orangnya.

Anggun memberikan alasan supaya bukan dia yang mau.

Aku diam supaya tidak pernah ada yang perlu menjawab.

Kami berdua sedang melakukan hal yang persis sama dengan dua metode yang berbeda, dan yang satu terlihat seperti kelicikan sementara yang satu lagi terlihat seperti kesabaran.

Punyaku bukan kesabaran.

Punyaku cuma versi yang lebih sunyi.

Hari Jumat, jam sepuluh malam, di tangga depan aula.

Kami duduk seperti biasa; dia satu anak tangga di atas, aku di bawah.

“Fakhri.”

“Hm.”

“Kamu tahu nggak kenapa aku selalu ngasih alasan?”

Aku tahu. Aku sudah menyimpulkannya hari Jumat kemarin sambil mengganti klem kabel.

“Nggak,” kataku.

Karena ada perbedaan antara mengetahui sesuatu dan mengambilnya dari orang yang sedang berusaha mengatakannya sendiri.

“Karena kalau ada alasan,” katanya, “berarti bukan aku yang mau.”

Tangga depan aula itu dari beton dan masih hangat dari matahari sore.

“Dan kalau bukan aku yang mau,” lanjutnya, “berarti kalau nanti selesai, bukan aku juga yang kehilangan.”

Aku tidak menoleh.

“Empat belas hari lagi,” katanya.

“Aku tahu.”

“Kamu ngitung juga?”

“Tiap hari.”

Dia menyandarkan dagunya di bahuku.

“Fakhri.”

“Hm.”

“Aku nggak akan berhenti ngasih alasan.”

“Aku tahu.”

“Kamu nggak apa-apa?”

Aku memikirkan pertanyaan itu lebih lama dari yang seharusnya dibutuhkan, karena jawaban jujurnya panjang, dan karena jawaban jujurnya adalah bahwa aku sudah dua tahun menerima apa pun yang diberikan orang ini tanpa menagih satu pun, dan bahwa keahlian itu sekarang mulai terasa kurang seperti kesabaran dan lebih seperti kebiasaan buruk.

“Nggak apa-apa,” kataku.

Itu benar hari itu.

Aku mencatat tanggalnya, karena belakangan ini aku mencatat semuanya, dan karena aku ingin tahu persis kapan kalimat itu berhenti benar.