Chapter One
Dua Belas Mic, Satu Lakban Biru
POV: Fakhri
Aula fakultas punya suara sendiri kalau sedang kosong.
Orang biasanya tidak sadar. Mereka masuk, melihat kursi yang belum ditata, panggung yang masih gelap, lalu menyimpulkan bahwa ruangan itu sunyi. Padahal tidak. Ada dengung halus dari lampu di langit-langit, ada napas AC di sisi kiri, ada gema yang menunggu di dinding belakang seperti anjing yang belum dilepas. Aku sudah dua tahun mendengarkan ruangan ini. Aku hafal dengungnya seperti orang lain hafal wajah tetangga.
Pukul empat sore. Gladi resik dijadwalkan pukul enam. Tidak ada siapa-siapa.
Aku menurunkan koper alat di sisi panggung, membuka resletingnya, dan mulai dari yang paling bawah seperti biasa. Kabel dulu, baru kotak, baru mixer. Orang sering ingin mulai dari mixer karena mixer yang kelihatan penting. Mixer yang paling tidak penting. Kalau kabelnya benar, mixer cuma perlu tidak disentuh.
Di bawah panggung ada kardus inventaris. Dua belas mic nirkabel, semuanya seri yang sama, semuanya hitam, semuanya sudah gundul stikernya karena dipakai tiga fakultas bergantian. Aku mengeluarkan semuanya, menyalakan satu per satu, memeriksa baterai, menyusunnya di meja dengan jarak yang sama.
Lalu aku mengambil gulungan lakban biru dari kantong depan koper.
Aku menyobek satu potong kecil. Tidak sampai tiga sentimeter. Aku melingkarkannya di batang mic nomor tujuh, di bagian bawah, tempat yang tidak akan terlihat kalau dipegang.
Aku tidak menjelaskan ini kepada siapa pun selama dua tahun. Tidak ada yang bertanya, jadi tidak ada yang perlu dijelaskan.
Mic nomor tujuh kembali ke meja. Sekarang ada sebelas mic hitam dan satu yang bisa kutemukan dalam gelap.
Panitia mulai berdatangan setengah lima. Mereka datang seperti air masuk lubang, semuanya sekaligus, semuanya bicara.
“Mas, ini panggungnya udah bisa dinyalain?”
“Mas audio, monitornya kok nggak bunyi ya?”
“Mas, tolong ya nanti pas video profil jangan sampai kayak tahun kemarin.”
Ada satu anak panitia yang menyerahkan kabel HDMI ke tanganku, bilang “titip ya, Mas,” lalu pergi dan tidak kembali selama dua jam.
Aku mengangguk tiga kali untuk tiga orang berbeda. Monitornya tidak bunyi karena belum kunyalakan. Video profil tahun kemarin gagal karena panitia mengirim filenya empat menit sebelum acara. Aku tidak mengatakan keduanya.
Namaku Fakhri. Sudah dua tahun aku menangani suara untuk hampir semua acara di gedung ini. Aku pernah menghitung: empat puluh tiga acara. Aku tahu nama seluruh panitia inti tahun ini karena mereka semua ada di grup yang sama denganku.
Di grup panitia, kontakku disimpan sebagai “Audio” oleh sembilan orang. Aku tahu karena satu kali ada yang salah kirim tangkapan layar. Tiga orang lain menyimpanku sebagai “Audio Aula”, satu orang sebagai “Mas Sound”, dan satu orang — entah siapa — sebagai “Audio (yg rambutnya)”.
Tidak apa-apa. Aku tidak butuh dipanggil dengan nama. Yang aku butuh cuma listrik yang stabil dan orang-orang yang tidak menendang kabel.
Ada perbedaan antara tidak terlihat dan tidak ada. Orang sering menyamakan keduanya. Padahal tidak terlihat itu justru posisi kerja yang paling baik: kamu bisa memperbaiki apa pun tanpa ada yang menyadari sesuatu sempat rusak. Acara yang bagus adalah acara di mana penonton tidak pernah sekali pun memikirkan suara.
Kalau aku melakukan pekerjaanku dengan sempurna, hasilnya adalah tidak ada yang tahu aku ada.
Aku sudah lama berdamai dengan matematika itu.
