Chapter Eleven
Payung
POV: Fakhri
Hujan turun jam setengah delapan malam, waktu aku sedang mengangkat kardus inventaris ke rak dan Anggun sedang duduk di meja dengan kaki menggantung, seperti biasa.
Kami mendengarnya sebelum melihatnya. Atap seng di koridor samping punya suara yang sangat spesifik, dan suara itu naik dari nol ke maksimum dalam waktu kira-kira lima detik.
Sebelum hujan, kami sudah di ruang alat selama satu setengah jam, dan sembilan puluh menit itu berisi hal-hal berikut: aku mengganti empat baterai, dia menonton, aku menyolder ulang satu jack yang longgar, dia menonton, dia bertanya kenapa timah harus dibersihkan dulu, aku menjelaskan, dia bertanya lagi, aku menjelaskan lagi.
Dia bertanya delapan kali dalam satu setengah jam.
Aku menghitungnya. Aku tidak bisa tidak menghitung.
Delapan pertanyaan tentang jack, timah, dan resistansi, dari seseorang yang kuliah di Ilmu Komunikasi, di malam Selasa, di ruangan yang tidak ada AC-nya yang berfungsi, tanpa satu pun manusia lain di gedung ini yang bisa menyaksikan bahwa dia sedang menjalankan kontraknya dengan baik.
Aku sudah lama berhenti mengajukan pertanyaan tentang hal seperti ini kepada diriku sendiri. Aku sudah bilang alasannya.
Tapi ada bedanya antara tidak mengajukan pertanyaan dan tidak menyimpan datanya.
Aku menyimpan datanya. Aku selalu menyimpan datanya. Itu masalahnya.
“Wah,” katanya.
“Deras.”
“Kamu bawa jas hujan?”
“Nggak.”
“Kamu naik motor tanpa jas hujan?”
“Aku punya. Di kos.”
Anggun turun dari meja dan berjalan ke pintu ruang alat, membukanya, dan berdiri di sana melihat ke luar dengan tangan di pinggang seperti orang yang sedang menilai lawan.
“Ini nggak akan berhenti,” katanya.
“Nggak.”
“Kamu tahu dari mana?”
“Dari bunyinya.”
Dia menoleh ke belakang dan menatapku dengan ekspresi yang sudah kukenal, ekspresi yang artinya aku akan mengomentari ini tapi aku memutuskan untuk tidak.
“Anter aku sampai gerbang,” katanya. “Aku pesen ojek dari situ.”
Jarak dari ruang alat ke gerbang belakang itu kira-kira dua ratus meter.
Seratus tiga puluh meter pertama beratap: koridor gedung, lalu selasar, lalu koridor lagi. Tujuh puluh meter terakhir tidak.
Kami berhenti di ujung selasar dan melihat tujuh puluh meter itu berubah menjadi sesuatu yang lebih mirip sungai pendek daripada jalan setapak.
Anggun menoleh ke arahku dan sudah membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, dan aku sudah membuka ranselku.
Aku mengeluarkan jaketku — jaket yang kedua, yang abu-abu, karena yang hitam sudah tidak ada di rumahku sejak dua minggu lalu dan tidak akan pernah kembali — dan membentangkannya.
“Naik,” kataku.
“Hah?”
“Angkat tanganmu.”
Dia mengangkat tangannya. Aku membentangkan jaket itu di atas kepala kami berdua, dua sudut di tanganku, dan itu berarti dia harus berdiri sangat dekat kalau tidak mau bahunya keluar dari naungan.
Dia berdiri sangat dekat.
“Ini nggak akan cukup,” katanya.
“Nggak.”
“Terus kenapa dilakuin?”
“Karena kepalamu yang penting. Sisanya kering nanti.”
Kami jalan.
Tujuh puluh meter itu memakan waktu kira-kira satu menit setengah, dan aku bisa melaporkan bahwa selama satu menit setengah itu, sistem pendengaranku — satu-satunya bagian dari diriku yang selama ini bisa diandalkan — berhenti bekerja sebagaimana mestinya.
Aku bisa mendengar hujan di atas jaket. Itu jelas. Bunyinya seperti tepuk tangan yang sangat jauh.
Yang tidak bisa kudengar adalah apa pun yang lain, karena bahunya menempel di lenganku dan kepalanya ada kira-kira sepuluh sentimeter dari daguku, dan rambutnya basah di bagian ujung, dan air mengalir dari pinggiran jaket ke pundakku dan aku tidak merasakannya sama sekali.
Sepatunya berbunyi setiap langkah. Dia tertawa waktu menginjak genangan pertama, lalu berhenti tertawa, lalu tertawa lagi waktu menginjak yang kedua.
“Jalan pelan-pelan dong,” katanya.
“Kamu yang jalan cepet.”
“Aku selalu jalan cepet.”
“Aku tahu.”
“Kok kamu tahu?”
Aku tidak menjawab yang itu, karena jawabannya adalah bahwa aku sudah dua tahun berjalan satu langkah di belakangnya di kerumunan, dan bahwa aku sudah lama menyesuaikan panjang langkahku sendiri supaya tidak pernah menyusul.
