Chapter Thirty Three
Tujuh Belas Menit
POV: Fakhri
Aku berdiri di ambang pintu selama mungkin lima detik dengan kantong plastik berisi tinta printer di tangan.
Yang pertama kupikirkan bukan marah. Aku ingin mencatat itu karena aku sempat menunggu marah datang dan marahnya tidak datang.
Yang pertama kupikirkan adalah: oh.
Seperti orang yang menemukan bahwa panel yang selama ini dia tutup ternyata sudah lama tidak punya sekrup.
Aku menaruh kantong plastik itu di meja.
“Fakhri, aku—”
“Pak Wisnu yang muter?”
Dia berhenti. “Jangan marah sama Bapak.”
“Aku nggak marah.”
“Fakhri—”
“Aku nggak marah, Anggun.” Aku menarik kursi kantor bekas itu dan duduk menghadapnya. “Aku cuma nanya.”
“Iya. Beliau yang muter.”
“Oke.”
Aku bisa mendengar Pak Wisnu di ruang belakang, sengaja membuat suara dengan menggeser sesuatu, supaya kami tahu dia tidak sedang mendengarkan. Itu bohong dan kami bertiga tahu itu bohong, tapi bentuk sopan santun seperti itu ada gunanya.
“Aku udah dengar empat kali,” katanya.
“Iya.”
“Fakhri, itu—”
“Aku tahu isinya.”
“Nggak.” Suaranya naik. “Nggak, kamu nggak tahu isinya. Kamu tahu rekamannya. Itu beda.”
Aku diam.
“Aku hitung sendiri di kepala tadi,” katanya. “Menit ketujuh belas. Aku ingat menit ketujuh belas, Fakhri, aku ingat sampai sekarang, karena aku udah mau nyerah di menit keenam belas.”
“Aku tahu.”
“Kamu tahu?”
“Volume suaramu turun tiga desibel dari menit kesepuluh sampai keenam belas,” kataku. “Turunnya pelan. Kamu nggak sadar. Orang yang nggak didengerin selalu ngomong makin pelan.”
Dia menutup mulutnya.
“Terus kamu geser fader monitor panggung.”
“Iya.”
“Berapa?”
“Empat setengah desibel. Bukan yang ke penonton. Yang balik ke kamu.”
Anggun menekan tangannya ke mulutnya.
“Kenapa nggak yang ke penonton?”
“Karena masalahnya bukan penonton nggak denger kamu,” kataku. “Masalahnya kamu nggak denger dirimu sendiri, jadi kamu ngira kamu kekecilan.”
Ruangan itu berbau kayu dan kopi lama.
“Fakhri, kamu belum kenal aku waktu itu.”
“Nggak.”
“Kamu nggak tahu namaku.”
“Nggak.”
“Terus kenapa kamu merhatiin volume suaraku turun tiga desibel selama enam menit?”
Aku memutar kursi itu seperempat putaran.
“Karena itu kerjaanku.”
“Fakhri.”
“Itu beneran kerjaanku, Anggun.” Aku menaruh tanganku di meja. “Aku duduk di belakang mixer empat jam tiap acara dan yang aku lakuin cuma satu: dengerin. Aku nggak nonton acaranya. Aku nggak inget siapa yang menang penghargaan apa. Aku dengerin.”
“Terus?”
“Terus malam itu ada satu orang di panggung yang lagi tenggelam pelan-pelan, dan nggak ada satu pun dari dua ratus orang di ruangan itu yang nyadar, karena tenggelam pelan-pelan itu nggak ada bunyinya.” Aku mengangkat bahu. “Kecuali di meteran.”
Anggun menutup mulutnya dengan punggung tangan.
“Terus kamu tekan rekam,” katanya.
“Iya.”
“Kenapa?”
Dan di sinilah aku harus berhenti, karena aku baru menemukan jawaban jujurnya jam tiga pagi tadi, dan aku belum pernah mengucapkannya keras-keras, dan mengucapkannya keras-keras ternyata jauh lebih sulit daripada memikirkannya.
“Aku selalu bilang ke diriku sendiri bahwa aku ngerekam itu karena kamu.”
“Terus?”
“Itu bohong.”
Dia menurunkan tangannya dari mulut.
“Aku ngerekamnya buat aku,” kataku.
Aku akan menjelaskan ini sebaik yang aku bisa, karena aku curiga aku tidak akan pernah bisa menjelaskannya lagi dengan sebaik ini.
Waktu itu semester tiga. Aku sudah pegang sound di gedung itu sekitar tujuh bulan.
Tujuh bulan berarti tiga belas acara. Tiga belas acara berjalan lancar, dan tidak ada satu pun orang yang pernah menyebut suaranya, karena kalau kerjanya benar hasilnya adalah tidak ada yang tahu sesuatu sempat rusak.
