← Sebut Saja Namanya

Chapter Thirty Nine

Channel Tujuh

POV: Fakhri


Acara terakhir yang kupegang di gedung itu adalah Malam Pelepasan, empat bulan kemudian, dan aku sudah tahu sejak dua bulan sebelumnya bahwa itu yang terakhir.

Aku sampai jam satu siang.

Bukan jam tiga. Jam satu, karena hari itu aku tidak sendirian: ada dua anak semester tiga yang sudah kuajari selama empat bulan, dan hari ini mereka yang pegang, dan aku cuma berdiri di belakang dan menonton.

Itu jauh lebih sulit dari yang kuduga.

“Bang, ini gain-nya berapa?”

“Kamu yang tentuin.”

“Bang.”

“Aku nggak akan jawab.”

Dia menentukan sendiri. Terlalu tinggi tiga desibel. Dia menyadarinya empat puluh detik kemudian dan memperbaikinya sendiri, dan aku berdiri dua meter di belakangnya dengan tangan di saku dan tidak mengatakan apa-apa, dan itu adalah empat puluh detik terpanjang dalam empat bulan.


Empat bulan itu perlu dijelaskan sedikit, karena kalau tidak, malam ini terdengar seperti sesuatu yang terjadi begitu saja.

Yang terjadi selama empat bulan itu, secara garis besar:

Potongan lima puluh detik itu berhenti bergerak setelah tiga minggu, seperti semua hal berhenti bergerak setelah tiga minggu. Orang bosan. Ada gosip lain. Ada pemilihan BEM.

Anggun memandu tiga acara lagi semester itu. Bukan lima seperti biasanya; tiga. Dan dua di antaranya di gedung ini, dan satu di fakultas sebelah, dan yang di fakultas sebelah itu dia dapat karena ada panitia yang menonton rekaman lima menit versi utuh, bukan versi lima puluh detik.

Sasa lulus jadi ketua pelaksana acara terbesar tahun ini dan langsung menaruh segmen tim teknis di rundown tanpa ditanya siapa pun.

Mel berhenti menangis di setiap acara sekitar bulan kedua, lalu mulai lagi di bulan keempat, dan kami memutuskan bahwa itu tidak apa-apa.

Radit lulus lebih dulu, bulan Februari, dan mengirim satu pesan kepadaku di hari wisudanya: Fakhri, tolong titip aula. Aku membalas iya, dan itu seluruh percakapan kami, dan itu cukup.

Dan aku mengajari dua anak semester tiga selama empat bulan, empat sore seminggu, dan menemukan bahwa mengajari orang jauh lebih sulit daripada mengerjakan sendiri, dan bahwa aku tidak bagus dalam hal itu, dan bahwa aku tetap melakukannya.

Anggun datang jam tiga.

Empat bulan terakhir dia datang jam tiga sebanyak dua puluh sembilan kali. Aku menghitungnya. Dia tidak lagi punya urusan apa pun di gedung ini — dia memandu tiga acara lagi setelah bulan itu, tapi tidak semua, dan dua kali dia datang justru di hari yang dia tidak bertugas.

Dia duduk di kursi barisan keempat, kursi ketiga dari lorong tengah.

“Gimana?”

“Mereka bisa.”

“Kamu keliatan mau muntah.”

“Aku nggak.”

“Fakhri, kamu udah megang gulungan kabel yang sama dari tadi selama dua puluh menit dan kamu belum ngiket apa-apa.”

Aku melihat ke tanganku.

Aku memang sedang memegang gulungan kabel yang sama.


Aku menyampaikan permintaan kedua jam empat sore, di aula yang masih kosong, empat bulan setelah aku menyimpannya.

“Anggun.”

“Hm.”

“Permintaan kedua.”

Dia langsung berdiri dari kursi barisan keempat.

“Sekarang?”

“Sekarang.”

Dia turun ke panggung dengan kecepatan yang mengesankan untuk orang yang memakai sepatu bertali cable tie hitam yang masih belum diganti sejak empat bulan lalu.

“Apa?”

Aku berjalan ke meja mixer.

Aku sudah menyiapkan ini selama empat bulan, dan aku menyiapkannya dengan cara satu-satunya yang kutahu, yaitu secara teknis. Aku sudah memindahkan file itu ke laptop kerjaku tiga minggu lalu. Aku sudah mengetesnya lewat sistem dua kali di studio.

Aku mencolokkan jack 3.5 ke channel sebelas.

“Fakhri, kamu mau ngapain?”

“Duduk.”

“Di mana?”

Aku menunjuk ke barisan keempat, kursi ketiga dari lorong tengah.


Dia duduk.

Aula itu kosong. Kursi belum ditata semua; masih ada tumpukan di sisi kanan. Lampu utama menyala setengah karena crew belum datang. Ada dengung halus dari lampu di langit-langit dan napas AC di sisi kiri dan gema yang menunggu di dinding belakang.