“Boleh saya potong sebentar?”
Aku menoleh. Radit Wicaksana berdiri di ujung meja, membawa map, kemejanya masih rapi di jam segini, yang mana adalah pencapaian tersendiri.
“Rundown-nya berubah di segmen empat,” katanya. “Sambutan dekan dimajukan. Berarti mic-nya dua, bukan satu.”
“Sudah saya siapkan tiga.”
Radit mengangkat alisnya sedikit. “Kok tiga?”
“Dekan selalu memanggil satu orang ke depan. Setiap tahun.”
Dia diam sebentar, lalu tertawa kecil dan menutup mapnya. “Oke. Berarti saya nggak perlu ngapa-ngapain.”
“Sebaiknya tidak.”
Dia menepuk meja sekali, lalu pergi. Aku suka Radit dalam pengertian bahwa dia tidak pernah membuat pekerjaanku lebih sulit. Itu standar yang sangat rendah, dan sangat sedikit orang yang bisa melewatinya.
Anggun Prameswari datang pukul lima kurang sepuluh.
Dia selalu datang pukul lima kurang sepuluh. Gladi resik selalu pukul enam. Dalam dua tahun, aku tidak pernah sekalipun melihatnya terlambat, dan aku juga tidak pernah sekalipun melihatnya datang tepat waktu. Dia selalu terlalu awal, selalu satu jam lebih, dan aku tidak pernah bertanya kenapa karena itu bukan urusanku.
Ruangan berubah waktu dia masuk. Aku tidak sedang melebih-lebihkan; ini pengamatan teknis. Tingkat kebisingan naik, lalu turun, lalu naik lagi dengan nada berbeda. Tiga panitia berhenti mengetik. Seseorang di barisan kursi menoleh dan lupa menutup mulutnya.
Aku menunduk ke mixer dan menaikkan channel tiga.
“Fakhri.”
Dia satu-satunya orang di gedung ini yang memanggilku dengan nama.
“Iya.”
“Mic-ku yang mana?”
Aku mengambil nomor tujuh dari meja dan memberikannya. Dia menerimanya dengan dua tangan seperti orang menerima piring panas, lalu menyalakannya, lalu langsung bicara dengan volume yang jauh terlalu besar untuk jarak segini.
“Tes. Tes. Halo Bapak Ibu sekalian—”
“Anggun.”
“—selamat datang di—”
“Anggun.”
Dia berhenti. Menurunkan mic. Tersenyum. Lesung pipitnya muncul di dua sisi, tapi yang kiri selalu lebih dalam, dan aku tahu itu karena aku pernah menghabiskan seluruh satu acara musik memperhatikannya dari balik mixer, yang mana adalah kalimat yang tidak akan pernah kuucapkan kepada siapa pun selama aku hidup.
“Kenapa?”
“Jaraknya kejauhan dari mulut. Nanti gain-nya kupaksa naik, terus dengung.”
“Oh.” Dia mendekatkan mic. “Gini?”
“Terlalu dekat.”
“Astaga. Kamu ini kayak guru piano.”
“Dua jari.”
Dia menggeser mic sampai kira-kira dua jari dari bibirnya, lalu berhenti, lalu menatapku dari balik batang mic itu dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca dan tidak akan kucoba baca.
“Segini?”
“Iya.”
“Bilang bagus dong.”
“Bagus.”
“Nggak ikhlas.”
“Aku nggak punya intonasi lain.”
“Bohong. Kamu punya satu.” Dia mengangkat mic lagi, lalu menurunkannya. “Yang waktu kamu bilang ‘jangan’ ke anak-anak yang mau naik panggung bawa gelas. Itu serem banget. Aku suka.”
“Itu bukan intonasi. Itu volume.”
“Sama aja.”
“Beda satu setengah desibel.”
Dia menunjuk ke arahku dengan mic yang masih menyala, dan suara ujung jarinya yang menepuk kisi-kisi masuk ke seluruh sistem seperti guntur kecil.
“Anggun.”
“Ups.”
Dia meletakkan mic di meja dengan hati-hati, seperti orang yang meletakkan bayi orang lain, lalu berdiri di sebelahku dan melihat ke layar mixer selama beberapa detik.
“Fakhri.”
“Hm.”