Aku sudah berdamai dengan matematika itu. Aku sudah bilang itu ke diriku sendiri berkali-kali dan aku benar-benar percaya, dan sebagian besarnya memang benar.
Tapi ada bagian dari kepala manusia yang tidak bisa hidup dari matematika saja.
Malam itu aku menggeser fader empat setengah desibel dan seorang perempuan yang tidak kukenal namanya berhenti tenggelam.
Dan dua ratus orang tertawa.
Dan aku duduk di balik mixer di ruangan yang gelap dan menyadari bahwa gelombang suara yang baru saja tumpah dari barisan depan ke belakang itu — dua ratus orang, sekaligus — tidak akan terjadi kalau aku tidak menggeser satu benda sejauh empat setengah desibel.
Aku menekan rekam empat detik terlambat. Makanya bunyi fadernya kerekam; aku baru buka talkback setelahnya, dan yang tersisa cuma sisa gerakannya.
Sebelas detik.
Aku menyimpannya karena itu satu-satunya bukti fisik yang pernah kupunya bahwa sesuatu yang kulakukan pernah mengubah sesuatu di dunia.
Bukan bukti tentang kamu.
Bukti tentang aku.
“Fakhri.”
“Hm.”
“Kamu pernah bilang ke aku bahwa kamu naikin monitor buat orang yang gemeter.” Suaranya sangat pelan. “Enam minggu lalu. Di aula. Sambil nempel lakban.”
“Iya.”
“Aku nanya kamu udah ngelakuin itu ke berapa orang, dan kamu bilang ‘nggak tahu, banyak’.”
“Iya.”
“Itu bohong juga?”
Aku memikirkannya.
“Nggak,” kataku. “Itu bener. Aku emang ngelakuin itu ke banyak orang.”
“Berapa banyak yang kamu rekam?”
Ruangan itu berbau kayu dan kopi lama dan tidak ada satu pun tempat untuk menaruh pertanyaan itu.
“Satu,” kataku.
Anggun tidak berkata apa-apa selama hampir satu menit.
“Empat tahun,” katanya akhirnya. “Pak Wisnu bilang kamu muter itu tiap kali ada yang nggak beres.”
“Iya.”
“Berapa kali?”
“Aku nggak ngitung.”
“Kamu ngitung semuanya, Fakhri.”
Aku menatap layar.
“Dua ratus lima puluh sekian,” kataku. “Perkiraan.”
Dia mulai menangis lagi, dan kali ini dia tidak berusaha menutupinya sama sekali.
“Dua ratus lima puluh kali kamu muter sebelas detik,” katanya, “buat ngingetin diri kamu sendiri bahwa kamu pernah berguna.”
“Anggun—”
“Dan filenya nggak ada namanya.” Suaranya hancur di tengah. “Semua file di komputer ini ada tanggalnya. Semua. Cuma yang ini nggak.”
“Iya.”
“Kenapa?”
Aku memikirkan pertanyaan itu.
“Karena kalau ada tanggalnya,” kataku, “berarti aku ngaku itu penting.”
“Kamu tahu bagian mana yang paling nggak bisa aku terima?” katanya.
“Bagian mana.”
“Bukan bagian kamu suka aku dua tahun terus diem.” Dia menghapus wajahnya. “Itu udah aku terima. Aku juga gitu. Kita berdua sama-sama bodoh, ya udah, impas.”
“Terus?”
“Bagian dua ratus lima puluh kali.”
Dia menoleh ke layar.
“Fakhri, dua tahun kamu ngasih orang alasan buat percaya sama suaranya sendiri. Berapa orang? Nggak tahu, banyak.” Suaranya mulai naik. “Dan tiap kali kamu capek, kamu harus muter sebelas detik dari dua tahun lalu, karena itu satu-satunya kali ada yang ngasih itu balik ke kamu.”
“Anggun—”
“Nggak ada yang pernah naikin monitor kamu.”
Aku tidak punya jawaban untuk itu.
Aku sudah punya jawaban untuk hampir semua hal yang ditanyakan orang kepadaku selama dua tahun. Jawaban tentang kabel, tentang dengung, tentang kenapa mixer bukan bagian yang penting.
Untuk yang ini aku tidak punya apa-apa, jadi aku duduk di kursi kantor bekas itu dan tidak berkata apa-apa, dan Anggun berdiri di tengah studio dan menangis untuk orang lain untuk kedua kalinya hari itu.
Dia berdiri dari sofa dan berjalan ke arahku dan berhenti di depan kursi, dan aku mendongak.
“Fakhri.”
“Hm.”
“Aku mau minta satu hal.”
“Oke.”
“Slot lima menit itu.” Dia menghapus wajahnya dengan punggung tangan, sekali, kasar. “Kasih ke aku.”
Aku diam.
“Bukan karena aku mau ngelindungin kamu,” katanya cepat. “Aku udah selesai ngelindungin kamu; itu yang bikin semuanya jadi kayak gini. Aku minta karena itu bohongku.”