Aku menaikkan fader channel sebelas.

Aku memutar `11s.wav` lewat empat speaker utama, di aula berkapasitas delapan ratus kursi yang berisi dua orang.


Bunyi pertama adalah klik kecil di detik nol.

Bunyi fader digeser naik.

Di ruangan sebesar itu, lewat speaker sebesar itu, bunyi kecil itu terdengar seperti sesuatu yang jatuh.

Lalu suara ruangan. Dua ratus orang, tidak sabar, di ruangan yang sama persis dengan ruangan ini.

Aku berdiri di belakang mixer dan mendengarkan kebisingan dari dua tahun lalu memenuhi ruangan tempat kebisingan itu terjadi, dan itu adalah pengalaman yang tidak akan pernah bisa kujelaskan kepada siapa pun yang tidak bekerja dengan suara.

Ruangan mengenali dirinya sendiri.

Gema dinding belakangnya sama. Cara suaranya menumpuk di sudut kiri, sama. Selama sebelas detik itu, aula tahun ini dan aula dua tahun lalu adalah ruangan yang sama, dan satu-satunya yang berbeda adalah jumlah orang di dalamnya.

Lalu suara perempuan.

“—jadi Bapak Ibu sekalian, mohon bersabar sedikit, karena berdasarkan pengalaman saya, acara yang molor itu tandanya panitianya perfeksionis, bukan tandanya panitianya lupa—”

Dan dua ratus orang tertawa.

Di aula kosong.

Gelombang itu naik dari barisan depan ke belakang, lewat empat speaker, melewati kursi-kursi yang belum ditata dan tumpukan kursi lipat di sisi kanan dan satu orang yang duduk di barisan keempat, kursi ketiga dari lorong tengah.

Sebelas detik.

Lalu diam.


Anggun tidak bergerak selama beberapa detik.

Lalu dia berdiri, dan berjalan ke meja mixer, dan berdiri di sebelahku, dan tidak berkata apa-apa.

“Ini permintaan keduanya,” kataku.

“Ini... permintaan?”

“Belum.” Aku membuka laptop. “Ini bagian sebelumnya.”

Aku membuka folder. Layar menyala dengan daftar yang rapi: 2024-11-03PS-GEREJA, 2025-02-14DEMO-BAND-RUANGAN, 2025-06-21_VOKAL-TAKE3.

Dan di paling bawah, di luar semua folder, satu baris tanpa tanggal.

Aku mengklik kanan. Rename.

“Fakhri—”

“Bentar.”

Aku mengetik.

Aku sudah memutuskan namanya empat bulan lalu, di kos, jam tiga pagi, dan aku belum mengetiknya sekali pun sampai detik itu karena mengetiknya berarti mengaku.

2023-10-14PENGUKUHANANGGUN-PRAMESWARI_MENIT-17.wav

Enter.

Dan file itu naik dari paling bawah, keluar dari luar semua folder, dan masuk ke urutan bersama yang lain, di posisinya berdasarkan tanggal, di antara dua rekaman paduan suara.

Anggun menutup mulutnya dengan punggung tangan.

“Sekarang permintaannya,” kataku.

Aku menutup laptop.

“Aku mau kamu tahu tanggalnya.”


Acaranya mulai jam tujuh.

Berjalan tanpa cacat, dan bukan karena aku. Dua anak semester tiga itu memegang seluruhnya dari awal sampai akhir, dan aku berdiri dua meter di belakang mereka sepanjang malam dengan tangan di saku, dan satu-satunya hal yang kulakukan adalah menahan diri sebelas kali.

Anggun tidak memandu. Dia duduk di barisan dua bersama Sasa dan Mel.

Jam sembilan lewat, penutupan. Ketua panitia naik, mengucapkan terima kasih ke dua puluh nama, dan menyebut tim teknis — segmen yang sekarang sudah ada di rundown setiap acara, sejak Radit membuatnya empat bulan lalu, dan sudah menjadi hal biasa.

Aku tidak naik. Dua anak semester tiga itu yang naik.

Aku berdiri di belakang mixer dan melihat mereka berdiri di bawah dua lampu par LED enam puluh watt, kaki selebar bahu, tangan kanan memegang pergelangan kiri, mata ke kotak lampu di atas pintu belakang.

Aku yang mengajari mereka.

Aku diajari oleh orang yang duduk di barisan dua.


Selesai jam sepuluh lewat.

Panitia berfoto di panggung. Orang mulai bubar tapi belum benar-benar bubar; masih ada mungkin dua ratus orang di aula, mengobrol, menumpuk kursi, mencari kunci gudang.

Aku di belakang panggung, di dekat kardus inventaris, membereskan yang terakhir.