“Nanti pas aku naik, hitung mundur dong.”
Aku menoleh. “Hitung mundur apa?”
“Ya hitung mundur. Kayak yang kamu lakuin ke video profil itu. ‘Tiga, dua...’”
“Itu buat operator video.”
“Aku juga butuh.”
“Buat apa?”
Dia mengangkat bahu, dan gerakannya terlalu cepat, seperti orang yang sudah menyiapkan gerakan itu. “Biar aku tahu kapan mulai.”
“Kamu udah dua tahun jadi MC. Kamu tahu kapan mulai.”
“Ya udah kalau nggak mau.”
Aku menghitung mundur untuknya di menit pertama gladi. Tiga, dua — angka satu tidak pernah diucapkan; itu aturan lama, angka satu dimakan supaya orang tidak mulai di angka nol. Dia naik tepat waktu.
Aku kembali ke mixer. Dia tertawa. Suaranya masuk ke channel tiga dan bergerak di layar sebagai tiga batang hijau yang naik lalu turun, dan aku menurunkan gain satu setengah desibel supaya tidak menyentuh merah.
Ini bagianku. Bagian ini sudah cukup.
Kalau aku jujur — dan tidak ada gunanya tidak jujur di dalam kepala sendiri — aku sudah tahu sejak semester tiga.
Bukan sesuatu yang dramatis. Tidak ada momen. Tidak ada hujan, tidak ada tatapan yang bertahan terlalu lama. Yang ada cuma satu acara pengukuhan yang membosankan di mana MC-nya sakit mendadak dan Anggun disuruh menggantikan tanpa naskah, dan dia berdiri di sana selama empat puluh menit, mengarang sambungan antar segmen, membuat dua ratus orang tertawa di menit ketujuh belas, dan tidak sekalipun terdengar panik. Aku duduk di belakang mixer dan berpikir: orang ini bekerja.
Itu saja. Sesederhana itu. Aku menyukai orang yang bekerja.
Sisanya datang belakangan dan datang pelan-pelan, seperti air masuk ke sepatu. Cara dia menyelipkan rambut ke belakang telinga tepat sebelum menyebut nama sponsor. Bulu matanya waktu menunduk membaca rundown, panjang dan lurus, membentuk garis bayangan tipis di pipinya yang putih. Bekas lipstiknya yang tertinggal di busa mic nomor tujuh, yang selalu kubersihkan sendiri sebelum mic itu masuk kardus, karena kalau tidak, orang lain yang membersihkannya.
Aku tahu persis bagaimana bunyinya kalau diucapkan keras-keras. Bunyinya seperti orang yang berdiri terlalu lama di tempat gelap.
Jadi aku tidak mengucapkannya. Aku menurunkan gain, aku mengganti baterai, aku memastikan suaranya jernih sampai ke kursi paling belakang.
Ada bentuk-bentuk perasaan yang cukup dikerjakan dan tidak perlu dibicarakan. Aku sudah memutuskan sejak lama bahwa punyaku salah satunya.
Gladi resik mulai pukul enam lewat empat. Empat menit, itu rekor bagus untuk fakultas ini.
Anggun berdiri di titik tengah panggung, membaca rundown sambil berjalan, mengubah dua kalimat pembuka tanpa memberi tahu siapa pun karena versi aslinya memang jelek. Radit di sisi kanan mengangguk-angguk. Sound-nya bersih. Monitor tidak mendengung.
Aku memperhatikan sesuatu di menit kedelapan. Dia mengganti dua kalimat pembuka yang tertulis di rundown dengan kalimatnya sendiri, dan tidak memberi tahu siapa pun, dan tidak ada satu pun panitia yang menyadarinya. Versi aslinya berbunyi seperti surat edaran. Versi dia berbunyi seperti orang.
Dia melakukan itu di hampir setiap acara. Selama dua tahun. Tidak pernah sekali pun dia menyebutkannya, tidak pernah minta pengakuan, tidak pernah bilang tadi aku benerin naskahnya, ya.
Aku tahu karena aku memegang rundown yang sama di meja mixer, dan aku membacanya, dan aku mendengarkan.
Di menit kedua belas dia batuk.