“Anggun—”
“Aku yang berdiri di lorong itu. Aku yang nyebut nama kamu di depan dua belas orang tanpa nanya. Aku yang bikin kontrak, aku yang nulis ‘Sasa nggak boleh tahu’ pakai huruf gede, aku yang nyimpen nomor kamu sebagai jam.” Napasnya pendek-pendek. “Enam minggu ini semua orang di kampus itu nebak-nebak tentang sesuatu yang cuma satu orang yang tahu jawabannya. Dan orang itu aku.”
Aku menatapnya.
“Kalau kamu yang naik,” katanya, “kamu lagi ngambil alih tanggung jawab yang bukan punya kamu. Lagi. Kayak yang udah kamu lakuin ke aku selama enam minggu, dan kayak yang udah kamu lakuin ke seluruh gedung itu selama dua tahun.”
Ruangan itu diam kecuali suara Pak Wisnu menggeser sesuatu di belakang.
“Dan aku nggak akan berdiri di barisan keempat sambil nonton kamu bayar lagi,” katanya.
Aku memikirkannya lebih lama dari yang seharusnya.
Bukan karena aku ragu. Karena aku sedang memperhatikan sesuatu yang terjadi di dalam diriku sendiri, dan aku ingin tahu bentuknya.
Bentuknya adalah: aku tidak mau.
Aku tidak mau memberikan slot itu. Aku ingin naik. Aku sudah menyiapkan lima menit itu di kepalaku sejak jam tiga pagi, kalimat demi kalimat, dan itu adalah pertama kalinya dalam dua tahun aku menyiapkan sesuatu untuk diriku sendiri.
Dan aku menyadari, duduk di kursi kantor bekas itu, bahwa keinginan untuk naik panggung dan membayar semuanya sendirian adalah versi terakhir dari penyakit yang sama.
Menandai satu mic dari dua belas dan menaruh lakbannya di bawah.
Menyimpan sebelas detik tanpa memberi nama.
Naik panggung sendirian supaya tidak ada orang lain yang perlu berdiri di sana.
Semuanya adalah cara untuk melakukan sesuatu yang besar tanpa pernah harus meminta izin siapa pun.
“Oke,” kataku.
Dia mengerjap. “Oke?”
“Oke.”
“Fakhri, kamu nggak berdebat.”
“Nggak.”
“Kamu selalu—” Dia berhenti. “Nggak, kamu nggak selalu. Kamu nggak pernah berdebat sama sekali. Itu masalahnya.”
“Iya.”
Aku berdiri.
“Tapi aku minta dua hal.”
Dia mendongak dengan cepat, dan ada sesuatu di wajahnya yang aku tidak tahu namanya sampai berbulan-bulan kemudian, dan namanya adalah lega — bukan karena isinya, tapi karena aku meminta.
“Apa?”
“Satu. Aku di belakang mixer.”
“Ya kamu emang selalu—”
“Bukan buat kerja.” Aku menatapnya. “Aku mau ada di ruangan itu waktu kamu ngomong. Aku nggak mau denger ceritanya dari orang.”
Dia mengangguk.
“Dua?”
Dan aku menoleh ke layar komputer, ke satu baris di paling bawah, di luar semua folder, tanpa tanggal.
“Yang kedua nanti,” kataku. “Setelah Sabtu.”
- 1 Dua Belas Mic, Satu Lakban Biru
- 2 Dia Pacarku
- 3 Empat Puluh Tiga Hari
- 4 Kantin Nggak Ramai
- 5 Daftar
- 6 Satu Langkah di Belakang
- 7 Empat Puluh Detik
- 8 Aku Ngantuk
- 9 Hipotesis
- 10 Observasi
- 11 Payung
- 12 Ada yang Lihat
- 13 CCTV
- 14 Kursi Barisan Keempat
- 15 Dua Tahun
- 16 Versi yang Bakal Nempel
- 17 Kabelnya Berat
- 18 Tempat Paling Nggak Romantis di Kampus
- 19 Sebelas Detik
- 20 Boleh Saya Potong Sebentar
- 21 Kantong Dalam
- 22 Tanggal Dua Puluh
- 23 Nggak
- 24 Nama di Kontak
- 25 Hari Keempat Puluh Tiga
- 26 Satu Orang
- 27 Naik
- 28 Empat Jam dari Kampus
- 29 Rekonstruksi
- 30 Satu-satunya Orang yang Tahu
- 31 Aman
- 32 Yang Direkam
- 33 Tujuh Belas Menit reading
- 34 Lima Menit
- 35 Yang Nggak Manis
- 36 Hipotesis Keempat Belas
- 37 Aku Nggak Cemburu
- 38 Nggak Menarik untuk Difoto
- 39 Channel Tujuh
- 40 Dua Belas Mic