Anggun datang dari sisi kiri.

“Fakhri.”

“Hm.”

“Selesai.”

“Iya.”

Dia berdiri di depanku dan memegang sesuatu di belakang punggungnya, dan aku tidak perlu melihat untuk tahu apa itu, karena aku menghitung mic waktu masuk kardus dan tadi jumlahnya sebelas.

Dan karena aku melihat meteran channel tujuh masih hidup di layar mixer dari jarak lima belas meter waktu aku lewat panggung tiga menit yang lalu.

Aku ingin mencatat ini dengan jelas: aku tahu.

Aku tahu dalam waktu kurang dari dua detik, seperti aku tahu tentang CCTV yang mati sejak tahun lalu, seperti aku tahu tentang payung kering di kantong tasnya, seperti aku tahu tentang kantin yang tidak ramai.

Dua tahun aku tahu segalanya dan diam.

Malam itu aku memutuskan untuk melakukan hal yang berbeda dengan informasi yang sama.


“Fakhri,” katanya. “Kamu inget nggak kita ketemu pertama di mana?”

Ini pancingan. Aku bisa mendengar pancingannya dari nada kalimatnya, dan aku bisa mendengar bahwa dia sudah menyiapkannya, karena dia bicara terlalu cepat.

“Ruang alat,” kataku. “Semester tiga.”

“Terus aku nanya apa?”

“Kenapa mic-nya dengung kalau dipegang di atas.”

“Dan kamu jawab apa?”

“Karena tangan nutup lubang di belakang kepala mic. Itu yang bikin arahnya berubah.”

Aku bisa melihat wajahnya. Dia menunggu sesuatu yang lebih besar, dan dia sudah menyiapkan tiga pertanyaan lagi untuk sampai ke sana, dan dia akan sangat kecewa dengan yang berikutnya karena dia tidak tahu bahwa aku tahu.

Jadi aku memotongnya.

Aku mengambil tangannya.

Di belakang panggung, dengan sekitar dua ratus orang di aula di balik satu lapis kain hitam, dengan channel tujuh terbuka penuh dan fader-nya masih di posisi acara.

“Fakhri?”

“Anggun.”

“Apa?”

Aku menatapnya.

“Aku suka kamu dari semester tiga, bulan Oktober, tanggal empat belas,” kataku. “Dua tahun. Dan aku diem karena aku takut kamu berhenti dateng jam tiga.”

Wajahnya berubah.

“Fakhri—”

“Dan aku nggak akan diem lagi.”

“Fakhri, mic—”

“Aku tahu.”

Dia berhenti.

“Aku tahu dari tadi,” kataku. “Channel tujuh. Meterannya masih idup.”

Dan aku menaikkan sedikit suaraku — bukan banyak, cukup, karena aku tahu persis berapa yang dibutuhkan mic itu dari jarak segitu, karena aku sudah dua tahun mengatur suaranya dan sekarang aku sedang mengatur suaraku sendiri untuk pertama kalinya —

“Aku ngomong sekarang,” kataku, “biar nggak ketahuan.”


Empat speaker.

Aku menggantungnya sendiri dua tahun lalu.

Dua ratus orang di aula mendengar seluruhnya, dari kata pertama, karena channel tujuh terbuka penuh sejak dia menyalakannya delapan menit yang lalu.

Aula itu meledak.

Aku tidak punya kata lain untuk itu. Ada bunyi yang naik dari sisi kiri, lalu tengah, lalu seluruhnya, dan aku pernah mendengar bunyi itu sekali sebelumnya, sebelas detik, dari balik meja mixer, dua tahun lalu.

Anggun menutup wajahnya dengan dua tangan.

“Kamu—” Suaranya hancur. “Kamu tahu dari tadi?”

“Iya.”

“Kamu tahu semua orang denger?”

“Iya.”

“Terus kenapa kamu bilang gitu?!”

Dan aku berdiri di belakang panggung aula yang sedang meledak, memegang tangan orang yang selama dua tahun kutandai dengan tiga sentimeter lakban biru di tempat yang tidak kelihatan, dan aku mengatakan satu-satunya kalimat yang sudah kusimpan sejak jam tiga pagi empat bulan lalu.

“Karena itu kalimat kamu,” kataku. “Dan kamu udah pakai tujuh kali buat nutupin sesuatu.”

Dia menurunkan tangannya dari wajah.

“Sekarang aku pakai satu kali,” kataku, “buat ngebuka.”

Dia menangis dengan cara yang sangat tidak elegan di belakang panggung dengan dua ratus orang bertepuk tangan di sisi lain kain hitam, dan aku menariknya ke dadaku, dan aku menaruh daguku di kepalanya.

“Ngun,” kataku.

Dan dia menangis lebih keras, karena dalam dua tahun aku tidak pernah sekali pun memanggilnya begitu.