Dia memperlambat jalannya sedikit. Aku tidak tahu apakah itu untukku atau untuk genangan.
“Fakhri.”
“Hm.”
“Kalau nanti udah selesai—”
“Anggun.”
“—aku boleh tetep dateng jam tiga nggak?”
Kami sudah lewat setengah dari tujuh puluh meter itu. Hujannya menutupi banyak hal, termasuk beberapa detik yang seharusnya kupakai untuk menjawab.
“Aula selalu kebuka jam tiga,” kataku akhirnya.
“Itu bukan jawaban.”
“Iya.”
Dia tidak bertanya lagi. Aku tidak tahu apakah karena dia sudah puas, atau karena dia mendengar sesuatu di dalam jawabanku yang bahkan aku sendiri tidak berniat menaruh di sana.
“Fakhri.”
“Hm.”
“Kamu basah semua.”
“Nggak apa-apa.”
“Sebelah kanan kamu tuh basah total. Miringnya kekiri terus dari tadi.”
“Nggak.”
“Aku bisa liat, Fakhri.”
Aku menegakkan jaket itu supaya lebih rata, dan lima langkah kemudian aku memiringkannya lagi tanpa sadar, dan dia tidak berkata apa-apa lagi tapi aku bisa merasakan dia tersenyum, yang mana secara teknis tidak mungkin dirasakan, dan tetap saja.
Di tengah tujuh puluh meter itu ada dua orang yang berpapasan dengan kami: sepasang anak semester satu, berbagi satu jas hujan, berlari sambil berteriak-teriak.
Salah satunya menoleh dan berteriak “Kak Anggun!” sambil tetap berlari.
Anggun melambai dengan tangan yang tidak sedang memegang apa pun.
Dan setelah mereka lewat, dia berkata, tanpa aku tanya:
“Tuh. Ada yang lihat.”
“Iya.”
“Berarti ini bagus buat kita.”
“Iya.”
Dia diam tiga langkah.
“Fakhri.”
“Hm.”
“Kamu nggak nanya kenapa aku selalu bilang gitu?”
Aku memindahkan sudut jaket di tangan kananku sedikit lebih ke kirinya.
“Nggak,” kataku.
“Kenapa nggak?”
“Karena kalau aku nanya, kamu bakal berhenti.”
Dia tidak berkata apa-apa sampai tujuh puluh meter itu habis.
Kami berhenti di bawah atap pos satpam di gerbang belakang.
Aku menurunkan jaket. Bagian dalamnya masih kering; bagian luarnya sudah tidak bisa disebut jaket lagi.
Anggun mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi ojek, dan aku berdiri di sebelahnya sambil memeras ujung lengan bajuku sendiri, dan di situlah aku melihatnya.
Tasnya. Tas selempang yang selalu dia bawa. Kantong sampingnya terbuka sedikit karena dia baru mengeluarkan ponsel dari sana.
Dan dari kantong itu, menyembul gagang payung lipat. Hitam. Kering.
Aku menatapnya lebih lama dari yang seharusnya.
Ada beberapa penjelasan yang mungkin. Payung itu rusak. Payung itu milik orang lain. Payung itu ada di sana sejak bulan lalu dan dia lupa.
Aku memilih untuk berhenti di penjelasan-penjelasan itu, karena penjelasan berikutnya adalah pintu yang tidak akan bisa kututup lagi kalau kubuka.
“Fakhri.”
“Hm.”
“Kenapa ngeliatin tasku?”
“Nggak.”
Dia mengikuti arah pandanganku. Melihat kantongnya.
Dan aku melihat sesuatu yang belum pernah kulihat di wajahnya selama dua tahun: dia tidak punya kalimat.
Dia menutup kantong tasnya dengan satu gerakan cepat, dan menoleh kembali ke ponselnya, dan berkata dengan suara yang setengah oktaf lebih tinggi dari biasanya:
“Ojeknya lama banget ya.”
“Iya.”
“Sepuluh menit.”
“Iya.”
Hujan turun. Pos satpam kosong karena Pak Har selalu keliling jam segini. Lampu jalan di luar gerbang bikin garis-garis putih di dalam hujan, dan kami berdiri di bawah atap seng seukuran dua meter kali dua meter, dan tidak ada satu orang pun di dunia ini yang bisa melihat kami.
Aku menghitung mundur di dalam kepalaku.
Aku tidak berencana melakukannya. Itu terjadi begitu saja, karena tanganku sedang tidak memegang apa-apa dan kepalaku selalu menghitung sesuatu kalau tanganku kosong.
Tiga.
Aku sudah tahu kalimatnya. Aku sudah tahu kalimatnya sejak semester tiga; kalimatnya bahkan tidak panjang, dan aku sudah memperbaikinya berkali-kali di kepala sampai tidak ada satu kata pun yang berlebihan.
Dua.
Anggun sedang melihat layar ponselnya. Rambutnya menempel di pelipis. Ada satu tetes air jatuh dari ujung rambutnya ke tulang selangkanya dan aku melihatnya jatuh dari awal sampai akhir seperti orang bodoh.