Batuk kecil, hampir tidak terdengar, tapi mic tidak peduli hampir. Aku menurunkan monitor panggung dua desibel sebelum dia sempat menyadari batuknya sendiri, supaya suara batuk itu tidak balik ke telinganya dan membuatnya sadar dia sedang tidak enak badan. Orang yang sadar sedang tidak enak badan akan menjadi tidak enak badan.
Dia melanjutkan. Tidak berhenti. Tidak menoleh.
Itu juga bagianku.
Selesai setengah delapan. Panitia bubar dengan kecepatan yang tidak pernah mereka tunjukkan saat bekerja.
Aku mulai membereskan. Kabel dulu, dari ujung terjauh, digulung dengan lipatan yang sama besar supaya tidak melintir tahun depan. Yoga muncul entah dari mana sambil membawa dua gelas es teh dan langsung duduk di atas koper alatku, yang mana sudah kularang tiga puluh kali.
“Bang,” katanya. “Turun dari situ.”
“Bentar, aku capek.”
“Kamu nggak ngapa-ngapain.”
“Aku menyaksikan. Itu melelahkan secara emosional.” Dia menyeruput es tehnya. “Eh, kamu lihat nggak tadi? Radit bawa tas kertas.”
Fikri datang dari belakang, menyerahkan gelas kedua kepadaku, dan menjawab sebelum aku sempat. “Iya. Dari tadi disimpan di belakang meja registrasi.”
“Isinya apa?”
“Mana aku tahu.”
“Bang Fakhri tahu.”
“Nggak,” kataku.
Aku tahu.
Ada hal-hal yang bisa dibaca dari cara orang menaruh barang. Radit menaruh tas kertas itu di tempat yang bisa dia lihat sepanjang gladi tanpa harus menoleh. Orang cuma melakukan itu untuk barang yang akan dia pakai, dan orang cuma menyimpan barang yang akan dia pakai kalau dia sedang menunggu waktu yang tepat.
Aku menggulung kabel terakhir dan memasukkannya ke koper. Lalu aku mengambil mic nomor tujuh dari meja, membuka busanya, membersihkan bagian dalamnya dengan tisu, memasangnya kembali, dan meletakkannya di baris paling atas kardus inventaris.
Waktu aku berdiri, aku melihat ke arah lorong belakang.
Radit berdiri di sana. Tas kertasnya sudah di tangan. Di belakangnya, di mulut lorong, ada sekitar dua belas anak panitia yang seharusnya sudah pulang setengah jam lalu dan jelas-jelas tidak akan pulang.
Dan dari sisi panggung, Anggun berjalan ke arah lorong itu sambil melihat layar ponselnya, belum mengangkat kepala, belum tahu apa-apa.
Aku menutup koper alat.
Kalau aku keluar sekarang, aku harus lewat lorong itu.
- 1 Dua Belas Mic, Satu Lakban Biru reading
- 2 Dia Pacarku
- 3 Empat Puluh Tiga Hari
- 4 Kantin Nggak Ramai
- 5 Daftar
- 6 Satu Langkah di Belakang
- 7 Empat Puluh Detik
- 8 Aku Ngantuk
- 9 Hipotesis
- 10 Observasi
- 11 Payung
- 12 Ada yang Lihat
- 13 CCTV
- 14 Kursi Barisan Keempat
- 15 Dua Tahun
- 16 Versi yang Bakal Nempel
- 17 Kabelnya Berat
- 18 Tempat Paling Nggak Romantis di Kampus
- 19 Sebelas Detik
- 20 Boleh Saya Potong Sebentar
- 21 Kantong Dalam
- 22 Tanggal Dua Puluh
- 23 Nggak
- 24 Nama di Kontak
- 25 Hari Keempat Puluh Tiga
- 26 Satu Orang
- 27 Naik
- 28 Empat Jam dari Kampus
- 29 Rekonstruksi
- 30 Satu-satunya Orang yang Tahu
- 31 Aman
- 32 Yang Direkam
- 33 Tujuh Belas Menit
- 34 Lima Menit
- 35 Yang Nggak Manis
- 36 Hipotesis Keempat Belas
- 37 Aku Nggak Cemburu
- 38 Nggak Menarik untuk Difoto
- 39 Channel Tujuh
- 40 Dua Belas Mic