Angka satu tidak pernah diucapkan.
Itu aturannya. Aturan itu ada supaya orang tidak mulai di angka nol.
Aku tidak mengucapkan angka satu.
Dan aku juga tidak mulai.
Aku memikirkan tiga hal secara bersamaan, dan ketiganya benar.
Yang pertama: dua puluh dua hari lagi.
Yang kedua: kalau aku mengatakannya sekarang, dua puluh dua hari itu tidak akan selesai. Dia orang baik. Orang baik tidak bisa melanjutkan kontrak dengan orang yang baru saja menyatakan sesuatu; dia akan merasa bersalah setiap kali menyentuh lenganku, dan dia akan berhenti menyentuh lenganku, dan dia akan mencari cara paling sopan untuk menyelesaikan semuanya lebih cepat.
Yang ketiga, dan yang paling jelek, dan yang paling jujur: kalau aku diam, aku masih punya dua puluh dua hari.
Orang yang menyimpan pengakuan demi memperpanjang sesuatu bukan orang yang mulia. Aku tahu itu. Aku tidak akan berpura-pura bahwa yang kulakukan di bawah atap seng itu adalah pengorbanan.
Itu keserakahan. Bentuk yang sangat sunyi, tapi tetap keserakahan.
“Udah dapet,” kata Anggun. “Empat menit.”
“Oke.”
Dia menoleh. “Kamu mau ngomong sesuatu?”
Hujan.
“Nggak,” kataku.
Dia menatapku beberapa detik lebih lama dari yang wajar, seperti orang yang menunggu sesuatu yang sudah dijanjikan, lalu mengangguk kecil dan kembali ke ponselnya.
Ojeknya datang. Dia naik. Dia melambaikan tangan dari balik hujan dan aku berdiri di bawah atap seng sampai lampu belakangnya hilang di tikungan.
Aku sempat berdiri di sana beberapa menit lagi setelah dia pergi.
Pak Har datang keliling dan kaget menemukan orang di posnya.
“Belum pulang, Mas?”
“Belum.”
“Ujan gede.”
“Iya.”
Dia duduk, menuang teh dari termosnya ke tutup termos, dan menyodorkannya ke arahku tanpa bertanya. Aku menerimanya.
Kami minum teh berdua di pos satpam selama sepuluh menit tanpa bicara. Pak Har adalah salah satu dari tiga orang di kampus ini yang tahu namaku sejak sebelum Peristiwa Lorong, dan dia tahu karena selama dua tahun dia yang menguncikan gedung untukku jam sebelas malam.
“Mas Fakhri.”
“Iya, Pak.”
“Itu yang tadi, yang naik ojek.” Dia menyeruput tehnya. “Yang suka dateng sore-sore itu, ya?”
Aku menoleh.
“Bapak inget?”
“Ya inget.” Pak Har tertawa kecil. “Tiap ada acara, dia dateng paling awal. Saya sampai hafal. Tiap saya buka gerbang jam tiga, dia udah nunggu di luar.”
“Nunggu di luar?”
“Iya. Gerbang belakang kan baru saya buka jam tiga.”
Aku menaruh tutup termos itu di meja.
Dua tahun.
Aku selalu mengira dia datang jam tiga.
Ternyata dia sampai lebih awal dari itu, dan menunggu di luar gerbang, sampai gerbangnya dibuka.
Lalu aku mengambil jaket basah itu, memakainya, dan pulang naik motor dalam hujan deras selama dua puluh menit, dan sampai kos dalam kondisi yang sepenuhnya kupilih sendiri.
Dan sepanjang dua puluh menit itu, aku tidak memikirkan hujannya sama sekali.
- 1 Dua Belas Mic, Satu Lakban Biru
- 2 Dia Pacarku
- 3 Empat Puluh Tiga Hari
- 4 Kantin Nggak Ramai
- 5 Daftar
- 6 Satu Langkah di Belakang
- 7 Empat Puluh Detik
- 8 Aku Ngantuk
- 9 Hipotesis
- 10 Observasi
- 11 Payung reading
- 12 Ada yang Lihat
- 13 CCTV
- 14 Kursi Barisan Keempat
- 15 Dua Tahun
- 16 Versi yang Bakal Nempel
- 17 Kabelnya Berat
- 18 Tempat Paling Nggak Romantis di Kampus
- 19 Sebelas Detik
- 20 Boleh Saya Potong Sebentar
- 21 Kantong Dalam
- 22 Tanggal Dua Puluh
- 23 Nggak
- 24 Nama di Kontak
- 25 Hari Keempat Puluh Tiga
- 26 Satu Orang
- 27 Naik
- 28 Empat Jam dari Kampus
- 29 Rekonstruksi
- 30 Satu-satunya Orang yang Tahu
- 31 Aman
- 32 Yang Direkam
- 33 Tujuh Belas Menit
- 34 Lima Menit
- 35 Yang Nggak Manis
- 36 Hipotesis Keempat Belas
- 37 Aku Nggak Cemburu
- 38 Nggak Menarik untuk Difoto
- 39 Channel Tujuh
- 40 Dua Belas Mic